
"Maafkan Fathir Ma.... Eyang Fathir sekarang ini kan sudah tinggal di Jakarta lagi, jadi Fathir tinggal sama Mereka." Kata Fathir.
Diandra masih memeluk tubuh Fathir melepas kerinduannya.
"Mama sehat-sehat saja kan?" Tanya Fathir.
Diandra melerai pelukannya. Dia mengajak Fathir untuk masuk kedalam rumah. Diandra menggandeng tangan Fathir.
"Alhamdulillaah.. Mama sehat. Akhir-akhir ini Mama banyak kerjaan." Kata Diandra.
"Kamu kesini sama siapa? Kok tahu rumah Mama?" Tanya Diandra.
"Tadi Aku diantar Atala Ma...." Kata Fathir.
"Terus Atala nya Mana? Kok Mama gak lihat?" Tanya Diandra.
"Tadi Mama Tia telpon, Atala disuruh pulang dulu sebentar. Nanti juga Atala kesini lagi, Ma." Jelas Fathir.
"Oohh... Kamu sudah makan?" Tanya Diandra.
"Sudah Ma... Tadi Oma yang siapin. Aku disini dari ashar Ma..." Kata Fathir.
"Kenapa Kamu gak kabari Mama... Kan Mama bisa pulang lebih cepat." Diandra mengrucutkan bibirnya.
Fathir tersenyum. "Kalau Aku bilang ada disini gak seru lagi dong..." Canda Fathir.
"Kamu tuh yaaahhh..." Diandra mencubit Pipi Fathir.
Tante Dewi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya. "Diandra.... Sudah dong... Kasihan Fathir."
"Mama... Diandra kan kangen sama Fathir..." Kata Diandra manja.
Fathir hanya tersenyum. "Sekarang Mama makan dulu. Mama sudah shalat ashar kan?" Tanya Fathir.
"Sudah Sayaaang... Tadi di Kantor. Mama tak pernah melalaikan waktu shalat." Kata Diandra.
"Ma... Diandra mau bersih-bersih dulu, sudah sore. Nanti saja makannya abis maghrib." Kata Diandra yang melihat Mama nya akan menyiapkan makan untuknya.
"Ya Sayaaang..." Kata Tante Dewi.
"Fathir sudah mandi, belum?" Tanya Diandra.
"Sudah Ma... Tadi Oma juga sudah menunjukkan kamar Fathir." Kata Fathir.
Diandra mengangguk dan tersenyum.
Sebuah motor masuk kedalam pekarangan rumah Tante Dewi.
"Itu pasti Atala, Oma." Kata Fathir yang segera berlalu keluar.
Fathir tersenyum melihat Atala. "Kok lama banget sih? Aku BT sendirian disini." Bisik Fathir.
Atala terkekeh. "Maaf... Tadi Aku disuruh tunggu sama Mama, Mama buatkan ini buat Kita." Kata Atala yang mengangkat bungkusan yang dia bawa.
"Assalamu alaikum..." Salam Atala.
__ADS_1
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Tante Dewi.
"Oma... ini dari Mama." Kata Atala yang menyerahkan bungkusannya pada Tante Dewi.
"Kok Mama Mu repot-repot sih Atala." Kata Tante Dewi.
"Gak repot kok Oma. Mama dengan senang hati membuatnya. Kata Mama, Aku dan Fathir makannya banyak... Hehehehe..." Kata Atala yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Tante Dewi tersenyum. "Bisa saja Mama Mu. Kamu pasti bahagia sekali memiliki Mama seperti Tia. Tia sangat baik dan perhatian." Puji Tante Dewi.
"Pasti dong Oma. Atala bahagia mempunyai Mama seperti Mama Atala. Mama Atala itu yang terbaik." Kata Atala.
"Eiittsss... Mama Aku juga terbaik." Fathir tak mau kalah membela Mama nya.
"Hahahaha...." Atala tertawa. "Ya dong, Mama Fitri juga baik. Aku jadi kangen sama Mama Fitri." Kata Atala.
"Nanti Kita telpon Mama Ku." Kata Fathir yang merangkul bahu Atala. Atala tersenyum dan mengangguk.
"Oma... Kok Aku gak lihat Opa Hendra?" Tanya Atala.
"Opa Mu sedang keluar Kota Atala." Kata Tante Dewi.
"Oma kesepian dong." Kata Atala.
"Ya... Oma selalu kesepian. Apalagi kalau Mama Diandra kerja, Oma sendirian di rumah. Oma seneng banget Atala dan Fathir kesini. Oma jadi gak kesepian." Kata Tante Dewi.
"Nanti Atala akan bilang sama Papa, supaya sering-sering kesini tengokin Oma." Canda Atala.
Tante Dewi mengelus kepala Atala. "Kamu itu persis kaya Papa Mu." Kata Tante Dewi.
Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Atala sudah sampe?" Tiba-tiba Diandra sudah turun dari kamarnya.
"Mama..." Atala segera menghampiri Diandra dan mencium punggung telapak tangan Diandra. Diandra mengusap kepala Atala.
