
"Ini Dia! Orang yang telah membunuh Puteri Ku!! Dan itu Iblis yang mempengaruhi Mereka!" Seseorang datang tanpa mengucap salam dan kembali membuat keributan di rumah Krisna.
"Aaaccchhhh... Ayaaahhh....." Caca berteriak melihat gerombolan Orang yang menyakiti Penghulu dan Para Tamu.
"Sayang.... Bawa Caca jauh-jauh dari Sini!" Krisna dengan sigap menggendong Caca dan merangkul Lita keluar lewat pintu samping rumah.
"Tapi siapa Mereka?!" Lita merasa khawatir.
"Dia mantan Mertua Ku..." Kata Krisna yang bergegas menyuruh Lita pergi membawa Caca.
"Lalu bagaimana dengan diri Mu?!" Lita sangat khawatir.
"Aku akan baik-baik saja. Aku minta bawa Caca jauh-jauh dari sini. Nanti Aku akan mencari Kalian jika keadaan sudah aman." Pinta Krisna dengan terburu-buru.
"Kenapa Kakak gak ikut sekalian dengan Kami?!" Lita masih mengkhawatirkan Suami nya.
"Lalu bagaimana dengan Tristan dan Teman-temannya?" Kata Krisna.
Lita terdiam dan menuruti apa yang diminta Krisna. Sedangkan Caca tak berhenti menangis.
"Kamu sama Ibu ya Nak... Nurut sama Ibu. Apa pun yang Ibu minta jangan sekali-kali Kamu membantahnya." Nasehat Krisna sambil menciumi wajah Sang Puteri.
"Ya Ayaaahhh...." Kata Caca seraya membalas ciuman sang Ayah. Airmata nya terus mengalir.
Lita makin khawatir dengan perkataan Krisna yang seakan tak akan pernah kembali pada Nya.
"Cepatlah..!!" Perintah Krisna, karena salah seorang anak buah mantan Mertua Krisna sudah mendekat dan menyerang Krisna. Krisna melakukan perlawanan.
Lita dan Caca sudah naik Ojek yang kebetulan lewat. Lita melihat ke belakang, Krisna sedang baku hantam dengan para penjahat itu. Lita menutup mata Caca agar tak melihat kekerasan di usia nya yang masih balita.
Tristan dan teman-temannya terus melakukan perlawanan hingga terdengar sebuah letusan pistol yang entah milik siapa.
Dooooorrrr!!
Krisna tersungkur dengan tangan menekan perut bawah bagian kiri nya. Tristan berlari menuju Krisna yang bersimbah darah. "Kakak...!!!"
"Bos, Dia sudah tak berdaya!" Lapor anak buah mantan Mertua Krisna.
"Lalu anak Iblis itu?!" Tanya nya.
"Dia dibawa pergi oleh Istri Pak Krisna." Kata Anak Buah yang lain.
"Ayo kejar!! Jangan sampai Dia memberikan malapetaka pada yang lain!" Perintah mantan Mertua Krisna.
_____________________________
Tit..... tit..... tit..... tit....
Demikian bunyi alat perekam jantung yang terhubung dengan jantung Krisna.
__ADS_1
Krisna masih di ruang ICU setelah Tristan dan Petugas KUA juga teman-temannya berhasil membawa nya ke Rumah Sakit di Kabupaten.
Salah seorang Admin KUA dengan cepat menghubungi Rumah Sakit saat Mereka berada di Dermaga.
Kondisi Krisna sangat mengkhawatirkan. Tristan dari tadi tak henti-hentinya mondar-mandir di depan ruang operasi. Teman-teman Krisna sudah berpamitan.
Lampu ruang operasi berganti warna. Tristan langsung berdiri tepat di depan pintu.
Seorang Dokter keluar dan membuka masker nya. "Keluarga Pak Krisna?" Tanya nya.
"Saya Adiknya, Dok." Kata Tristan menghampiri Dokter. "Bagaimana keadaan Kakak Saya?" Tristan nampak khawatir karena melihat raut wajah sang Dokter yang tak mengenakan.
Dokter menghela nafas. "Kami sudah berhasil mengangkat peluru dari ginjal Pak Krisna."
"Apa Dok?! Jadi pelurunya kena ke ginjal?!" Tristan sangat kaget.
"Ya Nak......." Kata Dokter.
"Tristan, Dok." Kata Tristan.
"Kami harus secepatnya mengangkat ginjal tersebut. Tapi...." Dokter menggantung lagi kata-katanya.
"Tapi apa, Dok?" Desak Tristan.
"Ginjal sebelah Pak Krisna juga bermasalah. Seandainya Ginjal yang satu nya sehat, Kami bisa mengangkat ginjal yang terkena peluru. Tapi...." Jelas Dokter.
"Ya Allaah......" Tristan mengusap wajah nya kasar.
"Saya bersedia mendonorkan ginjal Saya, Dok..." Kata Tristan tanpa berfikir panjang.
"Baik Nak, tapi sebelumnya Kami akan memeriksa kondisi kesehatan Kamu, dan golongan darah Kamu, Nak." Jelas Dokter.
"Siap Dok, lakukan saja yang terbaik, asalkan Kakak Saya selamat." Kata Tristan.
