CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Bebas


__ADS_3

Perhatian Leo pada Lita membuat hati Lita berbunga-bunga. Namun Lita masih pandai memyimpannya. Dia tak ingin bermain api. Apalagi Leo yang masih ragu dengan syarat yang Lita ajukan.


Lita memang sudah menjawab pernyataan cinta Leo dengan syarat Leo harus mengikuti kepercayaan Keluarga Lita.


"Tapi kan untuk saat ini, Aku juga harus mengenal dirimu, Kamu juga belum tahu bagaimana Aku?!" Leo menampik waktu itu.


"Baik... Dokter boleh mengenal dekat Aku. Tapi Aku gak suka Dokter main cium-cium seperti waktu itu. Kita bukan muhrim!" Tegas Lita.


Leo hanya menghela nafas mengalah. "Susah banget sih menaklukan Kamu..." Batin Leo.


Seperti hari ini, hari ketiga dimana Mama dan Papa Lita juga saudara-saudara nya tak juga datang menjenguk Lita. Begitu juga dengan Astrid.


Lita terlihat murung. Dia kesal entah pada siapa. Mood nya benar-benar buruk.


"Selamat Pagi, Sayaaang...." Sapa Leo yang datang membawa troli sarapan Lita.


Lita tak menjawab. Lita memalingkan wajahnya.


"Loohhh kok pagi-pagi sudah manyun." Goda Leo.


"Kapan sih Aku keluar dari sini?!" Lita mengrucutkan bibirnya. "Aku bete disini. Mama dan Papa juga gak datang-datang." Lita merajuk. Airmata nya sudah akan tumpah.


"Ssttt... Kok gitu sih? Memang Aku gak menyenangkan buatmu?" Tanya Leo.


Lita menggeleng. "Gak..!" Ketusnya.


Leo menghela nafas. "Kita kan sudah berbaikan. Kita sepakat untuk saling mengenal." Leo duduk dihadapan Lita sambil menyuapi sarapan untuk Lita.


Sudah beberapa hari ini Lita mau disuapi oleh Leo. Itu karena Leo yang memaksa. Akhirnya Lita jadi terbiasa.


"Abis Dokter suka kurang ajar." Kata Lita sambil mengunyah makanannya.


Leo terkekeh. "Abis Kamu gemesin." Leo menoel hidung Lita dengan hidungnya.


"Tuh kan... Mulai deh..." Lita memundurkan wajahnya.


"Hahahaha...." Leo sangat senang menggoda Lita.


"Kalau Aku kasih ijin Kamu keluar Rumah Sakit hari ini, Kamu mau kasih apa ke Aku?" Tanya Leo.


"Benarkah?!" Mata Lita berbinar.


Leo mengangguk pasti, senang melihat keceriaan diwajah Lita. "Apa hadiah untuk Aku?" Todong Leo.


Lita nampak berfikir. "Aku janji akan mengejar ketinggalan belajar ku selama sakit." Kata Lita.


"Cuma itu? Itu sih bukan buat Aku. Tapi buat Kamu." Leo tak semangat.


"Terus Dokter minta apa?" Lita terlihat bingung.


"Aku mau Kita jalan-jalan seharian kemana pun Aku mau. Tapi selama jalan-jalan, Kamu harus bersikap mesra sama Aku." Pinta Leo.


"Huuhh... Itu sih mau nya Dokter. Aku gak mau!" Ketus Lita sambil mendorong meja sarapannya.

__ADS_1


"Sedikit lagi makannya..." Pinta Leo lembut.


Lita menggembungkan pipi nya sambil menggeleng.


Leo terkekeh dengan kelakuan Lita. Leo merapihkan peralatan makan Lita dan mejanya. Dia memindahkan ke bawah washstafel. Leo mencuci tangannya.


"Mau jalan keluar? Ke taman?" Ajak Leo.


Lita menggeleng. Lita memeluk bantalnya. Wajahnya kembali murung. "Biarin Aku jadi tahanan aja di Rumah Sakit ini." Lita sangat kesal. Airmata nya sudah mengambang disana.


Leo meninggalkan ruangan rawat Lita. Lita menangis sepeninggal Leo.


"Mama... Hik... hik... Papa... Hik... hik... hik... Kalian dimana sih? Kapan Aku keluar dari sini." Lita terisak. Lita mengambil ponsel nya. Mencoba menghubungi Keluarganya. Tapi tak satu pun mengangkat panggilan Telepon Lita.


Lita melempar ponsel nya ke samping. "Huh! Gak ada yang sayang sama Aku." Lita duduk bersandar. Tangannya menggapai Laptop nya yang berada diatas nakas.


Lita memeriksa tugas-tugas kuliahnya. Dokter David memang mengirimkan pelajaran dan kuis pada Lita. Tapi Dokter David tidak memaksakan Lita untuk mengerjakannya. Lita boleh menyusul memberikan tugas-tugasnya.


Lita tak bisa fokus. Pikirannya pada persyaratan Leo yang mengajaknya jalan sebagai imbalan keluar dari Rumah Sakit. "Huuhh... Dasar Dokter mesum!" Lita menggrutu kesal.


Lita hanya membolak balikkan kursor Laptopnya, scroool keatas dan kebawah tanpa tahu apa isi pelajarannya.


Lita turun dari brankarnya. Menenteng botol Infusnya ke kamar mandi. "Sebenarnya Aku kan sudah sehat. Ini pasti akal-akalan Dokter Leo biar Aku lama disini." Grutu Lita.


