
"Assalammualaikum!" sapa Kanaya ramah, semua mahasiswa menyahuti salam Kanaya ramah dan lantang.
Suara sahutan para mahasiswa menggema di seluruh ruangan kelas. Suara lantang laki-laki terdengar mendominasi. Kanaya berjalan anggun menuju mejanya. Semua mata menatap lurus Kanaya. Dosen sastra indonesia yang merangkap sebagai dosen psikologi, dosen bercadar yang dalam sekejam mampu memenangkan hati para mahasiswanya. Anggukan kepala Kanaya menjadi sahutan ramah sang dosen.
"Selamat pagi!"
"Pagi bu Kanaya!" sahut semua mahasiswa serentak.
Kanaya mengangguk pelan, Kanaya meletakkan tas dan buku di atas meja. Perlahan Kanaya berjalan ke depan mejanya. Kanaya menatap ke seluruh ruangan kelas. Dia menatap lekat satu per satu mahasiswanya. Kanaya mungkin masih sangat muda, tapi kemampuan dalam ilmu pendidikannya di atas rata-rata. Hal itu yang membuat Kanaya diterima menjadi dosen di universitas terbaik di kota.
"Pagi ini sesuai janji saya di minggu yang lalu. Kalian berhak bertanya apapun? Tidak ada batasan antara dosen dan muridnya. Khusus pagi ini, kita akan bicara sebagai teman. Tidak ada formalitas, tapi tetap dengan etika kesopanan!" ujar Kanaya tegas, semua mahasiswa mengangguk pelan. Kanaya berdiri tepat di depan ruang kelas.
Pertama kalinya Kanaya mengajar dengan santai dan bebas. Selama ini Kanaya disiplin dalam pengajarannya. Kecantikan Kanaya tak lantas membuatnya lemah. Kanaya terkenal dengan ketegasan dan kedisiplinannya. Tak ada toleransi saat pembelajaran. Namun pagi ini, Kanaya menepati janjinya. Kanaya berubah dari dosen tegas, menjadi teman bagi para muridnya. Janji yang disambut baik, tidak terkecuali mahasiswa yang selalu ingin mengenal sosok Kanaya. Dosen bercadar yang hampir setengah tahun terakhir menjadi dosen pembimbing.
Kanaya memutuskan menjadi dosen, sejak dia menemukan kebahagian saat mengajar. Kanaya melupakan semua masalahnya. Tatkala waktu dan pikirannya terpusat pada dunia pendidikan. Abra pernah meminta Kanaya menjadi pembisnis. Namun Kanaya menolak, apalagi Kanaya bisa bertemu dengan Haykal kapapun? Hanya dunia pendidikan yang memungkinkan Kanaya melupakan semuanya. Kanaya menjadi pribadi yang baru dan hidup dalam dunia yang baru.
"Bu Kanaya, kita bisa bertanya apapun?" ujar Shaila, salah satu mahasiswi favorit. Kanaya mengangguk tanpa ragu.
"Silahkan kalian bertanya, tentang apapun? Namun sebelum kalian bertanya, ingat satu hal. Saya hanya akan menjawab tentang masalah secara umum, bukan pribadi!"
"Semua masalah!" teriak Galuh, salah satu mahasiswa populer. Idola para mahasiswi, bukan karena kepintarannya. Namun status sosial keluarga dan ketampanan Galuh yang membius mata para hawa.
"Silahkan, saya akan menjawab dengan jujur. Sesuai janji saya, sebagai hadiah atas prestasi kalian!" sahut Kanaya lantang, suara lembut dan sopan Kanaya terdengar meneduhkan. Kedipan mata cantik Kanaya, sejenak mengalihkan pandangan para mahasiswa. Sebagian mahasiswi mengagumi keanggunan Kanaya yang tersimpan di balik cadar. Kesopanan yang meneduhkan hati yang melihatnya.
Lima belas menit berlalu, tak ada pertanyaan yang membuat Kanaya kesulitan. Kanaya mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan begitu lancar. Hampir seluruh pertanyaan bersifat umum. Tak ada mahasiswa yang berani bertanya tentang prinsip atau kehidupan pribadi Kanaya. Meski sesungguhnya, kehidupan Kanaya menjadi hal yang paling ingin mereka ketahui. Entah kenapa para mahasiswa merasa segan? Mereka merasa sangat tidak adil, jika keingintahuan mereka. Lantas menjadi alasan kesedihan Kanaya. Meski usia Kanaya tidak terpaut jauh dengan mereka. Namun para mahasiswa menghargai Kanaya sebagai guru yang baik.
"Baiklah, hari sekian tanya jawab kita. Saya rasa tidak ada yang ingin bertanya lagi. Jadi, kita mulai saja pembelajarannya!" ujar Kanaya, lalu memutar tubuhnya. Kanaya berjalan menuju mejanya.
"Tunggu!" teriak Galuh dengan lantang, Kanaya menoleh. Dia membatalkan niatnya untuk duduk.
