KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Keputusan Besar


__ADS_3

"Sayang!" Teriak Arya, sembari berlari menghampiri Embun.


Iman menoleh ke arah Arya, dia melihat Arya datang bersama seorang wanita bercadar. Iman langsung menduga, jika itu dokter Fitri yang dimaksud Afifah. Arya langsung kembali ke kota, setelah pernikahan secara agama dan hukum dengan Fitri terlaksana. Arya mengerahkan segala cara, agar pernikahannya dengan Fitri terlaksana dengan cepat. Butuh waktu hampir dua hari, Arya mengurus semuanya. Arya sangat takut memikirkan Embun. Namun genggaman tangan Fitri, membuatnya tenang. Arya melihat keyakinan Fitri, jika Embun akan baik-baik saja.


"Dokter Fitri!" sapa Afifah ramah, Fitri langsung menoleh.


Afifah dan Fitri saling berpelukan. Arya melihat keakraban Fitri dan Afifah. Seolah merasa heran, jarak yang begitu jauh diantara mereka. Tidak akan dengan mudah membuat keduanya dekat. Senyum yang terutas di wajah Afifah saat menatap Arya. Seolah mengisyaratkan sebuah kebahagian akan kabar baik.


"Akhirnya ada yang bisa membawa dokter Fitri keluar dari persembuyiannya!" ujar Afifah, Fitri tersenyum di balik cadar.


Afifah dan Fitri kuliah di fakultas yang sama. Perbedaannya, Afifah lebih dulu masuk dan Fitri tiga tahun setelahnya. Namun dengan otak encernya, Fitri mampu menyelesaikan studi spesialisnya hampir bersamaan dengan Afifah. Bahkan keduanya sering bertemu di setiap acara seminar. Namun prinsip yang dipegang Fitri, membuat keduanya harus terpisah. Walau hampir dua minggu atau satu bulan sekali mereka akan bertemu.


"Sayang, kamu mengenal dokter Fitri!"


"Dia teman kuliahku, tapi usianya lebih muda tiga tahun dariku. Artinya dia lebih muda lima tahun dengan Arya!" ujar Afifah menggoda Arya. Jelas Afifah mengetahui pernikahan Arya dengan Fitri. Tepat setelah ijab qobul, Fitri menghubungi Afifah.


Bukan hanya mengabarkan berita pernikahannya. Fitri bertanya dan meminta rekam medis Embun. Fitri menganalisa kondisi Embun, sebelum akhirnya dia memeriksa kondisi Embun.


"Apa hubungannya dengan Arya?" sahut Iman tidak mengerti, Afifah merangkul lengan Iman. Lalu menepuk pelan bahu Iman. Afifah tersenyum penuh arti. Iman semakin penasaran dengan sikap aneh Afifah.


"Apa yang kamu sembuyikan?" ujar Iman dingin, Afifah menggelengkan kepalanya.


"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri. Aku tidak berhak mengatakannya, Arya sendiri yang harus mengatakannya padamu. Kerabat yang sudah selayaknya kakak bagi Arya!" sahut Afifah, Fitri terdiam menunduk. Sikap Fitri semakin membuat Iman penasaran.


"Sayang, kalau menunggu Arya. Aku bisa mati penasaran. Katakan sekarang saja, tidak akan ada bedanya!" ujar Iman, Afifah menolak dengan tegas. Afifah melepaskan rangkulannya. Dia berdiri tepat di samping Fitri.


Krreeeekkk


"Selamat pagi!" sapa dokter Rita dan dokter Via, Afifah dan Fitri menoleh bersamaan. Dokter Rita yang selama ini merawat Embun. Dia dokter kandungan sama seperti Fitri. Mereka mengenal hanya dalam seminar.


"Apa kabar dokter Fitri? Akhirnya kita bisa merawat pasien yang sama!"


"Alhamdulillah dokter Rita, saya baik-baik saja!" sahut Fitri, Rita mengangguk pelan.


