
"Tega Dokter meninggalkan Lita dalam keadaan sakit!" Astrid masih memendam kekesalan. Airmata nya menetes mengingat penderitaan sahabatnya.
"Apa?! Lita sakit?! Tapi kenapa? Saat kutinggal terakhir kali, Lita baik-baik saja." Kata Leo.
"Terus Dokter kemana? Kenapa ponsel nya tidak aktif?!" Selidik Astrid.
Leo mengingat. "Ah yah....Itu... Malam itu saat Aku meninggalkan Lita, Aku sedikit bingung dengan kelakuan Lita. Pikiranku kacau. Dalam perjalanan pulang Aku menepi hendak menelpon Lita lagi." Tapi Lita tak menjawabnya.
"Aku memasukkan ponselku ke saku celana. Tapi ternyata ponselku terjatuh." Jelas Leo.
"Alasan!" Ketus Astrid. "Terus besoknya kenapa gak menemui Lita?!"
"Aku berniat menemui Lita di kelas. Tapi gak ketemu. Kamu juga sedang ada kelas lain kan?" Tanya Leo.
Astrid mengangguk. Semester lalu memang Astrid jarang satu kelas dengan Lita karena Lita mengambil kurikulum untuk semester berikutnya.
"Sebenarnya Aku juga melihat Dokter. Aku akan menanyakan Lita pada Dokter hari itu. Lita gak masuk kampus. Tapi Dokter keburu dipanggil ke ruang rektor." Astrid mulai melembut.
"Apa? Jadi Lita sakit? Ya Tuhan...!!" Leo menjambak rambutnya sendiri. "Lita... maafin Aku..."
Astrid masih nampak bingung. "Kenapa Dokter tidak menjenguk Lita kesini kalau ponsel Dokter hilang? Kenapa Dokter menyepelekan keadaan Lita? Apa Lita tak berarti apa pun untuk Dokter?" Tanya Astrid.
Leo menghela nafas.
"Lalu kenapa Dokter menghianati Lita?!" Astrid jadi gemas karena Leo hanya diam seribu bahasa.
"Aku... Aku..." Leo nampak ragu. "Aku tidak pernah menghianati Lita. Aku hanya bersandiwara. Apa Lita melihatku bersama wanita lain?" Tanya Leo terlihat merasa bersalah.
"Satu hari sebelum Lita kembali ke Indonesia, Aku, Kak Arham, Lita juga kedua orangtua nya mengajakku ke Mall. Saat Kami hendak makan di foodcourt mata Lita melihat Dokter bergandengan mesra dengan seorang wanita cantik. Cantik sekali." Astrid kembali meneteskan airmata. Astrid ingat betul Lita mencoba tegar.
"Sewaktu Dokter terakhir bertemu dengan Lita, Lita Aku temui disini sedang sakit. Aku ajak ke Rumah Sakit gak mau. Sampai akhir nya Kak Arham datang dan memaksa Lita ke Rumah Sakit. Sepuluh hari Lita dirawat. Mau tidak mau Aku mengabari Mama dan Papa Lita. Karena Lita tak punya siapa pun disini selain Aku dan Kak Arham. Sedangkan Dokter tak ada sedikitpun peduli pada Lita." Astrid menghela nafas. Membuang sesak dan kesal di dada nya. Ingin sekali Dia memukul kepala Leo yang tertunduk tapi berulang kali Arham mencegahnya.
__ADS_1
"Ck.... Aku bukannya tak peduli sama Lita... Tapi tugas dari Rektor..... Ck... Maafkan Aku, Sayaaang. Aku hanya ingin memberimu kejutan. Aku gak tahu kalau akan begini jadinya." Leo masih menunduk. Menjambak rambutnya sendiri.
"Kamu sudah Dewasa, Leo. Selesaikan masalah mu dengan Lita." Kata Arham mulai membuka bicara.
"Jadi Lita pindah kemana? Apa Dia pulang ke Indonesia? Tapi bagaimana dengan risetnya?" Leo terlihat cemas. Dia gak mau Lita gagal gara-gara kesalahpahaman ini.
"Aku gak akan kasih tahu Lita dimana sebelum Dokter katakan siapa perempuan itu!" Tegas Astrid.
"Maaf Astrid. Aku tidak bisa menjelaskannya pada Kamu dan Arham. Aku akan menjelaskannya pada Lita. Aku minta tolong, kasih tau Aku, dimana Lita." Leo berharap.
Astrid menggeleng. "Aku sudah janji sama Lita untuk tidak memberitahumu. Dokter cari saja sendiri." Ketus Astrid sambil beranjak berdiri.
"Sayaang... Ayo Kita pergi... Aku udah lapar. Rasa nya Aku ingin memakan wajahnya yang sok kegantengan itu!" Manja Astrid dengan sedikit menggeram karena kesal.
"Maaf Leo, Kami pamit dulu." Kata Arham.
Leo hanya mengangguk.
Sepeninggal Astrid dan Arham, Leo kembali frustasi. Dia pergi ke balkon dan membuka kotak rokok nya. Leo kembali akan menghisap rokok.
