
"Kak Abra sudah pulang!" sapa Embun, sembari bangun dari tidurnya.
Abra terkejut melihat Embun masih terjaga. Malam sudah sangat larut, tepat pukul 00.00 WIB Abra tiba di rumah. Sejak pagi, Abra pergi ke rumah sakit. Abra mengunjungi tuan Ardi yang sedang dirawat di rumah sakit. Iman ikut bersama Abra, lalu pergi ke kantor. Sedangkan Arya memilih berada di rumah Embun. Arya ingin menjaga Embun dan Rafan. Setelah kedatangan Haykal, Arya takut Embun berpikir dangkal. Sebab itu dia memilih tinggal di rumah Embun.
Abra pergi menjenguk kakeknya Ardi. Sejak beberapa hari yang lalu. Tuan Ardi dirawat intensif di rumah sakit. Tuan Ardi jatuh di dalam kamar mandi. Tekanan darah tinggi yang dideritanya, membuat tuan Ardi mengalami gejala stroke. Abra cemas memikirkan Ardi, sebab Ardi bukan hanya kakek bagi Abra. Ardi menggantikan peran Haykal dan ibu baginya. Abra tak pernah merasa kesepian selama ada Ardi di sampingnya. Bahkan Ardi yang membuatnya menikah dan bahagia bersama Embun. Rasa cemas Abra semakin tak terkendalikan. Ketika dia melihat tubuh lemah sang kakek yang tak berdaya. Tuan Ardi tak sadarkan diri hampir dua hari. Kondisinya belum stabil sampai Abra menjenguknya di rumah sakit.
"Kamu belum tidur!" ujar Abra, lalu duduk di sofa panjang yang ada di kamarnya.
Embun menghampiri Abra, dia duduk tepat di depan Abra. Sengaja Embun sedikit menjauh, Embun ingin memberikan tempat yang cukup. Agar Abra bisa mengistirahatkan tubuh dan hatinya yang lelah. Nampak jelas lelah di wajah Abra. Rasa cemas akan kondisi sang kakek yang begitu mengkhawatirkan. Jelas membuat Abra gelisah dan takut kehilangan tuan Ardi selamanya.
"Aku sidah tidur, tapi terbangun ketika menyadari kedatanganmu!" ujar Embun lirih, Abra menatap lekat Embun.
Abra sengaja pulang larut malam, agar tidak menganggu Embun. Bahkan Abra masuk dengan cara mengendap-endap. Abra takut Embun terbangun dan melihat cemas di wajahnya. Abra sempat melihat Rafan yang tengah tertidur pulas di samping Embun. Sebab itu Abra merasa tidak tega, seandainya Embun terbangun karena mendengar kedatangannya.
"Maaf, jika aku berisik sampai akhirnya kamu terbangun!" ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku terbangun bukan karena suara langkah kaki kakak. Harum parfum yang kakak gunakan, tercium hidungku. Sebab itu aku menyadari, kalau kakak sudah datang!" sahut Embun santai, Abra mencium ketiaknya. Abra tidak mencium bau harum. Sebaliknya Abra mencium bau yang sedikit menyengat. Sebab Abra belum mandi sejak pagi. Abra hanya berganti pakaian saat akan sholat.
"Kakak tidak akan mencium apapun? Hanya aku yang bisa mencium harum tubuhmu. Bukan dengan hidung harum itu tercium, tapi dengan hati tulus aku mencium harum tubuh suamiku. Keringat kakak yang selalu aku rindukan, karena keringatmu yang menghidupiku selama ini!" ujar Embun penuh rasa cinta. Abra menatap haru Embun, wajah teduh yang menenangkan gelisah hatinya.
__ADS_1
Embun tersenyum menatap Abra, jelas Abra merasa heran dengan sikapnya. Kehangatan yang akan sulit terlihat. Namun apapun pendapat Abra tentang perkataannya? Embun tidak peduli, semua yang dikatakan Embun nyata dan apa adanya? Embun sempat heran dengan perubahan dalam dirinya. Entah sejak kapan? Abra selalu ada dalam langkah Embun.
Bau tubuh penuh keringat Abra, tercium begitu harum dan menenangkan bagi Embun. Hembusan napas hangat Abra, seakan api yang selalu menghangatkan tubuh Embun yang dingin. Menatap wajah Abra sebelum tidur, bak obat tidur yang membuatnya terlelap. Embun merasa dalam tiap detik hidupnya, hanya Abra yang membuatnya tenang.
