
"Tolooong....!!! Toloooong.....!!!" Akhirnya Nindi berteriak juga minta tolong karena ke empat begal itu sudah mulai akan melucuti pakaiannya.
Nindi terus meronta. Dia tak ingat lelah. Dia terus berteriak, meronta dan menendang.
Para begal itu susah membuka pakaian Nindi karena Nindi memakai jaket tebal dan celana jeans ketat yang dia sendiri susah untuk melepaskan jika berganti pakaian😅😀
"Sial nih perempuan.. Tenaganya gak abis-abis." Kata salah seorang begal yang memegang kedua kaki Nindi.
Salah seorang lagi sudah hendak mencumbu Nindi. Nindi terus melengoskan wajahnya. Dia jijik... Sangat jijik...
Begal itu lengah, telinganya berhasil digigit Nindi. Sontak dia berteriak dan menampar wajah Nindi.
"Aaaccckk...!Tolooong...!" Nindi kembali berteriak.
Tiba-tiba sebuah kaki menendang tubuh para begal.
Mereka yang tak ada persiapan langsung terjungkal.
Penolong itu meninju para begal. Para begal bangkit berempat.
Nindi yang sudah terbebas segera berdiri. Ada rasa nyeri ditubuhnya. Tapi Nindi tak mau merasakannya.
Nindi mencari kayu atau apa saja untuk memukul para begal itu dan membantu penolongnya.
Nindi menemukan sebatang kayu tergeletak. Serta merta Nindi membabi buta menghajar para begal itu.
Sontak saja mereka bubar dan langsung masuk kedalam mobil.
Nindi mencoba mengejar tapi para begal itu sudah terlebih dahulu masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas.
Nafas Nindi tersengal. Nindi melihat kearah penolongnya yang tadi sempat kena bogem mentah dari salah seorang begal.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Nindi pada sang penolong.
Sang penolong tersenyum. "Kamu yang parah terluka, masih saja mengkhawatirkan orang lain." Katanya.
Nindi tersenyum. "Mungkin panggilan hati nurani dokter." Kata Nindi.
"Ooohh... Jadi Kamu seorang Dokter?" Tanyanya.
Nindi mengangguk. Nindi mengusap tubuhnya, ada rasa nyeri.
"Kamu gak apa-apa kan? Apa mereka menyentuhmu?" Kata sang penolong.
Nindi menggeleng. Nindi merasa badannya remuk karena tak sadar berontak sejadi-jadinya.
"Kamu mau berangkat kerja atau mau pulang?" Kata sang penolong.
"Aku baru mau ke Rumah Sakit, tapi tiba-tiba Aku dihadang para begal itu." Kata Nindi pelan. Nindi tak mengeluarkan airmata.
"Terima kasih ya, Kamu sudah menolongku. Kalau Kamu tak datang tepat waktu, Aku gak tahu dengan nasibku...." Kata Nindi.
"Ya Allah.. Alhamdulillaah... Engkau mengirimku seorang penolong." Batin Nindi menengadah.
"Kamu wanita yang sangat berani. Tidak panik menghadapi masalah seperti tadi." Puji Sang penolong.
"Jadi sekarang Kamu mau lanjut ke Rumah Sakit atau pulang? Biar Saya antar." Tanya penolong itu.
__ADS_1
"Oh ya.. Kenalkan... Nama Saya Marcel." Dia memperkenalkan diri.
Nindi memang sudah tahu nama penolongnya, karena wajahnya tak asing. Dia adalah aktor laga yang sedang naik daun dan Nindi menyukainya karena peranannya.
"Aku sudah tahu. Namaku Nindi." Nindi tersenyum.
"Aku ke Rumah Sakit saja, kalau Aku pulang nanti Ibu dan Keluargaku pasti panik." Kata Nindi.
"Baiklah kalau begitu." Dia menelpon seseorang yang posisinya belum jauh darinya. "Gw sharelok ya." Katanya yang segera mematikan ponselnya. Di mengirim lokasi pada orang yang dihubungi.
Tak lama sebuah motor besar datang. Ada dua orang pria yang berboncengan.
"Kamu bawa motor Bu Dokter. Biar Dia Aku antar ke Rumah Sakit." Kata Marcel.
"Ok Bos..." Kata salah seorang dari mereka.
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan." Kata Nindi. Nindi mengambil tas nya dan barang-barang lainnya yang dia letakan di motor.
Marcel melihat Nindi yang terpincang-pincang jalannya. "Kenapa kakimu?"
"Tadi Aku tersandung waktu melarikan diri dari begal-begal itu." Jelas Nindi.
"Oohhh.... Ayo masuk." Pinta Marcel yang membukakan pintu mobil untuk Nindi.
"Terima kasih." Kata Nindi.
Mereka sudah berada didalam mobil. Marcel melajukan kendaraannya. Nindi mengambilkan ponselnya dari dalam tas.
