KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Mama


__ADS_3

"Selamat malam!" sapa Haykal ramah, terlihat Zahra berjalan mengekor di belakangnya. Langkah kecilnya berlari mengejar langkah lebar Haykal. Suster yang mengasuh Zahra, mencoba mengikuti langkah mungilnya.


"Haykal, silahkan duduk!" sahut Abra, Haykal mengangguk pelan. Haykal menarik tangan Zahra, menghentikan langkah kecil Zahra. Haykal tidak ingin melihat Zahra berlari ke segala arah. Haykal menggandeng tangan Zahra, menuntunnya duduk tepat di sampingnya.


Abra tersenyum melihat kehangatan antara Haykal dan Zahra. Kedekatan antara ayah dan putri angkatnya. Abra teringat akan kedekatan dirinya dengan Kanaya. Kehangatan dan kebahagian yang sama pernah dirasakan dirinya. Tatkala Kanaya masih sangat kecil. Abra menyeka air mata yang jatuh tepat di pelupuk matanya. Hatinya terasa ngilu, mengingat Zahra yang tak lagi memiliki siapa-siapa? Sedangkan Kanaya masih memiliki dirinya dan Embun.


"Anak manis, kamu ingin makan sekarang?" ujar Abra menyapa Zahra dengan lembut. Zahra menggelengkan kepalanya, wajah polosnya Zahra menghipnotis Abra. Menyematkan rasa sayang yang tiba-tiba hadir di dalam hatinya.


"Tante cantik!" sahut Zahra polos, Abra menoleh ke arah Haykal. Menanti jawaban akan pertanyaan Zahra. Rasa tidak tahu Abra, akan sosok yang dikatakan Zahra.


"Kanaya!" ujar Haykal singkat, bersamaan dengan suara lari dari Zahra. Abra dan Haykal langsung menoleh, ketika melihat Zahra berlari tanpa pamit.


"Tante cantik!" teriak Zahra, kedua tangannya terentang sempurna.


Zahra berlari menghampiri Kanaya yang berjalan perlahan menghampiri Abra. Zahra berlari tanpa takut terjatuh. Haykal langsung berdiri, menatap nanar tubuh mungil putri angkatnya. Tubuh yang merindukan hangat pelukan seorang ibu dan kini berlari mengharap pelukan hangat Kanaya. Wanita yang takkan pernah menjadi ibu sambungnya.


"Dia sangat menyayangimu, Kanaya!" batin Haykal pilu. Menatap pilu Zahra yang tengah memeluk tubuh Kanaya dengan begitu eratnya.


"Cantik!" sapa Kanaya hangat, suara lembut yang terdengar jelas di telinga Haykal. Abra berdiri tepat di samping Haykal. Menepuk pelan pundak Haykal. Abra mencoba menenangkan Haykal, menyakinkan Haykal semua akan baik-baik saja.


"Haykal, ada waktunya dia kalah dengan senyum dan hangat Zahra!" bisik Abra, Haykal mengangguk sembari menunduk.


"Aku berharap waktu itu akan segera tiba!"


"Ketika kamu meninggalkannya Kanaya begitu saja. Kanaya ikhlas akan keputusanmu, bukan dengan amarah dia membalasnya. Kesabaran dan ketulusan cara Kanaya membuktikan cintanya. Hal yang sama harus kamu lakukan. Namun tak ada janji atau kepastian dalam penantianmu!"

__ADS_1


"Maksud anda?"


"Kanaya berwatak keras, dia akan teguh pada keputusannya. Takkan goyah dengan mudah!" sahut Abra santai, lalu duduk kembali.


Haykal menghela napas, lalu duduk tepat di sebelah Abra. Malam ini, Haykal secara khusus mendapatkan undangan makan malam dari keluarga Abra. Ada acara perusahaan, sehingga diadakan acara makan malam dengan beberapa kolega. Salah satunya Haykal, sebagai investor terbesar di perusahaan Abra. Malam panjang yang akan dilewati Haykal dengan menahan rasa rindu. Menatap dua bola mata Kanaya yang sangat disayanginya, tapi tak mampu dimilikinya.


Kanaya duduk tepat di depan Haykal. Meja besar yang memisahkan Kanaya dan Haykal. Zahra memaksa duduk tepat di samping Kanaya. Embun tersenyum penuh haru, melihat Zahra yang merasa nyaman berada di dekat Kanaya. Embun merasakan ketulusan yang ditunjukkan Kanaya pada Zahra. Namun Embun juga bisa merasakan, beban yang tengah ada dalam pikiran putri cantiknya.


"Kanaya, ambilkan Zahra makanan!" ujar Embun lirih, Kanaya mengangguk. Kanaya berdiri, dia ingin mengambilkan Zahra makanan. Namun langkahnya terhenti, ketika ujung hijabnya ditarik oleh tangan mungil Zahra. Haykal terus melihat hubungan hangat antara Kanaya dan Zahra. Tanpa sedikipun mengucapkan kata, hanya rasa ngilu yang terasa di dalam hatinya.


"Ada apa sayang? Tante akan mengambilkan Zahra makanan!" ujar Kanaya, Zahra menggeleng lemah. Genggaman tangannya begitu erat menarik ujung hijab Kanaya.


Kanaya berjongkok tepat di depan Zahra. Mengusap lembut wajah cantik Zahra. Kanaya mengecup lembut kening Zahra. Kecupan penuh rasa cinta akan gadis kecil yang telah merebut hatinya. Zahra berhambur memeluk Kanaya, mengalungkan erat tangannya di leher Kanaya. Seakan Zahra tak ingin jauh dari Kanaya. Dengan penuh kasih sayang, Kanaya mengusap punggung Zahra.


