KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
KASIH SAYANG


__ADS_3

"Boleh aku duduk bersamamu!" sapa Aira, suara lembutnya membuyarkan lamunan Rafan. Seketika Rafan tersadar dari lamunannya. Dia melihat sosok nyata Aira, sosok yang beberapa detik lalu ada dalam angan dan lamunannya.


"Silahkan!" sahut Rafan gugup.


"Terima kasih!" ujar Aira, sembari menarik kursi ke belakang. Aira duduk tepat di depan Rafan. Dua bola mata indahnya menyapa Rafan dengan hangat. Tatapan yang meluluhlantakkan hati dan perasaan Rafan.


Rafan terkejut melihat kedatangan Aira yang tiba-tiba. Wanita yang seharusnya dipanggil tante olehnya, meski usianya lebih muda dari Rafan. Wanita yang nyatanya berstatus adik kandung Embun Khafifah Fauziah. Rafan tak menyangka, dia akan terus bertemu dengan Aira. Semenjak Rafan mengetahui status hubungan diantara mereka. Sejak saat itu, Rafan berharap takkan pernah bertemu dengan Aira. Rafan tidak ingin kekagumannya yang ada di hatinya, menjadi pembenaran akan rasa yang tak pantas ada. Namun semua sudah tertulis, semakin Rafan tak ingin bertemu Aira. Semakin sering dia melihat wanita dengan keteduhan yang mengetuk hatinya.


"Tante, silahkan pesan makanan atau minuman!" sapa Rafan ramah, Aira mengeryitkan dahinya tak percaya. Dia mendengar panggilan Rafan untuknya. Panggilan yang seharusnya untuknya, tapi terasa geli terdengar di telinganya.


Braakkk


Aira meletakkan beberapa buku yang dibawanya tepat di depan Rafan. Aira seolah ingin menunjukkan rasa tak sukanya. Ketika mendengar Rafan memanggilnya seperti itu. Namun Rafan dengan sikap dinginnya terlihat begitu santai. Rafan merasa sikapnya benar dan tak perlu Aira marah dengan panggilan itu. Aira yang merasa diacuhkan oleh Rafan, seketika menatap Rafan lekat. Hampir saja Rafan kehilangan akal, ketika Aira begitu dekat dengannya. Harum parfum yang digunakan Aira, membuat Rafan tak berkutik. Tatapan dari mata indah Aira, seketika membekukan tubuhnya. Rafan terdiam terpaku, melihat sikap Aira yang begitu hangat.


"Bisa mundur tidak? Ingat, kita bukan mukhrim!"


"Kamu mengigau, siapa yang baru saja memanggilku tante? Aku rasa sikapku padamu sangat wajar. Aku dan kak Embun memiliki darah yang sama. Artinya kamu juga putraku!" ujar Aira menggoda Rafan.


Rafan langsung memundurkan kursinya, kini dia duduk sedikit menjauh dari meja. Aira langsung tersenyum di balik cadarnya. Sikap dingin Rafan, malah terlihat lucu di mata Aira. Memang secara hukum agama, Rafan dan Air memiliki hubungan darah. Namun mengingat ada ketertarikan Rafan pada Aira. Membuat Rafan sedikit menjaga jarak. Sebab hawa napsu itu tak pernah mengenal akal. Napsu hanya ingin menghancurkan, jika ada tanpa dasar sebuah iman.


"Kenapa menjauh? Seorang tante berhak mencubit atau memukul keponakannya!" ujar Aira, Rafan menggeleng lemah.


Dengan tatapan tajamnya, Rafan mengunci sosok Aira. Rafan benar-benar ingin melupakan rasanya pada Aira. Bagaimanapun mereka saudara dan takkan pernah bisa bersama? Apalagi hubungannya dengan Hanna semakin dekat dan pasti. Rafan tidak ingin menyakiti hati Hanna. Dengan terus menyimpan kekagumannya pada Aira. Sebaliknya, menyimpan rasa untuk Aira itu sebuah kebodohan tanpa pertimbangan.

__ADS_1


"Apa yang ingin tante bicarakan? Tentu ada alasan, tante datang menemuiku. Secara, hari ini nenek Fitri tidak ada di rumah sakit. Artinya tante datang sendiri!" ujar Rafan tegas, Aira mengangguk menyahuti perkataan Rafan.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu, dengan syarat kamu mengubah panggilanmu padaku!" ujar Aira, Rafan diam tak bergeming.


