KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Bintang Pesta


__ADS_3

"Abra, kita berangkat sekarang. Acara dimulai setengah jam lagi. Papa tidak ingin kita terlambat!" Ujar Haykal tegas, Abra mengangguk pelan.


"Ibra, dimana mamamu? Sejak tadi, papa sudah memintanya bersiap? Lihat jam berapa sekarang? Kenapa wanita membutuhkan waktu lama hanya untuk bersiap?" Ujar Haykal kesal, Ibra mengangkat kedua bahunya pelan.


"Jelas saja wanita butuh waktu lama. Jika wanita terlihat jelek, bukankah kalian para laki-laki yang malu!" Ujar Naura sinis, Haykal menatap Naura tajam. Seakan sahutan Naura bukan pada tempatnya. Ibra tersenyum simpul, melihat Naura mendapatkan tatapan tajam dari Haykal.


Naura baru turun dari kamarnya. Malam ini akan ada acara besar dan mewah. Seluruh keluarga Abimata diundang, tak terkecuali Embun. Pesta perayaan ulang tahun putri tunggal Gunawan Adiputra. Acara besar yang tentu akan mengundang orang-orang besar. Seluruh keluaga Abimata sudah bersiap, hamya menunggu Indira dan Embun. Dua nyonya keluarga Abimata. Pemilik hati pewaris keluarga Abimata.


"Aku sudah siap!" Ujar Indira, Haykal menoleh dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Naura dan Ibra langsung berdiri. Seolah melihat sesuatu yang aneh dan tidak mungkin.


Penampilan Indira sangat berbeda, tapi tetap anggun bahkan jauh lebih cantik. Haykal terus menatap tak percaya ke arah Indira. Sekilas Abra melirik ke arah Indira, reaksinya tak seheboh yang lain. Baginya penampilan Indira bukan hal yang penting. Dia hanya peduli pada Embun. Sejak tadi, hanya Embun yang ditunggunya. Sebab Embun akan menjadi pasangannya. Sudah saatnya mengenalkan Embun pada dunia Abra.


"Mama norak!" Ujar Naura kesal, Ibra langsung menatap marah ke arah Naura. Ibra marah mendengar Naura menghina Indira. Meski perkataan Naura bukanlah sebuah hinaan, lebih pada rasa tidak sukanya pada gaun yang dikenakan Indira.


"Sejak kapan kamu menggunakan pakaian seperti ini? Apa kamu mulai terpengaruh wanita itu?" Ujar Haykal sinis, Abra menoleh dengan tatapan tidak suka.


"Papa, aku mulai merasa tidak nyaman dengan gaun pesta yang ketat. Semenjak aku menggunakan gamis ini. Aku merasa nyaman saat melangkah. Bukankah aku masih cantik, meski menggunakan gamis!" Ujar Indira menggoda Haykal, berharap amarah dan rasa kesal Haykal mereda.


Indira nampak cantik menggunakan gamis berwarna hijau pastel. Gamis yang khusus dirancang dan dijahit sendiri oleh Embun. Gamis polos dengan ikat pinggang yang menampakkan pinggang Indira yang ramping. Gamis panjang yang begitu anggun, saat diterpa angin. Bahan yang ringan, membuatnya tetap nyaman meski berlapis. Indira benar-benar anggun dengan gamis yang menunjukkan jati dirinya.


"Kamu cantik, tapi kenapa harus gamis ini?" Bisik Haykal, Indira tersenyum. Saat merasakan tangan Haykal melingkar indah di pinggulnya.


"Gamis ini tidak bisa aku beli dengan hartamu. Sebab gamis ini tidak hanya indah. Dalam setiap jahitannya, ada ketulusan dan cinta untukku. Maaf, jika untuk pertama kalinya aku harus berbeda denganmu. Gamis ini tidak hanya melindungi tubuhku, tapi menyadarkanku akan sebuah tanggungjawab besar seorang istri. Tanggungjawab yang selama ini aku lupakan dan kini aku belajar untuk memenuhi kewajiban itu!" Sahut Indira, Haykal menoleh dengan tatapan heran.


