
Setelah pertemuannya dengan Embun, Haykal mengalami ketakutan yang luar biasa. Kecurangan yang dilakukannya, dengan mudah membuatnya mendekap dalam jeruji besi. Besar dana yang telah diambilnya, dengan nyata akan membuat perusahaannya hancur. Haykal tak mampu berpikir, hanya ada cemas dan gelisah dalam pikirannya. Andi staf yang siap dilaporkan Embun. Merupakan saksi kunci yang mengetahui kecurangan Haykal. Seandainya Embun benar-benar melaporkan Andi. Secara otomatis namanya akan terseret dan masuk ke dalam dinginnya penjara.
"Abra!" teriak Haykal dengan suara bergetar. Haykal memutuskan mencari Abra, Haykal melupakan rasa malunya. Haykal datang mengetuk pintu rumah Abra. Meski Haykal datang dengan amarah, tetap saja dia akhirnya mengetuk pintu rumah putranya.
"Papa!" sapa Ibra lirih. Haykal menoleh, dia melihat Ibra datang bersama Nissa.
Haykal menatap penuh amarah, dia menarik tangan Ibra kasar. Seakan dia tidak menyukai kedekatan antara Ibra dan Nissa. Asisten pribadi Embun yang membongkar kecurangan Haykal dan Andi. Seseorang yang membuat Haykal harus berurusan dengan ancaman penjara. Ibra merasa heran, ketika melihat Haykal menarik tangannya kasar. Sebaliknya Nissa hanya diam, tak peduli dengan pendapat Haykal. Dengan santai tanpa ada beban, Nissa berjalan melewati Haykal dan Ibra.
"Kenapa kamu bisa dekat dengan wanita itu?" ujar Haykal kasar penuh emosi, Ibra menatap heran ke arah Haykal.
Ibra merasa aneh dengan kebencian Haykal pada Nissa. Sebab Haykal baru pertama kali bertemu Nissa dan tidak ada masalah dengan Haykal sebelumnya. Ibra menepis tangan Haykal, merasa amarah dan sikap Haykal terlalu berlebihan. Haykal semakin emosi dengan sikap Ibra yang tak sepaham dengannya.
"Sebaliknya aku penasaran, kenapa papa bertanya dengan nada penuh amarah? Seolah kedekatanku dengan Nissa mengganggu papa!" sahut Ibra tegas dan dingin, Haykal meradang mendengar pembelaan diri Ibra.
"Kamu melawan papa demi wanita itu. Dia wanita yang membuat papa masuk penjara. Dia dan Embun gadis desa itu, melaporkan papa ke kantor polisi!" ujar Haykal lantang, suara keras dan kasar Haykal menggema di ruang tamu.
Suara Haykal terdengar oleh Abra yang tengah berada di ruang tengah. Embun baru saja masuk ke kamar. Embun menidurkan Rafan, sebab Embun akan ada rapat dengan Nissa. Abra yang tengah sibuk dengan ponsel pintarnya, langsung mematikan ponselnya dan berlari menghampiri Haykal. Abra terkejut melihat Haykal dan Ibra tengah berdebat di ruang tamu rumahnya.
"Kenapa kalian bertengkar? Apa yang sebenarmya terjadi?" ujar Abra, Ibra dan Haykal langsung menoleh. Nampak jelas amarah keduanya, perselisihan yang seharusnya tidak terjadi. Seolah tak lagi bisa dihindari.
__ADS_1
"Tanyakan pada papa, dia marah tanpa alasan!" ujar Ibra kesal, lalu masuk ke dalam rumah Abra. Haykal semakin marah dengan sikap Ibra yang melawan dirinya. Abra terdiam, melihat sikap Haykal dan Ibra.
"Sudahlah, lupakan sikap tak pantas Ibra. Lebih baik sekarang kita masuk, kita bicara di ruang kerjaku!" ujar Abra, Haykal menggeleng lemah. Haykal menggenggam erat tangan Abra, tatapannya sayu jelas menyiratkan rasa cemas.
"Ada apa? Kenapa papa terlihar begitu cemas?"
"Kamu harus menolong papa!" ujar Haykal lirih, Abra semakin tidak mengerti. Abra menuntun Haykal masuk ke dalam rumahnya. Haykal dan Abra duduk bersama di ruang tamu.
