KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Belanja Berdua


__ADS_3

"Afifah!"


"Iman, sedang apa?"


"Menunggumu, aku ingin mengajakmu makan malam di rumah Abra!" ujar Iman, Afifah melirik jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, Afifah merasa heran mendengar permintaan Iman. Sontak kedua alisnya terangkat, Afifah merasa tidak heran dengan sikap Iman.


"Tidak perlu heran, memang ini masih sore. Aku sengaja menjemputmu sekarang. Agar kita bisa berbelanja dulu di supermarket!"


"Kenapa harus aku? Lagipula Embun memiliki banyak ART. Tentu mereka sudah menyiapkan segalanya!" sahut Afifah, Iman tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Iman kikuk menyadari, Afifah mulai curiga dengan permintaannya.


"Semalam aku bercerita pada Embun, jika masakanmu enak. Sebab itu malam ini Embun ingin kamu yang membuatkan makan malam. Sebenarnya aku sudah menolak, karena aku tahu kamu pasti lelah. Namun aku tidak tega, ketika Embun terus merengek. Seandainya kamu merasa tidak sanggup, tidak perlu dipaksa. Aku akan mengatakannya pada Embun!" cerocos Iman, tanpa sedikitpun memberi waktu pada Afifah bicara.


"Sudah selesai bicaranya!" ujar Afifah dingin, Iman mengangguk pelan.


"Sekarang kita pergi ke supermarket di dekat rumah Embun. Aku akan berbelanja beberapa bahan, tapi ingat kamu yang harus membayarnya!" ujar Afifah lantang, Iman langsung mengakat dua jempol ke arah Afifah. Iman setuju dengan syarat yang diajukan Embun. Meski sebenarnya, Afifah hanya bercanda. Afifah hanya ingin melihat reaksi Iman. Menerima tanpa banyak bertanya atau menolak dengan segudang alasan.


"Tunggu Iman, kita pergi berdua!"


"Terpaksa, Arya sedang sibuk!"


"Kamu yakin!" ujar Afifah, Iman menoleh dengan mengangkat alisnya.


"Kenapa aku ragu?"


"Kita bukan mukhrim, kamu tahu itu. Apalagi kita akan berbelanja!"


"Bukan aku yang seharusnya yakin, kamu percaya tidak padaku?" ujar Iman santai, Afifah diam menatap Iman.


"Aku percaya sepenuhnya, jika kamu tidak akan khilaf. Iman yang dulu selalu bisa menjaga tangannya. Apalagi Iman yang sekarang, tentu dia akan takut dosa!"


"Hmmmm, semoga saja kamu benar. Lagipula jika aku khilaf, akan ada alasan sebuah pernikahan terlaksana!"


"Jadi, kamu menikah denganku hanya karena khilaf!" sahut Afifah kesal, Iman tersenyum sembari membuka pintu mobilnya.


"Mungkin!" sahut Iman santai tanpa beban. Jelas Iman sedang menggoda Afifah.

__ADS_1


"Aku tidak ikut, kamu pergi saja sendiri!"


"Sudahlah Afifah, rasa kesalmu tidak akan meluluhkan hatiku. Kamu sendiri mengenalku dengan baik. Aku tidak bisa mengumbar rasa sayang atau amarah di depan umum. Kalau memang kamu tidak ingin pergi. Aku tidak memaksa!" sahut Iman dingin, Afifah melongo mendengar perkataan Iman.


"Aku pikir dia Iman yang berbeda dan hangat. Ternyata dia Iman yang sama, dingin dan acuh pada kesalku. Dasar laki-laki tidak peka, ingin menang sendiri!" gerutu Afifah, Iman tersenyum mendengar suara Afifah yang menggerutu. Meski Iman tidak jelas mendengar perkataan Afifah. Namun Iman menyadari, alasan gerutuan Afifah.


"Selalu seperti ini, ternyata kamu Iman yang sama!" ujar Afifah lantang, lalu masuk ke dalam mobil Iman.


"Kamu satu-satunya wanita yang bertahan di sampingku!"


"Hmmm, karena aku wanita bodoh yang tak pernah bisa membencimu!" sahut Afifah lirih, Iman tersenyum sembari mengemudikan mobilnya.


Hampir setengah jam, mobil Iman membelah jalanan kota. Jarak rumah sakit dan supermarket tidak terlalu jauh. Namun dikarenakan hari sudah sore, para pegawai pulang dari bekerja. Secara otomatis jalan raya padat merayap. Alhasil butuh waktu lama, agar Iman dan Afifah sampai di supermarket.


"Afifah, masuklah dulu. Aku akan memakirkan mobil. Jika kamu ikut denganku, nanti kamu lelah harus berjalan kaki!"


"Aku merasa aneh, jangan-jangan kamu ingin aku belanja sendiri!" sahut Afifah ragu, Iman menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau kamu tidak percaya, tunggu aku di sini. Nanti kita masuk bersama, kalau kamu merasa lama menunggu. Ada dua pilihan untukmu, mencariku di tempat parkir atau pulang menggunkan taksi!"


