KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Di Bawah Gerimis Malam


__ADS_3

Langit malam yang semula cerah, nampak mulai mendung. Sinar bulan sembunyi, tergantikan langit merah. Dingin malam semakin terasa menusuk ke tulang. Kala angin berhembus membawa uap pertanda sang hujan ingin menyapa. Suara gemuruh petir yang bersahutan. Menambah syahdu malam, memecah sunyi yang tercipta. Tak terdengar suara merdu hewan malam. Melodi indah kala malam cerah, menghilang bersamaan dengan rintik gerimis yang mulai menyapa.


Nampak Embun berdiri di balkon rumah megagnya. Balkon yang terletak di lantai paling atas rumahnya. Tempat favorit Embun di kala galau menyapanya. Embun berdiri dengan tangan bertumpu pada pagar besi balkon. Rumah yang terletak di salah satu kawasan elit. Rumah megah nan mewah, istana keluarga kecilnya tinggal. Berdiri kokoh di atas luas tanah yang tak tanggung-tanggung. Bangunan yang seolah mampu menggapai langit tinggi. Meski sampai kapanpun takkan pernah semua itu nyata? Embun menengadah menatap langit yang tak bersahabat. Merasakan tetes demi tetes air yang menyentuh lembut wajahnya. Gerimis yang seakan mengerti air matanya. Embun tertunduk merasakan air mata langit yang menyapa tubuh mungilnya.


Embun diam merasakan dingin malam. Tulangnya begitu kuat, seakan dingin tak mampu membeku tubuhnya. Embun tak lagi peduli kondisi sekitar, benaknya penuh dengan gelisah yang tak mampu dikatakannya. Kecemburuan yang nyata terasa di hatinya. Embun gelisah mencari ketenangan dalam ketakutan akan kehilangan cinta Abra.


Huuufff


Suara hembusan napas Embun, lemah tapi serasa mengalahkan suara angin yang berhembus. Embun merasa kalut dengan rasa cemburu di hatinya. Entah kenapa Embun gelisah memikirkan kejadian di kantor Abra. Kecantikan dan keanggunan Sabrina, nyata mengusik kepercayaan diri Embun. Pesona seorang wanita yang dengan mudah menarik perhatian lawan jenis. Kepintaran Sabrina menjadi daya tarik tersendiri. Kelebihan yang akan membuat, laki-laki luluh dalam pesona Sabrina. Tidak terkecuali Abra laki-laki tampan dan mapan. Alasan kecemburuan yang kini mengusik ketenangan Embun.


Rintik gerimis semakin deras menyentuh tubuh Embun. Hijab panjang yang dikenakannya mulai basah. Namun Embun tak bergeming, dia tetap berdiri tegak di samping besi pembatas balkon. Embun tak lagi merasakan dingin, hanya gelisah dan rasa takut yang menyelimuti hatinya. Cintanya pada Abra mulai tak sehat, tidak ada lagi kepercayaan. Embun mulai ketakutan akan jarak yang ada diantara dirinya dengan Abra.


"Kenapa aku harus cemburu? Saat aku menyadari, cinta diantara kita memang ada. Bagaimana mungkin aku marah padamu? Saat waktu dan tubuhmu, tersita demi memenuhi kebahagianku. Tak seharusnya aku kecewa akan sibukmu? Bila lelah dan letihmu ada karenaku. Jujur, aku mungkin naif dengan rasa cemburu ini. Namun cemburu ini nyata, ketika aku melihat dirimu bersama dengan wanita. Kepercayaanku hancur, kala hati dan benakku memikirkan dirimu bersamanya di ruang tertutup. Mungkin aku terlalu posesif, tapi rasa sakit ini membuatku sesak. Tangis Rafan hanyalah alasan, tapi tangis di dalam hatiku itu kenyataan. Kak Abra, aku tak dapat menenangkan kegelisahan hati ini. Ketakutan akan tatapan hangatmu pada dia yang lebih sempurna. Salahkah jika aku terluka? Tak berhakkah aku marah? Haruskah aku mengalah? Mencoba memahami yang terlanjur terlihat oleh kedua mataku. Kak Abra, maaf jika aku menangis karena cinta ini. Cemburu ini tidak akan pernah menjadi bukti cintaku. Namun air mataku, saksi betapa besar ketakutan dalam diriku. Takut akan jauh darimu imam dunia akhiratku. Kak Abra suami tampanku, aku sangat mencintaimu!" batin Embun pilu.


Embun mengepalkan kedua tangannya. Menahan rasa sakitnya, merasakan sesak dadanya. Napas yang mulai terasa berat, kepalanya yang tak lagi mampu berdiri tegak. Embun memegang erat pagar besi, mencari penopang tubuhnya yang mulai lemah. Embun merasakan hancur akan rasa cemburu. Keangkuhan Embun terbalas, ketika kini dia merasakan sakitnya cemburu. Betapa takutnya Embun kehilangan Abra. Embun benar-benar merasakan, cinta itu tak selamanya indah dan tenang. Adakalanya hancur dan sakit menjadi bagiannya. Apalagi saat cemburu mulai menguasai pikirannya.


