
Ustadz Joey memutuskan menetap. Dia telah memghubungi Dokter yang dulu merawatnya dan mengajarinya tentang islam.
Dokter itu kini menetap di Jogja. Karena Istrinya memang orang Jogja.
Diandra sangat setuju. Karena Papa nya juga sedang sibuk mengurus proyek disana. "Jadi Mama dan Papa gak akan terpisah lagi." Canda Diandra pada Oma Dewi.
"Syukurlah kalau begitu." Kata Oma Dewi.
Akhirnya Mereka pindah. Diandra berpamitan pada Lambok dan Tia. "Aku titip Atala dan Fathir." Kata Diandra.
Joana menunduk. Ingin rasa nya Dia memeluk Fathir. Tapi Dia malu. Dia sadar selama ini yang Dia lakukan salah. "Fathir pria baik, tak pantas untuknya yang kotor dan menjijikan." Batin Joana.
Atala merangkul bahu Joana. "Kamu jangan sedih. Kalau jodoh tak akan kemana. Berusahalah menjadi manusia yang baik. Insya Allah... Allah akan mendekatkan Kamu pada kebaikan." Bisik Atala.
Joana menatap Atala meminta kejelasan kalau itu akan benar. Atala mengangguk. Joana memeluk tubuh Atala. "Terima kasih Atala. Doakan Aku ya, agar Aku mudah menerima pelajaran ini nanti." Pinta Joana.
Atala mengangguk. "Pasti Kakakku yang cantik."
Sebenarnya Joana gadis yang baik, Dia hanya tak punya pegangan yang kuat untuk menopang hidupnya kearah yang benar.
Joana menghampiri Fitri. "Tante Fitri, Aku minta maaf atas kekurang ajaran Aku selama ini." Joana sangat menyesal.
Fitri menghela nafas. Fitri memeluk Joana. "Kamu itu sebenarnya anak yang baik. Hanya saja Kamu salah jalan, Sayang." Kata Fitri.
Joana melerai pelukan Fitri. Dia menatap wajah Fitri. "Mau kah Tante jadi Mommy Aku?" Tanya Joana.
Fitri kembali memeluk Joana. "Mama akan senang kalau Kamu benar-benar berubah menjadi gadis yang baik. Mama juga akan mendoakan Kamu agar Kamu bisa menerima pelajaran tentang Islam di Jogja nanti." Kata Fitri yang membahasakan Mama pada Joana.
"Terima kasih Ma. Apa boleh Aku memeluk Fathir untuk yang terakhir kali?" Joana nampak ragu. Dia takut Fitri akan marah.
Fitri melerai pelukannya. "Pergilah Nak. Fathir sangat menyayangi Kamu." Ijin Fitri.
"Terima kasih Ma." Kata Joana yang segera menghampiri Fathir.
"Fathir, maafkan Aku ya, selama ini Aku gak pernah sopan sama Kamu dan mengajak Kamu pada kemaksiatan." Kata Joana yang sudah mulai belajar tentang Islam dari Daddy selama beberapa minggu di Jakarta.
Fathir memeluk Joana. "I Love You." Bisik Fathir.
Airmata Joana jatuh ke pipi. Dia sangat terharu dengan ungkapan perasaan Fathir.
Fathir melerai pelukannya. "Jaga diri Kamu baik-baik. Aku akan mendoakan Kamu mendapatkan yang terbaik." Kata Fathir.
Joana mengangguk. "Terima kasih Fathir."
Joana juga meminta maaf pada Tia dan Lambok. Dia juga suka menampik nasihat Tia dan Lambok.
Kemudian Joana meminta maaf pada Eyang nya Fathir juga pada Fahmi.
Ustadz Joey mengusap airmatanya. Dia terharu dan berharap Puterinya kelak menjadi gadis Muslimah seperti yang diinginkannya.
__ADS_1
Diandra merangkul pinggang Joey. Joey merangkul bahu Diandra dan mengecup kening Diandra.
Ustadz Joey berpamitan pada seluruh Keluarga.
"Aku titip Kakakku dan Tante ku yah. Juga keponakan-keponakanku." Canda Lambok.
Ustadz Joey tersenyum. Dia memeluk Lambok. "Insya Allah... Doakan Kami ya." Pinta Joey.
"Pasti... Kami akan selalu berdoa untuk kebaikan Kalian." Kata Lambok.
Mereka pun mengantar Ustadz Joey dan Keluarga ke Bandara Halim.
__________________
Atala dan Fathir tinggal di rumah Oma Dewi yang di Jakarta. Sesekali Mereka berkunjung ke rumah Lambok dan Tia juga Fitri dan Fahmi. Atau sebaliknya, Tia dan Lambok mengunjungi Atala dan Fathir. Demikian juga Fitri dan Fahmi.
Sebenarnya Atala sangat ingin kembali tinggal di rumah Lambok. Tapi Dia tak ingin ada fitnah. Perasaannya pada Vita tak dapat Dia pungkiri.
