CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Gadungan


__ADS_3

Nindi dan Marcel berdiri di pelaminan didampingi Ibu, Kak Mia, Tiar, Tia dan Lambok.


Para Undangan secara bergantian memberikan selamat pada kedua mempelai. Setelah itu mereka dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang sudah disajikan.


Tiba-tiba...


"Berani sekali Kamu menampakan dirimu disini?!" Nindi histeris. "Mana temanmu yang lain?!" Nindi makin tak bisa mengendalikan emosinya.


Semua orang kaget mendengar keributan itu. Lambok yang berada disebelah Ibu terperanjat. Dia belum menjelaskan apapun pada Nindi.


Nindi mendorong orang itu. Lambok melerai kemarahan Nindi. Orang itu tak melakukan perlawanan.


"Ooww... oohhww.. Nindi... Hentikan... Hentikan." Lambok sudah menghadang Nindi menghalangi Nindi yang terus menghajar orang itu.


"Kenapa Kak?! Kakak tahu siapa Dia?! Dia yang mau membe...." Belum sempat Nindi menyelesaikan kalimatnya, Lambok membekap mulut Nindi.


Sontak saja Nindi tambah kesal. "Bisa diam gak?! Kakak belum menjelaskannya pada Kamu!" Bisik Lambok agak kesal.


"Mmhmmmhm..." Nindi tak dapat bicara karena Lambok membekapnya kencang.


Tia dan Marcel sudah berada didekat Lambok dan Nindi. "Ada apa ini, Sayang?!" Tia terlihat khawatir.


Lambok membawa Nindi ke kamar rias diikuti Tia dan Marcel. Tiar, Fitri, Fahmi dan Feri ingin tahu juga.


"Maaf Para Undangan, Silahkan dinikmati hidangannya. Tidak ada apa-apa... Hanya salah paham sedikit!" Kata Marcel Aktor yang memang masih disana.


Lambok melepas bekapan mulut Nindi.


"Huuuhh... Kakak apa-apaan siihh??!" Nafas Nindi ngos-ngosan. "Mau bunuh Aku yaahh??!!" Nindi masih kesal.


"Lagi Kamu gak ada pelan sedikit, emosi saja diikutin?" Kata Lambok.


"Diiihhh.... kenapa jadi Aku yang disalahin? Jelas-jelas dia yang mau memperkosa Nindi waktu malam itu!?" Nindi masih kesal.


"Apaaa!!???" Feri dan Fahmi juga Tiar terpancing emosi. Mereka hendak memukul orang itu.


Lambok menjaga orang itu. Dia merentangkan tangannya. "Tunggu... Jangan salah paham. Duduk dulu lah." Lambok seakan sangat letih.


"Nindi... Kamu diam! Kak Lambok belum menjelaskan apa-apa pada Kamu, tentang pernikahan Kamu ini!" Tegas Lambok.


Lambok duduk bersandar. "Aku capeee..." Kata Lambok pelan.


Nindi akhirnya menuruti Lambok. Nindi tak tega melihat Lambok yang terlihat sangat letih.


Tia mengusap bahu Lambok. Lambok mendongak pada Tia dan tersenyum. "Terima kasih, Sayang....Kamu selalu berhasil mengademkan Aku." Kata Lambok yang mengecup tangan Tia.

__ADS_1


"Dia ini adalah salah seorang kru film yang satu paket Aku sewa untuk melancarkan rencanaku." Lambok mulai cerita.


"Saat itu Marcel Aktor terlambat datang untuk menyelamatkan Nindi. Makanya Kru-kru ini yang kubuat sebagai begal bingung harus ngapain lagi supaya Nindi percaya kalau Nindi benar-benar dibegal." Lanjut Lambok.


"Aku memang merencanakan Nindi agar dibegal dan ditolong oleh Marcel Aktor supaya Nindi dekat dengan Marcel. Karena yang Aku tahu, Nindi sangat nge fans dengan Marcel Aktor. Aku sering melihat Nindi menonton film nya Marcel dan Nindi terlihat begitu menyukainya. Makanya Aku sewa Marcel Aktor untuk mengambil hati Nindi supaya Marcel suami mu ini cepat-cepat menikahimu!" Kata Lambok pada Nindi.


"Sama Kakak saja, Dia cemburu, apalagi sama laki-laki lain." Canda Lambok.


"Jadi begalnya gadungan, Kak?" Tanya Nindi.


"Semuanya gadungan." Canda Lambok.


"Penghulu gadungan, Pengantin laki-laki gadungan, tamu-tamu yang tadi pagi juga semua gadungan. Mereka orang-orang kru film yang mau membantu rencana Kakak agar Nindi menikah dengan Marcel suami mu itu." Lambok menghela nafas.


"Pantes saja....." Nindi nampak berfikir.


"Apa?" Tanya yang lain.


"Begal gadungan itu tak menyiksa Nindi, nampar saja pelan. Masa laki-laki tenaganya kaya banci?" Nindi terkekeh.


"Iya....Karena Kakak yang sudah berpesan jangan sampai menyakiti Kamu. Tapi malah Kamu yang menyakiti mereka. Abis mereka, Kamu buat babak belur." Kata Lambok yang mengusap wajahnya.


