CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)

CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Kebenaran Membawa Kebahagiaan


__ADS_3

"Sekarang Mama jangan sedih lagi. Atala sudah tahu kesedihan Mama selama ini." Atala mencoba menghibur Diandra.


Atala tak menanyakan perihal Papa nya. Atala sudah tahu, Dia pernah mendengar cerita Diandra yang mengatakan Papa nya meninggalkan Mama nya demi perempuan lain setelah Rasya Aditya tiada.


Oma Dewi yang dari tadi terpaku, tersadar manakala Vita mengusap punggungnya. "Oma jangan sedih lagi. Ternyata cucu kandung Oma masih ada." Hibur Vita yang sedang memangku Tristan.


Oma Dewi menatap Vita dan memeluknya. "Ya Sayang... Kamu persis Mamamu, selalu menghibur orang lain yang sedang bersedih." Kata Oma Dewi.


Atala melerai pelukannya. "Ma... Aku mau ke Oma." Kata Atala.


Diandra mengangguk. Atala beranjak ke Oma. Atala bersimpuh dilutut Oma Dewi.


Oma Dewi menangis. Dia menunduk dan menempelkan wajahnya ke kepala Atala. Oma Dewi mengangkat bahu Atala walau terasa berat.


Atala yang tahu langsung bangun dan duduk disebelah Oma Dewi. Oma Dewi menciumi wajah Atala. "Opa mu pasti sangat bahagia mendengar berita ini." Kata Oma Dewi.


Diandra menghampiri Tia yang masih terisak dipelukan Lambok.


Diandra duduk disamping Tia. Diandra mengusap punggung Tia. "Dek...." Panggil Diandra.


Tia melerai pelukannya dan menoleh pada Diandra. Diandra langsung memeluk tubuh Tia.


"Terima kasih Dek... Kamu mau menyayangi Atala seperti anak kandungmu sendiri. Terima kasih Kamu telah menjaganya tanpa pamrih." Diandra terisak.


Tia hanya mengangguk. Tia tak dapat menahan kesedihannya dan rasa harunya melihat pertemuan Seorang Mama dan Putranya yang sudah terpisah belasan tahun.


"Tidak Kak... Aku sangat bahagia memiliki Atala. Waktu itu Aku gak mau Pak Rahman melaporkan tentang bayi Atala pada polisi. Karena Aku memang sudah lama menginginkan seorang anak." Kata Tia.


Diandra mengangguk. "Kakak pikir, Atala itu anakmu dari suamimu yang dulu. Karena usia pernikahanmu dengan Lambok yang beda 2 tahun dengan Usia Atala." Kata Diandra.


"Kakak juga sempat bingung dengan wajah Atala yang mirip sekali dengan Lambok." Kata Diandra lagi.


Lambok dan Diandra memang saudara sepupu, tapi Mama Lambok dan Mama Diandra, Kakak beradik yang jika orang lain tak mengetahuinya, Mereka akan menyangka Mama Lambok dan Tante Dewi adalah kembar.


Makanya Diandra dan Lambok juga seperti Kakak dan adik kandung, karena wajah Mereka yang juga ada kemiripan.


Tia melerai. "Aku juga sempat heran Kak. Tapi Aku pikir karena Nindi, adik bungsu ku yang selalu memperlihatkan wajah Lambok pada Atala waktu bayi, makanya Atala merekam wajah Papa nya." Jelas Tia.


Diandra tersenyum. "Atala tetap anak Kamu, Tia. Kamu adalah Ibu Atala juga. Jasamu lebih besar dalam membesarkan Atala."


Tia memeluk Diandra. "Terima kasih Kak." Kata Tia.


Lambok terharu melihat Kakaknya dan istrinya yang ternyata bisa menerima semua ini.


Lita merangkul bahu Papa nya tiba-tiba. Lambok menoleh pada Lita. Dan mencium kening Lita.


Vita terlihat juga terharu melihat pemandangan itu. Atala langsung merangkul bahu Vita dan mengecup kening Vita.


Vita terlonjak dengan perlakuan Atala. Tapi Dia tak menampiknya karena Vita merasa nyaman dekat Atala.


Fathir juga sempat bersedih melihat pertemuan Mama dan Anak kandung. Fathir hanya bengong sambil menganga mulutnya.

__ADS_1


"Fathir..." Panggil Lambok.


Fathir kaget dan menoleh ke arah Lambok. "Ya Pa..."


"Sini..." Lambok memanggil Fathir. Fathir menghampiri dan duduk disebelah Lambok. Lambok merangkulnya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Lambok.


Fathir mengangguk. "Aku kangen sama Ayah dan Mama di kampung." Kata Fathir pelan.


Diandra menghampiri Fathir dan memeluk Fathir. "Kamu juga akan tetap jadi Putra Mama." Diandra mencium kening Fathir. Fathir tersenyum.


Lambok tersenyum. "Nanti minggu depan kan ada libur 4 hari, Kita pulang ke Sumatera." Hibur Lambok.