"Terima kasih Afifah, kamu tulus mencintai Embun. Mungkin keputusanku dulu salah, menepis tanganmu dan berpikir mampu membesarkan Embun dengan kasih sayang dariku. Nyatanya, kini kasih sayangmu begitu tulus untuk Embun. Bahkan di saat seperti ini, hanya kebutuhan Embun yang kamu pikirkan. Terima kasih, kamu masih bertahan dengan cinta untukku!" batin Iman, seraya menatap Afifah.


"Terserah padamu, aku tidak akan melarang. Kamu bisa membeli apapun?"


"Ayah yang baik!" sahut Afifah lantang, Iman menunduk tersipu malu.


Iman mengemudikan mobilnya menuju tempat parkir. Sedangkan Afifah masuk ke dalam supermarket. Afifah mengambil troli besar. Banyak yang ingin dibeli Afifah, sebab itu dia menyiapkan troli besar.


Afifah langsung berbelanja kebutuhan Embun. Mengambil beberapa dus susu ibu hamil dan makanan ringan menyehatkan untuk Embun. Setelah itu Afifah berjalan menuju tempat sayur. Dia mengambil beberapa bahan makanan yang akan dimasaknya. Afifah juga membeli beberapa daging, telur dan ikan segar. Semua itu dibeli Afifah, sekadar untuk mengisi lemari pendingin Embun. Meski Embun bisa membelinya sendiri. Namun semua terasa berbeda, ketika seorang ayah yang membelikannya.


"Sudah selesai!"


"Belum!" sahut Afifah, nampak Afifah mulai merasa pegal mendorong troli. Iman melihat ke arah troli besar yang tengah di dorong Afifah. Satu troli besar hampir penuh, tapi Afifah seolah belum selesai belanja.


"Biarkan aku yang mendorongnya. Sekarang kamu ingin membeli apa?"

__ADS_1


"Aku belum membeli buah!" ujar Afifah, Iman mengangguk mengiyakan. Lalu mendorong troli menuju tempat buah.


"Iman!" sapa Afifah lirih.


"Hmmm!" sahut Iman tanpa menoleh.


"Kamu tidak bertanya, apa saja yang aku beli? Kamu tidak lihat, aku membeli banyak barang!"


"Untuk apa bertanya? Kamu pasti tahu, apa yang diperlukan atau tidak? Aku seorang laki-laki, tidak ada hakku bertanya terlalu mendalam tentang kebutuhan rumahtangga!"


"Kamu bisa bertanya, aku tidak melarangnya dan pasti aku akan menjawabny!"


"Tidak perlu!" ujar Iman, seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa?" sahut Afifah penasaran.


"Aku mengenalmu jauh sebelum hari ini. Di usiamu yang masih muda, kamu bisa memilih mana yang benar dan yang salah. Kamu bisa menahan napsu akan memiliki suatu barang. Jika kamu merasa barang itu tidak terlalu penting. Kamu terbiasa membeli barang sesuai kebutuhan. Jika di usiamu yang seharusnya memikirkan bersenang-senang, tapi kamu bisa bijak berpikir. Tentu sekarang kamu jauh lebih bijak dalam berbelanja!"


"Kamu tidak keberatan!"


"Tidak, kenapa aku keberatan? Kamu hanya memikirkan kebaikan Embun putriku. Lalu, kenapa aku harus bertanya alasan kamu membelinya? Seorang ayah hanya mampu memberikan kasih sayang. Mencukupi kebutuhan putrinya dengan finansial. Sedangkan seorang ibu, tulus menyayangi putrinya dengan memikirkan kebaikan putrinya. Seperti yang kamu lakukan saat ini, membelikan kebutuhan Embun tanpa dia memintanya. Kebutuhan yang tak mungkin bisa aku penuhi. Hanya seorang ibu yang mengerti kebutuhan putrinya!"


"Kamu menganggap aku sebagai ibunya Embun!" ujar Afifah tidak percaya, Iman menoleh manatap lekat Afifah.


"Kamu menolak!" sahut Iman dingin, Afifah langsung mengerucutkan bibirnya.


"Sudahlah Iman, kamu selalu seperti ini. Menerbangkan aku setinggi langit, lalu menjatuhkan aku ke tanah. Sampai aku bingung, kamu menganggap aku atau hanya mempermainkan rasaku!"


"Afifah!"


"Ada apa?" sahut Afifah kesal, Iman tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Afifah.


"Kamu semakin cantik kalau marah!" bisik Iman tepat di telinga Afifah. Sontak Afifah menoleh, tanpa sengaja dua mata Afifah melihat begitu dekat ketampanan Iman.


"Kenapa ketampananmu tidak berkurang?" ujar Afifah spontan.

__ADS_1


"Jaga pandanganmu, takut khilaf!" goda Iman, seketika Afifah menunduk tersipu malu.


__ADS_2