"Dia namanya Deni. Ketiga temannya tidak hadir karena sedang ada shooting film laga. Sebentar lagi juga Marcel pergi." Jelas Lambok.


"Ya... Nindi gak tahu kak, maaf ya bang Deni, kalau Nindi kemarin nyakitin. Abis Nindi pikir memang begal beneran." Kata Nindi.


"Sumpah Kak, ada yang Aku tendang itunya." Kata Nindi yang malu menyebut perabot laki-laki.


Deni terkekeh mengingat temannya yang kena tendang Nindi.


"Terus yang telinganya berdarah Nindi gigit, juga lengannya Nindi gigit. Kamu kena apanya?" Tanya Nindi.


"Aku dipukul pake kayu Kak, waktu Marcel sudah datang." Kata Deni yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hehehe.. Sekarang sudah jelas. Nindi minta maaf yah. Maaaaaafff... banget. Minta tolong juga minta maaf sama teman-temanmu, yah." Kata Nindi.


"Ya Kak, nanti Saya sampaikan." Kata Deni.


Lambok menghela nafas. "Jadi sudah jelas yah?"


"Belum." Kata Nindi. "Kakak belum menjelaskan Marcel bisa sampai disini."


"Kalau itu, Kamu tanya saja sama orangnya langsung. Nanti dikamar. Kamu introgasi tuh Suami Kamu, gimana dia bisa jadi muallaf dan tiba disini. Kakak cape, mau istirahat." Kata Lambok yang segera beranjak dari duduknya.


"Oh ya... resepsi Kamu jam 2 siang. Masih ada waktu untuk Kalian istirahat. Suamimu mau istirahat kali tuh. Kasihan... dari Negara A sampai sini langsung Nikah... Belum tar malam tempur juga." Canda Lambok.

__ADS_1


Yang mendengar perkataan Lambok tertawa. Nindi tersipu malu. Marcel hanya bengong karena gak ngerti apa yang Lambok katakan.


"Yang... Kita ke rumah yuk. Aku cape." Pinta Lambok pada Tia.


Tia mengangguk. "Iya Sayaang... Anak-anak juga sudah pulang ke rumah. Semalaman mereka begadang karena senang Auntie nya mau menikah." Kata Tia.


"Ya Kak....Nindi juga mau istirahat. Yuk Sayang..." Ajak Nindi pada Marcel.


Fahmi, Feri, Fitri dan Tiar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nindi dan Lambok.


"Klop emang..!" Canda Fitri.


Fahmi merangkul bahu Fitri. "Kita istirahat juga ya Sayaang... Sebentar lagi dzuhur." Kata Fahmi lembut.


Fitri melerai rangkulan Fahmi pelan dan berlalu begitu saja. Fahmi hanya menghela nafas.


Tia dan Lambok sudah tiba di rumah baru mereka. Ternyata Kak Riris dan anak-anaknya sudah sampai disana terlebih dahulu. Istri Feri juga ada disana.


"Maaf... Kita istirahat duluan. Ini Vito rewel..." Kata Kak Riris.


"Ya gak apa, Kak. Kita juga mau istirahat, masih ada waktu sebelum resepsi." Kata Tia.


"Ulfa... Kamu sudah makan?" Tanya Tia pada istri Feri.


"Sudah Kak. Tadi sebelum kesini, makan dulu." Kata Ulfa.


"Ooh Syukurlah. Kalau gitu Aku ke atas dulu ya." Pamit Tia yang segera menggandeng lengan suaminya.


Di Kamar Pengantin.


Marcel langsung merebahkan diri di ranjang. Dia begitu lelah. Tapi lelahnya terbayar dengan kebahagiaan yang tak terhingga.


"Sini Sayaang..." Panggil Marcel pada Nindi. Nindi menghampiri suaminya.


Nindi membuka kebayanya karena tak enak tiduran memakai kebaya apalagi rambutnya yang disanggul keatas.


Marcel membantu Nindi melepas kebayanya yang sangat pas ditubuh Nindi. Nindi menggantinya dengan daster.


Nindi merebahkan tubuhnya di ranjang. Marcel tidur disisi Nindi. Marcel memeluk Nindi posesif. Tak lama Marcel terlelap.


Nindi tak tega membangunkan Marcel manakala adzan Dzuhur berkumandang.


Para Undangan juga sudah mulai membubarkan diri. Undangan yang hadir hanya dari tetangga dekat saja, juga saudara-saudara Ibu. Nanti diacara resepsi, Tamu dari orang dekat sampai dari yang jauh, akan datang.


Para Kru masih berada disana, Mereka memang akan disana sampai resepsi pernikahan selesai. Sedangkan Marcel Aktor sudah berpamitan karena ada Shooting siang ini.

__ADS_1


Ibu tak henti-hentinya mengelus bahu Marcel. "Nanti kalau Kamu mau melamar Rindi, janga sungkan, Insyaa Allah, Ibu akan membantu." Kata Ibu.


"Ya Bu, terima kasih. Marcel senang, gara-gara pura-pura jadi punya keluarga disini." Marcel tersenyum. Dia segera menggandeng Kekasihnya meninggalkan rumah Ibu dengan perasaan senang.


__ADS_2