
"Iman, sedang apa di luar? Kenapa tidak langsung masuk?" ujar Afifah dengan nada heran, saat melihat Iman berdiri di luar rumahnya.
Iman datang ke rumah Afifah, saat dia merasa suntuk. Iman seolah butuh sandaran dan hanya Afifah yang membuatnya nyaman saat ini. Jika dulu Iman selalu menyimpannya sendiri. Namun saat ini ada Afifah yang siap mendengarkan keluh kesahnya. Iman merasa perlu mengatakan semuanya pada Afifah. Wanita yang kini menjadi istri secara agamanya. Namun akan menjadi istri sahnya, setelah dua bulan ke depan.
"Aku takut kamu tidak ada di rumah. Aku tidak melihat mobilmu. Bukankah artinya kamu keluar dan hanya ada Via di dalam rumah!" ujar Iman lirih, sontak Afifah mengutas senyum. Dalam hati Afifah mengagumi keteguhan hati Iman. Seorang laki-laki yang begitu menjaga kehormatan wanita.
Afifah merasa bahagia mengenal Iman yang mampu menahan hawa napsunya. Iman menjaga kesucian hubungan diantara mereka berdua. Sosok imam yang akan selalu menjaga kehormatannya. Seseorang yang akan berusaha menjaga mata dan napsu dari godaan dunia luar. Sikap yang begitu santun terpampang jelas di depan kedua mata Afifah. Ketika Iman lebih memilih berdiri di luar rumah. Daripada mengetuk pintu yang mungkin akan bertemu dengan Via.
"Tenang saja, Via sedang ke luar kota. Dia menggunakan mobilku, sebab mobilnya sedang berada di bengkel!"
"Hmmm, baiklah kalau begitu. Aku masuk sekarang!" ujar Iman spontan dan langsung masuk ke dalam rumah, tanpa menunggu Afifah mempersilahkan masuk.
"Iman, tadi kamu begitu sopan. Sekarang, kenapa kamu malah langsung masuk tanpa permisi!" teriak Afifah, Iman seolah tak mendengar teriakkan Afifah. Dengan langkah tergesa-gesa, Iman masuk dan menghilang di dalam rumah Afifah.
Afifah langsung mengikuti Iman, tapi dia kehilangan jejak Iman. Namun Afifah percaya, Iman tidak pergi kemana-mana? Afifah berpikir Iman sedang ada di kamar mandi atau ruangan lain di rumah Afifah. Sebab itu Afifah langsung pergi ke dapur. Afifah ingin membuatkan minuman hangat dan makanan ringan untuk Iman.
"Maaf Afifah, aku langsung masuk. Sejak tadi aku menahan buang air kecil. Sempat aku berpikir pulang, seandainya kamu membuka pintu sepuluh menit lebih lama. Apalagi aku belum sholat isya. Jadi aku langsung masuk, tanpa peduli lagi perkataanmu!" ujar Iman menjelaskan, Afifah mengangguk mengerti.
Iman duduk tepat di samping Afifah. Ruang tengah Afifah langsung menghadap ke taman. Sebab itu Iman selalu merasa nyaman berada di sana. Afifah tesenyum mendengar penjelasan Iman. Rasa kagumnya semakin besar pada sosok bernama Iman. Suami yang akan memegang tangannya menjalani sisa hidupnya. Meski sesungguhnya dia sudah sah menjadi istri Iman secara agama. Iman menolak tinggal bersama Via. Sebab Iman ingin menjaga kesucian Afifah sampai mereka sah secara agama dan negara.
"Minumlah, wajahmu terlihat pucat. Jelas-jelas di luar angin, kamu pasti sangat kedinginan. Namun kamu malah memilih berdiam diri di luar. Seharusnya kamu mengetuk pintu, memastikan aku atau Via yang ada di dalam rumah!" ujar Afifah sembari menggelengkan kepalanya. Afifah merasa heran dan tidak habis pikir. Iman bisa berdiri di tengah angin malam yang dingin.
