KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Pergi ke Kantor


__ADS_3

Pagi menyapa dengan hangat sinar matahari. Waktu berlalu seiring pergantian siang dan malam. Kerja keras Abra menemukan titik suksesnya kembali. Abra menjadi pengusaha yang disegani. CEO muda yang memimpin perusahaannya dengan ketegasan wibawanya. Menghapus anggapan dirinya sukses dengan bantuan keluarga besar Embun. Abra bangkit dengan kemampuannya. Semua demi Rafan putra tercintanya.


Waktu yang berlalu begitu cepat, Rafan kecil tumbuh menjadi bocah menggemaskan. Usia Rafan menginjak satu tahun. Rafan mulai berlari kesana dan kemari. Embun dan Via kewalahan menjaga Rafan. Bahkan Rafan sudah bisa marah dan merajuk. Seandainya keinginannya tidak dipenuhi. Rafan bak duplikat Embun, keras kepala dan teguh pendirian. Rafan akan tetap dengan keinginannya sampai Embun bersedia memenuhinya. Meski untuk semua itu Rafan harus menangis lama. Layaknya anak kecil yang tak mendapatkan keinginannya. Seperti sore ini, Rafan mulai berulah dengan keras kepalanya.


Sejak siang, Rafan terus menanyakan Abra. Berkali-kali Embun mengalihkan perhatian Rafan. Berharap Rafan lupa akan keinginannya bertemu dengan Abra. Namun semua usaha Embun tak berhasil. Rafan terus menanyakan Abra, meski Embun mencoba memberi pengertian pada Rafan akan kesibukan Abra. Namun Rafan tidak peduli, dia hanya anak kecil yang merindukan ayah tercintanya. Embun tak lagi bisa menahan keinginan Rafan. Ketika tangis putra kecilnya pecah. Tangis Rafan tidaklah sama dengan bocah kecil lainnya. Dia akan menangis sampai keinginannya terpenuhi. Sedangkan Rafan tidak boleh menangis terlalu lama. Riwayat alergi yang diderita Rafan, akan membuatnya susah bernapas. Akhirnya dengan terpaksa Embun mengantar Rafan ke kantor Abra. Embun mengalah demi kesehatan Rafan, tangis Rafan bak sebilah pisau. Terdengar menyayat hati Embun tipis.


"Rafan, mama tidak ingin melihatmu mengganggu papa. Rafan hanya melihat papa, setelah papa selesai bekerja. Rafan baru boleh menemui papa. Kalau Rafan tidak patuh akan perkataan mama. Rafan tidak akan pernah bertemu mama!" tutur Embun tegas dan penuh kasih sayang.


Rafan mengangguk dengan polosnya. Walau sebenarnya Rafan tidak sepenuhnya mengerti perkataan Embun. Namun sikap mandiri Rafan, seolah mengatakan jika Rafan putra kecilnya memahami kegelisahan Embun. Sejujurnya Embun melarang Rafan ke kantor. Bukan melarang Rafan bertemu Abra, tapi kesibukan Abra membuat jarak yang tak nampak diantara ayah dan anak. Hanya dalam enam bulan terakhir, Abra berubah menjadi orang asing bagi putranya.


"Via, kamu tunggu disini. Aku akan masuk bersama Rafan. Ingat Via, jika kamu melihat tuan Abra. Kamu katakan padanya, Rafan memaksa bertemu!" ujar Embun ramah, Via mengangguk pelan.


Embun menuntun lengan kecil Rafan, berjalan menuju ruangan Abra. Embun sudah menanyakan pada resepsionist, dimana Abra berada? Jadi Embun bisa menemukan Abra secepat mungkin dan akan pulang setelah Rafan menyapa Abra. Sepanjang perjalanan, tak henti Rafan menjadi idola. Ketampanan Abra nyata terpancar di wajah Rafan. Pesona sang ayah yang menurun pada Rafan. Sebaliknya sikap dingin Abra, tak sedikitpun menurun pada Rafan. Setiap sapaan dan cubitan para karyawan Abra. Disambut dengan tawa bahagia oleh Rafan. Sikap polos anak kecil yang kini menjadi pusat perhatian. Embun tidak melarang siapapun menyapa Rafan? Selama Rafan sendiri tidak takut atau terganggu.


"Shella, bapak ada?" ujar Embun ramah, sontak Shella berdiri.


Nampak Shella terkejut melihat kedatangan Embun. Lama Shella terdiam, seolah mencari jawaban yang paling tepat. Embun merasakan kegelisahan Shella. Dengan senyum manis, Embun mencoba menenangkan ketakutan Shella. Embun bukan pribadi yang mudah berpikir buruk. Dengan sopan Embun bertanya untuk kedua kalinya. Namun Shella tetap diam, sesekali nampak Shella menoleh ke arah pintu ruangan Abra. Shella merasa bimbang, menahan Embun atau meminta Embun masuk ke dalam ruangan Abra.

__ADS_1


"Shella, jika bapak sedang sibuk. Aku bisa menunggu di luar, tidak perlu kamu mengatakan pada bapak. Aku akan menunggu, sampai beliau selesai rapat!" ujar Embun ramah, Shella menunduk. Ada rasa bersalah, ketika dia mendengar kerendahan hati Embun. Istri bos besar, pewaris perusahaan Adijaya group. Bebicara begitu sopan dan merendah di depannya. Hanya karena sikap bodoh dan ketakutan tanpa alasannya.


