
Lita sangat tergesa berjalan menuju lobby kedatangan. Hati nya cemas. Tak seorang pun dari Keluarga nya yang bisa dihubungi ponsel nya. Mereka semua membiarkan panggilan dari Lita.
Lita begitu khawatir, takut terjadi sesuatu kepada Puteri kesayangannya.
Lita langsung menyetop sebuah taxi sambil menyeret koper miliknya.
"Rumah Sakit A, Pak." Kata Lita kepada Supir Taxi. Lita langsung kesana tanpa mampir dulu ke Rumah Orangtua nya. Hati nya begitu resah memikirkan keadaan Caca.
Dua jam perjalanan, karena jalan Jakarta yang sangat padat. Walaupun ini bukan hari kerja, tapi tetap saja, Jakarta seolah tak pernah mati akan aktifitas warga nya.
Lita terus menghubungi ponsel Tristan, tapi tak ada jawaban. Ipad Caca tidak aktif. Mama dan Papa nya? Sebelas dua belas. Vita dan Atala? Seperti nya Mereka kompak untuk tidak menjawab panggilan dari Lita.
"Ya Allah.... Ada apa ini sebenarnya. Astaghfirullaah...." Lita buru-buru menepis pikiran-pikiran jelek dari kepala nya.
Lita setengah berlari masuk ke dalam Rumah Sakit. Dia menuju receipsionist dan menanyakan kamar atas nama Puteri nya.
"Maaf Bu, Pasien Salsabillaah sudah pulang pagi tadi." Kata Receipsionist.
"Alhamdulillaah....." Lita berucap, setidaknya kekhawatirannya kini berkurang. "Caca sudah sehat." Batin Lita.
Lita bergegas memanggil taxi yang sedang mengetem di depan Rumah Sakit sambil menunggu penumpang.
"Pak ke Jalan Aster." Pinta Lita.
Pak Supir mengangguk dan langsung tancap gas.
Tiga puluh menit kemudian.
"Assalamu alaikum...." Salam Lita. Rumah nya nampak lengang. Hanya seorang satpam di depan dan asisten rumah tangga dari Orang Tua nya.
"Bi Inah...!!" Panggil Lita saat tak mendengar sahutan dari salamnya.
Seorang wanita lebih tua dari Lita tergopoh-gopoh keluar dari kamar nya. "Wa alaikumussalaam.... Neng Lita? Ya ampun, Neng... Kapan datang?" Sambut Bi Inah dengan suka cita.
__ADS_1
"Baru saja Bi... Pada kemana ya Bi? Kok sepi?" Lita tak bertele-tele. Dia meletakan koper nya begitu saja dan langsung mengambil air mineral dari dalam kulkas.
"Loh memang Neng Lita gak tahu?" Bi Inah nampak bingung.
"Tau apa Bi?" Tanya Lita sambil meletakkan gelas nya ke atas meja.
"Hari ini Tuan Dokter menikah. Semua Keluarga pergi kesana. Tadi nya Bibi juga diajak tapi Neng Vita bilang, kalau pergi semua, siapa yang akan mengabari Neng Lita." Jelas Bi Inah.
"Loh... Tapi Mereka satu pun gak ada yang menghubungi Ku. Bahkan panggilan telpon pun tak ada yang jawab." Lita nampak kesal.
"Maaf Neng. Mereka panik, karena Non Caca nangis terus... Caca gak mau Tuan Dokter menikah dengan orang lain." Jelas Bi Inah.
Lita menghela nafas. Rasa letih nya karena perjalanan 18 jam, Lita lupakan karena teringat tempo hari Caca yang histeris meminta nya untuk menghentikan pernikahan Leo.
"Neng...." Panggil Bi Inah takut.
"Saya harus gimana, Bi? Saya gak mungkin merusak kebahagiaan Dokter Leo." Mata Lita berkaca-kaca. Hati kecil nya sangat sakit menerima kenyataan kalau pernikahan Leo berlangsung hari ini. Tapi Lita juga sudah pasrah, Dia tak ingin lagi merusak kebahagiaan Orang lain.
Lita menghela nafas. "Baiklaaaahhh... Aku mandi dulu Bi. Nanti Kita kesana sama-sama." Kata Lita sambil beranjak ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Bi Inah membantu membawakan koper milik Lita. Karena tangan Lita penuh dengan paperbag oleh-oleh untuk Keluarga nya.