"Maaf Aku telat, tadi ada masalah dijalan. Nanti Aku ceritakan kalau sudah sampai." Kata Nindi dan memutus sambungan telponnya.
"Jam 11. Tadi Aku berangkat sudah awal sekali. Heeeehhhh... Mana tahu tadi kena masalah." Nindi menghela nafas.
"Kok masuk malam tidak diantar suaminya?" Tanya Marcel lagi.
Nindi menengok ke arah Marcel. "Memang wajahku sudah terlihat tua, yah?" Nindi terkekeh.
"Gak juga... Cuma tanya saja. Takut nanti ada yang salah paham." Marcel terkekeh.
"Aku belum punya suami." Nindi menunduk. Dia teringat kembali dengan kekasihnya Marcel.
"Kok sedih? Ada apa? Apa perkataanku ada yang menyinggung perasaanmu?" Tanya Marcel hati-hati.
"Gak ada apa-apa. Cuma ini... baru terasa sakit badannya. Hehehehe..." Nindi mencoba menutupi.
"Sebaiknya Kamu diurut, biar enak badannya." Pinta Marcel.
"Nanti di rumah sakit Aku obati lukaku dulu. Besok kalau sudah di rumah, Aku akan panggil tukang urut." Kata Nindi tersenyum.
"Sekalian nanti Aku obati lukamu." Kata Nindi yang menunjuk pelipis Marcel dan bibirnya yang terluka.
"Gak apa. Terima kasih." Kata Marcel.
Mereka terus berbincang. Ternyata Marcel sangat ramah tidak seperti yang diberitakan di media, Marcel yang sombong dan sedikit jutek.
Setengah jam kemudian Mereka sudah tiba di parkiran Rumah Sakit.
"Masuk dulu ya, biar ku obati lukamu." Pinta Nindi.
__ADS_1
Marcel mengangguk. Marcel merasa nyaman mengenal Nindi.
"Pak, motor saya tolong taruh disana saja. Itu tempat parkir Saya." Pinta Nindi ramah. "Terima kasih pak, sebelumnya."
"Baik Bu Dokter." Kata Asisten Marcel yang memang mengikuti mobil Marcel mengantar Nindi.
"Bu Dokter..." Panggil seorang perawat.
Nindi tersenyum. Dia menyerahkan barang bawaannya pada perawat itu.
"Bu Dokter gak apa? Apa pake kursi roda saja?" Perawat menawarkan Nindi.
"Gak usah Rin. Paling lecet dikit. Tolong ambilkan obat ya." Nindi menyebutkan beberapa jenis obat luka dan obat untuk diminum.
"Baik Bu." Kata Rini, perawat yang biasa mendampingi Nindi.
Nindi mengajak Marcel masuk ke ruangannya. "Silahkan duduk. Atau mau rebahan juga boleh." Canda Nindi.
"Kamu tuh yah." Marcel tersenyum. Mereka memang langsung akrab. Karena keduanya memang mudah bergaul.
Nindi bergegas mengobati Marcel setelah Rini membawakan obat-obatan yang Nindi minta.
Marcel terus menatap wajah Nindi. "Kenapa ngeliatin Aku kaya gitu? Nanti gak bisa tidur loh?!" Canda Nindi.
Marcel terkekeh. "Kamu cantik. Sangat cantik." Puji Marcel.
Nindi mencibirkan bibirnya.
"Tapi Aku bingung. Wanita cantik, Dokter lagi, tapi kenapa gak ada yang suka sama Kamu?" Tanya Marcel ingin tahu.
"Belum ketemu jodohnya." Kata Nindi enteng. "Sekarang sudah selesai. Lukamu sudah Aku obati." Kata Nindi seraya tersenyum.
"Cepat sekali. Aku berharap masih bisa lama bersamamu." Canda Marcel.
Nindi tersenyum. "Lain kali Kita bertemu lagi." Kata Nindi.
"Aku boleh minta nomor ponselmu?" Pinta Marcel.
Nindi mengangguk. Marcel memberikan ponselnya. Nindi mengetikan nomor panselnya.
"Besok pulang jam berapa?" Tanya Marcel. "Aku jemput ya."
"Memang Kamu gak shooting?" Tanya Nindi.
"Besok Aku libur. Jadi Aku bisa mendekatimu." Goda Marcel.
"Hhhuuuhhh....Dasar..." Nindi mengerucutkan bibirnya.
"Gak apa kan? Kan Kamu gak ada yang punya." Canda Marcel.
"Nanti pacar Kamu marah sama Aku." Kata Nindi.
"Kalau Aku punya pacar, Aku gak akan minta nomor ponsel Kamu." Kata Marcel.
"Aku gak percaya. Banyak pemberitaan...." Nindi belum selesai bicara.
"Itu gosip." Marcel buru-buru menampik omongan Nindi.
__ADS_1