
"Kamu udah siap Riset disini?" Tanya Nindi pada Lita.
"Insyaa Allah Aku siap, Auntie. Biar Aku cepet lulus dan bisa bantu Auntie disini." Kata Lita seraya merangkul lengan Nindi. Lita memang sudah berada di Sumatera dua hari ini.
Seminggu melepas rindu dengan Tristan, Sang Adik. Lita langsung terbang ke Sumatera padahal Tristan masih ingin bersama Lita.
"Kalau Kakak udah lulus, Kamu akan lama bersama Kakak. Kamu pasti bosen." Canda Lita saat itu pada Tristan.
"Gak lah Kak... Aku kan Sayang Kakak, masa bosen. Nanti kalau Kakak udah Nikah, Aku kesepian lagi." Canda Tristan saat itu.
"Kok melamun sih? Jadi Riset gak?" Nindi mengelus lengan Lita yang merangkul lengannya.
"Gak kok Auntie. Aku cuma teringat Tristan. Adikku itu sudah besar. Tampan lagi." Canda Lita.
"Hehehehe.... Iyaaa... Tristan persis Papa mu saat muda." Timpal Nindi.
"Auntie mang Aku mau ditaro dimana risetnya?" Lita penasaran.
"Nanti Kamu juga tahu." Kata Nindi masih berteka teki.
"Sayaaang... Bagaimana?" Nindi memanggil Marcel yang baru saja masuk ruangan Dokter.
Marcel menghela nafas. "Semua nya telat. Kenapa baru dibawa kesini sekarang. Aku sudah berusaha, hanya Allah yang punya Kuasa." Kata Marcel.
Lita mengernyitkan dahi nya. "Pasien, Uncle?" Tanya Lita.
Marcel mengangguk. Ada rasa khawatir di wajah nya. "Ini Riset untuk Kamu, Sayang. Kalau prediksi kedokteran, kemungkinan untuk sembuh dua puluh persen. Tapi jika Allah berkehendak lain, Dia akan bertahan lebih lama."
"Ta... tapi... Kenapa dikasih ke Aku sebagai Riset?" Lita terlihat bingung.
Marcel menatap Nindi. Nindi hanya memberi kode kepada Suami nya.
"Ayo Kita lihat pasien pertama mu. Nanti Uncle dan Auntie akan membantu mu." Ajak Marcel.
Lita terlihat gugup. "Auntie... Apa Aku akan siap jika kehilangan Dia?"
Nindi menggenggam telapak tangan Lita. "Sebagai calon Dokter, Kamu harus siap, Sayang. Dulu Auntie juga pernah mengalami kehilangan pasien karena telat ditangani. Auntie dan Uncle bermaksud agar Kamu bisa lebih fokus dan menerapkan ilmu yang sudah Kamu dapat dari Negara J, dan memberikan yang terbaik untuk pasien Kamu."
Lita mengangguk. Paham akan tujuan Nindi. Rumah Sakit yang dirintis Auntie dan Uncle nya adalah Rumah Sakit Kanker dan Saraf terbaik di Sumatera. Karena Mereka berupaya keras demi kesehatan pasiennya.
Marcel dan Nindi membawa Lita ke sebuah ruang ICU. Tapi sepertinya dipisahkan dari ruangan ICU yang lain. Karena tempatnya yang terpisah.
"Assalamu alaikum..." Salam Nindi saat masuk ruang itu.
"Wa alaikumussalaam...." Sahut Lita dan Marcel.
Terdengar alat medis yang menempel di tubuh pasien itu.
Lita nampak ragu untuk mendekat. "Dia sakit apa, Auntie?"
__ADS_1
"Kanker otak. Stadium akhir." Kata Nindi singkat.
"Sayaaang... Apa Lita akan siap? Jika Dia tahu siapa pasiennya...." Bisik Marcel.
"Justru Aku ingin membangunkannya jika Lita berada disini. Kamu tidak lihat kamar nya tempo hari, saat Kita menjemputnya?" Bisik Nindi.
Marcel mengangguk. "Sayaang....Kemarilah..." Marcel memanggil Lita. Lita mendekat perlahan.
"Aacchhh...." Lita membekap mulutnya saat melihat wajah pasien itu. "Ba... Baaang.... Baang Veroooo..." Lita terkulai lemas. Tangannya memegang kuat brankar. Marcel dengan sigap memegang tubuh Lita.
"Uncle... Kenapa dengan Bang Vero? Apa yang terjadi? Hik.. hik... hik.." Lita terisak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Nindi mengelus bahu Lita. "Kamu harus kuat, Sayang. Vero adalah Risetmu."
"Tapi apa Aku akan sanggup?" Lita masih terisak.
"Auntie yakin Kamu bisa." Kata Nindi.
"Tapi Aku belum pengalaman Auntie..." Kata Lita lagi.
Marcel membawa beberapa kertas dan memberikan pada Lita. Lita mengeceknya satu per satu.
"Subhanallaah..." Lita terperanjat melihat lukisan wajah nya pada lembaran kertas itu.
