
"Assalmmualaikum!" Ujar Embun lirih, Abra menoleh heran. Ketika mendengar ucapan salam Embun. Meski tak ada satu orangpun yang membukakan pintu.
"Ada yang salah?"
"Sayang, tidak ada orang? Lantas, untuk siapa kamu mengucapkan salam?"
"Ucapan salam tidak hanya saat ada orang. Meski tidak ada siapa-siapa? Sebaiknya tetap mengucapkan salam saat memasuki rumah. Sebuah rumah ibarat istana paling nyaman. Jangan biarkan, setiap sudutnya diisi dengan gelap. Senantiasa percikan setitik cahaya dengan mengucapkan kata salam!"
"Aku mencintaimu!" Bisik Abra, tepat di telinga Embun. Bisikan yang mengiring langkah pertama Embun memasuki kediaman Abimata.
Dengan penuh keyakinan, Embun melangkah memasuki rumah megah Abimata. Rumah yang benar-benar besar. Walau bukan pertama kalinya dia masuk ke dalam rumah ini. Namun ini langkah pertama Embun, menjadi istri terbaik dan sempurna bagi Abra. Embun mengucapkan salam dengan hati tulus. Dengan harapan menjadi doa penguat dalam menjalani tugasnya.
Abra terus menggenggam tangan Embun. Langkah kaki mereka terdengar menggema di seluruh bagian rumah megah Abimata. Saat tangan kiri Abra menggenggam tangan Embun. Tangan kanan Abra menenteng tas berisi pakaian dan keperluan Embun. Abra membawa sendiri barang-barang Embun, tanpa meminta bantuan ART.
"Selamat datang kakak ipar!" Sapa Ibra ramah, Embun mengangguk pelan. Seutas senyum nampak di wajah Embun. Sebaliknya Abra langsung diam, membayangkan keakraban yang pernah ada diantara Embun dan Ibra.
"Terima kasih!"
"Sayang, kita pergi ke kamar. Kamu pasti lelah!" Ujar Abra, mencoba menghentikan kehangatan antara Embun dan Ibra. Embun yang polos, langsung mengangguk. Embun setuju dengan permintaan suaminya. Tidak ada alasan Embun menolak ajakan Abra.
"Akhirnya dia tinggal di rumah kita. Hatinya pasti bahagia, setelah menjadi bagian keluarga kita. Setelah ini, dia akan hidup penuh kemewahan, tidak seperti di desanya!"" Ujar Naura, Embun menunduk. Entah kenapa Embun merasa tidak nyaman dengan perkataan Naura? Abra langsung menatap tajam Naura. Dengan sorot mata yang mematikan, Abra ingin mengatakan pada Naura. Jika dia bisa melakukan apapun pada Naura.
"Naura, jangan sembarangan bicara!" Ujar Ibra mengingatkan, Naura lalu menunduk. Ketika melihat sorot mata elang Abra.
Hubungan Naura dan Abra tidak sedingin, hubungan diantara Abra dan Indira. Namun hubungan keduanya tidak sehangat, hubungan Abra dengan Fahmi. Jarak yang tercipta antara Abra dan Naura, jelas ada dan akan semakin jauh dengan sikap tak sopan Naura pada Embun.
"Sayang!" Ujar Abra, sembari mengangkat dagu Embun. Abra menatap dua bola mata Embun. Lalu dengan mesra, Abra menangkup wajah cantik Embun.
"Jangan tundukkan kepalamu pada mereka. Lakukan apapun yang kamu suka di rumah ini. Jangan biarkan mereka menindasmu. Ingat sayang, aku selalu berada disisimu!" Ujar Abra, Embun mengangguk pelan. Abra menarik tubuh Embun ke dalam pelukannya. Kemesraan yang mengusik dua mata Ibrahim Dwi Abimata.
"Dan teruntuk kamu, sekali lagi kamu bersikap tak pantas pada istriku. Percayalah, kamu tidak akan bisa melupakan hukuman yang aku jatuhkan. Ingat Naura, selama ini kakak selalu memenuhi keinginanmu. Kakak berusaha menjadi kakak yang baik untukmu. Namun sepertinya, kamu lebih memilih permusuhan diantara kita. Ingat Naura, seujung kuku kamu melukai istriku. Sepuluh kali lipat, kakak akan membalasnya!"
__ADS_1
Gleeekkk
Seketika Naura langsung menelan ludahnya kasar. Amarah Abra jelas terlihat, Naura berada dalam masalah. Jika Abra menepati ancamannya. Ibra yang berada tepat di samping Naura. Hanya bisa diam melihat amarah Abra. Dia tidak bisa membantu Naura, membantu dirinya sendiri. Abra seolah tidak sanggup. Jika Naura takut melihat amarah Abra. Sebaliknya, Ibra hancur melihat kemesraan Embun dan Abra.
"Kenapa sakit sekali?" Batin Ibra dalam hati terdalamnya. Ibra berjalan menunduk melewati Abra dan Embun. Dua matanya terlalu lemah, menatap hangat Embun yang pernah menyejukkan hatinya.
"Kita pergi ke kamar!" Ajak Abra, Embun mengangguk pelan.
Saat Embun melangkahkan kakinya di anak tangga pertama rumah Abra. Embun merasa gelisah, detak jantungnya berdetak begitu hebat. Seakan ada sesuatu yang akan terjadi. Namun demi keyakinan dan pengorbanan Abra. Embun terus melanngkah mengikuti langkah kaki imam dunia akhiratnya.
