
Mobil berhenti di sebuah Vila yang jauh dari rumah penduduk. Para penculik membuka pintu mobil untuk Lita.
Salah seorang mengambil kursi roda Lita dari bagasi dan memapah Lita agar duduk di kursi itu.
Semua yang Mereka lakukan, Lita hanya pasrah sambil terus memanjatkan Doa pada Allah SWT.
Penculik itu mendorong kursi roda Lita masuk kedalam Vila. Lita melihat situasi Vila itu, sangat elegan dan terawat. Lita menilai kalau ada sentuhan Wanita pada Art Vila ini.
Kursi roda Lita masuk ke sebuah ruangan, tepatnya ruang tidur. "Apa Anda ingin beristirahat?" Tanya salah seorang penculik itu.
"Tidak adakah pelayan wanita disini? Kalian tidak berhak menyentuhku." Kata Lita tegas.
"Ada... Nanti Mereka kesini." Kata Penculik itu. Mereka memang sudah dipesan oleh Bos Mereka untuk tidak bersikap kasar pada Lita selama Lita tidak berontak.
"Kalau begitu biarkan Saya di kursi roda ini." Pinta Lita.
Mereka pun keluar dari kamar Lita.
Lita menatap ruangannya. Semua perabot yang ada didalam kamarnya sangat mewah. "Apa motif dari orang ini menculikku? Mereka tidak menyakitiku. Bahkan Aku ditempatkan dalam sebuah kamar mewah."
Pintu kamar Lita terbuka. Dua pelayan wanita mendorong sebuah troli yang diatas nya tersedia makanan. Pelayan yang satu membawakan pakaian ganti untuk Lita.
"Sebaiknya Nona makan siang dahulu, Sebelum Bos Kami bertemu dengan Nona." Kata salah satu pelayan.
Mereka menghidangkan makanan itu diatas meja kecil dengan sofa di depannya.
"Kalian menculikku pasti akan sangat merepotkan. Aku tidak bisa makan dengan tanganku sendiri. Aku tidak bisa mandi sendiri juga tidak bisa berganti pakaian sendiri." Tegas Lita.
Mereka saling pandang. "Maaf, Kami hanya melaksanakan tugas." Kedua pelayan itu bernama Rose dan Lily. Mereka memperkenalkan diri pada Lita.
"Nama Kalian sangat bagus. Tapi mengapa Kalian bekerja mendukung penculik?" Tanya Lita.
Mereka hanya tersenyum. "Nona, apakah para bodyguard tadi menyakiti Anda?" Tanya Lily.
Lita menggeleng.
"Itu karena Bos Kami sangat baik. Makanya Kami betah kerja dengan Beliau." Jawab Rose.
Lita menghela nafas.
Lily mulai menyuapi Lita setelah Lita membaca Doa. Dengan sabar Lily dan Rose melayani Lita.
Beberapa menit kemudian.
"Aku mau shalat Dzuhur." Kata Lita.
Rose dan Lily saling pandang. "Maaf Nona, tapi Kami tidak punya perlengkapannya." Kata Lily.
"Tidak mengapa. Kalian bantu Aku ke toilet. Dan tolong sediakan tempat yang suci." Pinta Lita dengan sopan.
__ADS_1
"Baiklah..." Kata Rose.
Rose dan Lily memapah tubuh Lita ke kamar mandi.
"Ya Allah... Aku tidak tahu arah mana Aku menghadap-MU... Tapi Aku yakin ENGKAU MAHA MENGETAHUI" Batin Lita.
Lita mulai melaksakan shalat Dzuhur dengan beralas sebuah permadani yang baru saja keluar dari lemari. Lita melakukannya dengan duduk.
Rose dan Lily mengamati apa yang Lita lakukan. "Kasihan sekali, tapi mengapa Bos tega membawa nya kesini?" Bisik Lily.
"Ssttt... Bukan urusan Kita. Yang terpenting Kita melayani Nona Lita dengan baik." Sahut Rose dengan berbisik.
________________________
Seluruh Keluarga Lita berkumpul di Rumah Tuan Alex. Leo terlihat sangat kacau. Laporannya di Kantor Polisi sudah diproses.
"Leo, apa mobil mu tak memiliki GPS?" Tanya Atala.
Leo mendongak dan menggeleng. Aku tidak pernah memasangnya. Leo kembali menunduk. Leo memandangi hadiah dari Rektor untuk Lita yang terjatuh di koridor Kampus, juga piagam kelulusannya. Leo tak menemukan surat tugas Dokter Lita, pemberian Dokter Oliver.
"Sayaaang... Kamu dimana? Apa yang Mereka lakukan padamu?" Leo mengacak rambutnya dengan kasar.
Sedangkan Tia belum sadarkan diri karena pingsan setelah mendengar Lita diculik. Vita dan Joanna dengan setia menemani Mama nya, demikian juga dengan Tristan yang terus mengelus punggung Sang Papa yang sempat shock tadi.