"Tanggungjawab!" Ujar Haykal, Indira mengedipkan kedua matanya.


"Tanggungjawab menjaga kehormatanmu, dengan menjaga pandangan orang dari tubuhku. Sejatinya, tubuhku dan jiwaku hanya milikmu. Tak pantas jika orang lain menikmatinya!"


"Sayang, kamu benar-benar terpengaruh oleh wanita itu!"


"Selama itu baik, kenapa tidak?" Sahut Indira santai, dengan senyum yang terutas di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Kamu terlihat cantik Indira, tidak perlu takut akan pendapat orang. Lakukan apapun yang menurutmu benar, meski pendapat miring itu dari suamimu sendiri. Seseorang yang seharusnya menuntunmu!" Ujar Ardi, lalu duduk tepat di samping Naura.


"Kakek benar, mama cantik menggunakan gamis ini. Satu pesan Ibra, lakukan semua ini dari hati. Jangan terlalu memaksa, sebab berubah itu tidak mudah dan butuh keikhlasan!" Ujar Ibra penuh kasih sayang, lalu mencium lembut pipi Indira.


"Sudah selesai dramanya, kita berangkat sekarang. Semua orang sudah siap, tidak ada lagi yang ditunggu. Malam semakin larut, aku tidak ingin terlambat!" Ujar Haykal, Naura mengangguk lalu berdiri. Ardi dan Ibra saling memandang, seolah ada yang tertinggal.


Haykal langsung berjalan menuju pintu, tapi Indira menahan langkah kakinya. Indira meminta Haykal melihat sikap diam Abra. Haykal mengerti maksud perkataan Indira. Perlahan Haykal menghampiri Abra, dengan kedipan mata Haykal mengisyaratkan untuk pergi. Haykal berpikir Embun tidak akan ikut, apalagi untuk pesta semewah ini.


"Kalian pergilah, aku akan tinggal di rumah!"


"Ayolah Abra, dia tidak akan ikut dengan kita. Wanita itu tahu diri, sebab itu dia malu untuk datang ke pesta!" Ujar Haykal, lalu dengan cepat Abra menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Haykal tersentak tidak percaya. Abra meminta maaf pada Haykal, tanpa ada sesuatu yang salah.


"Ada apa Abra?" Ujar Haykal.


"Abra mohon pa, Abra mohon. Jangan pernah menghina istri Abra. Dia wanita pilihan Abra, dia datang ke dalam rumah ini bersama Abra. Jangan terus memojokkan dirinya, dia istri putramu. Jangan biarkan kebencian papa pada Embun. Menjadi alasan kebencianku pada papa. Selama ini Abra diam, semua demi ikatan darah diantara kita. Namun sekental apapun darah, akan mencair dan pecah ketika air mata membanjirinya. Setetes air mata Embun, tidak akan membuat kental darah kita mencair. Namun kental darah kita akan kalah, saat tangis Embun yang terdengar di telingaku!" Tutur Abra sembari tetap menangkupkan kedua tangannya.


"Abra, percuma kamu bicara padanya. Dia hanya peduli pada harga dirinya. Tetaplah di rumah, jika memang Embun tidak bersedia datang. Jangan tinggalkan Embun, dia ada di rumah ini karenamu. Sudah tanggungjawabmu terus bersamanya!" Ujar Ardi, lalu menepuk pelan pundak Abra.


Ardi berjalan menuju pintu, diikuti oleh Naura dan Ibra. Haykal mengikuti langkah Ardi, melupakan sejenak duka sang putra yang terlanjur terucap. Indira terdiam menatap punggung Abra. Tepat di tangga paling atas, Indira mendengar helaan napas panjang Abra. Sebuah helaan akan beban berat yang tengah ditanggung Abra.


