KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sujud dan Doa


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah Abimata, Abra tidak langsung membawa Embun pulang. Abra tak pernah menyangka. Jika malam ini akan terjadi perselisihan untuk kesekian kalinya. Entah Haykal yang tak pernah berubah atau Embun yang tak mau mengalah? Namun satu hal yang pasti, diantara mereka ada yang menyakiti dan tersakiti. Abra berharap suatu saat ada sebuah keajaiban. Sehingga hubungan Embun dan Haykal membaik. Namun harapan tetap menjadi harapan, keangkuhan Haykal akan selalu bertemu dengan keras hati Embun.


Ciiiittt


Abra menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah masjid. Abra mulai memahami arti dari diam Embun selama di dalam mobil. Bukan rumahnya yang akan membuat Embun tenang, melainkan rumah lain yang jauh lebih tenang dan meneduhkan hati Embun. Selama tiga puluh menit, Abra dan Embun hanya diam. Tak ada pertanyaan tentang apa yang terjadi? Atau penjelasan yang telah terjadi di rumah Abimata. Abra mencoba tetap diam, sampai Embun mengatakannya sendiri. Setidaknya sampai Embun terlihat tenang.


"Sayang, kita turun!" ujar Abra, Embun mendongak menatap lurus ke depan.


Dua matanya terlihat binar, Embun merasa tenang ketika berada di depan masjid. Tanpa mengatakan apapun, Embun turun dan masuk ke dalam masjid. Sedangkan Abra berjalan menuju tempat sholat bagi laki-laki. Rafan tidak ikut dengan Embun dan Abra. Dia pulang bersama Via. Abra meminta bantuan Fahmi dan Nur, untuk menjaga Rafan. Sampai kondisi Embun stabil. Mungkin tak ada air mata yang terlihat. Namun tubuh Embun tidak baik-baik saja. Jelas Embun terguncang, ketika Haykal lantang menolak kehadirannya.


Abra menatap punggung Embun yang berjalan masuk ke dalam masjid. Tatapan nanar penuh rasa tak percaya. Abra merasa bodoh, lagi dan lagi Abra tak mampu melindungi Embun. Entah apa yang dikatakan Haykal? Namun jelas Embun terluka dan terhina.


Lama Abra terpaku, sampai akhirnya ada sebuah tangan yang menepuk pelan pundaknya. Abra terkejut, lalu menoleh ke arah samping. Nampak seorang laki-laki paruh baya. Dari penampilannya dia seperti ustad yang kebetulan ada di masjid. Sekilas Abra melirik ke arah jam yanh ada di tangannya. Tepat pukul 23.00 WIB, tepat satu jam lagi tengah malam. Namun suasana masjid tetap ramai, sebab Masjid berada tepat di dekat alun-alun kota. Masih banyak warga yang berlalu-lalang, sekadar menghilangkan penat.


"Assalammualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" sahut Abra ramah, sang bapak tua duduk tepat di samping Abra.


Keduanya duduk sembari menatap jalan raya yang ada di depannya. Sejak kedatangan Abra dan Embun, bapak tua yang kebetulan pengasuh masjid memperhatikan mereka. Bukan ingin ikut campur, tapi sikap saling menghargai yang ditunjukkan Abra dan Embun. Membuat hati bapak terusik ingin mengenal sosok Abra. Imam dalam pernikahan yang begitu penuh dengan pengertian. Walau setiap hal baik itu nampak di mata orang lain. Sedangkan hal buruk akan tersimpan rapat.


"Bahagianya kamu nak, memiliki istri seperti dia. Setidaknya dengan imannya, dia akan menjaga kehormatanmu. Sebab bagi wanita seperti dia, kehormatan suami layaknya pakaian. Akan menjadi penutup tubuhhya dari rasa malu dan hinaan orang lain!" ujar Aldi, bapak tua pengurus masjid. Abra menunduk, seolah ada penyesalan dalam hatinya. Aldi tersenyum, sembari menepuk pelan punggung Abra. Aldi seolah mengerti kecemasan yang tengah menyelimuti hati Abra.


Abra menoleh ke arah Embun. Nampak Embun khusyuk berdoa, seolah dia tidak mengingat Abra menantinya. Embun larut dalam doa dan sujudnya. Tak ada sesuatu yang mampu mengalihkan perhatian Embun. Suara bising kendaraan bermotor, tak sekalipun menarik perhatiaannya. Embun diam menunduk, menengadahkan tangan pada sang pemilik hidup. Mencari ketenangan dalam pangkuan sang pemberi ketetapan.


Lantunan ayat-ayat suci Al-quran terdengar lirih nan indah dari bibir Embun. Suara merdu yang mampu meneduhkan hati pendengarnya. Mengisyaratkan betapa teduh dan khusyuk pembacanya. Namun suara Embun terdengar, bak sayatan pisau di hati Abra. Sebuah rasa penyesalan akan ketidakmampuannya menjaga Embun. Abra merasa tak berdaya, ketika dia tak mampu membela Embun di depan keluarganya.


"Maksud bapak?" sahut Abra tak mengerti, Aldi menatap lekat Abra. Seolah ada sesuatu yang tersimpan di balik helaan napas Abra.


