CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Sekali Seumur Hidup


__ADS_3

Jam 1 siang, Nindi membangunkan Marcel karena Nindi mendengar Fitri yang memanggilnya sambil mengetuk pintu.


Nindi membuka pintu. "Ya Kak, Aku sudah bangun." Kata Nindi.


"Ya sudah mandi sana, abis ini dirias lagi." Kata Fitri.


Nindi mengangguk dan segera membangunkan Marcel.


Marcel sudah duduk dipinggir ranjang. "Memang harus ya pake resepsi?" Tanya Marcel yang terlihat sangat letih.


"Ini kan acara Kita sekali seumur hidup, Sayaang..." Kata Nindi lembut.


Marcel mengecup bibir Nindi, Nindi tak menolak. Marcel menuntutnya dalam. Nindi tak kuasa menolaknya. "Aaacchhhh..." Nindi mendesah karena tangan Marcel yang sudah kemana-mana.


"Sayaaang... masih siang..." Kata Nindi yang mencoba melepas ciuman dan sentuhan Marcel.


Marcel mengecup bibir Nindi. "Aku sangat mencintaimu, Sayaang..." Kata Marcel.


"Aku juga... Sekarang Kita mandi, abis itu Sayang shalat dzuhur, tadi Aku mau bangunin gak tega." Kata Nindi.


"Mandi berdua yah...." Goda Marcel.


Nindi tersipu malu. Marcel langsung menggendong tubuh Nindi ke kamar mandi yang ada didalam Kamar Nindi.


Didalam kamar mandi.


Nindi sangat malu karena Marcel terus memperhatikan tubuhnya. "Kita lakukan disini yah..." Pinta Marcel.


"Jangaaaan... Nanti Aku mau dirias, malu kan, rambut Aku basah. Nanti kita terlambat, Sayaang..." Kata Nindi.


"Tapi Aku menginginkannya." Marcel memelas.


Nindi menggeleng. "Kamu harus belajar bersabar." Nindi terkekeh.


"Ayo ah... Nanti Kak Fitri manggil lagi. Malu tahu... Siang-siang sudah basah-basahan." Canda Nindi.


Marcel menghela nafas. Akhirnya Mereka mandi tanpa melakukan apa-apa hanya sesekali Marcel yang mengusap tubuh Nindi membantu membersihkan, demikian juga Nindi yang menyabuni Marcel.


Marcel melaksanakan shalat Dzuhur seorang Diri dikamar. Nindi menunggunya dengan sabar.


"Ya Allah... Terima kasih... Engkau mengembalikan cinta pertama Hamba dan kini telah menjadi Imam hamba." Gumam Nindi.


Nindi dan Marcel keluar dari kamar dengan wajah berseri.


"Waahhh sudah segar nih pengantin." Goda Fitri.


"Kalian makan dulu. Abis itu baru Kakak rias." Kata Fitri.


"Ya Kak....Terima kasih." Kata Nindi dan Marcel.


Marcel menikmati makanan yang disediakan. "Makanannya enak-enak sayang... Ini yang waktu itu Kamu buat dan Aku memakannya." Kata Marcel.


"Ini namanya rendang. Orang Sumatera biasa membuat ini kalau ada perayaan." Jelas Nindi.


Marcel mengangguk. Marcel menyuapkan makanan pada Nindi. Nindi sangat senang menerimanya.


Setelah itu Nindi terlihat sedang dirias oleh Fitri. Marcel memperhatikan Nindi dan Fitri. Marcel memang sudah selesai memakai pakaian untuk resepsi.


Tia masuk kedalam kamar rias sambil membawakan gaun untuk Nindi. Nindi memang tak mau memakai baju adat, karena ribet dan berat.

__ADS_1


Makanya Tia membuatkan gaun yang simple tapi tetap terlihat elegan.


Jam 2 Resepsi digelar. Para Undangan sudah tiba dari jam 1 siang.


Terlihat Papa Carlos dan Merry istrinya, yang sedang berbincang dengan Lambok. Ada juga Tabib. Ada Dokter Fajar, Mama dan Papa Lambok.


Ada Rafael dan Siska beserta anak-anak mereka yang sudah besar-besar. Anak mereka tiga orang 2 perempuan dan satu laki-laki.


Tia sangat senang melihat sahabatnya hadir dipernikahan adiknya.


Ada Tante Dewi dan Om Hendra serta Diandra. Mereka tiba bersama Mama dan Papa.


Keluarga Adrian juga diundang. Tapi hanya Adrian dan Dita serta Adnan dan Anggi yang hadir. Orangtua mereka tidak datang, Karena Pak Burhan yang gak mau nanti istrinya bikin ulah.


Sampai saat ini Bunda Adrian masih saja memendam rasa benci pada keluarga Ibu Nia. Apalagi sekarang anak-anak Ibu Nia yang sudah sukses dan mengangkat derajat orangtuanya.


Apalagi terdengar kabar Tia dibuatkan rumah mewah oleh suaminya di kampung. Tambah keki saja Bunda Dinda mendengarnya.


Ditambah lagi Adrian dan Dita yang sampai saat ini belum juga mempunyai keturunan. Semua ucapan penghinaan Bunda Dinda berbalik semua pada dirinya.


Dulu dia mengatakan kalau Tia mandul tapi ternyata Adrian yang susah memberi keturunan.


Dita celingak-celinguk mencari Tia. "Kamu cari siapa, Sayang?" Tanya Adrian.