"Kak Aira, sepertinya jauh lebih nyaman!" ujar Aira, Rafan mengangguk setuju. Keduanya sepakat dengan nama panggilan yang lebih santai.


"Sekarang katakan, kenapa menemuiku di rumah sakit? Tak seharusnya seorang tante, maaf kakak mengganggu adiknya bekerja!" ujar Rafan, Aira tersenyum mendengar Rafan memanggilnya dengan panggilan kakak.


"Hanna, alasan aku ada di depanmu. Sebenarnya aku tidak sengaja datang ke rumah sakit. Awalnya aku datang hanya untuk mengambil obat papa. Namun saat aku melihatmu duduk sendirian. Seketika aku tergerak ingin menemuimu. Seolah ada sesuatu yang membuatku ingin bicara denganmu!"


"Katakan dengan jelas, aku tidak punya banyak waktu!" ujar Rafan dingin, Aira menghela napas. Sikap dingin Rafan, sejenak menghentikan aliran darah Aira. Rasa cemas menyergap ke dalam hatinya. Aira takut rasa sakit yang sama akan dirasakan Hanna. Ketika Hanna menjadi bagian dari hidup Rafan.


"Aku datang hanya ingin memastikan, jika kamu laki-laki yang tepat untuk Hanna!"


"Kenapa kakak begitu peduli pada kebahagian Hanna? Jika memang aku bukan laki-laki yang tepat. Katakan pada tante Nur, agar dia melupakan keinginannya!"


"Maaf, jika sikapku membuatmu takut dan ragu akan niat dalam hatiku. Namun satu hal yang bisa aku pastikan padamu. Aku lahir dari seorang wanita. Aku dibesarkan oleh seorang ibu. Aku memiliki seorang adik perempuan. Selama ini, tak pernah aku ingin melihat air mata mereka. Sebab setetes air mata mereka, mampu membuatku hancur dan terluka. Alasan yang membuatku, takkan pernah sanggup meneteskan air mata seorang wanita. Termasuk air mata Hanna, adik yang begitu kakak sayangi!"


"Kenapa hatimu sedingin ini? Jika nyata niat tulus penuh kehangatan tersimpan di dalamnya. Aku merasa ada luka yang membuatmu begitu dingin!"


"Apapun itu? Tak ada alasan aku menjelaskan semuanya padamu. Jika kakak begitu mengkhawatirkan Hanna. Satukan dia dengan kak Hanif, dia sangat mencintai Hanna!" ujar Rafan tegas, Aira menatap nanar Rafan. Sikap dingin Rafan takkan pernah bisa dipahami. Namun ketegasan Rafan, patut dihargai. Rafan tidak pernah ingin menyakiti Hanna, tapi memang rasa itu belum ada untuk Hanna.


Aira menggelengkan kepalanya lemah. Aira mengenal pribadi Hanif, dia memang mencintai Hanna. Namun keras sikap Hanif, akan membuat Hanna tersiksa. Sedangkan Hanna tidak pernah mencintai Hanif. Selama ini Hanna hanya menganggap Hanif sebagai seorang teman, tidak lebih dan takkan pernah lebih. Alasan yang membuat Aira tidak akan setuju dengan hubungan Hanna dan Hanif.

__ADS_1


"Dia mencintai Hanna, tapi Hanna mencintaimu. Dia menyayangi Hanna, tapi dia juga bisa menyakiti Hanna. Hanif hanya ingin memiliki Hanna, sebaliknya kamu ingin melindungi Hanna. Alasan yang membuatku percaya, kamu bisa menjaga Hanna dan mampu menjadi imam dunia akhiratnya. Sebab hidup bukan hanya untuk sekarang, tapi kelak di akhirat!"


"Terlihat kakak sangat menyayangi Hanna!" ujar Rafan, Aira mengangguk tegas.


"Hanna berhak bahagia, seperti setiap anak yang lahir dan tumbuh besar dengan keluarga lengkap. Hanna memang besar bersama dengan tante Nur dan om Fahmi. Namun percaya atau tidak, ada ruang kosong dan sepi di hatinya yang terus merindukan orang tuanya. Sebab itu aku ingin dia mendapatkan suami yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Laki-laki itu kamu, keponakan tertampan dan pintarku!"


"Hmmm!" sahut Rafan santai, sontak Aira tersenyum di balik cadarnya.