"Nak, kita hanya hamba dan takkan ada kemampuan untuk melawan kehendak-NYA. Semua terjadi dengan ketetapan-NYA, tak ada yang luput dari penglihatan-NYA. Jika kamu merasa kecewa, artinya kamu meragukan kebenaran akan ketetapan-NYA. Jika kamu menyesal, artinya kamu mulai memahami kehendak-NYA. Namun jika kamu mengeluh, itu artinya hatimu telah buta akan kenikmatan-NYA. Sejak pertama kali kamu menginjakkan kaki di masjid. Bapak melihat ada kecewa, penyesalan dan keluhan dari langkah kakimu. Sikap diam istrimu, semakin membenarkan pemikiran bapak. Jika ada masalah yang tengah mengganjal dalam keluarga kalian. Namun terlepas dari semua rasa penasaran bapak, ada rasa kagum yang teramat besar pada istrimu. Dia begitu menghargaimu, sampai diamnya menjadi tempat paling nyaman baginya. Tak ada tangis, hanya terdengar lantunan ayat suci Al-quran dari bibirnya. Tak ada amarah dari kedua matanya, hanya nampak mata sendu menahan rasa sakitnya. Tak ada rasa kecewa dalam hatinya, hanya nampak ikhlas dan ketulusan dalam doa serta sujudnya. Seorang istri yang tak pernah mengeluh padamu, tapi menangis dalam pangkuan sang pemilik hidup. Cintanya begitu besar padamu, sampai dia ikhlas merasakan sakit yang mungkin menyiksa dirinya!"


"Kenapa bapak bisa berpikir seperti itu? Bapak tidak mengenal kami!" ujar Abra dingin, seakan Abra kesal mendengar perkataan Aldi yang terus memuji Embun. Aldi tersenyum, dia menyadari kekesalan Abra.

__ADS_1


"Bapak tidak mengenalmu, tapi bapak mengenal Embun. Selama dua bulan terakhir, hampir setiap malam Embun datang bersama tuan Arya. Embun bersujud dan berdoa dipangkuan sang pemilik hidup. Embun menumpahkan rasa sakit, amarah dan kebencian dalam dirinya di rumah-NYA. Embun menenangkan diri, mencari arti cinta pada suaminya. Ternyata kamu suami yang selama ini ada dalam doa dan sujud Embun. Laki-laki yang membuat Embun merasa bahagia, sekaligus terluka dan terbunuh!"


"Tidak mungkin Embun datang kemari!"


"Semua mungkin di dunia ini, Kun fa Ya Kun. Tidak ada yang mustahil bagi-NYA!" ujar Aldi ramah, Abra menunduk merasa malu.


"Nak, aku tidak ingin mengetahui alasan Embun ada di masjid malam ini. Masalah apa yang sedang kalian alami? Namun ada satu pesan dariku, Embun wanita yang baik. Dengan imannya dia menyayangimu, maka balaslah cintanya dengan iman. Dia mungkin terluka, tapi percayalah Embun tak pernah ingin menjauh atau melukai harga dirimu. Jangan pernah sia-siakan dia!"


"Kenapa bapak memahami luka Embun? Apa dia yang menceritakan semuanya pada anda? Aku yakin, Embun menceritakan semua masalahnya pada orang lain!" ujar Abra sinis, Aldi tersenyum simpul.


"Ternyata Arya benar, putrinya tak pernah mendapatkan kepercayaan suaminya. Seandainya kamu memiliki sedikit saja rasa percaya pada Embun. Takkan pernah kamu menuduh Embun mengumbar aib keluarganya. Sekarang katakan padaku, kenapa dia harus datang ke masjid? jika demi menghapus air matanya. Menutupi air matanya dari pandangan orang lain dan hanya pada-NYA Embun meratap. Mengeluh pada-NYA sang pemilik hidup. Nak, kamu terlalu mudah mengeluh akan sikap keras dan dingin Embun. Tanpa kamu belajar memahami dalam hatinya. Lihatlah punggung istrimu, nampak dia duduk dengan tegap. Tak ada luka atau air matanya yang terlihat. Cobalah kamu berdiri di sampingnya, kamu akan mendengar jerit hatinya denga melihat getar tubuhnya. Dia rapuh tanpamu nak, Embun lemah tanpa cintamu. Namun dia akan tetap kuat, demi menjaga ketulusannya. Dengarkan suaranya ketika mengaji, kamu akan mendengar suara terdalamnya. Jika hatimu menangis dan tersentuh. Artinya hatimu tidak mati, masih ada cinta untuk Embun. Tatap wajahnya ketika tidur, kamu akan melihat kepolosan dalam helaan napasanya. Jika kamu merasakan sakit, artinya kamu menyadari telah menyakitinya!" tutur Aldi, lalu berdiri meninggalkan Abra. Namun setelah beberapa langkah, Aldi menoleh ke arah Abra.


"Nak, ketika hati tak lagi percaya. Maka takkan ada jiwa yang menyatu. Jangan pernah mengeluh, ketika hidupmu dipenuhi rasa kecewa dan penyesalan. Semua bukan karena kesalahpahaman diantara kalian. Namun hatimu yang belum percaya, jika Embun yang terbaik dari yang paling baik. Jodoh yang dituliskan untukmu dan DIA sang pemilik hidup takkan pernah salah!"


"Assalammualaikum!" pamit Aldi, meninggalkan Abra dalam diam dan penyesalannya.

__ADS_1


"Waalalikumsalam!" sahut Abra lirih.


__ADS_2