
Dua Minggu Kemudian.
"Surprise.....!!" Atala, Vita, Fathir dan Joana berteriak di dalam Mess Lita dan Astrid saat Lita membuka pintu mess dan menyalakan lampu. Sebelumnya Astrid dan saudara-saudara Lita telah merencanakan kejutan Ulang tahun untuk Lita.
"Selamat ulang tahun Sayang..." Vita mencium pipi Lita. Lita masih tak percaya dengan apa yang sedang Dia alami sekarang.
"Selamat Ulang tahun juga Twin ku..." Lita balik menciumi pipi Vita.
Yang hadir tersenyum.
"Lita... Abang dan Kakak gak terima Kamu permainkan seperti ini." Ketus Atala dan Fathir dengan memasang mimik tak mengenakan. Joana dan Vita menunduk ngeri.
Astrid segera masuk ke dalam merasa tak enak. Ini urusan keluarga.
"Maksud Bang Fathir dan Kak Atala?!" Lita bingung karena sikap kedua Abangnya yang tiba-tiba berubah.
"Apa Kamu tak menganggap Kami adalah Abang-abang mu lagi?!" Bentak Fathir.
"Aku gak ngerti Bang Fathir ngomong apa? Aku baru saja terkejut dengan perayaan ulang tahun ini. Sekarang masalah apa, Aku gak tahu. Abang dan Kakak kok malah marah-marah." Lita terpancing emosinya.
"Kata mu sudah move dari Vero. Tapi kenapa Kamu masih saja berhubungan dengan Vero! Vero itu suami sahabat mu, Diah!" Bentak Atala.
"Haaahhh!!!" Lita menganga tak percaya. "Siapa yang balikan sama Vero?! Ketemu aja gak pernah! Jangankan bertemu, semua kontak dan akun sosmed nya sudah ku blokir.' Lita sangat kesal.
"Lalu, Siapa Dia?!" Fathir dan Atala menoleh ke arah Astrid yang sudah menggandeng Arby. Astrid cengar-cengir kuda. Sedangkan Arby tersenyum penuh rindu.
"Kak Arby!!" Lita melotot.
"Selamat Ulang Tahun, Sayang..." Arby hendak memeluk Lita, tapi...
"Eeeiiittssss.... Bukan muhrim. Main peluk-peluk aja!" Ketus Vita.
Arby terkekeh malu, menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. "Maaf Kakak ipar." Canda Arby.
Lita memukul lengan Arby. "Apaan sih Kak?!" Lita mengrucutkan bibirnya.
"Loh... Jadi Dia siapa kalau bukan kekasihmu?! Tadi Dia mengaku kekasihmu..." Tanya Atala.
"Aku.... Aku...." Lita gugup.
"Aku apa? Ngomong yang jelas." Hardik Fathir dibuat-buat.
"Aku belum bisa menerima nya. Tapi Aku sangat berusaha." Lita ceplas-ceplos.
"Apa karena wajahnya mirip Vero?!" Tanya Joana.
__ADS_1
Lita menggeleng cepat. "Itu yang Aku takutkan. Jika Aku mencintainya karena wajah Vero." Lita menunduk. "Maafkan Aku Kak Arby."
Arby hanya tersenyum. "Aku maklum." Kata Arby lembut.
"Sudah dong sandiwara nya. Laper nih." Astrid tiba-tiba menyela.
"Haaahhh!!" Lita mendongak dan melotot pada Saudara-saudara nya juga Astrid. Tak terkecuali Arby.
"Aku gak ikut-ikutan. Aku hanya diberitahu Astrid hari ini Ulang tahunmu, Makanya Aku segera booking tiket ke Negara Ini." Jelas Arby menjawab tatapan sinis Lita.
"Iissshhhh... Kembaranku galak amat siiihhh...." Goda Vita.
"Kamu juga Vit, ngapain ikut-ikutan. Ini kan Ulang tahun Kita juga." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Aku berusaha menjadi istri yang baik. Menurut apa kata Suami." Canda Vita sambil mengerlingkan matanya ke arah Atala.
"Huuuhhhh... Kamu jahat Strid." Tuduh Lita.
"Hahahahaha... Maaf. Aku cuma ingin Kamu dan Kak Arby bahagia." Astrid mengangkat dua jari nya.
"Sudaaahhh... Ayo Kita makan. Kasihan tuh cacing di perut Astrid sudah berontak." Canda Fathir yang segera merangkul bahu Lita.
"Hahahahahaha ..." Semua yang hadir tertawa. Astrid menutup wajah nya malu.
"Kok Kak Arham gak ikut, Kak?" Tanya Lita.
Di sela-sela makan malam, Mereka bersenda gurau. Fathir banyak bertanya pada Arby. Dia sangat posesif akan Lita.
"Jadi Kamu benar-benar tak punya siapa-siapa lagi, selain Astrid dan Arham?!" Tanya Atala.