"Sayang, jangan menggodaku. Kamu masih dalam masa nifas. Akan fatal akibatnya, seandainya aku khilaf dan menginginkanmu malam ini!" sahut Abra, Embun tersenyum menggoda. Abra mengusap wajahnya kasar, ada hasrat yang mulai mengusik dalam hatinya. Jelas Abra merasakan hangat dalam tatapan Embun. Darah Abra seakan mendidih mendengar kekaguman Embun padanya.
"Terserah, kakak menganggap perkataanku tak lebih godaan atau sebuah kejujuran. Aku tidak mengharapkan kepercayaanmu. Sebab cintaku tidak butuh pengakuan!" ujar Embun dingin, Abra terkekeh melihat raut wajah kesal Embun.
Perlahan Abra menghampiri Embun, Abra duduk tepat di samping Embun. Lalu dengan penuh kelembutan, Abra menangkup wajah Embun. Menatap lekat dua mata indah Embun. Abra menempelkan keningnya, Abra dan Embun bernapas hampir bersamaan. Hembusan napas keduanya terasa panas menyentu pipi. Abra menyibak rambut Embun yang menutupi telinga. Embun merasakan desiran hangat mengalir dalam nadinya.
Cup....**Cup**...
Abra mencium kedua telinga Embun bergantian, Embun merasakan hangat yang membuat tubuhnya tak berkutik. Sesaat Embun hanyut dalam hangat cinta Abra. Keduanya meluapkan hasrat yang terpendam jauh dalam hati. Tangan Abra terus bergerilya, Abra menyibak rambut panjang Embun. Abra mencium lembut tengkuk Embun. Sontak tubuh Embun bergetar, Abra semakin berhasrat dan lupa akan kondisi Embun. Lama keduanya melampiaskan gairah yang mulai mengusik ketenangan hati dan pikiran.
"Sayang, dimana yang sakit?" ujar Abra cemas, Embun merintih tangannya memegang perut yang tanpa sengaja ditekan Abra.
"Sayang, maafkan aku!" ujar Abra cemas, lalu dengan lembut Abra mengelus lembut perut Embun. Berharap rasa sakit Embun berkurang.
"Aku baik-baik saja!" ujar Embun, Abra tidak peduli perkataan Embun. Dengan penuh kasih sayang, Abra mengelus lembut perut Embun. Perlahan tapi pasti, rasa sakit Embun mulai berkurang dan menghilang.
__ADS_1
"Kakak bisa melihatnya sendiri. Inilah cinta, bisa menyembuhkan dan melukai. Kakak begitu merindukanku, sampai kakak lupa akan masa nifasku. Bahkan tanpa sengaja kakak menekan perutku dengan begitu eratnya. Sekarang dengan tangan penuh cintmu, kakak menghilangkan rasa sakit ini!"
"Sayang, kamu sedang kesakitan. Jangan bercanda!" sahut Abra dengan raut wajah cemas.
"Aku baik-baik saja, tanganmu menyembuhkan sakitku!" ujar Embun, lalu menarik tangan Abra. Mendekap erat telapak tangan Abra.
Cup
"Terima kasih selalu ada dalam sakitku!" ujar Embun, sesaat setelah mencium lembut tangan Abra.
"Sayang, maafkan aku!" ujar Abra penuh rasa bersalah.
"Percayalah, aku baik-baik saja. Sekarang bersihkan dirimu, agar kakak tenang. Aku akan ke dapur menyiapkan makan malam untukmu!" ujar Embun, berdiri meninggalkan Abra.
"Sayang, aku tidak lapar!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun.
"Kakak tidak lapar, tapi aku dan Rafan lapar. Aku mengetahui benar, jika kakak tidak akan makan malam dengan benar tanpaku. Sebab itu aku juga menahan lapar, agar bisa makan malam denganmu. Ingat kak Abra, jika aku lapar artinya putramu juga lapar!" sahut Embun santai, Abra melepaskan tangan Embun.
"Kalau begitu tunggulah, aku yang mengambikan makan malam!"
__ADS_1
"Tidak perlu, aku cukup kuat untuk menyiapkan makan malam suamiku. Sudah tugasku menghilangkan haus dan laparmu. Namun hanya sebatas makan malam, bukan haus dahaga cintamu!" ujar Embun menggoda Abra. Sontak Abra mengusap wajah kasarnya. Abra menatap penuh cinta punggung Embun yang menghilang.
"Maafkan aku hasratku, sementara waktu kamu harus berpuasa. Kalau sudah saatnya, kamu bisa berbuka sepuasnya!" batin Abra dalam hati.