"Kanaya, biarkan aku yang menggendongnya!" pinta Daffa, Kanaya menoleh. Nampak Daffa yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Daffa, sahabat yang pernah mencintai Kanaya dan masih mencintainya. Zahra langsung mengeratkan pelukannya. Zahra menolak tawaran Daffa tanpa banyak bicara. Kanaya menggelengkan kepala, isyarat Kanaya setuju dengan permintaan Zahra.


"Dia merasa asing di sini, biarkan saja dia dalam gendonganku. Lagipula, papa ada disini. Jika aku merasa lelah, aku akan meminta dia menggendong Zahra!" ujar Kanaya, Daffa mengangguk. Keduanya berjalan beriringan menuju meja. Hubungan hangat yang terlihat jelas oleh Haykal. Tatapan penuh rasa cemburu yang siap meledak.


"Kanaya, dia yang akan menyatukanmu dengannya kembali!" ujar Daffa lirih, suara dengan nada penuh rasa cemburu.


"Aku tidak mengiyakan atau menolak, semua aku serahkan pada ketetapan-NYA. Tak ada hakku melawan jalan yang tertulis. Aku akan terus berjalan dengan jalan yang kuyakini benar!"


"Kamu masih sangat mencintainya!" ujar Daffa, Kanaya diam membisu. Tak ada jawaban dari pertanyaan yang sesungguhnya memiliki jawaban. Kanaya berjalan melewati Daffa. Zahra merasa nyaman dalam gendongan Kanaya.


"Kanaya, kamu masih sangat mencintainya!" ujar Daffa, Kanaya terus berjalan tanpa peduli perkataan Daffa. Kanaya seolah tak ingin peduli dengan perkataan Daffa. Meski Daffa terus mengejarnya, Kanaya sedikitpun tak menggubrisnya. Haykal terus menatap ke arah Daffa dan Kanaya. Merasakan sakit tak bernanah, akan cinta yang tak pernah bersatu dan tak lekang oleh waktu.

__ADS_1


"Kak!" sapa Kanaya, tepat di sebelah Haykal. Sontak Haykal terkejut, dia merasa tak percaya. Ketika menyadari Kanaya sudah berdiri tepat di sampingnya. Padahal beberapa menit yang lalu, Kanaya masih berdiri berdua dengan Daffa.


"Maaf!" sahut Haykal gugup, Kanaya mengedipkan kedua matanya. Mengiyakan kata maaf yang terucap dari bibir Haykal. Meski Kanaya tidak mengerti, kata maaf itu terucap untuk kesalahan yang mana.


"Kak, Zahra mungkin kelelahan. Lebih baik, minta susternya membawa Zahra pulang!" ujar Kanaya, Haykal melihat Zahra yang tertidur dalam gendongan Kanaya. Hangat dekapan Kanaya, menenangkan hati Zahra. Sehingga Zahra tertidur tanpa banyak keributan.


"Berikan padaku, aku akan meminta mereka mengantar Zahra pulang!" pinta Haykal, Kanaya mengangguk. Kanaya melepaskan pelukan Zahra, tapi bukan tangan Zahra yang terlepas. Malah terdengar suara tangis Zahra yang begitu kencang. Seketika semua orang menoleh, tidak terkecuali Abra dan Embun. Kanaya langsung mendekap erat Zahra. Mencoba menghentikan tangis Zahra.


"Maaf merepotkanmu!" ujar Haykal lirih, Kanaya terdiam. Kanaya terus menepuk pelan punggung Zahra. Menenangkan Zahra, berharap tangisnya terhenti dan tidur kembali dalam pelukannya.


"Mama!" ujar Zahra lirih, satu kata yang keluar dari bibir mungilnya di sela isak tangisnya. Haykal dan Kanaya terdiam membisu. Panggilan lirih Zahra, sempurba menyayat hati Haykal dan Kanaya. Mengingatkan mereka Zahra kecil sangat merindukan sosok ibu yang takkan pernah ada dalam hidupnya.


"Mama!" ujar Zahra lagi dan lagi. Sontak Kanaya mendekap erat tubuh mungil Zahra. Mencium lembut tubuh gadis cantik yang menggetarkan hatinya. Memanggil jiwa keibuannya yang lama tertidur di hati terdalamnya.


"Kanaya, dia membutuhkanmu!" ujar Haykal lirih, Kanaya menoleh dengan tatapan tak percaya.


"Tapi hatimu takkan mampu terbagi. Aku tidak ingin ada diantara kalian berdua. Aku akan menjadi ibunya, tanpa harus menjadi bagian hidupmu!" sahut Kanaya lirih dan tajam.


"Kenapa Kanaya kamu begitu keras?" ujar Haykal, Kanaya diam tidak peduli. Kanaya hanya peduli pada Zahra.


"Haykal, biarkan Kanaya menenangkan Zahra. Kanaya butuh waktu memahami perasaannya. Memaksakan cintamu, hanya akan membuat jarak diantara kalian semakin jauh!" ujar Embun lembut, Haykal mengangguk pelan.


"Sampai kapan?" sahut Haykal, Embun tersenyum simpul.


"Sampai Kanaya merasa kamu imam yang terbaik, bukan Daffa sahabatnya!" sahut Embun tenang.

__ADS_1


__ADS_2