Entah kenapa Rafan mulai merasa nyaman berada di dekat Aira? Rasa kagum yang semula diartikan sebagai rasa cinta. Kini hilang tergantikan rasa nyaman persaudaraan. Mungkin aneh dan takkan mungkin rasa itu hilang. Seperti rasa kagum yang tiba-tiba hadir di hatinya. Seperti itu pula rasa kagum pudar, tanpa pamit dan berubah makna. Tak ada yang busa mengerti suara hati. Sebab hati akan bicaranya tanpa ada mampu memaksa atau mengekang arahnya. Rafan tak menyangka, dia bisa begitu mudah melupakan. Mungkin semua karena darah yang sama takkan bisa menyatu. Pertalian darah takkan pernah menjadi pertalian hati. Sejenak Rafan bersyukur, dia bisa merasakan indahnya cinta dan bahagia memiliki seorang kakak dalam satu waktu yang bersamaan.


"Baiklah, adikku yang tampan. Kakak titip Hanna kecilku, jika mencintai kamu belum bisa. Setidaknya jangan berpikir untuk menyakitinya. Satu hal yang harus kamu yakini, cinta Hanif tak setulus niat dalam hatimu. Demi mendapatkan keinginannya, dia bisa melupakan rasa sayang dengan menyakiti orang yang disayanginya!" ujar Aira, Rafan mengangguk pelan. Rafan mengiyakan perkataan Aira yang begitu tulus. Nampak Aira berdiri, dia harus pergi mengambil obat. Sudah cukup lama dia berbicara dengan Rafan. Aira merasa sudah cukup mengatakan harapan, demi kebahagian Hanna adik angkatnya.


"Kak Aira!" sapa Rafan dingin, Aira menoleh tepat di langkah ketiganya. Aira memutar tubuhnya 180°, dia menatap Rafan lekat. Seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Rafan. Aira diam tak menyahuti, tapi isyarat matanya menunjukkan dia mengiyakan panggilan Rafan.


"Semoga aku salah menafsirkan, tapi aku merasa ada banyak makna dari pertemuan kita hari. Kebahagian Hanna menjadi salah satu alasan itu. Namun perhatian dan ketulusanmu pada kak Hanif, mengatakan hal yang begitu mendalam. Kepedulianmu pada Hanna, caramu melindungi kak Hanif dari kebodohan yang akan disesalinya kelak!"


"Rafan!" sahut Aira tak percaya. Suara Aira terbata-bata, seakan perkataan Rafan benar adanya.


"Ternyata aku benar, jika memang semua itu benar. Kenapa kakak tidak mencoba membantu kak Hanif menjadi laki-laki yang lebih baik?" ujar Rafan, Aira menggeleng lemah.


"Aku tak mampu meluluhkan hatinya yang keras, tapi aku percaya kak Embun mampu meluluhkan keras hatinya. Kak Hanif menemukan kakak yang akan mengisi harinya dengan kasih sayang. Hatinya akan penuh dengan cinta. Menghapus sepi yang selama ini ada dalam hidupnya. Kak Embun akan menunjukkan pada kak Hanif, ada banyak cinta di sekitar kak Hanif. Dengan ketegasan dan keras didikan kak Embun, kak Hanif akan menemukan cinta rapuh yang tersimpan dalam hatinya!"


"Cinta yang tulus dan suci!" sahut Rafan lirih.

__ADS_1


"Aku pergi sekarang, jangan katakan apapun pada siapapun? Ingat ini rahasia hati kita!" ujar Aira dengan ramah dan riangnya. Rafan mengangguk penuh ketegasan. Aira pergi tanpa menoleh, meninggalkan Rafan yang mulai menyadari arti cinta yang sesungguhnya.


"Cinta tulusmu akan menemukan akhirnya. Dia akan menjadi bagian hidupmu. Jika memang dia yang terbaik. Meski jujur, aku berharap ada laki-laki yang jauh lebih baik darinya. Namun sekali lagi, hati tak bisa dikekang. Dia akan mencinta di hati yang tepat dan tak terduga. Sungguh indah rasa yang ENGKAU ciptakan. Bukti keagungan-MU, serta ketetapan-MU yang begitu nyata dan tak terbantahkan!" batin Rafan penuh rasa haru dan bangga. Dia melihat cinta tulus yang tersirat dalam hati seorang Humairah Nabila Ikhsani, untuk satu nama Hanif Eka Adijaya yang penuh keangkuhan.


__ADS_2