
"Kamu darimana?!" Hardik Rafa melihat Atala yang baru tiba di rumahnya jam 23.00.
Atala tak menjawab. Dia hanya duduk di teras. Atala ingin masuk tapi tak tahu ke kamar mana.
"Istrimu masuk rumah sakit. Sudah berapa kali Papa menelponmu tapi gak diangkat!" Kata Rafa masih kesal.
"Rumah sakit mana?" Tanya Atala singkat.
"Rumah Sakit A." Kata Rafa.
Atala langsung beranjak pergi.
"Mau kemana lagi Kamu?!" Rafa masih dengan nada kesal.
"Tadi katanya Friska di Rumah Sakit. Ya kesanalah..." Kata Atala tak kalah ketus. Atala tidak seperti Atala yang dulu, yang selalu hormat pada orangtua, sejak kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh Rafa.
Rafa menghela nafas. "Apa ini balasanannya? Dia bebar-benar tak menghargaiku lagi." Batin Rafa.
Atala mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia mendial nomor Lita.
"Assalamu alaikum Kak. Ada apa? Apa ada yang tertinggal?" Tanya Lita diseberang sana.
"Wa alaikumussalaam.... Suruh Fathir balik lagi ke rumah Om Rafa. Kita ke Rumah Sakit A." Pinta Atala.
"Siapa yang sakit, Kak?" Tanya Lita.
"Friska." Jawab Atala.
"Ya Kak... tunggu ya." Jawab Lita sambil menutup ponselnya.
Fathir dengan sigap memutar arah mobil Atala yang memang dia bawa pulang.
"Sakit apa tuh si nenek lampir?" Tanya Fathir kesal.
"Gak tahu Bang. Kaya nya Kak Atala juga gak tahu." Kata Lita.
"Maaf... Sebenarnya kenapa Kak Atala gak jadi nikah sama Vita? Dan malah sama Friska?" Tanya Vero.
"Kak Atala difitnah Kak." Kata Lita.
"Difitnah? Maksudnya gimana?" Vero sedikit terkejut.
Lita melihat kearah Fathir. Fathir mengangguk. "Gak apa, Dia masih famili Kita, Kamu ingatkan kata-kata Papa Lambok?" Kata Fathir.
Lita mengangguk dan dia menceritakan semuanya pada Vero dari awal hingga Atala menikah dengan Friska.
"Astaghfirullaah.... Mudah-mudahan pelakunya segera ketahuan ya. Mudah-mudahan dia tersadar dan mau mengakuinya. Aamiin..." Kata Vero.
"Aamiin...." Kata Fathir dan Lita.
Mobil yang dikendarai Fathir pun tiba di depan rumah Rafa. Atala langsung naik. Lita hendak pindah ke kursi belakang.
"Gak usah, Kamu di depan saja. Bukan muhrim sama Vero." Kata Atala.
Lita hanya mengangguk. Tapi beda dengan Vero yang sedikit kecewa karena tak bisa berdekatan dengan Lita.
"Memang Kak Friska sakit apa, Kak?" Tanya Lita.
__ADS_1
"Aku gak tahu. Aku gak tanya." Kata Atala singkat. Padahal Atala sudah mengetahui penyakit Friska dari Tante Siska saat Atala di penjara.
"Kak Atala yang sabar ya...." Vero mencoba menenangkan Atala.
Atala melirik pada Vero tak suka. Karena Atala sangat cemburu dengan Vero yang dekat dengan calon istrinya, Vita.
Vero tersenyum. Vero berbisik pada Atala. "Tenang saja Kak, Aku akan menjaga Vita untuk Kakak, tapi Aku minta tolong, jaga Lita untuk Aku."
Atala terperanjat. "Serius?!!" Atala memandang Vero tak percaya.
Vero mengangguk. Atala tersenyum. "Tapi Kamu gak akan menyakitinya kan?" Selidik Atala.
"Ya gak lah Kak. Aku hanya ingin hati yang belum milik orang lain. Aku akan menunggunya." Kata Vero.
"Ada apa sih Kak? Serius amat? Siapa yang Kak Vero tunggu?" Tanya Lita yang menengok kebelakan karena mendengar bisik-bisik dan sedikit perkataan pelan yang masih terdengar.
"Kamu...!" Kata Atala sekenanya.
Sontak saja Lita dan Vero juga Fathir terperanjat. Vero mencubit pinggang Atala. Atala mendelik pada Vero.
"Memang kenapa? Kamu malu mengungkap perasaanmu pada Adikku? Nanti malu-malu malah keburu digaet orang, mau?" Tanya Atala.
Sedangkan Lita sudah bersemu merah wajahnya mendengar perkataan Atala. Vero menunduk malu. Fathir terlihat tak suka.
"Serius Kamu suka sama Adikku yang cantik ini?" Tanya Fathir tegas masih fokus menyetir.
Atala menyenggol lengan Vero. "Jawab saja, Fathir gak gigit kok." Canda Atala.
"Ya Bang..." Kata Vero menunduk.
"Lalu pacarmu mau dikemanakan?" Tanya Fathir.
"Itu yang dulu sering Kamu gandeng. Temen Kamu ya Dek...." Tanya Fathir pada Lita.
