
Lita masih demam. Mau tidak mau Astrid menemani Lita di Apartemen milik Leo. Bahkan hingga menjelang isya pun, Leo tak juga kelihatan batang hidung nya.
Astrid sudah berulang kali menghubungi Leo, namun nihil, tidak aktif.
"Kita ke Rumah Sakit aja yah..." Pinta Astrid mulai cemas.
Lita menggeleng. "Aku disini aja. Atau kembali ke mess." Pinta Lita.
"Aku hubungi Keluarga mu ya?" Tanya Astrid.
"Gak usah Strid, Aku hanya demam sedikit. Nanti juga sembuh sendiri." Kata Lita lemah.
Astrid hanya bisa menghela nafas dengan kekerasan hati Lita. Ponsel Astrid bergetar tanda sebuah pesan masuk.
"Kak Arham...." Gumam Astrid. Astrid membalas pesan dari Arham.
"Maaf Yang... Seperti nya Aku gak bisa jemput Kamu besok. Lita sakit, udah dua hari. Pak Dokter gak bisa di hubungi. Sayang besok langsung kesini saja ya...."
Astrid mengirimkan share location pada Arham dan juga nomor unit dan lantai nya. Juga tower nya.
"Siapa Strid? Apa Dokter membalas chat Kamu?" Tanya Lita berharap.
Astrid menghela nafas dan menggeleng. "Bukan.... Bukan Pak Leo... Ini Kak Arham. Aku gak bisa menjemput nya besok. Besok dari Bandara Kak Arham langsung kesini, gak apa kan?" Tanya Astrid.
Lita mengangguk. "Ya gak apa... Maaf ya Strid, Aku merepotkan Kamu terus." Lita tidak enak hati.
Astrid menghampiri Lita dan memeluknya. "Kamu itu udah seperti Adik ku sendiri. Jadi jangan bilang merepotkan yah. Mau kan Kamu menganggapku Kakak Kamu?" Astrid berharap.
LIta tersenyum sambil membalas pelukan Astrid. "Dari dulu, Aku sudah menganggapmu seperti saudara kandungku." Kata Lita masih lemah.
Astrid melerai pelukannya. "Jangan sedih lagi yah. Kamu ingat kan? Penyakitmu berasal dari sini dan sini." Astrid menunjuk kepala nya sendiri dan dada nya.
Lita mengangguk. "Iya... Terima kasih sudah diingatkan."
__________________________
"Sebaiknya Kita bawa Lita ke Rumah Sakit." Arham yang baru tiba di Apartemen langsung melihat keadaan Lita.
"Lita nya gak mau Sayang." Kata Astrid.
"Tapi ini sudah tiga hari, kan? Nanti malah kenapa-napa. Kita bawa Lita ke Rumah Sakit tempo hari. Bagaimana pun Dokter disana sudah tahu riwayat penyakit Lita." Kata Arham.
__ADS_1
"Tapi Sayang baru sampe. Apa gak istirahat dulu?" Astrid merasa kasihan pada suaminya.
"Kesehatan Lita lebih utama. Nanti kalau Lita sudah ditangani Dokter, Aku baru merasa lega untuk istirahat." Jelas Arham.
Tanpa meminta persetujuan Lita, Arham menggendong tubuh Lita. "Kalau Kamu gak bisa diam, Aku malah tambah berat." Kata Arham karena Lita tak ingin digendong.
Astrid membawakan tas pakaian ganti untuk Lita.
Karena kalau memapah Lita sampai ke Lobby akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi Lita sudah sangat lemah.
Seorang Security memanggil sebuah taxi dan membantu Arham membopong Lita masuk ke taxi.
"Terima kasih Pak. Kalau melihat Pak Leo, tolong dikabari, calon istri nya masuk Rumah Sakit." Kata Astrid.
"Baik Nyonya." Kata Security.
________________________
Sudah satu minggu Lita di Rawat di Rumah Sakit. Selama itu pula Leo tak menampakkan batang hidung nya. Padahal Rumah Sakit ini tempat Leo bertugas. Tapi tak pernah bertemu Lita.
Lambok dan Tia yang dikabari Astrid tentang kondisi Lita, langsung terbang ke Negara J. Mau gak mau Astrid harus mengabari Keluarga Lita di Indonesia.
Sudah tiga hari Lambok dan Tia di Negara J.
"Astrid gak repot kok Ma... Lita kan saudara Astrid." Kata Astrid.
"Apa Kamu sudah memeriksakan kandungan Kamu?" Tanya Tia.
"Sudah Ma... Biasa nya Lita yang mengantarkan Aku untuk check up sebelum Kak Arham kesini." Jelas Astrid.
"Kamu kan saudara Aku, Strid." Canda Lita dengan suara masih lemah.
