
"Mama!" sapa Kanaya dengan suara lantangnya. Embun mengangguk mengiyakan panggilan kanaya. Wajah cantik dan teduh Embun, masih tampak jelas dengan hijab instannya.
Embun dan Abra memutuskan kembali, setelah kondisi Embun membaik. Baru beberapa hari, Embun kembali ke negara tempat dia dan Abra dilahirkan. Namun Embun belum bertemu atau mencari orang-orang yang menyayanginya. Embun memilih diam di rumah, bahkan saat Abra mengajaknya keluar makan. Embun menolak dengan tegas, tak ada hasrat Embun bertemu siapapun?
Langkah pertama Embun, ketika tiba di kota ini. Hanya saat dia melangkah memasuki sebuah pemakaman umum. Makam tempat ibu yang melahirkannya tertidur selamanya. Embun melangkah dengan tubuh tertatih dan air mata tertahan. Embun mencari hangat pelukan seorang ibu, di balik tanah pemakaman. Tangan Embun bergetar menyentuh nama yang tertulis di atas nisan. Nama yang begitu dekat dengannya, tapi tak pernah Embun merasakan hangat belaian. Hanya lantunan ayat suci Al-quran, cara Embun dekat dan merasakan hangat belaian sang ibu.
"Dimana papa? Apa dia sudah bertemu dengan keluarganya?"
"Mama!" sahut Kanaya tak percaya, Embun menganggukkan pelan. Arti ketidakpercayaan Kanaya yang jelas diketahui oleh Embun.
"Mama tidak marah?"
"Kenapa mama marah? Sejak kapan mama melarang papa menemui keluarganya? Mama mungkin istri papa, tapi tidak ada hak mama menjauhkan seorang anak dari keluarganya. Namun sebagai seorang suami, papa memiliki hak menjauhkan mama dari keluarga mama. Ingat Kanaya, sehebat apapun seorang wanita. Dia akan lemah di depan suaminya. Sekuat apapun seorang wanita, dia tak berdaya di samping suaminya. Sebakti apapun seorang putri pada orang tuanya, dia berhak durhaka bila suaminya meminta. Surga seorang istri ada di bawah telapak kaki suami. Sedangkan seorang suami, surganya ada di bawah telapak kaki ibunya!"
"Lalu, kenapa mama dan papa meninggalkan negara ini? Kalian menjauh dari keluarga yang begitu menyayangi mama dan papa. Membuatk kami tak pernah mengenal mereka!" sahut Kanaya santai, Embun tersenyum menyahuti perkataan Kanaya yang selalu jujur dan apa adanya.
Embun menepuk sofa tepat di sampingnya. Isyarat meminta Kanaya duduk di sampingnya. Embun ingin menjelaskan sesuatu yang tak pernah diutarakannya. Embun mengenal Kanaya dengan baik. Kanaya tidak akan berhenti bicara, sampai dia menemukan jawaban yang paling tepat untuk pertanyaannya. Kanaya akan mencari penjelasan akan keraguannya. Sikap yang terkadang membuat siapapun kesal padanya? Termasuk Rafan yang tak pernah sepaham dengannya.
"Kanaya sayang!" ujar Embun, sembari menepuk pelan punggung tangan Kanaya. Embun menggenggam erat tangan putri kecilnya. Usia yang tak sepadan dengan kedewasaaannya. Membuat Kanaya mampu berpikir bijak, sesuai dengan arah masalahnya. Kanaya mengedipkan kedua matanya, pertanda Kanaya mengiyakan panggilan Embun.
"Kepergian mama dan papa saat itu, tak lebih dari keputusasaan. Kami merasa bingung dan lelah, ketika pernikahan mama dan papa tak pernah mendapatkan restu dari kakekmu. Kebencian kakek pada mama, membuat papa gelisah dan tak pernah tenang. Sampai akhirnya papa membawa mama pergi meninggalkan segalanya. Keegoisan seorang anak yang hanya peduli pada kebahagiannya sendiri. Tanpa papa menyadari, resiko yang mungkin terjadi pada keluarganya!"
