
Tok... tok... tok...
Lita mantab mengetuk pintu ruang sidang nya. Lita melangkah masuk ketika terdengar suara akses pintu yang terbuka dari dalam.
"Selamat Siang Dokter...." Sapa Lita. Lita belum tahu Dosen Penguji nya seorang Dokter Wanita atau Pria.
Lita melangkah masuk. Lita berdiri di depan meja. Nampak Kursi Dosen Penguji terakhirnya terputar ke belakang. Lita menahan nafas nya. Walau Dosennya membelakangi nya, Lita tahu siapa Beliau. Kedekatannya dengan Dosen itu tak memupus postur tubuh Dosennya dari ingatannya. Walau bagaimana pun Lita sudah sangat mengenalnya.
Kursi itu berputar. Wajah Dosen itu tersenyum sinis pada Lita. "Duduk..!" Perintahnya.
"Te... terima Kasih Dokter." Kata Lita terbata. Tiba-tiba jantung nya berdegub kencang. Lita tak pernah menyangka kalau ternyata Dosen Penguji terakhirnya adalah Leo, Laki-laki yang selama ini Lita rindukan juga Lita benci karena penghiatannya.
"Silahkan dimulai presentasi nya." Perintah Leo ketus.
Lita menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Bismillaah..." Gumam Lita.
Namun masih terdengar oleh Leo. Leo tersenyum, tapi Lita tak melihatnya karena Lita sudah mulai membuka makalahnya.
Lita mulai mempresentasikan risetnya secara gamblang dan lugas. Bahasa Negara J nya sangat fasih. Walau Lita tahu Leo paham dengan bahasa Indonesia tapi Lita harus profesional. Bahasa Indonesia Leo belumlah Fasih masih terbata-bata dan banyak yang Leo tak mengetahuinya.
"Demikian ulasan dari Saya." Lita menutup presentasinya.
"Hhmmm..." Leo berdehem sekali. Leo nampak tidak puas, Dia memulai mencecar Lita dengan pertanyaan-pertanyaan yang diluar dugaan Lita, malah cenderung keluar dari makalah riset.
Namun dengan santai Lita menjawab cecaran Leo walau Lita tak habis pikir dengan pertanyaan Leo.
"Jadi.... Apakah cinta juga bisa mengobati penyakit seorang pasien?" Leo kembali mencecarnya.
"Tidak masalah jika itu bisa membuat semangat hidupnya kembali." Jawab Lita. Lita kini tak grogi lagi, malah cenderung menantang Leo yang seenaknya saja menuduh Lita mempermainkan nyawa pasiennya.
"Lalu mengapa Dia sampai meninggal Dunia?" Tanya Leo lagi makin menggebu.
__ADS_1
"Hidup mati seseorang bukan ditangan seorang Dokter atau ditangan manusia. Allah SWT Yang Punya Kuasa atas Nyawa-nyawa yang DIA punya!" Jawab Lita lantang.
"Tapi, riset mu mengatakan kalau pasienmu sudah jauh lebih baik dengan riset obat mu dan beberapa terapi yang Kamu berikan. Kenapa bisa kolep?!" Leo makin gencar.
Lita merasa tertohok. Tenggorokannya merasa kering. Lita menunduk menahan airmata nya yang sudah mengambang mengingat Almarhum Vero yang putus asa sejak mendengar igauannya.
Leo menyodorkan air minum kepada Lita yang memang sudah disediakan.
"Te... terima kasih Dokter...." Lita menahan isakannya. Lita mencoba mengusap airmata nya. Perlahan Lita meminum airnya. Lita masih terisak. "Astaghfirullaah..." Lita berucap.
Leo masih menunggu Lita tenang. Dan masih menunggu jawaban Lita.
Lita menengadah. "Maaf..." Kata Lita.
Leo tersenyum tulus, tak lagi terlihat sinis pada Lita. Walau bagaimana pun, Leo masih sangat mencintai Lita. Walau hati nya sedang marah pada Lita, karena Lita ternyata belum bisa move on dari cinta pertamanya, Vero.
"Pasien Saya memang jauh lebih baik setelah riset yang Saya adakan padanya." Lita memulai penjelasannnya. "Semua kesalahan Saya, karena Saya tak bisa profesional, mencampur adukan masalah pribadi dengan riset Saya." Lita kembali menunduk. Lita sudah pasrah kalau Sidang terakhir nya ini akan gagal. Lita tak ingin lagi menutupi galau di hati nya.
"Kenapa?" Tanya Leo.
"Bang Vero mendengar igauan Saya saat Saya tak sadarkan diri. Bang Vero sadar kalau selama ini, Saya hanya berpura-pura mencintai Dia agar Dia mau kembali sehat dan menjalani hidupnya seperti dulu." Lita makin menunduk.