"Diah maksud Bang Fathir? Aku sudah putus sama Diah, Diah gak mau pacaran jarak jauh." Kata Vero.
"Lalu apakah Lita juga mau pacaran jarak jauh sama Kamu?" Tanya Fathir.
Lita mencubit lengan Fathir. "Bang Fathir apaan sih..." Lita tertunduk malu. Baru kali ini Lita merasakan debaran aneh memasuki relung hatinya.
"Nah... Lita, jawab tuh pertanyaan Fathir." Goda Atala.
"Memang Kak Vero suka beneran sama Lita?" Tanya Lita pelan. Dia masih menunduk malu.
"Aku menyayangimu Lita." Kata Vero.
"Sejak kapan?" Tanya Lita.
"Jujur apa gak?" Tanya Vero.
"Jujur dong." Jawab Fathir.
Lita kembali mencubit lengan Fathir. "Sakit Dek." Keluh Fathir.
"Sebenarnya sebelum Aku pacaran sama Diah, Aku sudah menyukai Lita saat pertama kali Aku melihat Lita. Hanya saja saat itu Lita terlihat cuex. Dan Aku mendekati Diah karena ingin mengenalmu. Tapi Kamu memang benar-benar gak peduli sama Aku." Jelas Vero.
"Makanya pas Diah minta putus, Aku langsung kabulkan. Berarti bukan Aku yang menyakiti hatinya, tapi itu pilihan Diah sendiri." Jelas Vero.
__ADS_1
"Ya... Kita kan di rumah selagi masih sekolah belum boleh pacaran Kak. Lagi pula Aku pikir Kak Vero sudah jadi milik Diah, masa Aku rebut. Diah kan teman dekatku." Jelas Lita.
"Jadi Kamu mau menerima Ku sebagai kekasihmu? Aku serius, Aku gak mau pacaran seperti orang-orang. Aku akan menjaga kehormatanmu hingga semuanya halal." Kata Vero.
"Maksud Kamu, Kamu melamar Adikku di depan Abang dan Kakaknya?" Tanya Fathir.
"Ya Bang. Aku serius dengan Lita." Kata Vero.
"Tuh Lita... Gimana? Kamu bersedia?" Tanya Fathir.
"Aku gak tahu Bang. Maaf Kak Vero. Lita pikir-pikir dulu ya. Lita cuma gak mau nanti malah mengecewakan Kak Vero." Kata Lita.
Vero menghela nafas. "Baik Lita... Aku akan menunggumu. Tapi kalau boleh, Aku minta jawabannya sebelum Aku masuk kuliah kembali." Kata Vero.
"Memang Kak Vero kapan kembali ke Mesir?" Tanya Lita.
"Seminggu yang akan datang, Aku akan ikut sama Mama dan Papa ke Negara T. Kalau pengobatan Papa lama, Mungkin Aku akan kembali lebih dulu. Karena Aku masih ada libur 20 hari dari sekarang." Kata Vero.
"Baik Kak... Berarti Aku punya waktu 17 hari untuk memikirkannya." Canda Lita.
"Kok 17 hari, Dek?" Tanya Fathir dan Atala berbarengan.
"Apaan siihhh...?! Ikut-ikutan aja?!" Kata Atala.
"Kamu yang ikut-ikutan." Bela Fathir.
"Sudaaahhh... Abang sama Kakak kalau sudah ketemu...." Lita geleng-geleng kepala.
Atala dan Fathir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Vero hanya terkekeh melihat kelakuan saudara-saudaranya.
Tak terasa mobil Mereka telah tiba di parkiran Rumah Sakit A. Fathir segera memarkirkan.
Tak lama Mereka sudah di ruang informasi. Setelah mendapat info tentang keberadaan Friska, Mereka langsung menuju ruang perawatan Friska.
Ternyata di sana ada Mama Diandra dan Daddy Joey.
"Mama.....!" Panggil Atala.
"Sayaaang... Kamu darimana?" Tanya Diandra khawatir.
"Aku baik-baik saja kok Ma, Aku hanya jalan-jalan sama Fathir, Lita dan Vero." Kata Atala.
"Ya ampun Atala... Kamu kan sedang jadi pengantin, kenapa Kamu tinggal..!?" Diandra sangat khawatir.
"Mama kan tahu. Aku tak mencintai Friska. Cintaku hanya buat Vita, dari dulu, sekarang dan sampai kapanpun." Tegas Atala.
Diandra menghela nafas. "Kamu harus sabar Sayang. Jalani yang sudah menjadi takdirmu saat ini." Kata Diandra lembut.
"Aku gak tahu, Ma. Aku masih belum bisa terima." Kata Atala.
"Apa kata Dokter Ma?" Tanya Atala.
Diandra menghela nafas. "Sepertinya Friska memang sudah sakit lama, Sayang. Makanya Papa nya ngotot menikahkan Friska denganmu. Pak Rafa hanya ingin membahagiakan Puterinya, entah sampai kapan." Kata Diandra terlihat cemas.
Atala mengangguk. "Atala sudah tahu Ma....Makanya Atala bingung. Atala hanya gak mau menyakiti hati Vita, Ma."
__ADS_1
Fathir, Lita dan Vero hanya mengerutkan keningnya tak mengerti.