Suara Galuh terdengar menggema, posisi duduk Galuh berada di kursi paling belakang. Dua meja di belakang Shaila, mahasiswi paling pintar di kelas ini. Kanaya berjalan ke depan, dia menatap lekat ke arah Galuh. Penampilan yang sedikit berantakan, tidak merubah ketampanan yang melekat dalam diri Galuh. Pesona yang membuat mata para hawa luluh, meleleh bak es krim yang mencair. Galuh berdiri, tatapannya bak elang lapar yang siap memburu mangsanya. Tatapan penuh tanya akan sosok Kanaya.
"Silahkan, ada apa?" sahut Kanaya, Galuh tersenyum sinis.
Dengan arogantnya, Galuh berjalan menghampiri Kanaya. Tatapan Galuh mengunci Kanaya dengan begitu erat. Sedangkan semua mata mahasiswa terbuka lebar. Menatap keberanian Galuh, lebih tepatnya keanggukan sang tuan muda. Mereka mengenal siapa Galuh, selain dia seorang idola. Galuh putra tunggal keluarga kaya. Donatur tetap di yayasan yang menaungi universitas ini. Status yang membuat Galuh akan selalu lulus dalam semua mata pelajaran. Terkecuali mata kuliah Kanaya.
__ADS_1
"Saya belum bertanya dan saya akan bertanya!" ujar Galuh dingin, sembari berjalan memutari Kanaya. Sikap yang tak pantas dan mulai mengusi ketenangan Kanaya. Namun sebagai seorang pembimbing, Kanaya harus bersikap tenang. Dia tidak bisa arogant dengan statusnya dan langsung kesal dengan sikap Galuh.
"Silahkan!" ujar Kanaya, sembari menahan tangan Galuh.
Kanaya menghentikan langkah kaki Galuh. Kanaya menggenggam erat lengan Galuh. Sikap hangat yang langsung membuat Galuh terdiam dan membisu. Galuh berjalan mundur beberapa langkah, sampai akhirnya tubuh Galuh menabrak meja paling depan di ruang kelas. Galuh tersadar dari pesona Kanaya, langsung menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Galuh merasa kikuk, entah perasaan apa yang tiba-tiba membuatnya begitu marah dan kesal?
"Kenapa diam?"
"Saya…?" ujar Galuh mengambang, Kanaya terus menatap lekat raut wajah Galuh. Kanaya menanti pertanyaan dari Galuh. Rasa penasaran yang masih tertahan di tenggorokkan Galuh.
"Kenapa kamu diam? Bu Kanaya menunggumu!" ujar Shaila, membuyarkan lamunan Galuh. Shaila meneriakki Galuh dengan begitu lantang. Tersirat amarah yang berbalut rasa kagum. Shaila sang primadona, sebaliknya Galuh sang idola kampus. Dua idola yang selalu berdebat saat ada kesempatan.
"Diam kamu!"
"Cepat katakan, jangan hanya bisa berteriak!" ujar Shaila, Galuh menatap tajam Shaila. Merasa kesal dengan perkataan Shaila.
"Galuh, jika kamu tidak mengatakannya dalam lima menit. Ibu tidak akan pernah menjawabnya!" ujar Kanaya tegas, Galuh diam membisu. Tatapannya lurus, jarak Kanaya begitu dekat dengannya. Harum gamis Kanaya, tercium oleh Galuh.
Kanaya memutar tubuhnya, dia berdiri membelakangi Galuh. Kanaya membuka buku yang ada di mejanya. Kanaya mencari bahan pembelajaran, sembari menanti pertanyaan dari Galuh. Entah apa yang ada dalam benak Galuh? Namun sorot mata Galuh menampakkan jelas rasa penasaran yang begitu besar. Kanaya terus menanti, sampai akhirnya Kanaya membalikkan badan. Kanaya melirik ke arah jam di tangannya. Beberapa detik lagi, lima menit yang dikatakan Kanaya berakhir. Namun tak ada kata yang terucap dari bibir Galuh. Jangankan suara, semua mahasiswa terdiam. Ruangan kelas terasa senyap, hanya hembusan napas Galuh yang terdengar memburu.
Huufff
"Jika ibu harus memilih. Laki-laki dewasa, tapi egois. Atau laki-laki muda, tapi penyayang dan akan selalu mengerti ibu?" ujar Galuh, seketika Kanaya mendongak.
Kanaya mengedipkan kedua matanya. Kanaya tidak mengerti, kenapa Galuh bisa bertanya seperti itu? Kanaya sudah menegaskan, tidak ada pertanyaan pribadi. Namun dengan lantangnya, Galuh bertanya tentang pilihan yang takkan pernah Kanaya katakan. Kanaya terdiam menunduk, tak ada jawaban. Galuh menanti jawaban yang dibutuhkannya. Menanti jawaban yang takkan pernah dikatakan oleh Kanaya.
"Baiklah, kita mulai pembelajaran hari ini!" ujar Kanaya, Galuh berjalan menghampiri Kanaya.
