KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Manja


__ADS_3

"Galuh, kemari duduk bersama papa!" teriak Abra, ketika melihat Galuh turun dari lantai dua.


Galuh mengangguk, lalu berjalan ke arah Abra. Galuh duduk tepat di depan Abra. Sesaat setelah meletakkan ponsel pintarnya di meja nakas tepat di sampingnya. Galuh menoleh ke kanan dan ke kiri. Nampak jelas raut wajahnya yang bingung. Abra tersenyum melihat sikap menantunya. Jelas Abra mengetahui alasan sikap Galuh. Menantu tampan pilihan putri kecilnya. Abra menyentikkan jarinya tepat di depan wajah Galuh yang tertunduk. Membuyarkan rasa gundah sang menantu yang kecewa. Tatkala sang menantu tak melihat istri yang dirindukannya.


"Iya pa!" sahut Galuh histeris, nada suara Galuh terdengar keras. Suara yang menampakkan keterkejutannya akan sikap Abra. Seutas senyum menjawab rasa kaget Galuh. Abra menatap penuh haru Galuh, bahagia melihat cinta Galuh yang begitu besar pada Kanaya.


"Kamu mencari Kanaya!" ujar Abra, Galuh mengangguk sembari menunduk. Ada rasa malu, kala menjawab pertanyaan Abra. Galuh benar-benar gundah tanpa Kanaya.


Galuh merasa asing di rumah megah keluarga Kanaya. Sejujurnya Kanaya tak pernah mengacuhkan atau meninggalkan Galuh. Kanaya baru beberapa menit yang lalu keluar dari kamar. Galuh memilih diam di dalam kamar, sebab ada pekerjaan kantor yang belum selesai. Namun memilih diam sendiri tanpa Kanaya. Membuat hati dan jiwanya gundah. Galuh kalut akan rindu yang terus mengusik hati dan pikirannya. Rasa rindu yang seketika membuyarkan fokus akan pekerjaan.


Akhirnya Galuh memutuskan turun dari kamar Kanaya. Mencari wajah teduh yang menenangkan hatinya. Menatap dua mata indah yang meneduhkan jiwanya. Galuh tak berdaya akan rasa cinta dan rindunya. Galuh lemah tanpa hembusan napas Kanaya. Sikap bodoh yang mulai membuat Galuh takut akan kehilangan Kanaya. Rasa cinta yang semakin besar dan hanya untuk satu nama. Wanita berwajah teduh yang selalu dan selalu mengusik malamnya.


"Kenapa kamu malu? Dia istrimu yang halal untukmu. Jadi tidak ada alasan kamu malu mengutarakan cinta dan kerinduanmu!" ujar Abra, lalu tertawa lepas. Galuh menunduk semakin dalam, gurauan Abra telah membuatnya kikuk. Sebaliknya Abra merasa menang, ketika melihat wajah Galuh yang memerah menahan malu.


"Jangan percaya perkataan papa. Puluhan tahun papa menikah dengan mama. Tidak pernah sekalipun papa lantang mengatakan cinta atau rindu pada mama. Papa sendiri takut mengutarakan cinta. Sekarang malah mengggoda Galuh!" sahut Rafan lantang, Galuh mendongak. Rafan berjalan perlahan sembari menggendong Faiz. Rafan duduk tepat di samping Abra. Rafan langsung memberikan Faiz pada Abra. Galuh menatap lekat Rafan, ada rasa tak percaya. Tatkala Galuh melihat hubungan ayah dan anak yang begitu bebas. Layaknya dua sahabat yang tak berbeda jauh usianya.


"Papa pernah mengatakan cinta pada mama!"


"Kapan?" sahut Rafan lagi, Abra diam membisu. Mencoba mengingat saat dia mengatakan cinta pada Embun. Rafan terkekeh, saat melihat raut wajah Abra yang mengingat sesuatu.


"Sudahlah pa, tidak pernah papa mengatakan cinta pada mama. ungkapan cinta papa, hanya sekali terucap. Itupun saat mama sedang sakit. Papa tidak akan mengatakan cinta pada mama. Bukan karena papa tidak cinta pada mama. Namun sikap keras dan tegas mama yang membuat ungkapan romantis papa hanya angin lalu. Bahkan mungkin Galuh merasakannya juga. Secara mama dan Kanaya sebelas dua belas. Dingin dan keras, bak gunung es yang takkan mencair!" tutur Rafan panjang lebar, Galuh mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Perkataan Rafan layaknya suara hati terdalamnya. Sebuah pertanyaan yang tak pernah mampu diutarakannya.


"Rafan diamlah, Kanaya atau mama bisa mendengarnya!" ujar Abra mengingatkan, Rafan menggelengkan kepalanya. Rafan merasa perkataan Abra tidak akan terjadi. Sebab Rafan mengetahui, jika Kanaya dan Embun tidak berada di rumah.