"Sebaiknya Kita shalat dahulu. Kita berdoa memohon petunjuk Allah." Kata Fathir.
Leo dan Atala mengangguk. Mereka bergegas bersiap. Demikian juga dengan Lambok dan Tristan.
"Ma....Istighfar Ma..." Kata Vita setelah memastikan sang Mama tersadar.
"Ya Allah... Kenapa harus Puteri ku... Hik... hik.. hik... Apa salah nya?" Tia menangis.
"Ma... Minum dulu yah." Joanna menyodorkan segelas air mineral ke bibir Tia. Vita membantu membangunkan sang Mama.
"Mama tenang yah. Polisi sedang melacak keberadaan Lita." Kata Vita mencoba menghibur Tia.
"Kasihan Saudara mu, Vita. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana Dia akan shalat, makan, mandi juga berpakaian. Hik... hik... hik... Apakah Mereka akan melayaninya dengan baik?" Tia masih terisak.
"Semoga Mereka memperlakukan Lita dengan baik Ma..." Kata Joanna.
"Aamiin..." Jawab Mereka.
____________________________
Hari sudah semakin gelap. Lita sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Lita masih tak habis pikir, mengapa dirinya diculik. Dan Bos yang kata para penculik bilang, belum menampakkan batang hidungnya.
Lita terus berdzikir, memanjatkan Doa-doa. Karena hanya itu yang dapat Lita lakukan. Memohon perlindungan Allah dan membuka hati para penculik agar membawanya kembali pada Keluarganya.
Pintu kamar Lita terbuka. Lita mendongak. "Astaghfirullaah... Kamu...!?!" Lita tak percaya dengan apa yang Dia lihat.
__ADS_1
"Hai Lita... Bagaimana? Apa Kamu betah disini?" Tanya nya.
"Tapi kenapa?" Tanya Lita.
"Simple saja... Aku menginginkan Leo kembali padaku." Jawabnya.
"Tapi bagaimana mungkin?" Lita tak percaya.
"Mungkin saja kalau Kamu tidak ada disisinya lagi." Jawabnya santai.
"Seharusnya Kamu sadar Diri, Lita. Kamu sudah cacat, tidak pantas bersanding dengan Leo. Aacchh... Aku sangat merindukan belaian Leo." Desahnya santai sambil meraba lehernya seakan menggoda.
"Tapi Kamu sudah mencampakkan Leo, Bella..." Lita sangat kesal pada Bella. Ya... Bos penculik itu ternyata Bella, mantan kekasih Leo. "Dan Leo sangat mencintaiku." Tegas Lita.
"Tidaaak!!! Leo tidak pernah mencintai Wanita manapun selain Aku!!" Bella histeris.
"Tapi Kamu sudah menikah, Bella." Kata Lita lagi. Lita memang belum mengenal Bella, Lita hanya tahu Bella dari foto Bella di kamar Leo dirumah Papa Alex. Dan juga melihat Bella memeluk Leo saat di Bandara.
"Aku tidak mencintai Suami Ku! Aku bercinta dengan Suami ku tapi wajah Leo yang selalu kubayangkan." Kata Bella.
"Astaghfirullah..." Lita mengelus dada nya.
"Jadi... Kamu akan melenyapkanku?" Tanya Lita tegar.
"Tergantung...." Kata Bella santai.
"Maksud Kamu?" Tanya Lita.
"Kalau Kamu baik-baik menyerahkan Leo padaku dan pergi yang jauh dari kehidupan Leo, Aku akan melepaskanmu. Tapi kalau Kau bersikeras mempertahan Leo... Sayang sekali... Vila ini akan jadi Makam Mu... Hahahahaha...." Bella tertawa senang.
"Kamu cantik Bella... Tapi mengapa Kamu punya niat jahat?" Lita masih terus bernego dengan Bella.
"Apa Kau yakin, Setelah kepergianku, Leo akan kembali padamu?" Tanya Lita.
"Sudah jelas. Buktinya waktu di Bandara, Leo memelukku dengan hangat. Tapi Dia melepaskannya hanya karena melihatmu! Apa yang sudah Kau lakukan pada Leo?! Selera Leo tidak serendah ini!" Bella menelisik tubuh Lita dan juga penampilan Lita.
"Kau terlihat kampungan sekali. Ditambah lagi cacat... Hahahaha..." Bella menyeringai.
"Sebaiknya Kamu mengembalikan Aku ke Keluarga Ku." Pinta Lita tegas.
"Hahahaha... Tidak semudah itu Sayaang... Bella membelai pipi Lita." Tapi tiba-tiba langsung mencengkram dagu Lita.
"Aacchhh... Bella... Kamu menyakitiku..." Kata Lita.
Bella menghempaskan dagu Lita. Bella meninggalkan Lita dan beranjak keluar kamar Lita.
"Bella.... Sadarlah... Leo tak mencintaimu..!" Teriak Lita.
BRAAAKKKK!!!
__ADS_1
Bella menutup pintu dengan membantingnya.
"Astaghfirullaah..." Lita mengelus dada nya.