CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Vita Ragu


__ADS_3

Vita terus saja murung. Sejak hari lamaran, Vita tak mau keluar rumah.


Tia, Lambok, Lita dan Tristan sudah mencoba menghiburnya tapi tak berhasil.


Persiapan pernikahan terus berlanjut. Gedung tempat resepsi, catering, souvenir, undangan semua sudah siap. Tinggal persiapan mental pengantin saja.


"Vita.... Hayoooo dicoba dulu kebaya nya..." Pinta Tia lembut.


"Malas Ma.... Lita saja yang cobain. Sama aja kan...." Vita enggan mencoba apa lagi meliriknya.


"Loh kok malah Aku? Aku nanti nyoba yang punya Aku sendiri lah... Kenapa Aku ngepas kebaya Kamu?" Lita terlihat bingung.


Vita beranjak ke kamar. Dia tak bersemangat menghadapi persiapan pernikahannya sendiri.


Tia menghela nafas. Dia tahu bagaimana perasaan Vita. Vita sangat mencintai Atala tapi Vita malah harus menikah dengan Gery, Kakaknya Atala.


Tia duduk melamun di depan mesin jahitnya. Air matanya mengambang.


"Ma....." Panggil Lita.


Tia buru-buru menyeka airmatanya.


"Kenapa Mama menangis?" Tanya Lita.


"Mama membuatkan ini dengan rasa kasih sayang buat Vita, tapi Dia tak sedikitpun mau meliriknya. Hik... hik... hik.... Kalau Dia tak menginginkan pernikahan ini, kenapa tak Dia tolak kemarin di depan Gery...." Tia terlihat sedih.


Lita mengusap bahu sang Mama. Dia mengambil kebaya dari tangan Tia. "Kebaya ini cantik sekali Ma... Seandainya saja ini punya ku.... Pasti Aku akan senang menerimanya." Hibur Lita.


"Sini Ma... Biar Aku bawa ke kamar Vita." Kata Lita yang segera membawa kebaya tersebut ke kamar Vita.


"Vita....." Panggil Lita.


Vita sedang menelungkupkan wajahnya diantara kedua lutut nya diatas tempat tidur.


Lita mengusap rambut Vita yang panjang tergerai. "Vita... Lihatlah... Betapa cantik nya kebaya ini. Mama sangat cekatan membuatnya. Mama sedih Kamu tak mau mencoba kebaya ini."


Vita mendongak. "Apa Mama menangis?" Tanya Vita yang sudah sembab matanya.


Lita mengangguk. "Seharusnya lamaran itu kemarin Kamu tolak. Kalau kenyataannya Kamu tak suka." Kata Lita lembut.


"Aku takut......" Kata Vita menunduk.


"Takut? Takut kenapa? Mama dan Papa kan tak pernah memaksakan kehendak Mereka...." Lita makin bingung.


"Waktu kemarin Aku belum bertemu dengan calon suami ku, Aku sudah shalat istikharah... Dan perasaan hatiku damai tentram makanya Aku menerima lamaran itu. Tapi setelah melihat Mas Gery, entah mengapa Aku ragu..... Aku bingung harus berbuat apa?" Vita kembali menunduk.


"Shalat istikharah lagi....." Anjur Lita.


"Sudah.... tapi semua nya gelap. Aku bingung." Kata Vita menunduk.


"Coba Kamu bicarakan sama Mama dan Papa... Mungkin nanti Mereka akan ada solusinya untuk Kamu." Pinta Lita.


Vita mengangguk.


"Nah sekarang Kamu coba dulu ya... Biar hati Mama senang..." Pinta Lita.


Vita mengangguk. Lita membantu Vita memakaikan kebaya buatan sang Mama.


Tia tersenyum melihatnya. Tia memang sudah berada di depan kamar Vita. Tia menghampiri kedua puterinya.

__ADS_1


"Mama....." Vita langsung menghambur kedalam pelukan sang Mama. "Maafkan Vita, Ma...."


Tia mengusap rambut panjang Vita. "Sssttt sudah lah Sayang...." Kata Tia lembut. Tia melerai pelukan Vita.


"Pakai dulu yang benar kebayanya. Baju nya dibuka. Terus pakai dulu lapisan nya." Pinta Tia.


Vita hanya menurut saja. Dia tak ingin membuat sang Mama bersedih lagi.


Tak lama..... Vita sudah berdiri di depan cermin. "Cantik sekali Ma, kebaya nya...." Kata Vita.


Tia tersenyum. "Apa ada yang kesempitan? Atau terlalu ngepas?" Tanya Tia.


Vita menggeleng. "Gak kok Ma... Semua nya sudah pas dan enak dipakai." Kata Vita, namun raut wajahnya masih dirundung kesedihan.


"Ada apa Sayang...." Tia mengajak Vita duduk di pinggir tempat tidur.


Vita menceritakaan tentang kegalauan hatinya.


Tia tersenyum.... "Maafkan Mama dan Papa, sayang.... Seharusnya kemarin Kamu tolak lamaran dari Gery...." Tia merapikan rambut Vita ke belakang telinga nya.


Vita menunduk. "Vita takut, nanti Mama dan Papa kecewa sama Vita."


"Lalu sekarang bagaimana? Undangan sudah tersebar, persiapan pernikahan sudah 90%, Apa Kamu tega membatalkannya semua?" Tanya Tia.


Vita menggeleng. Airmata nya sudah jatuh ke pipi. Tia mengusap airmata Vita.