Dengan angkuh Galuh menarik tangan Kanaya. Sontak semua mahasiswa terhenyak kaget. Kanaya terdiam, dia melihat sikap tak pantas Galuh. Namun Kanaya tak mampu berkutik, Entah kenapa semua terasa berhentik? Bahkan detak jantung Kanaya berhenti. Sentuhan Galuh terasa aneh dan mengusik ketenangan Kanaya.
"Maaf!" ujar Galuh, sembari melepaskan tangan Kanaya. Meski Galuh tidak menyentuh Kanaya secara langsung. Bagaimanapun sikap Galuh tidak pantas, bukan hanya karena Kanaya dosen. Namun Galuh dan Kanaya bukan mukhirm yang bisa saling bersentuhan.
"Anda belum menjawab pertanyaan saya?"
"Kenapa saya harus memilih?"
__ADS_1
"Anda harus!" sahut Galuh lantang dan tegas, seketika Kanaya mengeryitkan dahinya. Kanaya merasa jawaban Galuh sangat tidak masuk akal. Kanaya merasa tidak perlu menjawab. Bahkan memilih salah satu diantara laki-laki yang dikatakan Galuh.
"Kenapa?"
"Karena saya butuh jawaban ibu!"
"Untuk!" ujar Kanaya mencari alasan kegigihan Galuh.
"Ketenangan hati saya!" ujar Galuh lantang, sontak seluruh mahasiswa satu kelas menyoraki Galuh. Mereka merasa Galuh terlalu mengada-ada. Bahkan terkesan aneh dengan keinginannya.
"Kembalilah ke tempat dudukmu. Acara tanya jawab sudah selesai. Saya tidak perlu memilih, tapi seandainya kamu masih penasaran dengan jawaban saya. Selesaikan ujian hari ini, tentunya dengan nilai sempurna. Setelah itu, kamu akan dapatkan jawabab!" ujar Kanaya, Galuh mengedip sembari tersenyum. Galuh berjalan menjauh dari Kanaya. Namun baru beberapa langkah, Galuh menoleh ke arah Kanaya. Tatapan elang Galuh mengunci Kanaya.
"Saya akan pastikan ibu menjawabnya!" ujar Galuh lantang, Kanaya diam tak membalas. Shaila menghela napas, seolah ada beban yang kini mengusik hati dan pikirannya.
Kanaya memulai mengajar, melupakan kejadian dengan Galuh. Kanaya tidak peduli akan sikap Galuh. Baginya Galuh tak lebih dari muridnya. Meski usia keduanya tidak terpaut cukup jauh. Kanaya membagi kertas ujian pada semua murid. Tepat di meja Shaila, langkah Kanaya terhenti. Tatkala Shaila menahan tangannya. Sikap hangat Kanaya, terkadang membuat hubungan diantara dirinya dengan muridnya menjadi dekat. Mereka menghormati Kanaya sebagai guru, tapi menganggap Kanaya layaknya saudara atau teman.
"Bu Kanaya, seandainya Galuh mengatakan cinta atau melamar ibu. Mungkinkah ibu menerima Galuh sebagai imam dunia akhirat!" ujar Shaila lirih, Kanaya tersenyum sembari menepuk punggung tangan Shaila.
"Galuh murid ibu dan akan menjadi murid ibu sampai dia lulus dari universitas ini!"
"Tapi dia menyukai ibu!"
"Menyukai, bukan berarti mencintai. Jangan pernah berpikir terlalu jauh. Kalian murid ibu di kampus, tapi di luar kampus kalian seperti adik bagi ibu. Status yang bisa ibu tawarkan pada Galuh, tidak bisa lebih!" ujar Kanaya, lalu berjalan menjauh dari Shaila.
"Ibu!" panggil Shaila ramah, Kanaya menoleh. Ada rasa aneh, ketika dia melihat Shaila tertunduk.
"Iya!"
"Haruskah saya berhijab seperti ibu, demi mendapatkan cinta laki-laki?" ujar Shaila, Kanaya menatap nanar Shaila.
"Cinta bukan perubahan, tapi pengertian. Jika demi cinta kamu berhijab, maka jangan pernah berhijab. Takutnya, saat cintamu kandas tak berbekas. Iman dan hijabmu luntur tak terlihat. Semikan cinta dengan iman, agar hati senantiasa tenang. Sebaliknya, jangan sirami cinta dengan keterpaksaan. Supaya kamu menyadari arti ketulusan. Berhijablah, karena kewajiban. Bukan karena pujian semata. Jika kamu belum ingin berhijab, maka jangan memaksa berhijab. Sebab cinta dan hijab itu sama, suara hati yang lahir dari ketulusan!" tutur Kanaya, Shaila mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, katakan pada kakakku. Jika dia tidak bisa memaksaku berhijab!" ujar Shaila,
"Baiklah, kapan aku bertemu dengannya?" sahut Kanaya, Shaila tersenyum begitu lebar. Dia merasa bahagia mendengar kesanggupan Kanaya.
__ADS_1
"Saat semuanya siap!" batin Shaila.