
Marcel langsung menangani Lita.
"Ada apa Uncle?" Fahri terlihat panik.
"Tolong Kamu panggil Leo dan auntie mu." Kata Marcel bergegas.
Tanpa pikir panjang, Fahri langsung keluar dari ruang ICU. "Auntie... Leo.... Uncle memanggil Kalian... Lita...."
"Kenapa Lita?!" Leo nampak panik dan langsung berlari ke ruang ICU, begitu juga dengan Nindi.
"Ada apa Fahri?" Tanya Lambok.
"Lita terguncang Pa... Aku juga gak ngerti. Tadi Lita meresponku, tapi sekarang detak jantungnya tak beraturan." Fahri terlihat khawatir.
"Astaghfirullaah... Ya Allah, Jangan ambil Puteriku...." Lambok menengadah, airmata keluar dari sudut matanya.
"Kita berdoa saja, Pa... Semoga Lita tidak apa-apa." Fahri mencoba menenangkan Lambok.
"Ada apa Uncle?" Leo langsung menghampiri Marcel.
"Bagaimana? Apa sudah ada respon akan pengiriman obat?" Tanya Marcel.
"Sudah Uncle. Mungkin sebentar lagi obat nya tiba." Kata Leo.
Baru saja Leo selesai bicara, Nindi masuk membawakan obat-obatan. Nindi sudah tahu hal yang akan terjadi pada Lita, karena Nindi memang sudah tahu riwayat penyakit keponakannya itu.
"Aku baru saja dari ruang penerimaan Obat, Alhamdulillaah obatnya sudah sampai." Nindi terlihat ngos-ngosan karena berlari setelah Fahri keluar dengan wajah panik.
Lita sudah dua hari tak sadarkan diri. Marcel dan Nindi bergerak cepat menanyakan stok obat yang biasa di konsumsi pasien yang terguncang atau tertekan. Ternyata sedang kosong. Marcel langsung menelpon pihak Rumah Sakit Negara J yang memang juga memegang Riwayat pengobatan Lita.
Marcel, Nindi dan Leo bergegas menangani Nindi. Marcel memacu jantung Lita karena tiba-tiba denyutnya menghilang.
Leo menyuntikan obat seperti arahan Marcel.
Tiiiiiiiitttt....... Alat ukur detak jantung Lita berdecit panjang.
"Tidaaaakkkk...!!! Litaaaa... Banguuunnn!!" Leo menghantam dada Lita. Dia memacu jantung Lita dengan telapak tangannya.
Marcel menarik tubuh Leo. "Lita sudah tidak ada, Leo... Ikhlaskan."
Leo tidak terima, Leo mengguncang tubuh Lita. Nindi menarik tubuh Leo. "Jangan sakiti Puteriku... Lita sudah tenang... Dia sudah terbebas dari rasa sakitnya."
"Tidaakkkk!!! Litaaaaa!!!" Leo berteriak tak terima.
"Leo..!!!" Lambok menepuk pipi Leo sedikit kencang. Tubuh Leo terlihat berkeringat.
"Litaaaa!!!" Leo sadar dari tidurnya. Nafas nya tersengal. "Lita, Om...." Leo hendak ke ruang ICU.
"Marcel dan Nindi sedang menanganinya Nak, sebaiknya Kamu pulang.. Sudah dua hari Kamu tidak istirahat dengan benar." Pinta Lambok sambil mengulurkan sebotol air mineral.
"Tidak Om... Aku akan menunggu Lita sampai Lita sadar dan sehat." Leo bersih keras. "Astaghfirullaah... Ternyata Aku bermimpi."
Lambok menghela nafas. Tiba-tiba Fahri keluar dari ruang ICU.
"Leo... Kamu dipanggil Uncle ke ruang ICU. Lita...." Wajah Fahri terlihat cemas.
"Apa Auntie ke ruang Obat?" Tanya Leo.
__ADS_1
Fahri mengangguk.
"Ya Allah... Jangan... Aku mohon... Aku janji setelah Lita sehat, Aku akan menjaganya dan mencintainya melebihi cintaku pada diri sendiri. Aku janji akan menjadi hamba-Mu yang taat..." Batin Leo bernazar. "Aku mohon Ya Allah... Jangan ambil belahan jiwaku..." Airmata Leo mengalir.
"Nak..." Lambok menyentuh lengan Leo. "Kamu dipanggil Marcel."
"Iya Om.. Aku segera kesana." Leo bergegas ke ruang ICU setelah mensterilkan dirinya.
Nindi sudah berada di ruang ICU. Marcel sedang menyiapkan obat-obatan Lita.
"Uncle..." Leo nampak cemas.
"Kemarilah... Berapa dosis yang biasa Lita pakai?" Tanya Marcel.
Leo langsung mengambil alih pengobatan Lita. Dia sudah mendiagnosa penyakit Lita dua hari ini. Lita juga mengalami konflikasi magh akut. Makanya Lita sampai tak sadarkan diri dan koma.
________________________
Leo menggenggam telapak tangan Lita dengan lembut. Leo dari tadi tak henti melafalkan Surat Ar Rahman, Lita sangat menyukai surat Itu. Leo juga terus memperbaiki bacaannya, tajwid dan makhraj nya.