"Memangnya mama Embun dingin!" ujar Galuh lirih, Rafan mengangguk tanpa ragu. Rafan mengiyakan perkataan Galuh. Sebaliknya Abra hanya menggeleng lemah. Menyayangkan sikap Rafan yang sembrono. Abra hanya takut Embun atau Kanaya mendengarnya. Jika mereka atau salah satunya mendengar perkataan Rafan. Abra yakin akan terjadi perdebatan hebat dan sengit.

__ADS_1


"Mama dan Kanaya, dua wanita dingin dan keras. Namun dalam keras mereka, ada keteduhan yang meluluhkan kaum adam. Jadi berhati-hatilah Galuh. Sekali kamu menyakiti Kanaya, kamu akan kehilangannya!"


"Pantas, pesonaku tidak bisa meluluhkan kerasnya!" sahut Galuh, Rafan tersenyum.


"Belajarlah dari papa, dia mampu menaklukan mama. Pasti papa juga mampu mengajarimu. Agar Kanaya yang dingin luluh pada cintamu. Secara dia itu dingin, tak mengenal cinta!" sahut Rafan lantang. Galuh terdiam dengan tatapan tak percaya. Rafan membuat Galuh menyadari watak dasar Kanaya yang jelas tidak mudah diluluhkan.


Bugh Bugh Bugh


"Awwwsss!" teriak Rafan, seraya mengusap tubuhnya yang kesakitan.


"Aku tidak dingin!" teriak Kanaya, sesaat setelah melempar bantal ke arah Rafan.


Kanaya melepar tiga bantal sofa tepat di tubuh Rafan. Kedua mata Galuh terbelalak, saat melihat sikap Kanaya. Galuh tak percaya akan penglihatannya. Sikap keras Kanaya, sering dia lihat. Sikap tegas Kanaya, Galuh pernah merasakannya di kampus. Namun sikap kasar Kanaya, baru kali ini dia melihatnya. Sikap lembut Kanaya dalam sekejap tergantikan dengan sikap keras dan marah.


"Kanaya sakit!"


"Kak Rafan jahat!" teriak Kanaya, sembari memukul tubuh Rafan dengan tangannnya. Rafan mencoba menghindar, tapi Kanaya terus mengejar. Alhasil, Rafan dan Kanaya saling mengejar di dalam rumah. Embun hanya menggelengkan kepalanya. Abra mengangkat kedua bahunya. Ketika Embun menoleh ke arahnya. Tatapan yang mengharapkan sebuah jawaban.


"Kanaya sayang, berhenti!" teriak Galuh, ketika Galuh melihat Kanaya yang terus berlari. Nampak sebuah bantal sofa di tangannya. Galuh tidak ingin Kanaya kelelahan. Sebab itu, Galuh ingin menghentikan Kanaya. Namun usahanya sia-sia. Kanaya terus mengejar Rafan, melampiaskan kekesalannya.


"Papa tolong!" teriak Rafan, Abra seketika menggeleng. Abra mengacuhkan Rafan dan memilih menggedong Faiz.


"Galuh, hentikan istrimu!"


"Dia tidak akan menolongmu!" sahut Kanaya, sembari mengejar Rafan.

__ADS_1


"Sayang, cukup!" ujar Galuh, sembari menahan tangan Kanaya. Galuh menghentikan Kanaya.


Galuh menarik tangan Kanaya, menghentikan langkah lebar Kanaya yang tengah mengejar Rafan. Namun Kanaya meronta, memaksa melepaskan tangannya. Sontak Galuh menarik tubuh Kanaya. Galuh merangkul Kanaya, memutar tubuh Kanaya menghadapnya. Galuh menempelkan keningnya di wajah Kanaya. Hembusan napas Kanaya memburu. Menerpa wajah Galuh, mengalirkan desiran panas dalam tubuh Galuh.


"Sayang, apapun yang dikatakan kak Rafan? Tidaklah penting bagiku. Selamanya kamu primadona dalam hidupku. Sempurna dalam pendanganku!"


"Aku harus mengejar kak Rafan!" sahut Kanaya, Galuh menggeleng lemah.


"Tidak perlu, redakan amarahmu. Karena sekarang, ada aku yang mencintaimu!" ujar Galuh, lalu mendekap erat Kanaya.


"Aku sangat mencintaimu, jangan pernah pergi tanpa pamit padaku. Aku cemas memikirkanmu!" ujar Galuh, sembari mendekap erat Kanaya.


"Cuuuup"


"Sayang, aku takut kehilanganmu!" ujar Galuh, sesaat setelah mencium puncak kepala Kanaya.


"Aggghhhmmm, ada pengantin baru lewat yang lain ngontrak!" teriak Rafan lantang.


"Lepaskan!"


"Tidak, sebelum kamu menjawab cintaku!" tolak Galuh lantang.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" ujar Kanaya, lalu pergi menjauh.


"Terima kasih!" sahut Galuh mesra tepat di telinga Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2