KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kegelisahan Ibra


__ADS_3

"Kak, dimana Nur?"


"Kenapa mencarinya di sini? Dia tidak ada, mungkin di rumah kostnya!" ujar Abra dingin, Ibra menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah mencarinya ke sana. Namun pintunya terkunci dan lampu teras posisi hidup. Jelas dia keluar, aku pikir di datang kemari!" ujar Ibra gelisah, Abra mengangkat kedua bahunya.


Abra berjalan menuju sofa, meninggalkan begitu saja Ibra yang sedang kebingungan. Ibra kalut memikirkan Nur, ketika dia mendengar berita tentang pinangan Arya. Tanpa sengaja Abra telah menghubungi Ibra. Menceritakan tentang rencana pinangan Arya. Sontak Ibra yang tengah berada di luar kota langsung pulang. Dia ingin mendengar secara langsung kebenaran berita itu dari mulut Nur. Namun kekalutannya berubah menjadi gelisah. Saat dia tidak menemukan Nur di kantor atau di tempat kost Nur.


"Minumlah dulu Ibra, tenangkan dirimu. Mungkin Nur pulang ke desa. Ada acara penting yang harus dia hadiri!" ujar Abra santai, mengacuhkan gelisah dan kalut yang dirasakan Ibra.


Abra sengaja pura-pura tidak tahu. Dia tidak ingin terlalu ikut campur. Ibra sudah dewasa, bagi Abra sudah saatnya Ibra belajar mandiri. Ibra harus bisa memutuskan yang baik untuk dirinya. Tanpa bertanya atau bergantung pada orang lain. Termasuk tentang keputusannya akan hubungannya dengan Nur. Ibra harus bisa memutuskan, berjuang mendapatkan cinta Nur atau diam mengikuti rasa takutnya pada Haykal. Sebuah keputusan besar yang harus diambil Ibra demi cintanya pada Nur.


Buuuukkk


Ibra menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke arah sofa. Jelas Ibra bingung dengan hubungan yang akan dipilihnya bersama Nur. Hanya mendengar berita tidak jelas, Ibra sudah kalang kabut. Apalagi jika Ibra melihat Nur menikah dengan orang lain. Mungkin dunia Ibra runtuh tepat di atas kepalanya.


"Aku harus bagaimana?" ujar Ibra lirih, Abra menoleh ke arah Ibra.


Abra melihat tubuh Ibra lemah tanpa tenaga. Abra tersenyum dalam hati, dia bisa merasakan kebingungan Ibra. Sebab dia pernah merasakan, apa yang dirasakan oleh Ibra dulu? Rasa yang bercampur aduk dengan rasa sakit tak bernanah. Abra bisa merassakan galau hati adiknya. Namun untuk urusan hati, sepenuhnya Abra tidak bisa ikut campur.


"Kak, bantu aku. Bujuk kak Embun, agar dia membantuku mendapatkan kepercayaan Nur. Dia sahabat Nur, pasti bisa meluluhkan hati Nur. Setidaknya membuat Nur berani berjuang bersamaku!"


"Tidak!"


"Kak Abra, aku mohon!" pinta Ibra memelas, Abra menggelengkan kepalanya lemah.


"Embun tidak mudah dibujuk. Apalagi Nur yang notabene keras akan prinsipnya. Jika memang kamu begitu mencintainya. Berjuanglah mendapatkan restu dari papa. Setelah itu, baru kamu perjuangkan cinta Nur!" ujar Abra tegas, Ibra menunduk lemah.


"Bagaimana caranya? Kakak yang begitu hebat, tidak bisa membuat papa menerima kak Embun. Apalagi aku yang biasa ini, status seolah menjadi hal paling menakutkan sekarang!"


"Jika papa tidak mungkin, kamu masih punya mama Indira. Katakan padanya tentang isi hatimu. Jika dia setuju, mungkin mama Indira bisa membuat Nur memahami atau mungkin menerima cintamu!" ujar Abra santai, sembari terus bermain dengan ponsel pintarnya. Sontak Ibra menoleh, ada guratan kebahagian di wajahnya. Dua mata sayu Ibra berubah binar. Ketika Abra mengatakan jalan yang begitu sulit dia dapatkan.


"Kak Abra, aku menyayangimu!" teriak Ibra, sembari memeluk Abra dengan sangat erat. Abra meronta berusaha melepaskan pelukan Ibra. Namun kebahagian Ibra begitu besar. Sampai dia tidak ingin melepaskan pelukannya pada Abra.


"Lepaskan Ibra, nanti ada yang melihat!"


"Aku menyayangimu!" teriak Ibra lantang, Abra terus meronta berharap lepas dari pelukan Ibra.


"Patah hati membuatmu kehilangan akal!" ujar Arya santai, lalu duduk tepat di depan Abra dan Ibra. Seketika Ibra melepaskan pelukannya. Dia malu ketika Arya melihatnya memeluk Abra. Sedangkan Abra terlihat kesal, sebab Ibra membuatnya malu di depan Arya.

__ADS_1


"Aku masih sehat om Arya!"


"Lalu, apa yang baru saja aku lihat?"


"Papa, jangan salah paham. Ibra sedang kalut, dia bingung mencari Nur!" sahut Abra, Arya mengangguk mengerti. Lalu menoleh ke arah Ibra.


"Kenapa mencari Nur? Kamu ada urusan!" cecar Arya dingin, dengan tatapan tidak suka. Abra dan Ibra heran dengan tatapan Arya. Seolah Arya sedang cemburu mendengar Ibra mencari Nur.


"Ada yang harus aku bicarakan!"


"Apa?" sahut Arya dingin, Ibra menunduk ketakutan. Arya tersenyum melihat Ibra, dia telah berhasil membuat Ibra ketakutan.


"Kalau menghadapiku saja kamu takut, bagaimana menghadapi Haykal? Sampai kapan kamu akan diam? Jangan sampai aku benar-benar meminang Nur!" ujar Arya, Ibra langsung mendongak.


"Jangan!" teriak Ibra, Arya diam menatap Ibra.


"Ingat Ibra, Nur tidak akan menunggu. Jangan sampai ada laki-laki yang mengetuk pintu rumahnya sebelum kamu!" ujar Arya tegas, Ibra menghela napas. Abra menepuk pelan pundak Ibra. Sebuah kehangatan yang ingin ditunjukkan Abra sebagai seorang kakak.


"Perkataan papa bukan sebuah ancaman, sebaliknya jadikan itu sebagai semangatmu berjuang. Jika memang rasa itu ada, gapai dan raih kebahagianmu. Kamu seorang laki-laki yang harus bisa mengambil keputusan. Jika memang Nur, wanita yang dipilih hatimu. Maka yakinkan dia, jika hatimu tidak pernah salah. Sebaliknya, jika papa seorang ayah yang kamu hormati. Buktikan padanya, jika cintamu takkan merubah rasa hormatmu padanya. Jangan mengeluh dengan kondisimu, ada banyak rintangan yang kelak akan kamu hadapi. Papa salah satu cara menguji kesungguhanmu. Sedangkan prinsip Nur tak lebih dari pasrah dan ikhlas akan jalan-NYA. Nur tidak akan menolak atau memintamu meminangnya, tapi dia tidak akan melarang orang tuanya menerima pinangan imam sebelum kamu. Aku hanya bisa mendukungmu, tidak lebih dari itu. Sebab ada jodoh yang tidak mungkin bisa kita lawan. Kehendak sang pemilik hidup, sekaligus pemilik hati dan pembolak-balik hati. Kakak percaya, ketulusan rasamu akan menyatukan kalian!"


"Kenapa papa harus berpikir serendah itu?" ujar Ibra lirih, Abra menggelengkan kepalanya. Abra tidak terlalu dekat dengan Haykal. Sikap keras dan angkuh Haykal tak pernah Abra pedulikan. Kini hanya menjaga ketenangan Embun, alasan Abra memilih diam.


"Papa tidak sendiri sekarang, tinggal sedikit lagi. Embun akan menyadari dan mengakui kasih sayangmu. Selama itu belum terjadi, aku akan menjadi putramu. Anggap aku layaknya putra kandung dan percayakan sepenuhnya Embun padaku!" ujar Abra, Arya menepuk pelan tangan Abra. Isyarat dia mengiyakan perkataan Abra.


"Papa!" sapa Embun, Abra menoleh tapi tidak bisa berdiri. Ibra bersandar pada tubuh Abra. Seolah dia butuh sandaran yang kokoh.


"Sayang!" sahut Arya haru, Embun menghampiri Arya. Embun duduk tepat di samping Arya, lalu menyadarkan kepalanya di lengan Arya.


"Maafkan Embun, maaf!" ujar Embun lirih, sembari menutup mata. Kepalanya masih sangat berat, Arya terdiam mematung. Dia tidak percaya mendengar Embun memanggilnya papa. Sebaliknya Abra tersenyum bahagia, akhirnya Embun bersedia menerima kehadiran Arya.


"Lalu, aku bagaimana?" ujar Ibra sembari bersandar pada tubuh Abra. Ibra merasa sedih, ketika merasa hanya dia yang sedang bingung. Sedangkan Arya sudah mendapatkan pengakuan dari Embun.


"Berjuang!"


"Caranya!" sahut Ibra tetap dengan posisi semula.


"Pikirkan sendiri!"


"Kak, bantu aku!" ujar Ibra, Abra menggelengkan kepalanya. Abra menyenggol kepala Ibra, berharap Ibra menjauh darinya.

__ADS_1


"Awas Ibra, kepalamu berat!" ujar Abra lantang, Ibra malah memeluk erat Abra.


"Kak Abra, katakan pada Nur!" ujar Ibra memelas, Abra menggelengkan kepalanya.


Embun tersenyum mendengar suara Ibra yang tengah merengek seperti anak kecil. Sejak tadi Embun sudah mendengar pembicaraan antara Arya, Abra dan Ibra. Namun dia memilih diam, agar Ibra bisa berjuang mendapatkan Nur sendiri. Embun ingin melihat kesungguhan Ibra. Agar Embun bisa tenang menyerahkan Nur pada Ibra. Kebahagian Nur segalanya bagi Embun.


"Apa yang harus aku dengar?" sahut Nur dingin, Ibra langsung menoleh dan berhambur menghampiri Nur.


"Kemana saja kamu pergi? Aku bingung mencarimu. Ponselmu tidak bisa dihubungi. Aku pergi ke kost, kamu sudah pergi. Aku ke kantor, kamu sudah pulang. Hampir saja aku kehilangan akal mencarimu!" cerocos Ibra tanpa henti, Nur melongo menatap Ibra.


"Apa urusanmu kemana aku pergi? Kamu bukan siapa-siapaku? Aku bisa pergi kemanapun tanpa izinmu? Kenapa kamu harus marah?" sahut Nur tak kalah cerewet dari Ibra.


"Nur!" teriak Ibra, sembari mengikuti langkah Nur menuju dapur.


"Apa lagi Ibrahim Dwi Abimata?" sahut Nur kesal.


"Kamu pergi kemana?"


"Bukan urusanmu, minggir aku sibuk!"


"Itu urusanku, kamu calon istriku!" sahut Ibra tegas, Nur diam menatap Ibra.


"Perkataanmu tidak lantas membuatku menjadi istrimu. Pulanglah dan bersihkan dirimu, agar pikiran dan jiwamu tenang!" sahut Nur dingin dan ketus.


"Aku akan meminangmu!" ujar Ibra lantang, Nur diam tak peduli dengan perkataan Ibra.


"Kak Abra, benarkan aku akan meminang Nur?" teriak Ibra, Abra menggelengkan kepala.


"Aku tidak tahu!" ujar Abra, sengaja menggoda Ibra.


"Kak Abra, tadi kita sepakat!" ujar Ibra lantang.


"Aku tidak tahu, selesaikan sendiri masalahmu!" sahut Abra lantang.


"Nur, percayalah aku akan meminangmu!" ujar Ibra, Nur diam membisu.


"Jangan hanya bicara, buktikan!" sahut Nur dingin dan sinis, lalu menjauh dari Ibra.


"Pasti!" sahut Ibra lirih.

__ADS_1


__ADS_2