"Abra!" Teriak Haykal, Abra menoleh. Sedangkan Embun menggenggam erat tangan Abra. Teriakkan Haykal, membuat Embun ketakutan. Tangan Embun yang semula hangat, tiba-tiba dingin. Abra langsung mengedipkan kedua matanya, berharap Embun merasa tenang.
"Sayang, pergilah ke kamarku. Aku harus bicara dengan papa!"
"Baik!" Sahut Embun singkat, Abra memegang kepala Embun. Dengan penuh kasih sayang, Abra mengecup kening Embun.
"Kamu tidak perlu cemas. Mungkin ini masalah pekerjaan!" Ujar Abra, Embun mengangguk pelan.
"Ada apa?" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya. Ada keraguan Embun mengatakan sesuatu yang tengah mengganjal di hatinya.
"Istirahatlah, aku segera menyusul!" Ujar Abra, lalu turun meninggalkan Embun.
Embun berjalan menaiki satu demi satu anak tangga. Tundukkan kepalanya jelas ingin mengatakan. Embun merasa tidak nyaman di dalam rumah megah ini. Belum satu hari Embun tinggal di rumah Abra. Rasa nyaman sudah mulai mengusik dirinya.
"Embun!" Sapa Indira ramah, Embun menoleh. Dia melihat Indira sudah berdiri tepat di belakang Embun.
"Ada apa nyonya?"
"Panggil aku tante, jika kamu merasa berat memanggilku mama!"
"Maksud anda?" Sahut Embun tidak mengerti.
__ADS_1
"Sejak dulu aku mengharap panggilan mama dari mulut Abra. Namun sampai detik ini Abra tetap memanggilku tante. Sama seperti Abra yang tidak bisa menerimaku. Kamu juga berhak menolak memanggilku mama!"
"Apa aku pantas menolak? Ketika seorang ibu memintaku menerima kasih sayangnya. Kak Abra, bukan tidak bisa menerima nyonya. Melainkan hatinya yang belum siap mengakui kehampaannya. Kak Abra, butuh waktu yang tak sedikit menutupi lukanya. Waktu yang sama dibutuhkan dirinya. Menghapus jarak diantara kalian. Suatu saat, tanpa kata nyonya bisa melihat besar kasih sayangnya!"
"Tidak perlu menghiburku!" Ujar Indira, Embun menggelengkan kepalanya lemah.
"Nyonya hanya merindukan dan menyayangi tubuhnya. Kelak nyonya akan melihat, betapa hatinya merindukan dekapan nyonya. Gamis yang aku berikan pada nyonya. Hanyalah satu cara, agar kak Abra melihat nyonya. Menyadari, seorang ibu yang ingin melihat kebahagian putranya. Kak Abra, tak pernah melihat ibunya dalam diri nyonya. Kak Abra, hanya berpikir kebahagiaannya hancur dengan kehadiran nyonya. Sekarang, kak Abra mulai menyadari. Benci dan rasa kecewanya, membuatnya kehilangan banyak cinta. Tak ada yang bisa memutar waktu, tapi aku berjanji akan mengembalikan kasih sayang yang berhak dimiliki suamiku!" Tutur Embun, Indira mengangguk mengerti.
"Kamu begitu mencintai Abra!" Ujar Indira, Embun menggelengkan kepalanya. Indira termenung, jawaban Embun membuat Indira terdiam menahan rasa kecewa.
"Aku belum mencintai kak Abra, tapi aku peduli pada kebahagiaannya. Senyum yang lama tak terutas, akan kuukir dengan kepedulianku. Kehangatan yang tak pernah digenggam kak Abra. Akan kuhadirkan dengan dekapan pengertianku. Pernikahan kami mungkin tanpa cinta, tapi kebersamaan kami penuh dengan pengertian. Aku akan belajar mencintainya. Sebaliknya kak Abra, belajar mengenal kasih sayang keluarganya!"
"Kamu benar-benar Embun!" Ujar Indira, Embun melangkah menghampiri Indira.
Embun membungkuk tepat di depan Indira. Dengan penuh rasa hormat, Embun menarik dan mencium punggung tangan Indira. Embun menumpahkan seluruh kasih sayangnya. Kerinduan akan sosok ibu yang menghilang dalam hidupnya. Setetes bening air mata jatuh membasahi tangan Indira. Dinginnya terasa menusuk jantung Indira. Sekejap Indira merasakan sesak yang luar biasa. Indira teringat akan kerinduannya pada Abra.
"Embun!" Sapa Indira dengan suara bergetarnya. Tangan Indira mengusap lembut kepala Embun yang tertutup hijan. Indira membungkuk mencium kepala Embun. Membalas kasih sayang yang Embun berikan. Penghormatan yang tak pernah diterima Indira dari Ibra dan Naura.
"Terima kasih!" Ujar Embun, Indira terdiam tak memahami arti kata terima kasih yang terucap dari bibir Embun
"Terima kasih, telah menunggu kehangatan suamiku. Terima kasih, tidak pernah lelah menanti uluran tangannya. Terima kasih, atas doa terbaik untuk imamku. Terima kasih, untuk penantian panjang akan pengakuan. Kelak semua akan membaik, bukan nyonya yang menemui kak Abra. Sebaliknya, dia yang akan datang bersimpuh di kaki nyonya!"
"Embun, kenapa kamu begitu teguh berada di samping Abra?"
"Karena dia memiliki hati yang tulus!"
" Termasuk tinggal di rumah yang hanya peduli akan status, menerima penghinaan yang terucap!" Ujar Indira, Embun mengangguk pelan.
"Rumah yang aku pijak, bukan hanya sebuah rumah. Banyak kenangan yang terukir di rumah ini. Demi kenangan indah suamiku, aku akan tinggal disini!"
"Sayang!"
__ADS_1