"Kenapa mama tidak mencegah papa?" ujar Kanaya, Embun menggeleng lemah.
__ADS_1
"Papa kepala keluarga, keputusannya harus mama ikuti. Dengan catatan, mama sudah mengingatkan!" ujar Embun lirih, Kanaya menoleh ke arah Embun.
"Mama, seandainya papa membawa keluarganya tinggal dengan kita. Mama marah atau tidak?"
"Kenapa harus marah? Mereka keluarga papa, sudah kewajiban papa merawat mereka. Seandainya papa membawa mereka kemari. Artinya papa yakin, tidak akan ada masalah yang terjadi. Sejak dulu sampai sekarang, mama tidak pernah membenci mereka. Sejahat-jahatnya kakek Haykal pada mama. Dialah ayah yang membesarkan papa, keringatnya yang mencukupi kebutuhan papa. Sekeras-kerasnya mereka pada mama, kasih sayang mereka yang selama ini menemani papa. Tak ada alasan atau hukum agama yang membenarkan amarah mama. Jadi mama peringatkan padamu, jangan pernah bersikap tidak sopan pada mereka. Sikapmu akan mencerminkan didikan mama. Jangan pernah kecewakan mama!" ujar Embun, Kanaya mengangguk mengiyakan perkataan Embun.
"Mama!" panggil Kanaya lirih, Embun menoleh dengan raut wajah datar.
"Kanaya minta maaf!"
"Untuk!" sahut Embun tak mengerti, Kanaya menunduk lemah.
Ada rasa takut yang mulai menyergap di hatinya. Kanaya tidak takut pada amarah Embun, jika memang dia salah. Kanaya hanya takut akan kekecewaan Embun padanya. Peringatan Embun yang baru saja terucap. Sontak membuat Kanaya merasa bersalah dan takut melihat kekecewaan Embun. Kasih sayang Embun tak pernah mengajarkan kebencian pada Rafan dan Kanaya. Embun berharap kedua buah hatinya tumbuh menjadi orang-orang yang penuh kasih sayang.
"Kenapa kamu bisa bersikap tak pantas?" ujar Embun tak mengerti, Kanaya langsung menunduk. Seolah dia mengerti telah melakukan kesalahan.
"Sekarang, papa ada dimana? Kenapa dia membiarkanmu pulang sendiri?" ujar Embun cemas, Kanaya diam membisu. Abra sudah meminta Kanaya untuk diam. Abra tidak ingin melihat amarah atau rasa kecewa Embun. Meski sebenarnya, Embun tidak akan marah apapun yang dilakukan Abra.
"Bicaralah!" ujar Embun dingin, Kanaya mendongak menatap Embun. Suara dingin Embun, pertanda ada amarah dalam perkataan Embun.
"Papa pergi ke rumah sakit. Kakek sakit parah, papa pergi bersama nenek!" ujar Kanaya lirih, sontak Embun terkejut. Dia tak percaya mendengar kenyataan yang terjadi pada keluarga Abimata.
"Om Ibra dan tante Nissa!" ujar Embun, Kanaya menggeleng lemah.
__ADS_1
"Kanaya hanya melihat kakek yang duduk di kursi roda. Sedangkan nenek yang terlihat lusuh. Entah apa yang terjadi? Kanaya tidak terlalu memperhatikan. Kanaya hanya melihat kecemasan papa, bahkan papa jatuh terduduk saat melihat kakek!"
"Lalu, kenapa kamu pulang? Seharusnya kamu menemani papa. Sekarang papa butuh dukunganmu, kenapa kamu malah mengacuhkannya?" ujar Embun tak percaya, Kanaya diam membisu.
Embun mengambil ponsel pintarnya, dia menekan beberapa nomor di ponselnya. Entah siapa yang dihubungi Embun? Setelah panggilannya terjawab, Embun berbicara selama lima menit. Setelah mematikan ponselnya, Embun mengambil kunci mobil. Nampak jelas kecemasan di wajah Embun.
"Kanaya, ikut mama sekarang. Kita harus ke rumah sakit. Kak Rafan langsung datang ke rumah sakit. Kita akan bertemu di sana!"
