CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Lita Sakit


__ADS_3

Bulan berlalu, tak terasa satu tahun berlalu. Hubungan Lita dan Leo makin dekat. Walau masih ada kekecewaan di hati Lita karena Leo belum mau membuka hatinya untuk muallaf. Namun Leo sangat sering mengajaknya untuk menikah.


Tanpa sepengetahuan Lita, diam-diam Leo sering memperhatikan Lita saat shalat. Saat Lita mengaji pun, Leo merasa nyaman mendengarnya.


Leo memang sekarang lebih sering berlama-lama bersama Lita. Walau sebenarnya Lita sering mengusirnya karena walau bagaimana pun, Mereka bukan muhrim.


Terkadang Leo juga suka berperilaku di luar batas. Itu membuat Lita sangat kesal dan mengancam Leo kalau Dia akan pergi menjauh jika Leo tak bisa menahan hasratnya.


"Kalau begitu Kita menikah... Agar Kita halal melakukan semua nya." Rajuk Leo.


"Ck.... Sampai kapan Aku harus mengulang dan mengingatkan Dokter tentang syarat menikah dengan ku." Lita mengrucutkan bibirnya.


Leo memeluk tubuh Lita dari belakang. "Cukup Dokter!! Aku sudah gak tahan lagi!!" Lita tiba-tiba berteriak. "Dokter gak bisa menghargai Saya sebagai wanita." Lita menunduk dan mulai menangis.


Leo terkejut. "Sayaaang.... Tapi kenapa? Aku mencintaimu... Bukankah Kamu juga mencintaiku?"


"Tapi gak kayak gini juga, peluk-peluk seenaknya. Aku bukan perempuan murahan. Dokter lupa kalau Aku berhijab?" Lita masih menangis.


Leo mengusap wajahnya kasar. Selama ini Leo sudah berusaha keras untuk menahan hasratnya. Tapi tidak bisa. Untuk memenuhi persyaratan Lita pun, Leo masih enggan.


"Maafkan Aku... Aku janji gak akan mengulanginya lagi. Jangan menangis lagi ya, please..." Leo berjongkok di depan tubuh Lita yang terduduk di kursi meja makan.


"Kenapa sih Dokter gak mau mengikuti keinginanku? Aku sudah menunggumu..." Lita masih terisak. Lita sangat sangat mencintai Leo, namun sebisa mungkin Lita menahan gejolak hati nya agar tidak terbuai dengan keromantisan Leo yang sering di luar batas.


Leo menghela nafas dan berdiri. Kaki nya melangkah meninggalkan Lita yang masih terisak. Lita segera bangun dari duduknya dan masuk ke kamar. Menguncinya. Lita menelungkupkan wajahnya di bantal.


"Ya Allah... Sampai kapan cobaan ini Aku hadapi? Sampai kapan kebahagiaan bisa kugapai tanpa ada rasa takut dosa... Huk... huk... huk..." Lita menangis dibalik bantal.


Beberapa saat yang cukup lama, Leo baru menyadari kalau Lita sudah tidak ada di ruang makan. Leo melangkahkan kaki nya menuju kamar Lita.


Ceklek....


"Di kunci..." Gumam Leo. Leo perlahan mengetuk pintu kamar Lita. Tapi untuk waktu yang cukup lama, Lita tak membukakan pintu. Leo mengambil ponselnya, menghubungi Lita. Namun tak juga kunjung dapat jawaban.


Leo menghela nafas. Leo hendak berpamitan pulang pada Lita ke rumah Papa nya yang kini kosong. Karena Sang Papa masih berada di Indonesia entah untuk berapa lama.


Akhir nya Leo memutuskan meninggalkan Lita tanpa berpamitan. Leo hanya menulis pesan untuk Lita lewat pesan pada ponsel nya.

__ADS_1


_______________________


Lita menggeliat. "Astaghfirullaah... Aku ketiduran..." Lita tidak langsung bangun. Lita masih mengerjapkan mata. Lita mengingat-ingat kejadian sebelum Dia tertidur.


Lita menghela nafas. Melihat jam di dinding. Jam 10 malam. "Dokter...?? Ya Allah... Apa Dokter sudah pulang?" Lita coba bangun tapi kepalanya terasa berat. "Aauuu... Astaghfirullaah... kenapa sakit sekali. Apa karena Aku kebanyakan menangis yah?"


Lita mengambil ponsel nya. Beberapa panggilan tak terjawab dari Leo dan juga beberapa pesan. Lita membaca nya. Lita menghela nafas. Lita mengetikkan balasan pesan Leo.


"Maaf ya Dokter... Aku ketiduran." Lita mengirimnya.


Ceklis satu. Lita menghela nafas masih menunggu. Tak ada perubahan, Lita beranjak dari tempat tidur. Sambil menahan sakit kepala nya. Lita hendak berwudhu.