"Maafkan saya!" sahut Shella lirih, tepat setelah Embun memutar tubuhnya. Embun menoleh sembari mengutas senyum. Kedipan mata Embun, seakan isyarat semua baik-baik saja.


Satu jam berlalu, Abra tak kunjung keluar dari ruangannya. Rafan mulai tak terkendali, dia menangis mencari Abra. Embun mencoba tenang, dia terus menasehati Rafan. Embun mencoba mengendalikan sikap keras kepala Rafan. Dengan kesabarannya Embun mencari ketenangan Rafan. Tak berapa lama tangis Rafan terhenti, nampak Embun menghela napas.


"Kak Abra, aku mohon keluarlah. Rafan mulai lelah menunggumu. Aku tidak bisa selamanya menahan tangisnya. Dia akan menangis, ketika hatinya mulai mengingatmu. Haruskah aku mengetuk pintu ruanganmu? Demi tangis putraku yang merindukan ayah tercintanya!" batin Embun pilu. Tangannya mengelus lembut kepala Rafan. Nampak suara isak tangis dari bibir Rafan. Sisa tangis menahan kerinduan pada Abra.


Kreeeekkkk


"Papa!" teriak Rafan, lalu berlari memeluk kedua kaki Abra.


"Tuan Abra, aku harap kita bisa segera mengerjakan proyek ini!" ujar Sabrina, sembari berjalan keluar dari ruangan Abra. Sabrina keluar dari ruangan Abra, tanpa melihat sekelilingnya.


Abra menatap nanar Embun, nampak rasa bersalah yang terpancar di wajah Abra. Embun berjalan menghampiri Rafan, Embun berjongkok di depan Rafan. Kedua tangannya menjulur, Embun meminta Rafan datang menghampirinya. Melepaskan pelukan Rafan pada kaki Abra. Rafan seolah mengerti permintaan Embun, Rafan berlari memeluk Embun. Bocah satu tahun yang tidak mengetahui apapun? Kepolosan yang nampak jelas di wajahnya, keinginan sederhana yang nyata tak terbalas.


"Rafan, kita pulang!" ujar Embun lirih, Rafan mengangguk pelan. Suara tangisnya terhenti, tak ada lagi isak tangis. Menyisakkan dua mata merah dan sembab. Rafan mengalungkan kedua tangannya di leher Embun. Bergelayut manja pada hangat belaian Embun.

__ADS_1


"Tunggu!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun. Sabrina menatap heran ke arah Abra dan Embun.


"Tuan Abra, lebih baik saya pulang terlebih dahulu!" ujar Sabrina, Abra mengedipkan kedua matanya. Tangan Abra terus memegang Embun.


Sabrina melangkah menjauh dari Abra. Wanita anggun nan cantik, rekan kerja Abra yang baru. Mega proyek yang mereka kerjakan tidak main-main. Keuntungan yang akan mereka hasilkan tidak sedikit. Sebab itu Abra sangat fokus dengan kerjasama ini. Kesuksesan yang membuat Abra lupa akan kewajiban sebagai seorang ayah.


"Kenapa kamu tidak masuk? Berapa lama kamu menungguku?" ujar Abra lirih, Embun menoleh dengan tatapan datar.


"Aku tidak menunggumu, putramu yang sejak tadi menanyakanmu. Aku sanggup menunggumu selama berjam-jam, tapi tidak putramu. Satu jam baginya, akan terasa sangat lama dan menguras air matanya. Aku tidak akan pernah lelah percaya padamu. Namun orang lain tidak akan berpikir sama sepertiku!" ujar Embun, Abra terdiam membisu.


"Kamu salah paham!" sahut Abra, Embun menggelengkan kepalanya seraya menepis tangan Abra.


"Aku salah paham atau tidak, kakak tidak perlu menjelaskan. Namun pendapat orang lain yang akan menghancurkan pondasi kepercayaanku. Sebelum kakak mencoba menenangkanku, lebih baik kakak menenangkan penilaian orang lain!"


"Embun, kamu salah paham!" teriak Abra, ketika melihat Embun berjalan menjauh. Abra mengusap wajahnya kasar. Jelas Abra kalut melihat sikap dingin Embun. Entah Abra takut telah berbuat salah? Atau Abra takut melihat cemburu Embun?


"Salah pahamku tidak akan sebesar rasa kecewa putraku. Aku mampu menahan rasa cemburuku, tapi Rafan tidak akan sanggup menahan kerinduannya. Air matanya tidak akan berhenti, sampai dia melihat wajahmu. Tak seperti air mataku yang akan terus tertahan. Mencoba memahami pekerjaanmu yang kini lebih penting dariku. Seandainya kelak kakak mulai lelah memegang tanganku. Katakan tanpa ragu, karena aku yang akan melepaskan genggamanmu. Bukan tanganmu yang melepaskan tanganku. Supaya tak pernah ada yang menyalahkanmu!" batin Embun, sembari mendekap erat tubuh Rafan. Bocah manis yang mulai tertidur dalam gendongannya.

__ADS_1


"Kamu berbeda!" ujar Embun lirih hampir tak terdengar.


__ADS_2