"Aku mencari adikku, Tia. Kok gak kelihatan. Ada suaminya saja." Kata Dita.


"Coba Kamu tanya sama Ibu." Pinta Adrian.


Dita mengangguk. "Aku ke Ibu dulu, ya." Pamit Dita.


"Dita mau kemana?" Tanya Adnan.


"Dita..." Panggil Anggi. Dita menoleh. "Aku ikut ya." Pinta Anggi.


"Yang, Aku ikut Dita ya." Ijin Anggi pada Adnan. Adnan mengangguk.


Dita dan Anggi bersalaman pada Ibu. Ibu tersenyum.


"Kapan datang kalian?" Tanya Ibu.


"Baru saja, Bu." Kata Dita.


"Gimana kabar Kamu? Berapa anakmu sekarang?" Tanya Ibu.


Dita menunduk sedih. Ibu tak bermaksud menyinggung Dita. Ibu mengelus bahu Dita. "Sabar yah.. Nanti kalau ada rejekinya, pasti datang juga." Kata Ibu.


Dita mengangguk. "Aku cari Tia, Bu. Tia baik-baik saja, kan?" Tanya Dita khawatir.


"Alhamdulillah... Tia baik." Kata Ibu. "Anggi... Gimana kabarmu, Nak? Mana cucu Ibu?" Tanya Ibu.


"Alhamdulillaah sehat Bu. Anak-anakku sama Bang Adnan dan Bang Adrian, tuh disana." Tunjuk Anggi.


Ibu tersenyum. "Kalau kalian mau ketemu Tia, Ayo Ibu antar." Kata Ibu seraya beranjak dari duduknya. Anggi dan Dita terlihat senang.


Ibu mengetuk ruang rias. "Assalamu alaikum..." Salam Ibu, Dita dan Anggi.


"Waalaikumussalaam." Jawab Tia, Fitri, Nindi dan Marcel.


"Tiaaa..." Dita langsung memeluk tubuh Tia.

__ADS_1


Tia terlihat bingung. "Bu.. Siapa?" Tanya Tia.


Dita dan Anggi terkejut mendengar perkataan Tia.


"Maaf Dita, Anggi... Ibu lupa. Tia melupakan kalian. Mungkin sebentar lagi Dia mengingatnya." Kata Ibu.


Tia tambah bingung. "Memang Aku mengenal mereka, Bu?" Tanya Tia lagi.


"Nak... Ini Dita istri Adrian mantan suami Kamu. Dia sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri. Dita waktu mendengar kepergian Kamu, sampe histeris tidak percaya." Jelas Ibu.


Marcel yang diterjemahkan Nindi, mengangguk-angguk.


"Maaf ya, Kakak-kakak... Aku tidak ingat." Kata Tia merasa tak enak.


"Gak apa Tia yang penting Kamu sehat-sehat saja, kan?" Tanya Anggi.


Tia mengangguk. "Alhamdulillaah... Aku sehat."


"Oh ya, Atala mana? Aku kangen sama Atala. Pasti Dia sudah sangat besar." Kata Dita.


Tia tersenyum. "Atala tadi sama Papanya, tapi sekarang kemana, Aku gak tahu. Mungkin Dia main sama Fathir, Fahri dan Twins." Kata Tia.


"Kamu punya anak kembar, Tia?" Tanya Dita.


Tia mengangguk. "Ya Kak, perempuan. Vita dan Lita. Usia mereka sudah 9 tahun sekarang." Jelas Tia.


"Senang ya, jadi rame rumah tangga Kalian." Puji Dita.


"Alhamdulillaah Kak, Kami bahagia. Oh ya maaf, Kalau boleh Tia tahu, memang kenapa Kakak belum punya anak?" Tanya Tia.


Dita tak kaget dengan pertanyaan Tia, karena Tia memang melupakan Mereka. Mungkin inilah karma untuk orang yang pernah menyakiti Tia.


"Bang Adrian yang bermasalah." Kata Dita menunduk.


"Kakak yang sabar, yah. Kalau sudah ada rejekinya, pasti akan datang." Kata Tia menghibur.


"Ya Tia." Kata Dita.


Anggi tersenyum mendengar perkataan Tia. Tia memang orang baik. Tak pernah dendam pada siapapun yang pernah menyakitinya.


"Selesai...." Kata Fitri yang puas dengan hasil riasannya pada Nindi.


"Waaahhh... Cantik sekali. Kamu pandai merias, Fitri." Puji Dita.


"Alhamdulillaah Kak, bakat kayanya. Waktu itu kursus kue malah gak cocok. Ternyata di make up baru klop." Kata Fitri.


"Aku juga mau ah, nanti kalau ada Acara. Aku minta tolong Kamu, yah. Daripada Aku ke salon mahal-mahal." Canda Dita.


"Boleh Kak." Kata Fitri tersenyum.


Marcel tak mengedip sekalipun melihat Nindi.


"Jangan dilihatin terus Marcel, gak akan habis kok." Canda Fitri pada Marcel.


Marcel tergagap malu. "Kamu cantik sekali, Sayaaang..." Puji Marcel.


"Baru tahu...? Makanya nyeselkan gak dari dulu nikah sama Aku?" Canda Nindi.


Marcel tertawa. "Yang pentingkan sekarang Aku sudah menjadi suami Kamu." Balas Marcel.

__ADS_1


Yang lain tertawa mendengar ocehan Nindi dan Marcel.


__ADS_2