"Oh iya, ini rekam medis Embun. Sejak kemarin dia masih mengalami kontraksi palsu. Usia kandungannya masuk delapan bulan, HPL Embun masih beberapa minggu lagi!" ujar Rita menerangkan, Afifah dan Via memilih menepi.


Via bersikap profesional, dia seorang dokter muda di bawah pengawasan dokter Rita. Walau pernikahan Arya dan Fitri sudah diketahui oleh Via. Dia tetap ikut memeriksa Embun. Sejak awal Via tidak berharap lebih, meski dia merasa hangat saat bertemu dengan Arya. Namun rasa itu harus berakhir, saat rasa itu hanya sebuah rasa sementara tanpa arti.


"Dia memiliki tekanan darah tinggi. Kak Arya, kamu memiliki riwayat darah tinggi!" ujar Fitri bertanya pada Arya. Sontak Arya menoleh seraya menggelengkan kepalanya. Iman menatap penuh heran, ketika mendengar panggilan Fitri pada Arya.


"Jika bukan kamu, mungkinkah ini faktor pola hidup!" ujar Fitri lirih, dokter Rita mengangkat kedua bahunya pelan.


"Almaira memiliki riwayat darah tinggi!" sahut Iman, Fitri menoleh ke arah Iman. Mengalihkan sejenak perhatiannya dari rekam medis Embun.

__ADS_1


"Almaira!" ujar Fitri, Arya menghampiri Fitri.


"Dia ibu dari Embun, istri pertamaku!" sahut Arya, Iman semakin heran melihat sikap Arya.


"Istri pertama, seakan kamu sudah memiliki istri kedua!" goda Iman, sembari memukul pelan bahu Arya.


"Dia istriku, Fitri Hanum Fauziah dokter sekaligus ibu yang akan merawat putri kita!" ujar Arya santai, sontak dua bola mata Iman membulat sempurna. Ada rasa tidak percaya, mendengar fakta yang baru saja didengarnya.


"Serius!"


"Itulah kebenarannya!" ujar Afifah membenarkan, Fitri lalu menangkupkan tangan menyapa Iman.


"Arya kamu yang beruntung atau dia yang sedang sial!" ujar Iman menggoda, Arya diam tak menyahuti.


"Bukan kak Arya yang beruntung, aku yang beruntung bisa mengenalnya!" sahut Fitri, Iman langsung terdiam. Dia tak percaya Arya benar-benar menikah dengan Fitri.


"Istri yang sholeha, menjaga dan membela kehormatan suaminya!" ujar Afifah menggoda Iman, seketika Iman menunduk malu.


"Aku hanya bercanda!" ujar Iman lirih, Afifah tersenyum melihat Iman yang terdiam. Pertama kalinya Iman merasa bersalah, meski perkataannya hanya sekadar gurauan tanpa maksud tertentu.


"Dokter Rita, maaf sebelumnya. Izinkan saya memeriksa Embun!"


"Silahkan dokter Fitri!" sahut Rita ramah, Fitri mengangguk pelan.


"Bagaimana kondisi Embun?" ujar Arya lirih, Fitri diam membisu. Arya pasrah apapun yang terjadi, Rita memahami arti diam Fitri.


"Dokter Afifah, berapa lama ruang operasi bisa disiapkan?"


"Maksud dokter Fitri!" ujar Afifah tidak mengerti.


"Aku akan memberikan obat penurun darah tinggi pada Embun. Namun saat tekanannya menurun, dia harus langsung dioperasi. Kista dalam rahimnya membengkak. Meski tidak berbahaya pada bayinya. Namun Embun akan merasakan sakit yang teramat sampai hari kelahiran!"


"Usia kandungan Embun masih kurang. Takutnya dia akan mengalami komplikasi!" sahut Afifah, Arya dan Iman berdiri menatap raut wajah Embun yang pucat.


"Meski kita menunggu sampai usia kandungan sembilan bulan. Komplikasi dan tekanan darah Embun tidak akan terelakkan. Kita akan mengalami resiko itu. Seandainya kita melalukan operasi hari ini, kondisi Embun tidak akan terus menurun. Setidaknya dia tidak perlu lagi merasakan sakit akibat kista yang membengkak!"


