
"Iman, sedang apa kamu?" sapa Afifah ramah, Iman langsung memutar tubuhnya 180°.
Afifah tanpa sengaja melihat Iman berdiri di depan apotik rumah sakit. Kebetulan Afifah baru saja keluar dari ruang IGD. Dia mendapat tugas jaga malam. Saat Afifah berjalan menuju ruang istirahatnya. Dia melihat laki-laki yang mirip dengan Iman. Langsung saja Afifah menghampiri, dia ingin memeriksa kebenarannya. Dugaannya benar, ternyata Iman yang tengah berdiri di depan apotik rumah sakit.
"Dokter Afifah, aku sedang mengambil obat papa!" sahut Iman ramah, Afifah melihat ke arah obat yang ditunjukkan Iman kepadanya.
"Hmmm, Afifah tidak perlu panggil dokter Afifah!" sahut Afifah lirih, Iman menoleh ke kanan dan ke kiri. Seolah mencari seseorang, Afifah bingung melihat gelagat Iman.
"Siapa yang kamu cari?"
"Aku hanya memeriksa, benarkah ini rumah sakit. Jadi memanggilmu dokter Afifah itu tidak salah!" sahut Iman santai, Afifah menunduk menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.
"Memang ini rumah sakit, tapi kita teman. Jadi tidak perlu ada sopan satun seperti itu!" ujar Afifah lirih, Iman mengangguk seraya mengutas senyum.
"Baiklah dokter Afifah, saya permisi. Takut mengganggu jam kerja dokter yang padat!" ujar Iman menggoda Afifah.
"Aku tidak sibuk, ini jam istirahatku!"
"Kamu jaga malam, sampai jam berapa?" ujar Iman, Afifah melihat jam di tangannya.
"Dua jam lagi aku off, akan ada dokter pengganti yang datang!"
"Baiklah, aku akan menjemputmu setelah dua jam. Itupun jika tidak ada yang menjemputmu!" tawar Iman, Afifah diam membisu. Iman melihat keraguan di mata Afifah.
"Maaf, jika aku lancang. Sebaiknya aku pulang sekarang!" ujar Iman lantang, Afifah langsung menarik tangan Iman. Menahan langkah Iman pergi menjauh darinya.
"Kenapa kamu selalu memutuskan tanpa mendengar pendapatku?"
"Dua mata indahmu jelas ragu akan ajakanku!" ujar Iman, lalu menepis tangan Afifah. Iman melangkah menjauh dari Afifah.
"Sekali saja Iman, kamu beri aku kesempatan. Keraguan yang terlihat di kedua mataku. Bukan berarti aku menolak permintaanmu. Sebaliknya aku tidak percaya, jika Iman yang dulu acuh dan dingin. Kini berubah hangat dan peduli akan diriku!" ujar Afifah lantang, Iman menoleh ke arah Afifah.
__ADS_1
"Afifah, jaga kehormatanmu. Ini rumah sakit, kamu seorang dokter hebat. Tidak sepantasnya menghiba padaku. Sekarang lanjutkan tugasmu, nanti kita bicara lagi!" ujar Iman bijak, Afifah diam membisu.
"Maaf, jika aku membuatmu malu!" ujar Afifah lirih, Iman berjalan menghampiri Afifah.
"Aku tidak takut malu, jika itu demi dirimu. Aku hanya tidak ingin melihatmu direndahkan, hanya karena laki-laki sepertiku!" ujar Iman, Afifah mendongak menatap Iman. Tatapan penuh rasa cinta yang tak mampu terungkap sepenuhnya.
"Iman, kenapa bijakmu mengalahkan suara hatimu. Alasan rasaku selalu kalah dan mengalah!" ujar Afifah, Iman menatap sendu Afifah. Wanita yang selalu ada dalam hatinya, tapi ada saja alasan hatinya sulit mengungkapkannya.
"Kita bicara nanti, pergilah istirahat. Tubuhmu butuh istirahat, jangan sampai seorang dokter sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang akan merawat pasien di rumah sakit ini!" ujar Iman, lalu membalikkan badan. Meninggalkan Afifah dengan hati yang bergejolak.
"Pergi, itu caramu menjauh dariku. Tanpa sepatah kata atau penjelasan. Kamu meninggalkan aku dengan hati yang gelisah. Kemana cinta dan hangat yang dulu ada? Mungkinkah waktu dua puluh tahun telah membawanya pergi. Haruskah aku bertahan atau mundur teratur? Agar hatiku tak merasakan sakit tanpa henti ini. Jujur Iman, aku tidak peduli akan rasa malu. Jika semua itu bisa membuatmu jujur mengatakan isi hatimu. Masih adakah aku di hatimu? Atau sudah ada nama lain dalam hatimu? Sebuah jawaban yang aku butuhkan. Bukan bijak yang terus mengacuhkan rasaku!" batin Afifah pilu, seraya menatap Iman yang terus melangkah menjauh.