Arby mengangguk. "Abah ku meninggal karena sakit. Tak lama Ami ku menyusul. Ami gak sanggup ditinggalkan Abah." Arby menunduk.
Fathir mengusap bahu Arby. "Kamu harus kuat. Kalau Kamu lemah, Aku orang pertama yang akan menentang hubunganmu dengan Adikku."
Arby mengangguk-angguk. Sedangkan Lita sudah berulang kali mengusap airmata nya merasa terharu mendengar cerita hidup Arby.
Astrid mengusap bahu Lita.
"Bagaimana ini? Keluarga ku sudah mengenal Kak Arby. Sedangkan hati ku belum sama sekali menerima nya. Aku hanya kasihan pada nya." Batin Lita sambil mengusap airmatanya.
"Sayaaang... Kamu baik-baik saja?" Tanya Arby penuh perhatian.
Lita mengangkat wajahnya melihat ke arah Arby dan mengangguk.
"Jangan dimasukan dalam hati. Semua terjadi sudah sangat lama. Aku sudah ikhlas melepas kepergian Orangtua ku." Kata Arby.
__ADS_1
Lita hanya diam. Astrid terus mengusap punggung Lita dengan lembut.
____________________________________
Dua minggu ini Leo ijin dari Kampus dan Rumah Sakit karena menemani sang Papa yang sedang dirawat.
Beberapa kali Lita dan Astrid menjenguk Alex namun tak pernah bertemu dengan Leo.
Leo sangat penasaran dengan penolong Papa nya dan selalu menjenguknya saat diri nya sedang kembali ke apartemen.
Hari ini Leo pindah ke rumah Sang Papa. Dia sudah berfikir untuk menemani Sang Papa.
Nasehat Atala masuk kedalam otak nya untuk tidak meninggalkan Sang Papa. Papa nya juga mulai belajar agama Islam. Pada awal nya Alex sangat berat menerima pelajaran. Untuk mengucap dua kalimat syahadat saja, Alex sampai keluar keringat dingin dan sempat ngedrop.
Leo meminta sang Papa untuk menghentikan mempelajari tentang Agama Islam. Dia sangat takut melihat reaksi sang Papa yang menggigil saat mengucap dua kalimat syahadat.
Namun karena rasa sayang dan cinta pada Sang Istri, Alex meminta Leo menghubungi Atala lagi agar menemui nya di Rumah Sakit.
"Pa... Menyeramkan sekali kalimat itu. Aku takut Papa kenapa-napa." Kata Leo saat Dia menemani sang Papa di ruang rawat.
Alex tersenyum. "Papa gak apa-apa, Sayang. Mungkin Tuhan Allah marah sama Papa karena telah menjauhi Mama mu dengan-Nya." Kata Alex.
Leo hanya menghela nafas. Leo tahu betul kekerasan hati Sang Papa. Jika keinginan nya A, harus A dan harus diikuti.
"Kamu tahu Nak. Awal nya memang Papa sangat tersiksa. Tapi semakin sering Papa menghadapi hukuman ini dan terus menyebut Kalimat itu, Ada hawa tentram di hati Papa." Jelas Alex.
"Apa Papa bahagia?" Tanya Leo.
Alex mengangguk. "Papa gak sabar untuk menemui Mama mu. Tapi Papa harus siap segala nya. Ini ujian untuk Papa."
"Tapi Apa Tuan Atala tidak masalah. Ini akan mengganggu pekerjaannya Pa." Tanya Leo.
Alex menggeleng. "Dia orang baik Nak. Seumur hidup Papa baru bertemu orang-orang tulus seperti Atala dan Ustadz Joey. Dalam bisnis saja, Ustadz Joey sangat jujur. Makanya Papa sangat senang bekerja sama dengannya. Demikian juga dengan Atala. Dia sangat teliti dalam pekerjaan. Tak mau ada kesalahan sekecil apa pun. Mengajari Papa agama Islam juga sangat sabar. Beruntung sekali orangtua nya memiliki Putera seperti Atala." Alex meneteskan airmata. Dia menyesal tak pernah membekali pelajaran Agama pada Anak-anaknya. Walau anak-anak nya tumbuh menjadi orang baik tapi kurang dilandasi Ilmu agama.
Leo mengusap bahu Sang Papa. "Tuan Atala sudah membalas pesanku Pa. Hari ini Dia gak bisa datang karena sedang membuat acara kejutan untuk Adiknya yang kuliah disini." Kata Leo.
"Apakah adiknya perempuan?" Tanya Alex.
"Aku kurang tahu Pa. Memang kenapa?" Tanya Leo bingung.
"Kalau Adiknya perempuan, ingin sekali Papa agar Dia mengenalkan Adiknya pada mu. Pasti Adiknya juga setulus Dia." Canda Alex.
"Papa ada-ada saja. Gak mungkin lah. Leo mencintai seseorang. Gak ingin yang lain." Tegas Leo.
"Semoga Dia wanita baik-baik ya Nak." Alex mengharap.
__ADS_1
"Aamiin...." Jawab Leo.