"Aku baru saja sampe Mama, tadi Mama Aku suruh Aku pulang dulu." Kata Atala.
"Ini loh Andra, Tia membuatkan makanan kesukaanmu dan Mama..." Kata Tante Dewi.
"Oh ya... Mama mu memang gak pernah lupa sama makanan kesukaan Oma dan Mama Diandra." Puji Diandra.
"Itu juga masakan kesukaan Aku, Ma." Kata Atala.
"Oh ya... kok bisa sama ya." Canda Diandra. Ada perasaan aneh dalam hati Diandra tapi Diandra buru-buru menepisnya.
"Mama Diandra kenapa? Kok tiba-tiba murung?" Tanya Atala.
"Oh... gak apa-apa Atala." Kata Diandra yang segera tersenyum pada Atala.
"Sebentar lagi Adzan maghrib. Ayo kita siap-siap. Kalian nginep disini kan?" Tanya Diandra.
"Ya Ma... Besok kan Kita libur Kuliah. Twins juga libur sekolah. Jadi Aku gak anter Twins ke sekolah." Kata Atala.
"Kenapa adikmu gak diajak sekalian? Kan Oma dan Mama jadi gak kesepian." Kata Oma Dewi.
__ADS_1
"Tadi Aku mau ajak. Tapi mereka gak mau, belum ijin sama Papa. Mungkin besok Papa, Mama dan adik-adik kesini." Kata Atala.
"Alhamdulillaah kalau begitu..." Kata Oma Dewi.
______________________
"Yang.... Baru saja Atala nginep di rumah Tante Dewi, Aku merasa kesepian." Kata Tia yang sedang berbaring di sebelah Lambok.
Lambok memiringkan tubuhnya menghadap Tia. Lambok merapihkan anak rambut Tia. "Kita harus belajar hidup tanpa Atala, Sayang... Aku merasa suatu hari nanti Atala akan meninggalkan Kita." Kata Lambok lembut.
Mata Tia sudah berkaca-kaca.
"Ssttt... Jangan menangis. Kita sudah mengasuh Atala dari Bayi hingga sebesar sekarang. Mengasuh Twins dan Tristan. Kita harus siap jika suatu hari nanti Anak-anak Kita meninggalkan Kita." Kata Lambok lagi.
"Mungkin perasaan orangtua Kita sama, Mereka satu persatu ditinggal anak-anaknya menjalani kehidupannya masing-masing." Lambok berkata bijak.
Tia mengusap air mata nya. "Kamu benar Sayang... Aku begitu egois ingin memiliki Atala selama nya. Padahal nanti Atala akan mempunyai kehidupannya sendiri."
Lambok tersenyum. "Ini baru istriku." Goda Lambok yang mengecup bibir Tia.
Tia memeluk erat tubuh Lambok. "Aku bahagia memilikimu." Kata Tia.
Lambok membalas pelukan Tia.
____________________
"Atala... Kamu ngapain pagi-pagi sudah nyapu? Nanti ada Bibi yang ngerjain." Kata Oma Dewi.
"Gak apa Oma. Aku dirumah biasa begini. Itung-itung olahraga." Kata Atala yang tersenyum.
"Mama mu mendidik kalian mandiri, ya?" Tanya Oma Dewi.
"Ya Oma. Mama gak mau Kita selalu mengandalkan Asisten rumah tangga. Kata Mama banyak bergerak, tubuh Kita akan sehat." Kata Atala.
"Kamu benar. Papa mu dulu sakit-sakitan. Tapi semenjak mengenal Mama Mu, Papa mu sehat-sehat saja." Puji Oma Dewi.
Atala tersenyum. Atala mengingat kalau pagi-pagi begini, Dia akan menggoda Vita yang sedang membantu Mama nya membuat sarapan.
"Kok melamun? Kangen ya sama Mama?" Goda Oma Dewi.
"Ya Oma... Kalau di rumah pagi-pagi begini Mama sedang buat sarapan. Twins bantu Mama.... Aku selalu menjahili Vita." Kata Atala tersenyum.
"Deeehhhh yang sedang kasmaran...." Goda Fathir yang tiba-tiba sudah berada disana membawa selang air untuk menyiram.
"Maksud Fathir?" Oma Dewi bingung.
Atala menginjak kaki Fathir. "Aduuuhhh...." Fathir meringis. Fathir menutup mulutnya yang keceplosan. Dan air yang diselang membasahi tubuh Atala.
"Gak kok Oma... Atala lagi mengingat gadis di kampus. Dia kan jadi idola di kampus." Kata Fathir mengalihkan pembicaraan.
"Atala memang seperti Lambok. Dulu juga Papa nya Atala jadi Idola di sekolah." Tiba-tiba Diandra sudah berada di teras membawa nampan yang berisi cangkir-cangkir teh dan cemilan.
"Loh kok baju Atala basah?" Diandra kaget.
"Ya Ma... Tuh Fathir iseng. Aku disemprot pake air selang." Canda Atala.
__ADS_1
Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal.