
"Papa Arya!"
"Ada apa Abra? Sahut Arya, Abra menatap bingung ke arah Arya.
Sebaliknya Arya yang merasa ada hal aneh dari cara pandang Abra. Langsung menatap Abra, seakan menunggu maksud dari panggilan Abra. Arya sengaja tinggal di rumah Abra. Dia ingin memantau kondisi Embun, Arya tidak ingin dirinya lalai dalam mengawasi Embun. Iman juga ada di rumah Abra, hanya saja Iman tengah berada di kamar tamu. Beberapa hari menjaga Dewangga di rumah sakit. Membuat tubuh Iman sedikit lelah dan butuh banyak istirahat.
"Katakan, tidak perlu ragu. Aku tidak akan marah atau tersinggung. Selama pertanyaanmu tidak untuk menyakiti Embun!" ujar Arya tegas, ketika menyadari kebingungan Abra.
"Apa benar papa ingin menikah dengan Nur?"
"Kata siapa?" sahut Arya, Abra terdiam menunduk.
"Jangan katakan, kamu percaya dengan perkataan Iman!" ujar Arya, Abra mengangguk pelan.
"Aku pikir papa benar-benar ingin menikah dengan Nur!" ujar Abra lirih, Arya menggelengkan kepalanya lemah.
"Aku tidak mungkin menikah dengan Nur, dia sahabat putriku. Masa depannya masih sangat panjang. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagian Nur. Dia pantas bahagia dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari papa!"
"Syukurlah!" ujar Abra lega, Arya langsung menoleh.
"Kenapa kamu senang? Jangan katakan, kamu menyukai Nur!" ujar Arya, Abra menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Aku lega, karena Ibra tidak jadi patah hati!"
"Ibra adikmu? Dia menyukai Nur!" ujar Arya, Abra mengangguk pelan.
"Kenapa dia tidak mengatakannya pada Nur? Jika terlalu lama, meski bukan papa. Takutnya nanti ada laki-laki yang meminang Nur!" ujar Arya, Abra menunduk.
"Haykal, dia yang membuat adikmu ragu mengatakannya pada Abra!" ujar Arya sinis, Abra hanya diam membisu. Arya tersenyum melihat diam Abra. Sebuah isyarat yang sudah bisa menjawab pertanyaan Arya.
"Entahlah pa? Apa mungkin cinta Ibra bersatu dengan Nur? Sedangkan hubunganku dengan Embun, tidak pernah mendapat restu dari papa!"
"Sudahlah Abra, Haykal kelak berurusan denganku. Saat ini, aku hanya diam melihat sikap Haykal. Aku masih menjaga ketenangan Embun. Kalau saatnya tiba, akan tiba saatnya Haykal berhadapan denganku!" ujar Arya lantang, Abra semakin membisu. Dia merasa bingung, ketika dia harus berhadapan dengan papanya sendiri.
__ADS_1
"Terserah papa!"
"Tenang Abra, aku tidak akan bersikap berlebihan pada Haykal. Aku hanya ingin dia mengerti, jika putriku layak dihargai!" ujar Arya, Abra mengangguk pelan.
Abra menghela napas, melepaskan sejenak beban yang ada dalam pikirannya. Arya tersenyum melihat Abra yang terlihat tenang. Meski dalam hatinya penuh dengan beban. Abra menjadi sosok pelindung yang tepat untuk Embun. Dengan sikap keras kepala Embun yang terkadang melewati batas.
"Abra!" sapa Arya, Abra menoleh ke arah Arya.
"Terima kasih!"
"Untuk apa?" sahut Abra, Arya menepuk pelan pundak Abra.
"Terima kasih, kamu telah melindungi Embun. Kasih sayangmu begitu besar pada putriku. Kesabaranmu tak terbatas, ketika menghadapi sikap keras kepala Embun. Kamu suami yang sangat peduli pada Embun. Sampai kamu diam menerima sikap keras kepala Embun yang kelewatan. Sedangkan aku tidak pernah bisa mengendalikan sikap kerasku. Sikap yang kini menurun pada Embun!" ujar Arya, Abra diam menatap nanar Arya.
"Aku masih terus belajar memahami Embun. Terkadang aku kesal dan marah melihat sikap keras kepalanya. Namun aku selalu mengalah, tapi bukan berarti aku kalah. Aku diam, bukan karena aku takut kehilangannya. Aku hanya berusaha mengenal Embun. Belajar memahami sikap kerasnya, agar dia aku bisa terus menyayanginya!"
"Namun sikap kerasnya tidak seharusnya. Embun seorang istri yang harus menurut pada suaminya. Sikap keras Embun, seakan pembangkangan akan kewajibannya!" ujar Arya lirih.
"Embun mungkin keras kepala, dia selalu bersikap sesuka hatinya. Namun sesungguhnya, Embun sangat menghargaiku. Dia tidak pernah ingin melihat cemasku. Mungkin menurut semua orang, Embun tak lebih dari istri durhaka. Namun sebenarnya pemikiran itu salah, Embun keras akan sesuatu yang dia pikir benar dan mampu dia tahan. Dengan catatan, dia tidak akan melebihi kodratnya sebagai seorang istri. Sedangkan aku berusaha mengerti sisi kerasnya. Jika aku bersikap keras sama sepertinya. Maka pernikahan kami hanya akan dipenuhi perselisihan. Kami berdua lahir dengan sikap dan pemikiran yang berbeda. Hanya dengan saling memahami, kami bisa saling mengerti!"