Lita menyiram tubuhnya perlahan. Rasa nyeri pada lengan yang tertusuk jarum infus, Dia tahan. Perlahan Lita membersihkan tubuhnya. Dia sangat ingin keramas. Mengguyur kepalanya dibawah shower dengan air dingin. Padahal cuaca disana sangat dingin. Tapi hati Lita sedang panas karena kesal dengan syarat Leo.


Entah berapa lama Lita berada di kamar mandi. Lita keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Dia tak bisa mengeringkan rambutnya sendiri. Biasanya Vita yang membantunya atau Mama nya.


Lita terperanjat melihat Leo duduk di sofa.


Leo menghampiri Lita. "Dokter mau apa? Aku sedang tak berhijab. Tolong tinggalkan Aku sendiri." Pinta Lita gugup.


Tapi Leo seakan tak mendengar. Leo merangkul bahu Lita dan mengajaknya duduk. Leo mendudukan Lita di kursi samping brangkar. Leo memgambil handuk yang menutupi kepala Lita.


Dengan lembut Leo mengusap rambut Lita yang basah. "Kalau gak bisa, kenapa keramas? Pake air dingin lagi." Kata Leo.


Lita yang dari tadi pasrah akan perlakuan Leo, hanya diam tak menjawab.


"Lihat tuh, bibir Kamu sampai biru. Nanti kalau sakit lagi, gimana? Gak keluar-keluar deh dari sini." Kata Leo penuh kasih sayang.


Lita tetap tak bergeming. Leo mengambil handuk kering lain dari dalam lemari untuk mengganti handuk Lita yang sudah basah kuyup. Leo membungkus rambut Lita dengan handuk.


Leo memeriksa kondisi tubuh Lita yang menggigil. Leo menggelengkan kepala. Leo mengambil minyak kayu putih dari nakas. Dia mengolesi leher Lita. Bibir Lita sudah mau protes tapi Leo segera mencegahnya.


"Gak ada protes. Ini semua salah Kamu." Tegas Leo.


Lita hanya pasrah. Sambil batinnya terus minta ampun pada Allah karena laki-laki bukan muhrimnya melihat auratnya dan menyentuhnya. Jantungnya dari tadi juga gak mau kompromi, gak mau tenang.


Leo mengambil lengan Lita dan mencabut jarum infus dari tangan Lita. Leo juga mengompresnya.


"Terima kasih." Kata Lita pelan nyaris tak terdengar. Lita tak ada semangat hari ini.


"Minum lah... Biar hangat tubuhmu." Leo menyodorkan teh hangat pada Lita.

__ADS_1


Lita menerima nya. Dan menggenggam gelas teh itu. Jari nya yang dingin terasa hangat menyentuh cangkir tersebut. Perlahan Lita meminumnya.


Leo merapihkan pakaian Lita. Memasukannya kedalam tas. Lita bingung dengan apa yang diperbuat Leo. "Dokter... Banyak barang pribadi Aku..." Lita sangat malu.


"Gak usah malu. Aku ini seorang Dokter." Kata Leo.


"Dokter mesum." Kata Lita pelan tapi terdengar oleh Leo.


Leo mendongak. "Aku mesum sama Kamu aja. Itu karena Aku serius sama Kamu." Kata Leo kesal.


Lita bersungut. Tapi terbesit senyum dibibirnya. Leo tak melihatnya.


"Kenapa barang-barang Aku dirapihkan? Apa Aku akan dipindahkan ke ruang ICU?" Lita sangat kesal.


"Ya... Kamu, Aku pindahkan ke ruang ICU di apartemenku, mau?!" Kata Leo asal.


Lita cepat-cepat menggeleng. "Gak... gak... Enak aja. Memang Aku, istri Dokter!?" Lita cemberut.


"Calon istri Aku." Jawab Leo.


"Huh... Gak mungkin... Syarat ku aja gak dipenuhi." Cibir Lita.


Leo tak menjawab. Dia terus merapihkan barang-barang Lita. Leo membawa keluar satu tas besar milik Lita keluar ruang perawatan.


"Dokter... Mau kemana? Kenapa barang-barangku dibawa?" Teriak Lita.


Leo tak menjawab. Leo meninggalkan Lita begitu saja.


Lita bangun dari duduknya. Dia menuju lemari. Dia melihat pakaian dalamnya masih utuh disana. Lita buru-buru memasukan kedalam tas nya yang satu lagi. Dia juga merapihkan pakaian kotornya. Memasukan dalam polyback.


Tak lama Leo kembali. "Kamu sedang apa?" Tanya Leo yang mengagetkan Lita.


"Hah?! Aku... Aku merapihkan barang-barangku." Wajah Lita bersemu merah.


"Ganti baju sana! Apa Aku juga yang akan menggantikannya?!" Canda Leo namun tegas.


Lita melotot. "Enak saja! Huh... Mau nya!" Lita buru-buru masuk ke kamar mandi lagi setelah mengambil bajunya yang baru.


Leo menyeringai. Dia senang menggoda Lita. Tak lama Lita keluar sudah rapih dengan setelan rok dan hijabnya.


"Gak make up?" Tanya Leo.


"Memang Kita mau kemana?" Lita masih bingung.


Leo menyerahkan surat-surat keluar rumah sakit pada Lita. Lita membacanya. Senyumnya melebar. "Jadi Aku bebas hari ini?!" Lita tak percaya.


"Memang Kamu tahanan?" Ketus Leo.


"Anggap saja begitu." Sahut Lita asal. Wajah nya berseri-seri. "Terima kasih Dokter." Lita hendak memeluk Leo namun tertahan. Lita sadar.


Leo merentangkan tangannya. "Sini kalau mau peluk." Goda Leo.


"Gak..." Kata Lita singkat.

__ADS_1


Leo terkekeh.


__ADS_2