Dua jam berlalu begitu saja, tepat pukul 00.00 WIB. Afifah melangkah keluar rumah sakit. Langkahnya lemah tanpa tenaga, bukan hanya tubuhnya yang lelah. Hati dan jiwanya lemah tanpa semangat. Pertemuannya dengan Iman, meninggalkan kegalauan dalam hatinya. Afifah tak pernah ragu menyimpah kesucian hatinya demi Iman. Namun sikap dingin Iman, seolah ingin membunuh rasa tulusnya.
"Dokter Afifah!" sapa Iman ramah, nampak Iman berdiri bersandar di pintu mobilnya.
Afifah mendongak dengan perasaan heran. Suara Iman seketika membuyarkan lamunan Afifah. Tubuh lemahnya langsung semangat, menghilangkan kantuk yang menyergapnya. Afifah melihat Iman berdiri gagah tak jauh darinya. Afifah melangkah perlahan menuju Iman. Langkah anggun seorang wanita cantik dan pintar. Gelar dokter spesialis yang disandang Afifah. Jelas menunjukkan kepintarannya dan luas wawasannya.
"Menunggumu!"
"Untuk!" sahut Afifah lirih.
"Mengajakmu makan malam dan mengantarmu pulang dengan selamat!" sahut Iman santai, Afifah semakin heran dengan sikap Iman.
"Kamu menjemputku!"
"Jika bukan kamu siapa? Memangnya ada orang lain. Sekarang kamu masuk, angin malam semakin dingin!" ujar Iman, sembari membuka pintu mobil untuk Afifah.
"Tunggu Iman, kita tidak bisa pergi berdua!"
"Tenang saja Afifah, ada pengawal setia di dalam. Dia orang ketiga diantara kita!"
__ADS_1
"Siapa? Aku tidak melihat ada orang lain!" ujar Afifah tidak percaya.
Iman membuka pintu belakang mobilnya. Afifah melihat seseorang meringkuk di dalam mobil. Sontak Afifah menjerit, Iman langsung menutup pintu mobilnya. Afifah langsung mundur beberapa langkah. Iman tersenyum melihat raut wajah ketakutan Afifah.
"Tidak perlu takut, dia bukan orang lain. Dia Arya Adiputra, sahabat sekaligus mantan adik iparku!"
"Kenapa dia ikut?"
"Karena aku takut khilaf berdua denganmu. Sebab setan ada diantara dua orang yang lagi bersama. Jadi aku putuskan Arya yang akan menjadi setan malam ini!"
"Kamu keterlaluan, dia ayah Embun. Jangan sampai Embun marah melihat ayahnya diperlakukan seperti itu!" ujar Afifah, Iman menggelengkan kepalanya.
"Embun yang menyarankan aku mengajak Arya. Sebenarnya aku ingin datang sendiri, tapi Embun marah mendengarnya. Dia tidak percaya padaku. Embun takut aku khilaf dan melakukan hal yang tidak pantas padamu!"
"Hmmmm, kamu tidak akan pernah khilaf. Kamu dingin bak es batu, tidak akan menghangat begitu saja. Meski aku berusaha menghangatkan hatimu!" ujar Afifah tegas.
"Masuklah Afifah, kita makan malam bersama!"
"Kita makan dimana?"
"Terserah tuan putri, kemanapun ingin pergi!" ujar Iman menggoda Afifah.
Buuugh
"Tidak lucu!" ujar Afifah, sesaat setelah memukul lengan Iman.
"Iman, segera halalkan Afifah. Aku tidak ingin menjadi setan diantara kalian. Lagipula sudah sama-sama dewasa. Apa lagi yang kalian tunggu? Embun sudah merestui, papa juga sudah sembuh. Jangan terlalu lama, takutnya dokter Afifah menemukan tambatan hati yang lain!" ujar Arya dingin.
"Tidurlah, tutup telingamu!" ujar Iman sinis, Arya memejamkan kedua matanya kembali. Afifah menunduk malu, mendengar perkataan Arya.
"Afifah, kamu bersedia tidak melahirkan putra untuk Iman!" ujar Arya santai, sontak Afifah menunduk.
__ADS_1