"Haykal Putra Abimata!" Sapa Indira, Haykal menoleh dengan tatapan bingung. Puluhan tahun yang lalu, terakhir kali Indira memanggilnya seperti itu. Panggilan yang akan digunakan Indira, ketika dia kecewa dengan sikap Haykal.


"Sayang!"


"Selamat Haykal, kamu berhasil menyakiti hati putraku. Puluhan tahun, aku berusaha mendapatkan kepercayaannya. Puluhan tahun, aku berharap melihat kebahagiaannya. Puluhan tahun, aku bermimpi mengutas senyum di wajahnya. Puluhan tahun, aku berdamai dengannya. Semua demi ketenangan dan kepercayaannya. Kini kesabaranku selama puluhan tahun. Hancur dan tidak berguna, ketika dengan perkataan kamu menghancurkan hidup putraku. Selama ini kamu selalu mendengar pendapar orang lain. Sekali saja kamu mendengar helaan napas penuh duka putra kita. Abra mungkinsudah dewasa, tapi sepi dan kosongnya nyata. Dia putra kita, bukan musuh yang harus kita lawan!" Tutur Indira dingin, lalu berjalan meninggalkan Haykal sendirian.


"Salahkah aku, jika mengharap yang terbaik untuk Abra putraku!" Batin Haykal, perkataan Indira bak tamparam keras dalam hatinya. Haykal merasa hancur, ketika Indira mulai menyalahkan dirinya.


Tok Tok Tok


"Sayang, kenapa pintunya di kunci? Aku tidak jadi pergi, lebih baik kita di rumah!" Ujar Abra, tepat sesaat setelah mengetuk pintu.

__ADS_1


Kreeeeekkk


"Aku sudah siap!" Ujar Embun, sembari membuka pintu.


"Cantik!" Batin Abra, tepat setelah Embun membukakan pintu.


"Sayang!"


"Maaf, aku lama bersiap!" Ujar Embun lirih, Abra termenung menatap Embun.


"Aku tidak keberatan menunggumu!" Ujar Abra lalu mencium kening Embun.


"Kita berangkat sekarang!" Ujar Embun, Abra mengangguk tanpa ragu.


"Kita berangkat sayang, kita akan memberikan kejutan yang takkan dilupakan oleh papa. Wanita desa yang dihinanya, akan menjadi bintang pesta malam ini. Entah siapa yang membuat gamis secantik dan seanggun ini? Namun percayalah sayang, gamis ini terlihat menawan membalut tubuhmu. Embunku akan menggemparkan pesta, membuka mata orang yang berpikir derajat lebih tinggi daripada kehormatan. Terima kasih sayang, kamu membuatku yakin. Jika Embunku tidak akan kalah, hanya kerena satu tantangan. Kamu memang layaknya embun pagi, tapi kamu bisa menjadi badai dikala orang meremehkanmu. Badai yang datang tanpa kabar, tapi mampu menghancurkan tanpa sisa!" Batin Abra penuh rasa haru.


"Kenapa malah melamun?" Ujar Embun, menganggetkan Abra.


"Kecantikkanmu menghipnotisku!" Ujar Abra, Embun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Hanya ini gamis yang aku punya. Aku belum sempat membuat yang baru!"


"Maksudmu, ini jahitanmu sendiri!" Ujar Abra tidak percaya, Embun mengangguk.


"Kesederhanaanmu akan membuat mereka menyadari, seorang bintang pesta tidak perlu gaun mahal dan mewah. Sebab aura bintang akan terpancar dari sikap dan bicaranya. Bukan mahal atau murah pakaian yang dikenakannya!" Ujar Abra tegas.


Cup


"Aku mencintaimu!" Bisik Abra, setelah mencium bibir mungil Embun.


"Hmmm!" Sahut Embun dingin.

__ADS_1


__ADS_2