"Papa Arya, Embun wanita terbaik yang pernah aku kenal. Dia wanita sempurna yang membuatku bahagia. Namun dalam setiap kesempurnaan, ada satu sisi cacat yang tak nampak. Sikap keras kepalanya, menjadi sisi yang takkan mudah aku ubah. Namun aku percaya, waktu akan membuat Embun menyadari kesalahannya. Keyakinanku akan membuat Embun luluh padaku. Kelak Embun akan bergantung sepenuhnya padaku!"
"Pengertian yang tidak akan pernah bisa aku berikan. Alasan aku kehilangan Almaira!"
"Papa, Embun mungkin sekeras batu. Namun ada sisi rapuh yang akan pecah. Ketika tetes demi tetes pengertianku menghancurkan sikap kerasnya. Aku belajar memahaminya, sebaliknya Embun belajar mengerti lukaku!"
"Termasuk kamu diam, ketika Nur menggantikan posisimu saat Embun sakit!"
"Jangankan aku, abah Iman yang membesarkan Embun akan menepi. Nur tidak pernah menggantikan posisi siapapun? Dia sama sepertiku dan abah Iman yang mengkhawatirkan Embun. Sesungguhnya Embun menurut pada Nur, hanya karena satu hal!"
"Apa itu?"
"Nur mengetahui titik lemah Embun. Ada sesuatu yang membuat Embun mengangguk meminum obat. Lebih tepatnya memaksa Embun!"
__ADS_1
"Aku pikir Embun hanya menurut pada Nur!"
"Papa salah, Embun dan Nur memiliki hubungan yang tidak mudah dipahami. Kedekatan saudara yang melebihi saudara kandung!"
"Kamu sangat mencintai Embun!" ujar Arya bangga, Abra mengangguk.
"Keras kepala Embun, membuatku belajar banyak hal. Bukan mengalah karena kalah, tapi mengerti demi memahami. Arti sesungguhnya dari sebuah cinta sejati!"
"Kamu laki-laki sejati Abra, tidak mementingkan sikap keras demi menang sendiri!"
"Embun putrimu yang membuatku belajar arti mencintai. Dia segalanya dalam hidupku!" ujar Abra, Arya mengangguk seraya tersenyum penuh haru.
"Kak Abra!" sapa Embun, Abra dan Arya menoleh. Nampak Embun berdiri tak jauh dari mereka. Tubuh Embun lemas dan berjalan sempoyongan.
"Sayang, kenapa bangun dari tempat tidur?" ujar Abra cemas, Embun berjalan menghampiri Abra.
"Aku bosan di dalam kamar. Aku ingin tidur di luar!" rengek Embun, Abra mengangguk pelan.
"Baiklah, kamu bisa tidur di sofa. Aku dan papa akan menjagamu!" ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kamu ingin tidur dimana?" ujar Arya, Embun menunjuk ke lantai beralaskan karpet tepat di depan televisi.
"Embun, kamu masih sakit. Kalau tidur di lantai, kamu pasti kedinginan!" ujar Arya lagi, Embun mendongak menatap Abra. Dua matanya memelas, Abra menghela napas pelan.
"Baiklah, kamu tidur di sana. Asalkan kamu tidur di pangkuanku!" ujar Abra mengalah, Embun mengangguk pelan.
"Terima kasih kak!" ujar Embun sembari tersenyum bahagia. Arya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ketika melihat Embun tidur di lantai berbantalkan kaki Abra.
"Sayang, kalau sudah kedinginan. Kamu janji pindah ke kamar!" ujar Abra, Embun mengangguk sembari menutup mata.
Tak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari bibir Embun. Arya mengambilkan selimut untuk Embun. Dengan penuh kasih sayang, Arya menyelimuti Embun. Nampak Arya mengusap keringat dingin yang keluar dari pelipis Embun. Abra dengan sabar, membiarkan Embun tidur meringkuk berbantalkan kakinya. Meski untuk itu, Abra harus menahan kakinya yang mulai kesemutan.
"Sabar Abra, keinginan ibu hamil terkadang aneh-aneh. Papa menyesal telah kehilangan masa itu. Sekarang papa sadar, betapa menderitanya Almaira tanpa papa? Padahal saat itu, dia sangat membutuhkan papa. Dengan segala keinginan yang tak bernalar!"
__ADS_1
"Selama Embun dekat denganku dan semua demi putraku. Aku tidak akan ingin kehilangan waktu paling berharga. Apalagi saat Embun bersikap manja seperti ini. Ini moment langka dan sulit aku dapatkan kembali!" ujar Abra lirih, takut Embun terbangun.
"Maafkan papa sayang, tak pernah ada di saat-saat mama membutuhkan papa. Dia harus menuruti semua keinginanmu, tanpa berpikit menyulitkan papa. Bahkan papa telah mengacuhkan masa indah itu. Maafkan papa sayang, maaf!" batin Arya sembari menatap Embun lekat.