"Tenangkan hati mu, Nak.... Mintalah petunjuk dari Allah untuk kebahagiaanmu... Mama yakin, Mas Gery laki-laki yang sangat baik." Hibur Tia.


Vita mengangguk. Dia kembali memeluk tubuh Tia.


_____________________________


"Kenapa Kamu terlihat sedih, Sayang...??" Lambok menghampiri sang istri yang sedang berdiri di pintu kamarnya yang menuju balkon.


Lambok mengernyitkan dahi nya. "Bagaimana bisa begitu, sayang...? Tempo hari Vita menerima lamaran Gery..."


"Vita takut katanya... Dia belum mengenal Gery." Kata Tia.


Lambok menghela nafas. "Iyaaaa... Kita bisa maklum... Selama ini Vita tak pernah dekat dengan teman pria kecuali Vero dan Atala. Wajar kalau Dia takut dengan Gery."


"Menurut Sayang bagaimana dengan Gery?" Tanya Tia.


"Aku lihat Gery sangat baik dan bertanggung jawab. Ya memang Kita juga baru mengenalnya. Tapi Dia adalah Putera Mas Teguh dari istrinya yang kedua. Walau Aku belum pernah sekali pun bertemu istri Mas Teguh itu." Kata Lambok.


Lambok menutup pintu balkon. "Angin nya gak enak, Sayang... Nanti Kamu masuk angin." Lambok segera menggendong tubuh Tia. Tia mengalungkan tangannya di leher Lambok.


"Apa tulangmu masih sangat kuat menggendongku?" Goda Tia.


"Apa Kamu meragukanku? Kamu mau Aku gendong kemana...? Hhhhmmmm?" Tantang Lambok.


Tia menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah ke dada Lambok.


Lambok mendudukan tubuh Tia dipinggir ranjang, perlahan. "Bagaimana kalau sekali lagi Kita undang Gery ke rumah ini. Makan malam, mungkin?" Usul Lambok.


"Ide bagus. Aku juga mau kenal dengan calon menantu Kita." Kata Tia.


Lambok tersenyum. Dia mengambil ponselnya dan mendial nomor Gery.


_________________________

__ADS_1


Ting tong..... Assalamu alaikum... Demikian bel di rumah Lambok.


"Siapa itu? Memang sudah jam berapa?" Tanya Tia.


"Biar Lita yang buka, Ma." Kata Lita beranjak ke pintu depan.


"Aku ke kamar dulu Ma, memakai hijabku..." Kata Vita bergegas setengah berlari menuju kamar nya.


"Mas Gery.....??!!" Lita sedikit terkejut.


"Hai Lita...." Sapa Gery.


"Hhmmm... masuk Mas... Kok cepat banget datangnya? Bukan kah Papa mengundang Mas, makan malam? Ini baru jam 4 sore." Kata Lita.


Gery tersenyum. "Memang gak boleh ya kalau Mas datang lebih awal?" Goda Gery.


"Oohh boleh kok Mas... Silahkan masuk Mas..." Kata Lita mempersilahkan Gery masuk. "Mas sendirian saja?" Tanya Lita.


"Ya... Pekerjaan Mas sudah selesai, jadi Mas langsung kesini." Kata Gery.


"Lita... siapa yang datang?" Teriak Tia yang segera menghampiri Lita.


"Mas Gery Ma..." Jawab Lita.


"Tante...." Gery mencium punggung telapak tangan Tia.


Tia tersenyum. "Sudah gak sabar ketemu Vita, yaaa??" Goda Tia.


"Tante bisa saja. Aku dari kantor langsung kesini, Tante. Kalau Aku balik ke rumah lagi, nanti keburu macet. Tante tau sendiri kan?" Canda Gery.


Tia tersenyum. "Ya sudah... Kamu istirahat saja dulu. Tante masih menyiapkan makan malam."


Gery mengangguk. "Terima kasih Tante."


"Mas... Diminum dulu..." Vita datang membawakan secangkir teh untuk Gery.


Gery memandang wajah Vita tak lepas sambil tersenyum.


"Mas... jangan dilihatin terus, nanti luntur..." Goda Lita dari dapur.


"Hahahaha.... Kamu bisa saja..." Tawa Gery.


"Vita... duduk lah disini. Aku ingin ngobrol denganmu." Pinta Gery.


"Tapi Aku harus membantu Mama..." Vita terlihat gugup.


Gery menggulung tangan kemejanya. Vita memperhatikan. Gery beranjak ke dapur dan berbaur dengan Tia dan Lita di dapur.


"Loh.... loh... loh.... Apa yang Kamu lakukan Gery...." Tia terlihat bingung.


"Aku akan membantu Tante memasak." Gery sudah memegang pisau dan dengan lihai memotong-motong sayuran.


"Tapi Gery....." Tia mencoba menghentikan Gery.


"Tante tenang saja. Katakan, Tante mau masak apa?" Tanya Gery.


Tia memberikan menu makan malam pada Gery.


"Hhhmmmm... Pasti enak sekali." Puji Gery. "Aku akan membantu Tante."

__ADS_1


Mau tak mau Tia akhirnya mengijinkan Gery membantunya memasak. Lita dan Vita juga membantu.


Vita terlihat tak canggung lagi pada Gery, karena Gery yang terus mengganggu Vita. Dengan sekejab Mereka sudah sangat akrab. Tia dan Lita terlihat senang.


__ADS_2