"Aku tidak ingin melihat Via, sebab aku hanya ingin melihat wajahmu yang membuka pintu!"
"Bohong!" ujar Afifah dengan tawa yang begitu lirih.
"Aku tidak akan bersumpah demi kejujuranku. Aku hanya mengatakan sesuatu yang memang kurasakan. Mungkin Via sudah seperti keponakanku sendiri. Namun kamu sendiri mengetahui, setan itu ada dimana-mana? Dengan mudah mereka bisa membuat iman seseorang luntur dan aku ingin menjauh dari hal yang mungkin menjadi kesempatan setan membujukku!" ujar Iman tegas, Afifah menepuk pelan tangan Iman, menggenggam erat tangan kekar yang kelak menuntunnya.
Afifah bersandar pada lengan Iman. Tatapannya lurus ke atas langit-langit rumahnya. Afifah menerawang, membayangkan masa depannya bersama Iman. Sesunguhnya jauh di dalam hatinya. Afifah ingin menjadi istri Iman sesungguhnya. Menjalani rumahtangga yang bahagia, saling memahami dalam segala hal. Namun semua harus pupus, ketika Iman menolak tinggal di satu atap yang sama dengannya. Iman memilih menjaga kesucian dan kehormatan Afifah. Daripada hawa napsu sesaatnya. Setidaknya saat ini, Iman dan Afifah tidak lagi haram berpegangan tangan.
__ADS_1
"Ada apa Afifah? Kenapa kamu terlihat lesu?"
"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan. Kita akan tinggal dimana setelah menikah? Tinggal di sini, tentu kamu menolak sebab ada Via. Sebaliknya, tinggal di kediaman Adijaya aku terlalu takut. Sebab Sofia sangat membenciku!"
"Kita akan membangun istana kecil. Tidak perlu kita tinggal di dalam kediaman Adijaya. Namun keluar dari rumah Adijaya, maaf Afifah aku tidak bisa. Namun percayalah, aku akan membuatmu merasa nyaman!"
"Lalu, dimana kita akan tinggal?" ujar Afifah bingung.
"Aku sedang membangun rumah sederhana di samping kediaman Adijaya. Istana kecil yang akan menjadi saksi cinta kita. Setidaknya aku tidak perlu pergi jauh dari Kediaman Adijaya. Kamu juga tidak perlu merasa takut dengan Sofia!" ujar Iman, Afifah menunduk membisu. Iman merasakan jelas rasa khawatir Afifah.
"Aku tidak akan memaksamu tinggal di sana. Jika kamu merasa nyaman di sini. Kita bisa tinggal di dua rumah berbeda. Cinta kita tidak akan hancur hanya karena satu perbedaan. Puluhan tahun sudah menguji cinta kita. Jadi akan sangat bodoh, jika cinta kita hancur hanya karena masalah sepele seperti ini!" tutur Iman, ketika menyadari sikap diam Afifah.
"Aku tidak keberatan tinggal dimanapun? Hanya saja aku merasa bersalah, ketika membuatmu harus berdiri di tengah-tengah antara aku dan Sofia. Seharusnya aku bisa mengalah pada Sofia. Sebagai seorang kakak, bukankah aku harus menjaga hubungan baik dengan adik ipar!" ujar Afifah lirih, Iman langsung merangkul Afifah.
"Kelak akan ada saatnya kalian berdua dekat. Saat dimana kalian saling menahan amarah dan rasa gengsi. Kamu mengalah dan menyadari, jika Sofia hanya adik yang akan terus bersikap kasar. Walau sesungguhnya dia berhati baik. Sebaliknya, Sofia akan menyadari kebaikan hatimu. Berpikir kamu kakak perempuan yang selama ini dirindukannya!" ujar Iman, Afifah mengangguk dalam pelukan Iman.
"Aku menyayanginya, karena dia satu-satunya saudara yang aku miliki. Papa kehilangan hampir seluruh saudaranya demi kekayaan dan status. Sebaliknya aku tidak ingin kehilangan saudara hanya karena harta!"