"Kenapa kita harus ke rumah sakit?" ujar Kanaya, Embun langsung menoleh. Tatapan Embun tajam, Kanaya tertunduk. Dia takut melihat amarah dalam sinar mata Embun.
"Kanaya, kamu berhak marah pada mereka. Namun jangan pernah acuhkan rasa sakit dan gelisah papa. Ingat Kanaya, selama ini tangan kuat papa yang membelai dan menggendongmu. Pantaskah, jika saat tangan papa lemah. Kamu malah menjauh, tak berpikir ingin menopangnya. Selama ini, papa yang menyeka air matamu. Papa menghapus ketakutan dan kegelisahanmu dengan hangat kasih sayangnya. Haruskah, sekarang kamu mengacuhkan tangisnya. Kala papa butuh sandaran untuk menenangkan diri. Jika Kanaya sayang pada papa, sebaliknya papa juga menyayangi kakek Haykal. Hargai kecemasan dan kekalutan papa, setidaknya demi kasih sayang yang pernah pap berikan padamu!" tutur Embun, Kanaya terdiam membisu. Kanaya berjalan mengikuti Embun menuju mobil.
"Kak Abra, inilah ketakutan yang ada dalam hatiku. Kita memang bahagia jauh dari keluargamu. Kita merasakan hidup yang penuh dengan tawa. Lahirnya Kanaya menjadi pelengkap keluarga kecil kita. Dalam perjalanan hidup, kita belajar saling memahami dan melengkapi satu dengan yang lain. Namun ada yang akan terluka dan rapuh tanpamu. Rumah keluarga Abimata mungkin kuat, mampu menghadang badai dan angin. Namun selama ada kakak yang menjadi tiang penyangganya, agar rumah tak runtuh akan kesombongan dan keanggukan penghuninya. Harta keluarga Abimata takkan pernah habis, setidaknya selama ada kakak yang mengelolanya. Kak Abra, kamu alasan kebahagianku, tapi kamu penopang serta penyangga keluarga besarmu. Tanggungjawab yang kamu lepaskan, demi kebahagianku. Jujur aku bahagia, ketika kakak memetingkan kebahagianku. Daripada kenyamanan keluargamu. Kini biarkan putramu yang menjadi pelindungku. Kembalilah menjadi pelindung keluargamu. Agar kebahagian kita lengkap, tanpa setetes air matamu. Abra Ahmad Abimata, kamu laki-laki hebat yang mengisi hati dan hariku dengan cinta. Aku percaya, kamu tidak akan melupakanku. Semoga kamu kuat, semua akan baik-baik saja!" batin Embun.
"Bismillahhirrohmannirrohim!" ujar Embun lirih, lalu menghidupkan mesi mobil.
"Mama bisa mengemudikan mobil!" ujar Kanaya tidak percaya. Embun mengangguk pelan, sembari menatap lurus ke depan. Embun fokus mengemudikan mobil.
"Banyak hal yang tak pernah kamu ketahui tentang mama!" sahut Embun datar.
...****************...
Maaf, para pembaca setia "KESUCIAN EMBUN" . Author dengan kerendahan hati meminta maaf, seandainya dalam tulisan ini ada yang menyinggung para pembaca. Tulisan yang ada dalam karya ini, murni tulisan receh tanpa makna. Author hanyalah penulis receh yang mencoba menulis dengan hati. Tak ada maksud apa-apa? Sekali lagi author hanya penulis amatiran tanpa keahlian. Seandainya ada kesalahan, mohon dimaafkan. Terima kasih selalu setia membaca karya receh author.
__ADS_1
Satu hal lagi, terima kasih atas komen dan dukungan para pembaca. Maaf, jika author tidak sempat membalas satu per satu komen. Bukan author mengacuhkan atau sombong, jujur author bahagia ada yang peduli pada tulisan receh author. Namun apalah daya, sebagai seorang ibu dan istri. Waktu seolah tak bersahabat, sekali lagi maaf yang sedalam-dalamnya dan terima kasih yang sebesar-besarnya. 🤗🤗🤗