Seorang Perawat membawa Tristan untuk melakukan beberapa tes kesehatan dan kecocokan ginjal.
___________________________
"Ibu...!! Caca takut, Bu..." Caca masih memeluk erat tubuh Lita.
"Ssttt....Kamu harus terus berdoa, Semoga Allah melindungi Kita." Pinta Lita menenangkan Puteri nya.
Lita dan Caca masih dikejar oleh anak buah Mantan Mertua Krisna. Walau jarak Mereka lumayan jauh, tapi tetap saja Lita merasa sangat khawatir. Lita tidak tahu arah tujuan nya. Sebisa mungkin Mereka tidak terlihat oleh kejaran rombongan Mantan Mertua Krisna.
"Pak... bisa minta tolong?!" Tanya Lita setengah berteriak.
"Minta tolong apa Kak?" Tanya tukang Ojek yang membawa Lita dan Caca. Mereka sudah berhasil menyebrang dengan menggunakan kapal kecil. Sedangkan Mobil mantan Mertua Krisna naik kapal besar yang tak berbeda waktu keberangkatan.
"Bawa Kami ketempat yang tidak bisa dijangkau mobil." Pinta Lita.
__ADS_1
"Apa Kakak butuh penginapan?" Tanya tukang Ojeg itu.
"Ya Pak... Kasihan Puteri Saya, Dia lelah." Kata Lita lagi.
"Baik Kak. Pegangan yang kuat yah. Saya akan memperjauh jarak dari para pengejar itu." Kata tukang Ojeg.
"Terima kasih Pak." Lita memegang erat jaket tukang ojek, karena tak bisa memegang pinggang karena ada Caca. "Pegangan Bapak Ojek, Sayang." Pinta Lita pada Caca.
Caca langsung memeluk tukang Ojek. Tukang Ojeg memang sempat bertanya saat tadi Lita baru saja naik, dan Lita menjelaskan kalau orang yang mengejarnya hendak membunuh Puteri nya. Tukang ojek merasa kasihan dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Pada sebuah pertigaan, Dia berbelok mendadak dan langsung masuk sebuah gang kecil yang hanya dapat dilalui motor.
"Kemana Mereka?" Tanya Mantan Mertua Krisna.
"Mereka belok kanan, Tuan." Kata sopirnya.
"Ayoooo cepaaattt!! Jangan sampai Kita kehilangan Mereka!!" Perintah Tuan Riji.
Mobil Mereka berbelok kanan dan terus menyusuri jalan raya itu. Hingga berkilo-kilo meter Mereka tak menemukan motor yang Mereka kejar.
"Siaaall!!! Mereka menghilang!!" Tuan Riji mengamuk.
"Bisa jadi Mereka lewat jalan kecil, Tuan. Disini banyak jalan kecil." Kata anak buahnya.
"Tembus nya ke pantai, bukan? Berarti Dia mencari penginapan, hayooo cepat, Kita periksa satu persatu penginapan itu!" Perintah Tuan Riji.
"Pak.... Kok Kita keluar gang lagi?" Tanya Lita heran.
"Ya Kak, Karena arah ke kanan itu pantai dan banyak prnginapan. Ujung gang ini ke pantai, Saya khawatir Mereka melihat Kita ke kanan, tadi." Kata Tukang Ojeg. "Kakak tenang saja yah."
Lita menghela nafas, Dia pasrah sambil terus tak putus berdoa. "Maafkan Lita, Ma.... Pa... Ya Allah, apa ini hukuman buat Ku, karena menentang keinginan Orangtua Ku lagi?" Batin Lita.
Tukang ojek, berbelok ke kiri saat keluar gang dan lurus terus, mengecoh rombongan Tuan Riji.
Hingga terasa aman, Dia berhenti di sebuah pom bensin. Motor nya harus diisi bensin.
"Kak, kalau mau ke toilet, Saya tunggu. Atau mungkin Puteri nya lapar atau haus." Kata Tukang Ojek.
"Tapi Pak, nanti Kita kelamaan dan ditemukan orang-orang itu." Kata Lita cemas.
"Tenang Kak, saat ini Mereka sedang mengobrak-abrik penginapan di pinggir pantai. Hhehehe..." Tukang ojek terkekeh.
"Bu, Caca haus." Kata Caca memelas.
"Baiklah Pak, Saya ke minimart dulu." Pamit Lita. Lita pun membawa Caca masuk ke minimart dan membeli kebutuhan Mereka. Lita memeriksa isi tas nya yang Dia tak tahu ada berapa uang disana.
"Subhanallaah... Banyak sekali uang Ku?" Lita nampak terkejut. Dia tak pernah memegang uang setelah kecelakaan itu. Dia teringat semalam saat Krisna memakaikan kalungnya, Dia juga memberikan sebuah amplop namun Lita menolaknya, karena uang itu akan diputar lagi untuk membeli bahan baku obat herbal nya.
"Ternyata Kak Krisna memasukan uang itu ke tas Ku, tanpa sepengetahuan Ku. Ya Allah, terima kasih, Alhamdulillaah..." Lita menengadah.
__ADS_1
Caca menarik-naik gamis Lita. "Bu... Caca haus..." Rengeknya.
"Iya Sayang... Kita beli keperluan Kita." Ajak Lita dengan mata berkaca-kaca.