"Arham... Sebaiknya Kamu bawa pulang Istri mu, biar istirahat. Kasihan Istri mu dan bayi mu, Mereka butuh istirahat." Pinta Lambok.
"Iya Pa..." Kata Arham. Walau sebenarnya Astrid masih ingin berada disana.
"Besok kesini lagi, Sayang... Benar kata Papa, Kamu butuh istirahat." Kata Arham lembut.
Astrid akhir nya menurut. Setelah berpamitan, Astrid dan Arham meninggalkan Rumah Sakit menuju Apartemen Mereka. Arham langsung mencari unit dekat dengan unit Leo, supaya bisa menemani Lita. Dan beruntung ada beberapa unit yang masih kosong di lantai itu.
Semua langsung diurus oleh orang kepercayaan Arham.
__ADS_1
"Sayang.... Sudah tiga hari disini, Mama dan Papa tidak melihat Leo? Kemana Dia? Apa Kalian bertengkar?" Selidik Tia dengan hati-hati.
Lita menggeleng. "Aku malah sudah 10 hari tak mendengar kabarnya, Ma. Ponsel nya gak bisa dihubungi." Kata Lita terlihat sedih.
"Apa ada masalah, Sayang?" Tanya Lambok.
Gak ada apa-apa Pa, cuma terakhir bertemu, Kak Leo mengajakku menikah, tapi Aku masih mengingatkan tentang syaratku. Terus Kak Leo meninggalkanku ke balkon. Aku langsung ke kamar, ketiduran. Aku bangun Kak Leo sudah gak ada." Jelas Lita.
"Apa terjadi sesuatu sama Leo, yah? Gak biasanya." Lambok nampak berfikir.
"Tapi kata Astrid, besok nya Astrid melihat Kak Leo. Pas Astrid mau manggil, Kak Leo sudah dipanggil Rektor duluan." Jelas Lita lagi dengan wajah sangat sedih.
"Karena itu Kamu jadi sakit? Hhmmm?" Tanya Tia.
Lita diam dan menunduk.
Tia mendekat pada Lita dan memeluk Puteri nya. "Kamu gak usah pikirkan Leo dulu, ya Sayang. Pikirkan kesehatan Kamu.... Kuliah Kamu juga masa depan Kamu. Mungkin Leo ingin berfikir lagi tentang persyaratan Kita. Kalau Kalian berjodoh, biar Allah yang akan memudahkan jalan Kalian." Nasehat Tia.
Lita sudah meneteskan airmata. Dan mengangguk. Lambok memeluk tubuh Lita dari sebelah nya lagi. "Kamu harus kuat. Kamu itu Puteri Papa dan Mama. Mama mu dulu kuat dan tegar menghadapi segala macam cobaan hidup." Kata Lambok.
Lita mengangguk masih menunduk.
"Sekarang Kamu istirahat yah. Apa Kamu mau Kita pulang dulu ke Indonesia?" Tawar Lambok.
Lita mengangguk. "Ya Pa... Dua minggu lagi ujian semester. Setelah itu tidak ada lagi mata kuliah yang Aku ikuti, Aku segera menyusun Riset untuk persiapan Ujian Negara. Aku bisa pulang ke Indonesia. Biar nanti skripsi, Aku riset di Rumah Sakit Auntie dan Uncle saja." Jelas Lita.
Lita memang Mahasiswi cerdas. Kurikulum yang diambilnya untuk semester berikut, telah Lita kerjakan di semester sebelum nya. Jadi Lita bisa lulus lebih cepat dari Astrid. Ada juga beberapa Mahasiswa melakukan hal yang sama dengan Lita.
Tia tersenyum dan kembali memeluk tubuh Lita. "Mama dan Papa akan disini menemani Kamu. Besok Kita pindah ke Apartemen Kak Atala, yah. Arham dan Astrid sudah membereskan barang-barang Kamu."
"Ya Ma..." Lita menenggelamkan wajahnya ke dada Tia.
__________________________
Hari ini Lita keluar dari Rumah Sakit. Arham dan Astrid sudah menjemput Mereka. Lambok baru saja kembali dari mengurus Administrasi pengobatan Lita.
"Apa sudah siap semua?" Tanya Lambok.
"Sudah Pa..." Kata Lita.
Lita menggandeng lengan kanan Tia. Astrid membantu nya menggandeng lengan kanan Lita. Arham dan Lambok membawakan barang-barang milik Lita.
__ADS_1
Tia dan Lambok tak ingin Lita berlama-lama di Rumah Sakit. Karena Tia dan Lambok sedikit nyeri bila berurusan dengan Rumah Sakit. Makanya setelah hasil riset dari Dokter keluar, Lambok langsung minta ijin pada Dokter untuk membawa Lita keluar dari Rumah Sakit.
Lambok dan Tia memutuskan merawat Lita di Apartemen Atala. Mungkin akan lebih baik untuk kesehatan Lita.