Lita sangat khusyuk bermunajad pada Sang Khaliq Yang Maha Kuasa. Airmata nya menetes. Banyak harapan yang Lita minta pada Allah SWT.


Lita mengambil Al Quran nya. Kemudian mulai membacanya. Tiba-tiba wajah Vero terlintas dipikirannya. "Astaghfirullaah... Ya Allah... Ada apa yah? Kenapa wajah Bang Vero terus menggangguku?"


Lita menutup Al Quran nya setelah beberapa ayat Lita baca. Lita mengambil ponsel nya berharap Leo membalas pesan Lita.


Lita menghela nafas. Rasa kecewa kini menyelimuti hati Lita. "Aku butuh Dokter..... Maafkan Aku... Aku sangat mencintaimu... Tapi Aku gak bisa menikah dengan mu kalau Dokter gak mau muallaf." Batin Lita, airmatanya sudah mulai mengambang disana.


________________________


Hari ini juga, tak seperti biasa Leo tak menjemputnya. Sudah belasan kali Lita lihat chat nya semalam masih ceklis satu. Lita berharap Leo menjemputnya namun harapannya kosong belaka.


Di Kampus


Astrid merasa khawatir tak melihat Lita hari ini. Tadi Astrid melihat Leo. Saat Astrid hendak mengejar Leo, Leo malah di panggil ke ruangan Rektor.


Astrid menghubungi ponsel Lita. Jam pelajaran kedua akan segera di mulai. Astrid sedang mengandung. Pernikahannya dengan Arham membuahkan hasil.


"Assalamu alaikum Sayang..." Astrid menyapa.


"Memang Pak Dokter gak menjemputmu?... Ya Aku lihat Dia tadi. Aku baru akan mengejarnya menanyai kabarmu, tapi gak sempat......." Astrid menjawab sahutan ponselnya.


"Insyaa Allah yah.... Iya Aku kesana selesai kuliah." Kata Astrid lagi.


"Wa alaikumussalaam...." Astrid menjawab salam dari Lita dan segera mematikan ponselnya. Astrid segera masuk kelas.

__ADS_1


________________________


"Panas sekali badan Kamu... Kenapa bisa sakit sih? Terus mata Kamu sembab, kenapa? Kamu udah makan??" Astrid langsung bawel mengintrogasi Lita.


"Aduuuhhh Striiiddd.... Aku pusing denger Kamu ngoceh-ngoceh... Kepala ku tambah sakit." Rengek Lita manja.


Astrid mengompres dahi Lita. Memasukan termometer kedalam mulut Lita. Lita hanya pasrah dengan perlakuan Astrid. Mau bagaimana lagi, saudara nya di Negara ini hanya Astrid.


"Kamu gak sedang bertengkar sama Pak Asdos kan?" Selidik Astrid.


Lita menggeleng lemah.


"Tapi kenapa ponsel nya Pak Asdos gak aktif?" Tanya Astrid lagi.


"Aku juga gak tahu, Strid..." Kata Lita lemah.


Astrid menyuapi makanan cepat saji yang Astrid beli sebelum ke apartemen karena Lita memesannya.


Lita menerima suapan Astrid perlahan. "Maaf ya Strid, Aku merepotkan Kamu." Kata Lita dengan suara lemah.


"Kamu apaan siih? Kita ini kan bersaudara. Aku hanya punya Kamu disini, Kamu juga cuma punya Aku." Kata Astrid.


"Aku hanya khawatir dengan kondisi Kamu yang sedang berbadan dua." Kata Lita.


"Alhamdulillaah... Anakku kuat. Dia ngerti banget kalau Mama nya lagi repot... hehehe...Insyaa Allah Kak Arham akan terbang kesini. Kemungkinan Abang akan stay disini sampai Aku lulus." Kata Astrid.


"Seneng yah udah punya Suami, sekarang malah sudah ada dedek bayi di rahim Kamu. Papa nya juga mau nyusul kesini." Puji Lita.


Astrid tersenyum. "Aku doakan, Semoga Kamu juga cepat-cepat meraih kebahagiaan Kamu...." Doa Astrid.


"Aamiin...." Jawab Lita dan Astrid kompak.


"Udah Strid... Aku udah kenyang." Lita mendorong piring yang akan disodorkan Astrid agar makanan di sendok gak tumpah ke kasur.


"Dikit lagi yah... Sayangkan kalau mubazir." Pinta Astrid.


Mau gak mau Lita menerima suapan lagi dari Astrid. Walau sebenarnya perutnya sudah terasa mual. Namun sebisa mungkin Lita menahannya.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Astrid memberikan obat penurun panas dan sakit kepala pada Lita.


__ADS_2