"Igauan apa?" Tanya Leo penasaran.
"Maaf Dokter. Saya rasa sudah cukup Saya mempresentasikan Riset Saya. Dan Dokter mencecar Saya dengan pertanyaan diluar Konteks materi." Lita terlihat kesal. Airmatanya kembali menetes.
"Kalau Ujian terakhir ini Saya gagal. Saya bisa mengulangnya tahun depan. Terima kasih... Permisi..." Lita bangun dari duduknya dan berlari meninggalkan ruangan sidang dengan menahan tangisannya yang mulai membuncah.
Leo tak dapat mencegah Lita. Leo tahu Lita terluka karena kehilangan Vero. "Tapi..... Lita bilang....?? Ya Allah...." Leo tersenyum.
Lita menangis di bangku taman. Panggilan Dokter Oliver tak terdengar oleh Lita. Hingga satu sentuhan lembut dibahu Lita, menyadarkan Lita dari tangisannya.
__ADS_1
Lita menengadah. "Dokter.... Maafkan Saya... Saya gagal di sidang terakhir... Hik... hik... hik..."
Dokter Oliver terkejut. "Kok bisa? Memangnya apa materi yang ditanyakan?"
Lita menceritakan suasana di dalam sidang sana. Dokter Oliver tersenyum. Dia mengelus bahu Lita. "Kamu tenang saja, Saya mau tahu, dimana kesalahanmu... Kalau perlu Saya tantang Dokter Leo untuk bisa membuktikan kalau Riset Kamu gagal."
"Jangan Dokter.... Ini semua salah Saya. Tidak seharusnya Saya memilih pasien yang ternyata mantan Saya. Saya akan mengulangnya tahun depan. Saya harap Dokter mau membimbing Saya kembali. Saya akan ke Negara Bagian dimana Dokter bertugas." Lita mencoba bernego pada Dokter Oliver.
"Tapi disidang pertama, Kamu lulus, Lita. Saya sudah mengantongi nilai Kamu. Itu dari Dosen Senior loh." Jelas Dokter Oliver.
"Tapi Dokter, apa Dokter lupa, kalau Dokter Leo adalah Dokter muda yang terkenal cerdas." Kata Lita lagi. "Makanya Dia bisa jadi Dosen pembimbing dan Dosen Penguji." Lita menunduk.
Dokter Oliver menepuk bahu Lita pelan. "Baiklah... Tapi Saya masih optimis, Kamu lulus. Karena Saya berencana mengajakmu ke Negara Bagian J sebagai Asdos Saya, Kamu mau?"
Lita mendongak tak percaya. "Benarkah, Dokter?"
Dokter Oliver mengangguk penuh senyum tulus. "Belum pernah Saya bertemu Mahasiswa secerdas Kamu selama lima tahun ini. Saya sudah tua, butuh penerus. Saya yakin, Kamu akan mampu menggantikan Saya."
"Terima kasih Dokter. Saya akan membicarakan ini dengan Keluarga Saya... Tapi itu pun kalau Saya lulus." Lita kembali menunduk.
"Kalaupun Kamu tidak lulus, Kamu masih bisa menjadi Asdos Saya. Saya sudah merekomendasikan Kamu pada Pak Rektor. Dan beliau menyetujuinya. Kamu bisa membuat riset Kamu kembali disana, dan Saya yang akan membantu Kamu melakukan riset yang baru." Jelas Dokter Oliver yang membuat Lita tersenyum dan mengusap airmata nya cepat-cepat.
"Terima kasih Dokter. Saya janji akan lebih giat lagi belajar." Kata Lita.
"Baiklah... Hari ini sudah sangat melelahkan bagi Kamu. Kamu boleh pulang. Pengumuman kelulusan dua bulan yang akan datang, menunggu Mahasiswa lain yang masih belum rampung risetnya. Saya juga mau pamit pada Kamu. Saya tunggu kedatangan Kamu di Negara Bagian." Dokter Oliver kembali menepuk bahu Lita pelan dan bergegas meninggalkan taman.
"Ya Allaah... Alhamdulillaah..." Lita menengadah.
Lita memang sangat bangga dengan Dokter Oliver yang menjadi Dosen pembimbingnya. Selama Lita jadi bimbingannya, Lita jadi tahu karakter Dokter Oliver yang terkenal Killer.
Dokter Oliver adalah Dokter Specialis Syaraf yang sangat cerdas. Pengabdiannya selama ini banyak menetaskan calon-calon Dokter berkompeten seperti Diri nya dan juga Leo.
__ADS_1
Lita melangkahkan kaki nya dengan mantab. Lita sudah bertekad tak akan lagi cengeng demi hati yang patah. Lita yakin seiring berjalannya waktu, Allah akan mendatangkan jodoh yang terbaik untuknya.... Aamiin...😗