Atala menjaga jarak. Atala sekedar mengantar jemput Twins, jika Tia atau Lambok tak sempat.
Vita masih memendam rasa. Dia tak kuat lagi menahan rasa cemburunya pada gadis yang selalu ikut dengan Atala saat menjemput Vita dan Lita di sekolah.
Gadis itu sangat cantik. Vita kalah bersaing dengannya. Dia juga gadis yang pintar. Sedangkan Vita, gadis dengan wajah biasa-biasa saja.
Hari ini Vita menghindari Atala. Dia beralasan pada Lita akan main ke rumah salah satu teman kelasnya. Memang Vita dan Lita satu jurusan tapi beda kelas. Vita di kelas A sedang Lita di kelas B.
"Vita mau ke rumah temannya, Kak. Ada kerja kelompok katanya." Kata Lita.
"Kenapa gak bilang? Kan Kakak bisa antar, jadi Kakak tahu rumah temannya dimana." Atala nampak kesal.
"Gak tahu Kak. Tadi Aku sudah bilang, ijin dulu sama Kakak. Tapi Vita bilang buru-buru." Kata Lita.
Atala menghela nafas. "Ayo Kita pulang, nanti Mama nunggu. Nanti Kak Atala telpon Vita." Ajak Atala.
Lita mengangguk dan segera masuk mobil. Ternyata didalam mobil sudah ada Friska, gadis yang akhir-akhir ini dekat dengan Atala.
Friska adalah teman satu kelas Atala. Friska dan Atala bersahabat. Sebenarnya bertiga dengan Fathir, tapi Friska dan Fathir seperti Tom and Jerry jika sudah bertemu, ada saja yang diperdebatkan.
Kadang-kadang Atala sangat pusing kalau kedua sahabatnya sudah berdebat. Alhasil Atala akan meninggalkan Mereka dan membuat Mereka bisa berhenti berdebat.
"Sepertinya Kalian akan berjodoh." Goda Atala suatu hari.
"Ciiihhh....Enak saja. Gak akan, siapa juga yang suka sama laki-laki banyak omong kaya Fathir?!" Friska nampak kesal. Atala terkekeh.
"Eh.. eh.. eh... Siapa juga yang mau sama Nenek Lampir. Ngoceh mulu! Pengeng kuping Aku tahu, gak!?" Sahut Fathir.
"Sudah ah...! Mending Aku pergi aja! Berisik dekat dengan Kalian..!" Canda Atala dengan mimik serius.
Sesudahnya Mereka, Fathir dan Friska akan mengejar Atala tapi tetap saling menyalahkan.
__ADS_1
Atala sampai bingung bagaimana cara nya agar kedua sahabatnya tak selalu bertengkar.
Atala sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Lambok.
"Assalamu alaikum." Salam Atala, Friska dan Lita.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Tia dan Tristan.
"Loh Vita mana?" Tanya Tia khawatir.
"Loh memang Vita gak ijin sama Mama?" Tanya Lita.
Tia menggeleng. "Memang Vita mau kemana?" Tanya Tia masih khawatir.
"Katanya belajar kelompok dan udah ijin sama Mama." Kata Lita.
Tia langsung mengambil ponselnya. Dia mendial nomor Vita.
Tersambung....
Vita mengambil ponselnya yang berdering. "Mama Tersayang..." Demikian nama yang tertera dilayar ponselnya.
Vita tak menjawab. Vita tahu, Atala pasti masih di rumah Mama nya.
Tia kembali mendial nomor Vita. "Sayaaang... angkat dooong... Jangan bikin Mama khawatir..." Tia mulai cemas. Tak juga diangkat.
"Kamu tahu siapa temannya yang belajar bareng Vita?" Tanya Tia pada Lita.
Lita menggeleng. "Gak Ma. Aku kan beda kelas. Aku juga lupa nanya tadi, Abis Vita buru-buru aja." Lita mengrucutkan bibirnya.
Cling.... Sebuah pesan masuk ke ponsel Tia.
"Vita...." Kata Tia.
"Ma... Maaf... Aku sedang belajar di rumah teman Aku. Sebelum maghrib Aku sudah di rumah. Mama jangan khawatir ya. Love You Ma..."
Tia menghela nafas. Dia membalas pesan dari Vita.
"Ya sudah... Jangan telat ya. Mama sangat khawatir. Nanti dijemput Kak Atala ya. Kamu kirim alamat rumah temanmu."
Tia mengirimkan pesan pada Vita.
"Gak usah Ma. Nanti Aku naik taxi saja." Balas Vita.
Tia menghela nafas. "Baiklah... Jangan lupa makan..." Tak ada balasan lagi dari Vita.
"Bagaimana Ma?" Tanya Atala khawatir. "Rumah temannya dimana?"
"Nanti Vita pulang naik taxi. Ya sudah Kalian makan dulu ya." Ajak Tia. Mereka pun makan bersama.
__ADS_1