"Benar Pa?" Lita tak percaya.


Lambok mengangguk.


"Yeeiii... Kita ketemu Nenek dan Auntie juga Uncle." Kata Lita.


"Aku juga kangen sama Auntie." Atala terlihat sedih.


"Kita akan pergi kesana, Sayang." Kata Diandra.


"Benar Ma?!" Atala sangat senang.


Diandra mengangguk. Diandra tahu, bagi Atala, Nindi adalah Mama keduanya. Diandra tahu waktu kepergian Tia yang mendadak, Nindi berperan sebagai Mama Mereka.


Oma Dewi terlihat sangat bahagia melihat keluarganya bahagia.


Oma Dewi tersenyum. "Ya Nak, Mama mengerti dengan posisi Kamu. Mungkin Mama juga akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisimu." Oma Dewi mengelus kepala Diandra.


"Mama jangan sedih lagi ya." Atala mengangkat tubuh Diandra.


Diandra berdiri dan memeluk Atala kembali.


"Kalian menginap disini saja ya." Pinta Diandra.


"Besok Kita sekolah, Mama." Kata Vita.


"Kalian berangkat dari sini." Pinta Diandra.


Tia menatap Lambok. Lambok mengangguk.


"Nanti Papa dan Mama bawakan perlengkapan sekolah kalian." Kata Lambok.


"Yeeiii... Asyiikkk... Kita nginep di rumah Oma." Teriak Lita.


Yang lain tertawa melihat tingkah Lita yang selalu ceria.


Fathir sangat gemas dengan Lita. Tapi Fathir menahan hasratnya. Neneknya sudah berpesan, kalau Fathir tak bisa menikah dengan Lita.


"Kak Fathir kenapa?" Tanya Lita tiba-tiba.

__ADS_1


"Fathir menyukai Kamu." Tiba-tiba Atala membuka suara.


Yang lain kaget mendengar perkataan Atala.


"Apa..??!!" Kata Semua.


Fathir mendelik pada Atala. Atala membekap mulutnya yang keceplosan. Lita tersipu malu.


"Lita sangat cantik, Ma, Pa... Aku mengaguminya. Tapi kata Nenek, Aku gak bisa menikahi Lita." Fathir menunduk. Dia akhirnya tak dapat memungkiri lagi. Terlanjur Atala keceplosan. Fathir memang sangat polos, Dia selalu ceplas-ceplos tak mau ada beban.


Tia dan Lambok tersenyum. "Memang Kamu pernah bilang sama Nenek, kalau Kamu suka sama Lita?" Tanya Tia.


Fathir menggeleng. "Waktu itu Nenek hanya sedang bercerita pada Kami, Kalau Mama ku dan Mama Tia saudara kandung. Anak-anaknya gak bisa menikah. Kecuali kalau ke anak-anak Om Tiar atau Om Feri." Kata Fathir.


Tia tersenyum. Tia menghampiri Fathir. "Kamu akan tetap jadi Abang buat Lita. Lita sangat sayang sama Kamu, ya kan Lita." Tanya Tia.


Lita mengangguk. Lita menghampiri Fathir dan memeluknya. "Aku punya 2 Abang yang akan menjagaku." Kata Lita.


Fathir membalas pelukan Lita. Dan mengecup kepala Lita. Ada kelegaan dihati Fathir. Perasaannya kini sudah plong. Tak ada memendam rasa yang lain selain kasih sayang pada Adik.


Vita mengajak Tristan menghampiri Fathir. "Kak Fathir juga Kakak Vita dan Tristan. Ya kan Dek." Kata Vita ke Tristan.


"Babang...." Kata Tristan.


Yang lain tertawa mendengar perkataan Tristan.


"Hahahahaha...... Babang...." Kata Atala.


Fathir mendelik pada Atala. Dan segera menggendong Tristan. Tristan mencium pipi Fathir. "Babang Fathir, ganteng kan Dek." Ucap Fathir sekenanya.


Lita kembali memeluk tubuh Fathir. "Abangku yang satu ini memang ganteng." Puji Lita.


Lambok, Tia, Oma Dewi dan Diandra tersenyum melihat Lita yang pandai menghibur hati orang.


Fathir tersenyum pada Lita. "Terima kasih adikku yang cantik." Puji Fathir.


Vita mengrucutkan bibirnya. "Aku gak cantik ya?"


Fathir menoleh pada Vita. "Kalau Kamu Adikku yang manis, yang tak bosan dilihat, selalu ngangenin." Goda Fathir.


Vita tersipu malu.


Tiba-tiba Atala menimpuk Fathir dengan bantal.


"Atala....!" Lambok menegur Atala.


"Maaf Pa..." Kata Atala menunduk.


"Kenapa?! Kamu Cem...." Belum sempat Fathir meneruskan kata-katanya, Atala langsung melompat dan membekap mulut Fathir. Atala membawa Fathir yang masih menggendong Tristan, ke teras samping.


Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Atala dan Fathir.

__ADS_1


__ADS_2