
"Papa mu sehat-sehat saja, kan?" Tanya Lisa, Mama Leo.
Leo menghela nafas. "Mama kalau kangen sama Papa, pulanglah Ma... Kasihan Papa... Papa kesepian. Mama kan tahu, Aku tinggal di Apartemenku, Alexa ikut suaminya. Jadi Papa sendiri di rumah." Leo menggrutu.
Lisa menghela nafas. Dia tahu betul Suami nya pasti kesepian. Ada dirinya dulu juga, Mereka kesepian. "Kenapa tak Kamu ajak Papa kemari?" Tanya Lisa berharap.
"Loh... Apa Eyang mau menerima Papa? Gak kan?" Ketus Leo.
Mata Lisa berkaca-kaca. 35 tahun hidup berumah tangga dengan Alexander bukanlah waktu yang sedikit untuk saling mengerti. Namun kekerasan hati Alex yang tak mau mengikuti nya pulang ke Indonesia, membuat jarak yang sulit untuk digapai.
Lisa sangat menyesal, seharusnya pernikahan beda agama ini tak terjadi. Seumur-umur Dia bergelimang dengan dosa. Satu rumah dua keyakinan. Terkadang juga terjadi kesalahpahaman. Namun karena cinta, membuatnya selalu mengalah dan membiarkan dirinya tersiksa.
Usia nya yang terbilang masih muda saat Lisa memutuskan untuk menikah. Padahal Lisa baru saja lulus SMA dan Dia terpilih menjadi seorang Puteri Keraton, dari ajang pencarian bakat.
Pupus sudah cita-cita Sang Orangtua yang ingin melihat Puteri semata wayang nya meraih cita-citanya yang setinggi langit. Semua nya terhapus karena sebuah kata CINTA.
Usaha Batik Sang Romo yang nanti nya akan diwariskan padanya. Semua nya menjadi kacau balau ketika Lisa memutuskan untuk menikah dan mengikuti Suami nya ke Negara J, dengan pernikahan yang tanpa restu orang tua.
"Ma....." Leo membuyarkan lamunan Mama nya.
"Ya Sayang....." Jawab Lisa.
"Apa Mama bahagia menikah dengan Papa?" Tanya Leo.
"Aku bahagia menikah dengan Papa mu. Memiliki Kalian berdua. Tapiii....." Lisa menggantung kalimatnya.
"Tapi apa Ma? Aku lihat rumah tangga Mama dan Papa baik-baik saja." Kata Leo.
"Kamu gak mengerti Nak. Ini semua salahku. Aku tak pernah mengajarimu Ajaran yang benar." Batin Lisa.
"Ma..." Panggil Leo lagi.
"Sebaiknya Kamu istirahat. Sudah larut malam. Nanti Eyang terganggu. Besok Kita lanjutkan kembali." Lisa beranjak meninggalkan Leo tanpa meminta persetujuan dari Leo.
Lisa masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat. Tubuh Lisa mengglosor ke lantai. Airmata nya seketika tumpah. Dibekapnya mulutnya agar tak terdengar oleh siapapun tangisannya juga derita hatinya.
Leo memandang tubuh Sang Mama yang meninggalkannya masuk ke dalam kamar hingga pintu itu tertutup rapat.
"Ya Tuhan.... Sebenarnya ada apa? Mama sangat cantik tapi wajah nya selalu terlihat murung. Papa begitu tampan tapi seperti memendam luka mendalam. Papa ku orang yang baik dan selalu setia pada Mama, tapi mengapa Eyang tak pernah merestui pernikahan Mama dan Papa?" Gumam Leo.
Karena tak ada yang menjawab pertanyaannya, Leo pun masuk ke kamar nya dengan sejuta rasa keingin tahuannya.
___________________________________
Kedekatan Lita dan Arby sudah semakin akrab. Walaupun hingga detik ini Lita belum dapat menerima Arby. Seperti beberapa hari yang lalu saat di taman.....
FLASHBACK ON
Arham dan Astrid juga Arby masih diam menunggu jawaban Lita. Mulut Lita yang menganga membuat kejahilan Arby timbul.
"Iiiihhh Kamu mah... Cantik-cantik mangap...." Goda Arby sambil mengatupkan bibir Lita dengan jari-jari nya.
Sontak saja Lita menjadi marah. "Iiihhh ngeselin." Kata Lita sambil memukul lengan Arby.
__ADS_1
Sedang Arham dan Astrid tertawa melihat kelakuan Sahabatnya dan Adik angkatnya.
"Aku serius Lita." Kata Arby.
"Aku dua rius." Kata Lita.
"Berarti Kamu menerimaku?!" Arby terlihat sangat senang.
"Jangan GR deh... Aku kan belum bilang terima apa gak. Lagian bilang suka kok gak ada romantis-romantisnya." Lita mengrucutkan bibirnya.
