
Satu Minggu sudah setelah Lita keluar dari rumah sakit. Perhatian Leo pada Lita tak sekalipun berkurang. Itu membuat hati Lita berbunga-bunga. Namun Lita terus menahannya. Dia tak ingin Leo besar kepala dan malah mempermainkan perasaannya.
Hari ini hari libur. Lita sedang beberes di Apartemen Leo. Sejak Lita tinggal di Apartemen Leo, Leo tinggal di rumah Papa nya sambil menemani saat Atala datang mengajar.
Ting tong..... Bel Apartemen berbunyi. Lita segera memakai hijabnya. Lita mengintip pada lubang kaca kecil di pintu.
"Tumben Pak Dokter pagi-pagi sudah kesini. Ada apa ya?" Batin Lita seraya memutar kunci.
"Pagi Sayaaaang...." Sapa Leo saat melihat wajah Lita yang baru tersembul di ambang pintu.
"Pake pencet bel segala, ini kan Apartemen Dokter." Kata Lita sambil melepas handel rantai di pintu.
Leo masuk kedalam unit nya. Lita sudah akan kembali. Leo mengunci pintu.
"Kalau Aku langsung masuk, nanti Kamu marah lagi...." Goda Leo.
Wajah Lita bersemu merah. Teringat kala Leo mengunjunginya, Lita sedang tak berhijab. Dan itu sontak membuat Lita marah besar. Walau Leo sudah pernah melihatnya tanpa hijab.
"Kok bengong? Kamu sedang apa tadi?" Tanya Leo membuyarkan lamunan Lita.
"Eh ini... Aku lagi bebenah." Tunjuk Lita. "Tumben Pak Dokter pagi-pagi sudah kemari?" Kata Lita.
"Aku abis joging tadi menemani Papa. Lalu Aku langsung kesini. Kamu belum sarapan kan?" Tanya Leo.
Lita tersenyum dan mengangguk. "Aku baru minum teh susu. Masih terasa kenyang." Kata Lita.
"Jangan dibiasakan, walau sedikit yang penting sudah sarapan." Kata Leo. "Ini Aku bawakan sandwich, tadi Aku mampir di cafe sebrang apartemen."
"Papa nya mana? Kok gak ada?" Tanya Lita.
"Papa langsung pulang. Hari ini Beliau ada janji sama Atala. Mau apa tadi ya?" Leo nampak berpikir.
"Apa?" Tanya Lita sambil menyiapkan sarapan yang dibawa Leo. Lita juga membuat jus jeruk untuk Leo. Lita sudah tahu kebiasaan Leo setiap pagi. Sarapan roti dan jus jeruk tanpa gula dan es. Sedangkan Lita menyiapkan Lemontea hangat untuk dirinya.
"Alam.... alam apa ya tadi kata Papa." Leo masih berfikir.
"Tadabur alam?" Tanya Lita.
"Nah....Iya itu... Apa?" Leo kembali bertanya.
Lita menghela nafas. Dia menarik kursi meja makan yang diikuti oleh Leo.
"Tadabur alam. Kak Atala ingin menyampaikan pada Papa bagaimana Kita mensyukuri alam ini. Alam yang sudah memberi Kita kenyamanan. Hawa sejuk dari pepohonan, sungai yang tak tercemari... Ya pokoknya begitu deh. Kita mensyukuri Nikmat Allah yang telah menciptakan Alam serta isi nya sebagai kelangsungan hidup umat manusia. Hanya saja manusia nya itu sendiri yang tak pernah mensyukuri nikmat Allah. Mereka malah merusak alam dengan segala keegoisan Mereka demi uang." Lita menghela nafas. "Makan Dokter." Kata Lita sambil memasukkan sandwich ke mulut nya.
Leo tak sedikitpun berkedip memandang wajah Lita. Leo mulai menyusup jus nya dan memakan sandwich nya. Leo terdiam dengan tutur kata Lita yang lugas namun tak mengurangi kelembutannya.
"Pasti Kak Atala mengajak Papa ke gunung X itu ya? Yang air terjunnya subhanallaah... indah sekali." Tanya Lita.
__ADS_1
Leo mengangguk. "Apa Kamu mau Kita kesana?" Tawar Leo.
Lita membelalakan Mata nya. "Benar kah?" Lita sangat senang.
Leo tersenyum bahagia melihat binar indah di mata Lita. Leo mengangguk.
"Tapi.... Aku belum selesai bebenah." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Kita selesaikan bersama. Aku bantu. Setelah itu Kita pergi menyusul Papa dan Kakak-kakak mu." Kata Leo.
"Kakak-kakak ku?" Lita heran. Lita berfikir keluarganya sudah kembali ke Indonesia.
Leo mengangguk. "Juga orang tua mu." Kata Leo.
Lita membelalakkan mata nya. "Sungguh..?!! Ada Mama dan Papa?!" Lita tak percaya.
Leo mengangguk senang. Tiba-tiba Lita bangun dari duduknya dan berhambur memeluk Leo. "Terima kasih Dokter. Aku... Aku kangen sama Mama dan Papa..." Lita menyusut airmatanya.