"Aaacchhhh....!!" Leo membanting sebatang rokok yang baru saja hendak Dia hisab. "Lita..... Kamu dimana Sayaang..???!" Leo masuk kedalam unit nya. Menggeledah kamar yang pernah ditinggali Lita. Barangkali ada petunjuk disana.
"Ustadz... Yah Ustadz... Ustadz pasti tahu dimana Lita." Gumam Leo.
Leo membuka ponsel nya. Ponsel nya yang lama hilang. Semua kontak juga hilang. Leo hanya menyimpan nomor rektor, Papa dan Mama nya juga Kakak nya dan Ustadz. Sedangkan nomor Lita dan Astrid hilang bersama hilangnya ponsel Leo.
"Assalamu alaikum Ustadz..." Sapa Leo.
"Ustadz masih di negara ini?.... Sudah kembali??... Baiklah..."
"Tidak apa-apa Ustadz. Aku hanya khawatir dengan Lita.... Di Sumatera? Jadi Lita di Sumatera? Oh Riset disana... Ya Ustadz... Terima kasih.... Assalamu alaikum...." Leo menutup ponselnya.
__ADS_1
Leo menghela nafas. "Kenapa Kamu harus jauh-jauh ke Sumatera Lita? Aku berniat membantu Risetmu disini... Lita...."
FLASHBACK OFF
__________________________
"Aku sudah ingatkan sama Kamu, Leo! Jangan pernah sakiti Adikku!!" Fathir tak dapat menahan amarah. Dia mencekal leher kaos Leo.
Atala sudah memegangi tubuh Fathir yang ingin memberi bokem mentah pada Leo. Sedangkan Tia sudah histeris karena tiba-tiba Fathir yang tidak bisa menahan emosi.
Ustadz Joey menengahi. Lambok sudah memeluk Tia yang sudah lunglai. Vita membantu Papa nya menenangkan Mama nya.
"Sabar Fathir.... Istighfar.... Biarkan Leo menjelaskan persoalan ini. Kesalahpahaman ini..." Kata Ustadz Joey bijaksana penuh kesabaran.
"Yang... Jaga emosi Yang...." Joanna sudah memeluk Fathir. Sedikit mendorongnya agar duduk setelah Atala berhasil melepaskan cekalan Fathir pada Leo.
"Aku tidak pernah bermaksud menyakiti Lita... Semua ini salah paham. Aku memang gegabah. Seharusnya Aku jelaskan semua pada Lita. Tapi permintaan Rektor yang mendadak tidak bisa untukku menemui Lita." Leo mulai menjelaskan.
"Bullshiiitttssss....!" Teriak Fathir.
"Fathiiiirrrrr...." Tegur Ustadz Joey.
"Kenapa Ustadz membela Leo?! Jelas-jelas Leo salah. Leo sudah menghianati Adikku... Adik yang selalu Aku jaga!" Fathir masih sangat emosi. Kalau sudah menyangkut Lita, Fathir memang sangat sensitif.
Terkadang Farah, Adik kandung Fathir merasa cemburu, karena Sang Abang yang lebih perhatian pada Lita ketibang Diri nya.
"Ustadz tidak membela Leo. Tapi tolong... Kamu dengarkan dulu penjelasan Leo. Kenapa Kamu ini?? Istighfar!" Tegas Ustadz Joey Mertua Fathir.
"Rektor meminta ku mengobati keponakannya yang sakit kanker. Kekasih nya meninggalkan Dia setelah tahu Dia terkena kanker. Sejak saat itu Dia tak punya semangat hidup. Kata Rektor, wajah Aku hampir mirip dengan kekasih keponakannya. Makanya Aku di make over seakan Aku ini kekasih wanita itu. Sampai Akhir nya Dia mau dibujuk untuk berobat. Beberapa waktu, Dia memang sempat pulih dan memintaku mengajaknya ke Mall, saat Om Lambok, Tante Tia dan Lita melihatku di Mall, Aku memang bersamanya. Aku hanya ingin memberinya semangat, walau ternyata takdir berkata lain." Leo menjelaskan.
"Selang dua hari dari Mall, kondisi nya ngedrop. Sampai akhir nya Dia tak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Tapi terakhir Dia berkata padaku, Kalau Dia bahagia disisa akhir hidupnya. Dan Dia juga tahu kalau Aku Leo, bukan kekasihnya..." Leo menunduk. Ada penyesalan dihati Leo.
__ADS_1
Menyesal karena tidak dapat menolong pasiennya. "Sejak saat itu Aku sadar, ternyata umur seseorang tak tahu sampai kapan. Aku langsung menghubungi Papa dan menemui Ustadz Joey untuk belajar Agama Islam." Leo menghela nafas. Airmata menitik tak kuasa menahan rasa takut akan Azab Allah.
"Niat ku kembali ke Apartemenku untuk memberi kejutan sama Lita dan melamarnya. Aku ingin segera menikahinya. Tapi semua nya sudah terlambat. Lita sudah pergi dan kembali pada Vero." Leo menjambak rambutnya sendiri.