Sebenarnya Lita enggan menghadiri pernikahan Leo. Lita takut Dia akan menangis dan tidak rela melihat Leo bersanding duduk di pelaminan dengan wanita lain. Namun ini adalah amanah dari kedua orang tua nya. Lita tak berani membantah.
_____________________________
"Bagaimana? Apa bisa Kita mulai?" Tanya Pak Penghulu.
Leo mengangguk setelah mendapat anggukan dari seseorang. Leo mulai membacakan ijab Qabul pernikahan. Leo menjabat tangan Ayah dari mempelai wanita.
Saya Terima Nikah dan Kawin nya........
Terdengar Ijab Qabul itu sayup-sayup keluar area Masjid. Bi Inah mengantar Lita ke tempat prosesi Ijab Qabul di Masjid tak jauh dari tempat tinggal Orang Tua nya.
__ADS_1
Lita seakan ingin berlari secepat nya keluar dari mobil untuk menghentikan pernikahan ini. Namun langkah nya terhenti manakala Caca, Puteri kesayangannya berlari kearah nya sambil menangis. Dan berhambur kedalam pelukan Lita.
"Mommy...!!! Huk... huk... huk... Cepatlah Mommy... Bilang sama Ayah Daddy, jangan tinggalin Caca... Huk... huk... huk..." Caca begitu terlihat terpukul.
Lita memeluknya erat sambil mengelus punggung Caca. Lita tak dapat menahan airmata nya. "Maafkan Mommy, Sayang.... Hik...hik...hik... Tapi biarkan Dokter Leo bahagia..." Hati Lita sangat sakit. Dia telat menghentikan pernikahan ini saat terdengar kata SAH dari dalam Masjid.
Airmata Lita terus mengalir. Lita tak dapat menyembunyikan kesedihannya.
"Aku ingin Daddy... Aku ingin Daddy... Huk... huk... huk...." Caca melerai pelukan Lita dan menarik kuat tangan Lita untuk masuk kedalam Masjid.
Lita menahannya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Sayang.... Jangan hancurkan kebahagiaan Dokter Leo... Hik... hik... hik..."
"Caca mau Daddy, Mommy....!!!" Caca terus menarik tangan Lita.
Bi Inah mengelus bahu Lita. "Sudahlah Neng... Kasihan Non Caca. Masuk aja yah..." Bi Inah memohon.
Akhirnya Lita mengangguk. Lita mengusap airmata nya dengan punggung telapak tangannya.
"Sekarang Dokter Leo, boleh menjemput Istri nya...." Pinta Pak Penghulu. Bertepatan dengan kehadiran Lita diambang pintu masuk Masjid.
Leo beranjak dari tempat Ijab Qabul dan berjalan menjemput Istrinya. Lita membalikkan tubuhnya. Lita tak sanggup melihat Leo menggandeng wanita lain. Hati nya hancur berkeping-keping. Ingin sekali Lita berlari sekencang mungkin menghindari acara ini. Tapi tangan mungil Puteri Kesayangannya begitu erat menggenggamnya seakan tak rela untuk melepaskan.
"Ya Allah... Kuatkan hati Ku..." Lita memejamkan mata. Airmata nya tak kunjung mengering. Dada nya begitu nyeri. Inilah akhir dari kisah cinta nya dengan Dokter Leo yang berhasil membuatnya benar-benar patah hati.
Kisah Cinta Lita dan Leo telah usai. Lita harus ikhlas menerima takdir Allah, Leo bukan jodohnya.
Kilasan kisah bagaimana Leo terluka saat melihat pernikahannya dengan Krisna nampak jelas dalam ingatan Lita. Leo begitu terluka dan kecewa mendapati Dirinya yang menghianati cinta Leo.
Semua hanya karena cinta nya yang begitu besar ingin memiliki Caca sebagai Puteri nya. Dirinya seakan menemukan berlian dalam hidupnya yang penuh kekurangan.
Lita menyadari, penyakitnya saat itu yang tak bisa menjadi wanita sempurna. Sedangkan Saudara kembarnya, Vita yang jelas-jelas sehat dan sempurna masih belum juga dikarunia nya buah hati. Namun Vita beruntung karena memiliki Atala yang sangat mencintai nya dan mengerti akan diri Vita sejak Mereka sama-sama dibesarkan didalam satu rumah yang sama dengan Orang Tua yang sama pula.
Pundak Lita nampak terguncang. Lita tak dapat lagi menahan kesedihannya. Lita menarik tangan Caca untuk meninggalkan tempat prosesi Ijab Qabul pernikahan Leo dengan wanita lain.
__ADS_1