"Seperti nya Vero sangat mengharap kehadiranmu. Mungkin dengan adanya Kamu disini, bisa membuatnya ada semangat hidup." Jelas Marcel.
Tiba-tiba alat pacu jantung Vero berdetak cepat. Nindi, Lita dan Marcel bergegas menangani.
Marcel memeriksa tubuh Vero. Lita mengusap kepala Vero dan membacakan ayat Al Quran. Lita merasa gugup, Keringat dingin mengucur di dahi nya padahal ruangan itu ber AC.
Tak lama, detak jantung Vero kembali normal.
"Bagaimana Uncle?" Tanya Lita cemas.
"Alhamdulillaah... Vero merespon kehadiranmu. Kita berdoa semoga Dia cepat sadar." Kata Marcel.
Lita mengangguk dan duduk di samping brankar Vero.
"Sebenarnya apa yang terjadi Auntie, Uncle? Kenapa bisa telat ditangani disini. Semua orang juga tahu kalau Rumah Sakit ini, khusus menangani penyakit kanker dan saraf." Lita terlihat bingung.
Nindi menghela nafas. "Auntie juga gak tahu, Sayaang. Terakhir Neneknya Vero dirawat disini, Dia sangat marah kalau ternyata Dia dirawat di Rumah Sakit ini. Saat itu Vero sering terlihat sakit kepala."
"Tapi, bukankah Vero jadi menikah dengan Diah?" Tanya Lita.
Nindi menggeleng. "Vero tak pernah menikah dengan Diah atau siapa pun. Vero terus saja memanggil nama mu. Auntie juga baru tahu dari Vera saat Kami menjemput Vero ke rumah Kakek Burhan."
"Kamar Vero penuh dengan lukisan wajah mu, Sayang." Jelas Nindi.
"Apa reaksi Nenek?" Tanya Lita.
__ADS_1
"Nenek Dinda sudah gak ada. Kecelakaan." Kata Nindi singkat.
"Innalillaahi....." Lita membekap mulutnya karena terkejut.
Nindi hendak bercerita, tapi tiba-tiba....
Marcel melihat jari Vero bergerak. "Subhanallaah...."
Lita dan Nindi melihat ke arah Marcel yang sedang menangani Vero.
"Lita... Saaayaaang......" Panggil Vero lemah dengan mata terpejam.
Lita mengelus tangan Vero. "Aku disini Bang...." Kata Lita lembut dengan mata berkaca-kaca.
"Litaaaa......" Ucap Vero lagi.
"Uncle... Kenapa dengan Bang Vero?" Tanya Lita.
"Seperti nya Vero merespon kehadiranmu disini. Suara mu, sentuhanmu membuat jiwa nya kembali. Sepertinya semangat hidupnya kembali." Jelas Marcel.
Marcel melepas alat bantu pernafasan dari wajah Vero setelah memastikan Vero baik-baik saja tanpa alat bantu pernafasan.
Lita melihat wajah Vero yang sangat tirus. Kepala nya plontos tanpa sehelai rambut tumbuh di sana. Wajahnya terlihat pucat namun bersih. Tubuh nya sangat kurus, hanya kulit sebagai pembalut tulang. Airmata Lita menetes. Tapi Lita harus kuat. Bagaimana pun Lita harus profesional.
Vero adalah pasien pertama nya. Riset nya. Lita berjanji akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan Vero.
Perlahan mata Vero terbuka. Dia mengerjab perlahan. Mengingat keberadaannya.
Nindi tersenyum pada Vero saat tatapan mata Mereka beradu. "Auntie.... Kenapa... Aku... ada.. disini..? Apa... yang... terjadi...?"
"Kamu sakit, Sayang. Makanya Auntie bawa kesini." Nindi tersenyum tulus. Mata nya berkaca-kaca.
"Litaaaaa... Kamu... Lita..., kan..? Auntie.., Vero... lagi... gak... mimpi..., kan..? Ada... Lita... disini..." Mata Vero berkaca-kaca.
Lita sudah terisak menahan rasa haru nya. Dua tahun lebih tak bertemu Vero, saat bertemu malah di Rumah Sakit dalam keadaan tidak baik.
"Ini Aku Bang... Lita." Kata Lita yang susah payah menahan suara getirnya agar tidak menangis.
"Ya Allah... Alhamdulillaah... Akhirnya.. Kamu... datang... juga... Apa... Kamu... masih.. marah... sama... Abang..., Sayang...??" Suara Vero sangat lemah.
"Vero.... Jangan banyak bicara dulu yah..." Pinta Marcel.
"A.. Aku... kangen... sama... Lita..., Uncle..." Vero mulai terisak.
Lita mendekat dan menyentuh tangan Vero.
"Kamu.... cantik... Sudah... berhijab." Kata Vero lagi.
Lita hanya mengangguk tak kuasa untuk bicara.
__ADS_1
Marcel dan Nindi masih terus memeriksa keadaan Vero. Lita masih setia mendengarkan ocehan Vero. Airmata nya terus mengalir. Ada kerinduan disana. Jantungnya terus berdegub kencang.