Leo yang terkejut tapi merasa senang Lita memeluknya. "Sayaaang... Aku senang Kamu memelukku." Leo yang masih duduk mengusap pinggang Lita.
Lita tersadar. "Oh.. Eh... Hhmmm... Maaf Dokter..." Wajah Lita bersemu merah.
"Tidak apa. Aku sangat senang. Sering-sering ya." Goda Leo.
Lita memukul bahu Leo. "Mulai deh." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Hahahahaha..." Leo tertawa senang. "Ya sudah... abis kan dulu makanannya. Biar cepat bebenah nya selesai. Kita menginap disana ya."
"Kita menikah ya." Kata Leo tiba-tiba.
"Uhuk... uhuk.... uhuk..." Lita tersedak. Leo langsung berdiri dan berjalan cepat ke arah Lita. Menyodorkan air minum pada Lita.
"Maaf..." Kata Leo sambil mengusap punggung Lita.
Lita mengangkat telapak tangannya. Lita masih terbatuk. Airmata nya keluar karena batuk yang tak tertahan. Lita meminum air yang disodorkan Leo. Leo memberikan jus hangat nya pada Lita. Lita meneguknya sampai ludes.
"Alhamdulillaah...." Kata Lita.
Leo meraba dada nya. "Syukurlah."
"Dokter apa-apaan sih..?! Kalau ngomong gak liat orang lagi makan." Lita merajuk. "Terus ini jus jeruknya abis kan sama aku...."
Leo tersenyum. Wajah nya merona. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu...."
"Tapi kan Dokter belum mau meluluskan permintaanku." Lita merengut.
Leo menepak jidadnya sendiri. "Itu lagi... Hooooohhh...."
__ADS_1
Lita merapikan bekas makan Mereka. Dia tak memperdulikan Leo yang masih gamang dengan persyaratan yang Lita tanyakan.
Lita meneruskan bebenahnya. Leo masih melamun. "Gak jadi bantuin Aku?" Tegur Lita.
"Oh iya... Maaf." Kata Leo dengan bergegas membantu Lita.
____________________________
"Kamu terlihat fresh. Kita kan mau tadabur alam, jadi cocok jika Kamu pakai itu." Puji Leo.
Tadi nya Lita ingin memakai gamis. Tapi Leo memintanya untuk mengganti. Malah Leo langsung turun ke parkiran mengambil belanjaannya semalam yang memang sudah Dia siapkan untuk Lita untuk kejutan hari ini.
"Tapi apa gak terlalu membentuk lekuk tubuhku?" Lita terlihat malu. "Apa Kamu mau, jika kelak Kamu punya istri dan istrimu dilihatin orang karena Dia cantik dan aduhai." Canda Lita.
"Hhhmmm..." Leo membuka paperbag nya satu lagi. "Kalau begitu Kamu pakai punya ku." Leo menyodorkan kaos lengan panjang pada Lita. Lita akan memakai kaos yang terlihat longgar dan tak menampakkan lekuk tubuhnya.
Diam-diam Leo membenarkan ucapan Lita. Leo tak rela, jika kecantikan Lita dan bentuk tubuhnya yang sempurna, dilihat banyak mata lelaki yang bukan muhrimnya.
Lita keluar kamar dan memperlihatkan penampilannya.
"Perfect." Kata Leo sambil menautkan ujung ibu jari nya dengan telunjuk.
"Lalu kaos ini?" Tanya Lita.
"Kamu pakai saja kalau sedang di dalam Apartemen." Kata Leo.
Lita mengangguk. "Aku sudah siap." Kata Lita yang keluar kamar setelah menaruh kaos dan mengambil tas nya.
Leo tersenyum. Dia mengambil tas baju Lita. Leo menyerahkan lengannya pada Lita agar Lita menggamitnya.
Lita tersipu malu. Tapi tak dapat dipungkiri hatinya kembali berbunga-bunga.
Di perjalanan Mereka saling bersenda gurau. Ada saja ucapan Lita yang membuat Leo tertawa dan tak jarang ucapan Leo mendapat cubitan kecil dari Lita. Kalau sudah begitu Lita akan mengrucutkan bibirnya dan terlihat sangat lucu dimata Leo.
"Nih buat Dokter." Lita menyodorkan botol minum nya.
Leo menepikan mobil nya. "Apa ini?" Tanya Leo sambil menerima botol minum dari Lita.
"Minum saja. Tebak rasa." Canda Lita.
Tanpa ragu Leo meneguknya. Tak berhenti. Lita hanya melongok melihatnya.
"Haus yaaaa????" Lita heran.
Leo tersenyum. "Segeeerrrr.... Kapan Kamu membuatnya?" Tanya Leo.
"Waktu Dokter ke parkiran." Lita terkekeh. Leo menangkup leher Lita dan mengecup ujung kepala Lita yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Dokter..!!" Lita melotot.
"Hehehehe.... Makasih yah... Tadi gak jadi minum jus jeruk. Baru deh sekarang...." Leo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.