Haykal mengatakan semua yang terjadi tadi siang. Pertemuannya dengan Embun, sikap Embun yang tegas dan dingin padanya. Ancaman Embun yang akan melaporkan dirinya. Haykal mengatakan semuanya dengan penuh ketakutan. Haykal menunjukkan rasa tidak berdayanya. Menghiba belas kasihan dari Abra putranya. Abra terdiam membisu, dia berada di posisi yang tidak biasa. Abra bingung harus memihak siapa? Embun dan Haykal bagian dalam hidupnya, dia tidak mungkin membela salah satu dan menyalahkan yang lainnya.
"Apa yang harus Abra lakukan?" ujar Abra lirih, Haykal menatap tajam Abra. Haykal menatap penuh harap, agar Abra bersedia membantunya.
"Katakan pada istrimu, agar dia mencabut laporannya. Aku papamu bukan orang lain, tidak sepantasnya dia melaporkan ayah mertuanya!"
"Jadi kamu berharap papa di penjara!" sahut Haykal sinis, Abra menggelengkan kepalanya pelan. Abra bingung akan berada di pihak yang mana. Embun bersikap tegas, mungkin dengan alasan yang kuat. Abra percaya, Embun melalukan semuanya dengan pertimbangan yang matang dan bukti yang kuat.
"Nissa!" panggil Abra lantang, Nissa yang berada di ruang tengah langsung menghampiri Abra. Ibra merasa ada yang salah, sebab itu dia mengikuti Nissa sampai di ruang tamu.
"Ada apa kak?" sahut Nissa lirih, Abra mengisyaratkan Nissa untuk duduk. Ibra memilih duduk tidak jauh dari Nissa. Agar Ibra bisa mendengarkan semuanya dengan jelas.
__ADS_1
"Nissa, apa yang terjadi pada perusahaan tuan Haykal? Bukti apa yang dimiliki Embun? Sampai Embun ingin melaporkan tuan Haykal. Satu lagi, berapa besar kerugian yang dialami perusahaan Adijaya!" ujar Abra tegas, Nissa langsung mendongak menatap Abra dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Ibra merasa bingung dengan perkataan Abra. Meski Ibra mencari cara memahami masalah. Ibra tetap tidak mengerti.
"Nissa!" sapa Abra dingin, saat melihat Nissa tetap diam. Nissa menghidupkan laptop miliknya.
Dengan perlahan Nissa menjelaskan semuanya. Kecurangan seperti apa yang dilakukan Haykal? Besar dana yang di korupsi Haykal. Bukti-bukti yang menunjukkan transaksi palsu yang sengaja direkayasa Haykal. Termasul resiko yang akan dialami perusahaan Adijaya dan kemungkinan terburuk yang akan diterima perusahaan Haykal. Nissa menjelaskan dengan sangt jelas, tanpa ada rekayasa.
Abra seketika terdiam, Ibra langsung menunduk merasa malu. Abra dan Ibra tidak percaya Haykal mampu melakukan semua itu. Dengan penuh rasa marah, Ibra menoleh ke arah Haykal. Sedangkan Abra hanya bisa diam, tak ada kata yang mampu terucap. Haykal benar-benar salah.
"Apa Embun sudah membuat laporan kepolisian?"
"Besok pagi, ibu akan melakukannya. Malam ini kami mengumpulkan semua bukti. Ibu ingin mendisiplinkan seluruh staf perusahaan tuan Haykal. Bahkan besok pagi, akan ada staf khusus yang memegang seluruh jabatan penting di perusahaan tuan Haykal!"
"Secepat itu Embun bertindak!"
"Maaf kak Abra, aku tidak bisa mengatakan melebihi kapasitasku. Ibu melaporkan atau tidak, tentu beliau memiliki pertimbangan sendiri. Apalagi kerugian yang dialami perusahaan Adijaya tidak sedikit. Hampir separuh dana yang dicairkan, menghilang tanpa pertanggungjawaban!"
"Nissa, kamu pasti mengetahui cara menghindar dari laporan kepolisian!" sahut Ibra.
"Tuan Haykal harus mempertanggungjawabkan semuanya di depan dewan direksi. Tuan Haykal mengembalikan dana yang sudah digunakannya. Satu lagi kak Abra, tuan Haykal akan diberhentikan sementara dari jabatannya sekarang!" ujar Nissa menerangkan, Abra menggeleng tak percaya.
__ADS_1
"Istrimu kejam Abra!" ujar Haykal emosi.
"Kenapa kamu begitu dingin sayang?" batin Abra.