"Tidak adakah cara lain, usia kandungan Embun belum genap sembilan bulan!" ujar Arya lirih, Fitri diam membisu.


"Lakukan, jika itu bisa menyelamatkan Embun!" ujar Abra lantang, semua orang menoleh.


"Anda siapa?" ujar Fitri, Abra menghampiri Fitri.


"Saya suami Embun!"

__ADS_1


"Anda mengetahui resiko kehamilan Embun!"


"Saya mengetahuinya ketika usia kehamilan Embun memasuki lima bulan!" ujar Abra lirih penuh rasa bersalah.


"Apa keputusan Embun saat itu?"


"Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya. Meski artinya dia harus kehilangan nyawanya!"


"Tuan!" ujar Fitri, Arya menghampiri Fitri.


"Dia Abra menantuku, jadi tidak perlu kamu memanggilnya tuan. Dia putramu sekarang!" ujar Arya, Iman menatap penuh haru. Pertama kalinya Iman melihat Arya begitu dewasa dan tangguh.


"Jika memang Embun ingin melahirkan bayinya dengan selamat. Aku harus memastikan kondisi bayinya. Jika memang dia baik-baik saja, aku akan meminta persetujuanmu melakukan operasi cesar malam ini juga!" ujar Fitri tegas, Abra mengangguk mengiyakan.


"Kak Arya, bisa minta tolong pihak rumah sakit menyiapkan tim untuk membantuku. Dokter Afifah tentu mengenal, siapa saja dokter terbaik di rumah sakit ini? Aku akan rapat dengan mereka paling lambat nanti sore!"


"Aku yang akan mengurus itu, Arya masih lelah. Afifah yang akan membantuku!" sahut Iman lantang, Fitri mengangguk pelan.


"Dokter Rita, tolong periksa kondisi bayi Embun. Aku akan menganalisa kondisi alat vital Embun yang lain. Aku tidak ingin terjadi komplikasi selama operasi!"


"Baik dokter Fitri, aku akan menghubungi ruang radiaologi sekarang juga!" ujar dokter Rita, lalu keluar menuju ruang radiologi.


"Dokter Via, jika mungkin bisa minto tolong. Periksa ruang NICU, ada tidak tempat untuk bayi Embun!" ujar Fitri ramah, Via mengangguk pelan. Via melangkah keluar mengikuti langkah Rita.


"Dokter Fitria!"


"Iya!" sahut Fitri pada Afifah.


"Terima kasih, atas saran yang anda berikan!" ujar Afifah sembari menggenggam tangan Fitri. Afifah dan Iman keluar melakukan tugas mereka.


"Semua sudah diatur, sekarang istirahatlah. Tubuhmu tak sekuat itu, ada kalanya dia lelah. Percayakan semuanya pada mereka!" ujar Arya, sembari menarik tangan Fitri.


"Kita kemana?"


"Sarapan, kamu belum makan dari tadi pagi!" sahut Arya santai.


"Tapi Embun!"


"Ada Abra, dia yang akan menjaganya. Jangan buat aku cemas dengan keras kepalamu. Embun belum sembuh, jangan sampai kamu ikut sakit. Aku sudah tua, tidak akan sanggup menjaga kalian berdua!" sahut Arya kesal, Fitri diam mengikuti langkah Arya


"Kak Arya masih muda, siapa yang mengatakan kakak tua?"


"Sudahlah, kita sarapan sekarang!" sahut Arya dingin, Fitri merasakan genggaman hangat tangan Arya. Genggaman kedua kalinya, setelah Fitri mencium tangan Arya pertama kalinya.

__ADS_1


"Terima kasih peduli akan laparku. Kepedulianmu, membuatku percaya kelak akan ada cinta diantara kita. Aku memang belum mencintaimu, tapi keyakinanku jika kaulah pemilik tulang rusukku. Membuatku percaya, akan ada bahagia dalam hidup kita. Terima kasih, hadir dalam hidupku!" batin Fitri haru.


__ADS_2