Walaupun Leo masih terbata, namun keinginannya sangat besar untuk hapal Surat Ar Rahman.
Leo sudah tahu kalau Lita pasti akan meminta dirinya melafalkan surat Ar Rahman. Karena tanpa sengaja, Leo pernah mendengarkan percakapan Lita dan Astrid saat di Kampus.
Lita mengungkapkan Dia tak ingin meminta apa-apa pada calon Suami nya. Lita hanya ingin mendengarkan Suami nya kelak mau membacakan Surat Ar Rahman untuknya kapanpun Lita inginkan.
Tiga hari sudah Lita tak membuka matanya. Tapi Leo bisa bernafas lega, Lita memang belum sadar, namun Lita telah melewati masa kritisnya.
Leo terus menemani Lita. Leo shalat tahajud di samping brankar Lita.
Mau tak mau, pihak Rumah Sakit memberikan ruang perawatan VVIP lengkap dengan peralatan medis yang lengkap.
"Assalamu alaikum...." Sapa Marcel.
"Wa alaikumussalaam Uncle." Jawab Leo.
Marcel tersenyum melihat Leo baru saja menyelesaikan tadarusnya.
"Sebaiknya Kamu istirahat. Kamu bukan robot. Biar Lita, Uncle yang jaga, ya?" Bujuk Marcel.
Marcel memang baru datang ke Rumah Sakit malam ini saat tadi pagi Dia berpamitan pulang ke Rumah Lambok untuk beristirahat. Itu pun setelah meyakinkan kondisi Lita lebih baik.
"Tapi Uncle..." Leo mencoba menolak.
"Pulanglah... Kasihan orangtua mu menunggu. Mereka juga cemas dengan kesehatanmu..." Kata Marcel Lembut.
"Lita ini Puteri, Uncle. Jadi Uncle juga akan menjaganya dengan baik." Kata Marcel lagi.
"Pulanglah... Papamu menunggu di ruang tunggu." Kata Marcel lagi.
"Ada Papa??" Tanya Leo.
Marcel mengangguk. "Tadi Uncle sempat berbincang dengan Papa mu sebelum kesini. Mama mu juga khawatir." Marcel menepuk bahu Leo. "Pulanglah. Besok Kamu boleh kembali lagi." Pinta Marcel.
"Tapi Uncle janji, akan mengabari Aku, kalau ada perkembangan dengan Lita." Pinta Leo.
"Insyaa Allah..." Kata Marcel.
__ADS_1
__________________________
Pagi-pagi sekali Leo sudah tiba di Rumah Sakit. Ternyata disana sudah berkumpul seluruh Keluarga Lita. Leo nampak was-was.
"Assalamu alaikum..." Salam Leo. Leo mengecup punggung telapak tangan Nenek Nia, Lambok, dan Tia. Dia juga menyalami Atala dan Fahri.
"Ada apa?" Leo nampak khawatir.
"Uncle memberi kabar pada Kami, Lita membuka matanya sebelum subuh tadi." Kata Fahri.
"Alhamdulillaah..." Leo langsung sujud syukur. "Aku akan masuk." Kata Leo bergegas.
Namun Lambok menahannya. "Jangan dulu Nak. Marcel belum mengizinkan Kita untuk menjenguk Lita."
"Tapi Aku juga Dokternya..." Kata Leo.
"Om tahu, Nak. Om minta tolong, biarkan Lita tenang dulu yah... Tadi juga Om mau masuk, tapi Uncle dan Auntie mu melarang." Pinta Lambok.
Leo menghela nafas. "Ada apa? Apa Lita begitu membenciku?"
Di Dalam Ruang ICU
"Bagaimana Sayang?" Tanya Nindi pada Sang Suami.
"Auntie...." Panggil Lita lemah.
"Ya Sayang...." Nindi mendekat pada Lita.
"Aku dimana? Kenapa badanku terasa kaku?" Tanya Lita lemah.
Nindi tersenyum. "Kamu di Rumah Sakit, Sayang...." Kata Nindi sambil mengelus pipi Lita lembut.
Marcel baru saja melepas alat bantu pernafasan pada Lita.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lita lagi masih sangat lemah.
"Apa yang Kamu ingat, Sayang?" Tanya Nindi.
"Aku....." Lita nampak berusaha mengingat.
"Jangan dipaksakan. Sebaiknya Kamu istirahat." Pinta Marcel.
"Pernikahan Bang Fahri.... Aku harus kesana..." Kata Lita mencoba menggengam erat sisi brankar untuk bangun.
"Sayaaang.... Jangan memaksa. Kamu sudah tiga hari tidak sadar... Bang Fahri ada disini... Pernikahannya tiga hari lagi..." Kata Nindi.
"Apa Bang Fahri marah padaku?" Mata Lita berkaca-kaca.
"Ssttt.... Tidak Sayang. Kamu adik kesayangannya. Mana mungkin Fahri marah padamu?" Nindi berusaha menghibur Lita.
"Lalu kenapa Bang Fahri tak mau bertemu denganku?" Tanya Lita.
"Kamu mau ketemu Fahri?" Tanya Marcel.
Lita mengangguk pelan.
"Baik..." Marcel bergegas membuka pintu ruang ICU.
__ADS_1