"Ooohhh jadi mau di romantisin..!!???" Teriak Astrid, Arham dan Arby.
"Kalian apa-apaan sih...!" Lita beranjak berdiri. Dia sangat malu karena terlalu ceplas-ceplos malah kena ke diri nya sendiri. Lita meninggalkan Mereka.
Arby ikut berdiri dan mengejar Lita. "Litaaaaa....!!"
Adzan Dzuhur berkumandang. Lita bergegas masuk ke Masjid dekat taman.
"Kamu mau kemana?" Arby menarik tangan Lita.
"Kamu gak denger Adzan?!" Tanya Lita kesal.
"Oohh Iya..." Arby menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kalau sudah selesai, tunggu Aku disana ya." Arby menunjuk kursi tunggu. "Nanti Kamu hilang." Canda Arby.
Lita mengrucutkan bibirnya. Lita segera mengambil air wudhu.
FLASHBACK OFF
Lita menatap wajah Arby. Lita menghentikan aktifitas nya memilih beberapa kerudung di sebuah butik. "Aku kan kembali untuk belajar, bukan untuk jalan-jalan." Kata Lita.
"Lalu bagaimana dengan Kita?" Tanya Arby berharap.
"Kamu boleh mengunjungiku kapanpun Kamu sempat." Kata Lita.
"Aku kan bukan orang mampu yang dengan mudah berangkat keluar Negeri." Canda Arby.
"Ya kalau begitu gak usah bertemu." Kata Lita singkat. "Ini bagus gak?" Tanya Lita sambil mengepas sebuah kerudung ke kepala nya.
"Kamu pakai yang mana saja, selalu cantik." Puji Arby.
Lita menghela nafas. "Kamu muji nya ketinggian." Ketus Lita.
"Tapi memang kenyataannya begitu." Kata Arby.
"Ya... ya... ya... ya...." Lita mengalah.
"Ada lagi?" Tanya Arby.
"Ini sudah cukup." Kata Lita.
"Yang ini satu ya?" Arby menyodorkan sebuah gamis berwarna hijau tosca pada Lita.
"Cantik sekali.... Kok Aku gak lihat ya?" Kata Lita mengagumi gamis itu.
__ADS_1
"Limited Edision. Hanya dibuat 7 baju. Ini ukuran yang pas buat Kamu." Jelas Arby.
"Kok Kamu tahu?" Tanya Lita.
"Kamu lihat pramuniaga yang di sebelah sana?" Tunjuk Arby pada seorang gadis.
Lita mengangguk. "Siapa??" Tanya Lita.
"Dia tetangga ku. Aku meminta nya menyimpan gamis ini untukmu." Kata Arby.
"Terima kasih Kak Arby." Kata Lita tersenyum.
"Sama-sama Sayangku yang cantik...." Goda Arby.
Lita mencubit pinggang Arby. Hati nya berbunga-bunga mendengar panggilan Sayang dari mulut Arby. "Ya sudah, Aku mau ke kasir dulu." Ajak Lita.
Arby mengangguk. Dia mengikuti Lita dan juga membantu membawakan beberapa helai gamis yang Lita pilih.
Lita mengeluarkan kartu ATM dari dompet nya. Sang kasir sedang membungkus belanjaan Lita.
"Ini Nona, sudah selesai." Kata Kasir itu.
Lita menyodorkan ATM nya. "Sudah dibayar semua, Nona." Kata Kasir itu.
"Loh... Tapi Saya belum kasih apa-apa." Kata Lita.
"Ini Nona, bukti pembayarannya. Lunas." Kata Kasir itu.
Lita menoleh ke arah Arby. "Kak Arby...." Panggil Lita.
"Ya Sayaaang...." Arby pura-pura tidak tahu.
"Ini Kakak yang bayar?" Tanya Lita.
"Maaf... Aku tak bisa memberikan mu apa-apa." Arby menunduk.
"Tapi ini banyak sekali Kak...." Lita merasa tak enak.
"Aku senang melakukannya. Jangan ditolak ya, please...." Arby memohon.
Lita menghela nafas. "Tapi....."
"Please...." Arby masih memohon. "Aku ikhlas...."
"Baiklah.... Terima kasih Kak Arby ku yang tampan...." Goda Lita.
Arby tersenyum. Dia membantu membawakan belanjaan Lita. Arby sangat senang bisa membelikan Lita beberapa gamis dan kerudung. Karena Astrid cerita kalau Lita baru saja hijrah.
Arby memang memperhatikan Lita, pakaiannya masih yang biasa dia pakai sewaktu belum berhijab. Celana Jeans dan kemeja atau blus lengan panjang. Makanya Arby langsung mengajak Lita ke sebuah butik.
"Kita makan dulu ya. Aku masih ingin berlama-lama denganmu." Pinta Arby.
Lita tersenyum. "Baiklah..." Kata Lita.
__ADS_1