"Lalu, sikapmu pada Gunawan dan Clara? Haruskah kamu bersikap seperti itu!" ujar Afifah lirih, Iman mengangguk pelan. Iman menggeser duduknya, dia meletakkan kepalanya di pangkuan Afifah. Seketika Afifah terkejut, Iman tidur dipangkuannya bak anak kecil.
"Semua itu alasan cemasku saat ini. Aku hanya ingin membuat mereka jera. Namun perkataan Embun, menyadarkan aku akan satu hal. Sebuah dendam yang telah menodai hatiku. Sejenak aku menjadi orang lain, semua demi putriku yang terluka!" ujar Iman lirih, seraya menutup kedua matanya. Iman bimbang dengan keputusannya.
"Lalu, sekarang apa keputusanmu?"
"Aku akan tetap menjalankan keputusanku. Perkataan Embun tidak salah, sebab sejak awal niatku yang salah. Embun tidak ingin aku larut dalam dendam tanpa akhir. Sekarang aku melakukan semuanya, dengan niat ingin melihat Gunawan dan Clara menyadari kesalahannya. Bukan semata ingin menyakiti mereka!" ujar Iman, Afifah mengelus lembut rambut hitam legam Iman.
"Bagaimana keputusan Arya?"
"Dia akan menyerahkan kepemimpian perusahaan Daniel pada Embun!"
__ADS_1
"Embun setuju!" ujar Afifah, Iman mengangguk pelan.
"Arya akan melepaskan Daniel, dengan syarat Embun yang akan mengelola perusahaan itu. Embun menyetujui syarat Arya, sebab Embun ingin melindungi para karyawan. Keputusan Embun bukan demi Daniel, tapi para karyawan yang selama ini menggantungkan hidupnya pada perusahaan Daniel!"
"Bagaimana pendapat Abra?" ujar Afifah penasaran, Iman mendongak menatap wajah Afifah. Nampak dagu indah Afifah yang sejenak menggoda Iman.
"Kenapa kamu cerewet?" ujar Iman seraya memegang dagu Afifah mesra.
"Sakit!" rengek Afifah, Iman terkekeh melihat sikap manja Afifah.
"*Dua bulan lagi Afifah, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya!" batin Ima*n, seraya menatap kecantikan Afifah.
"Kenapa malah tertawa?" ujar Afifah kesal.
"Abra tidak melarang Embun memimpin perusahaan Daniel. Namun jika memungkinkan, Abra berharap bukan Embun yang memimpin perusahaan Daniel. Abra mengenal pribadi Daniel, dia takut Daniel bersikap tak pantas pada Embun!"
"Abra cemburu, itu sudah seharusnya. Aku juga tidak setuju, sebab aku bisa memikirkan hal yang sama. Abra mungkin percaya pada Embun, tapi tidak Daniel!"
"Kamu cemburu kalau aku pergi dengan rekan bisnis wanita!" ujar Iman, Afifah mengangguk tanpa ragu. Afifah menunduk mencium kening Iman.
"Aku tidak hanya cemburu, aku marah dan kesal. Seandainya aku bisa menjadi wanita kantoran. Mungkin detik ini aku tinggalkan jas putih kedokteranku. Aku akan menemanimu, kemanapun kamu akan pergi? Sebab cintaku tak sekuat dulu, hatiku terlalu lemah menahan rasa cemburu dan rindu padamu. Cukup dua puluh tahun kita terpisah, aku tak ingin lagi jauh dari darimu!" ujar Afifah, sesaat setelah mencium kening Iman.
"Aku tidak meninggalkanmu!" ujar Iman, lalu mengecup lembut tangan Afifah.
"Tunggu, apa akhir dari permasalahan Embun?" ujar Afifah santai.
"Afifah, kamu merusak moment romantis kita!" ujar Iman kesal, Afifah tersenyum simpul.
"Maaf!"
__ADS_1