"Embun!" sapa Abra lirih, Embun menoleh sesaat setelah menyeka air matanya.


Embun menatap Abra dengan dua mata sendunya. Embun mencoba menenangkan hatinya, menyimpan gelisah dan rasa cemburu yang menguasai hatinya. Embun menutupi rasa sakitnya, agar Abra tidak melihat sakit dan kecewanya. Embun mencoba tersenyum, meski luka dihatinya nyata adanya. Embun sakit menahan rasa cemburu akan hadirnya dia yang lebih baik dari dirinya.


"Kakak sudah pulang, aku akan menyiapkan makan malam!" sahut Embun, suaranya terdengar tenang. Tak ada lagi rasa sakit, Embun mampu menenangkan diri. Air mata langit, seolah menyembuhkan hatinya yang luka. Embun terlihat baik-baik saja.


Embun berjalan melewati Abra, dia hendak memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Embun tidak pernah melewatkan makan malam Abra. Dengan kedua tangannya, Embun menyiapkan makan malam untuk suaminya. Tak pernah sekalipun, Embun meminta bantuan ART di rumahnya. Sedangkan Abra mulai terbiasa dengan masakan buatan Embun.


"Tunggu!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun.


Langkah Embun terhenti, tanpa menepis tangan Abra yang tengah memegangnya. Embun menoleh dengan tatapan heran. Embun berharap Abra tidak melihat rasa sakitnya. Abra menarik tubuh Embun, menatap lembut wajah cantik istri tercintanya. Abra menangkup wajah Embun, kehangatan tangan Abra terasa menyentuh pipi Embun. Menggantikan dingin yang menyusup dalam tulang belulangnya. Sejenak Embun merasakan kehangatan Abra, di tengah dingin hatinya yang terluka dan membeku.


"Ada apa kak? Tubuhmu mulai basah, lebih baik kita masuk ke dalam!" ujar Embun, Abra menggeleng. Kedua tangannya tetap pada posisi semula. Abra menangkup wajah Embun, menatap lurus ke dalam dua bola mata Embun.


"Kenapa tadi pulang tanpa menungguku? Kita bisa pulang bersama!" ujar Abra, pura-pura tidak melihat kegelisahan Embun.

__ADS_1


"Rafan tadi tertidur, jadi aku langsung membawanya pulang. Sejak tadi pagi Rafan merengek mencarimu. Rafan tidak tidur siang, sebab itu Rafan kelelahan dan tertidur setelah bertemu denganmu!"


"Lalu, kenapa kamu berdiri di bawah hujan? Kamu sedang mencemaskan sesuatu!" cecar Abra, Embun menggeleng lemah. Embun memegang kedua tangan Abra. Menuntun tangan Abra menjauh dari wajahnya.


Embun mencoba mengalihkan perhatian Abra. Menyembunyikan gelisah yang menguasai pikirannya. Abra menggenggam erat tangan Embun, sedetikpun Abra tidak ingin jauh dari Embun. Gerimis menyapa tubuh Abra dan Embun, menyalurkan dingin dalam hati Abra dan Embun. Memadamkan api cemburu di hati Embun yang sempat membara.


"Aku merindukan Nur, dia dan aku sangat menyukai hujan. Setiap kali gerimis, aku dan Nur selalu duduk diam menatap langit. Kami merasa tenang, air mata langit begitu dingin dan meneduhkan. Aku merindukan masa-masa itu, kesibukan dan status Nur yang tak sendiri lagi. Membuat kamu tak lagi bisa menghabiskan waktu bersama!" ujar Embun lirih, Abra diam mendengarkan Embun.


Abra mencoba memahami penjelasan yang sebenarnya hanya alasan semata. Abra mendekatkan wajah Embun, mengecup lembut kening Embun yang basah oleh air hujan. Abra mencium lembut punggung tangan Embun, mengungkapkan rasa cinta yang teramat dalam. Abra merasakan kegelisahan Embun, rasa cemburu yang terpancar nyata dari wajah Embun. Ketika Embun pergi meninggalkan Kantor Abra.


"Sayang, maafkan aku!" ujar Abra, sembari mendekap erat tubuh Embun. Abra menempelkan wajah Embun tepat di dadanya. Abra mencoba menenangkan rasa cemburu yang menguasai Embun.


Embun merasakan detak jantung Abra. Suara hati terdalam imam dunia akhiratnya. Embun merasa tenang dalam dekapan Abra. Seolah Embun merasakan cinta Abra, melupakan sejenak rasa tidak percaya dirinya. Gerimis yang turun membasahi tubuh mereka. Tak lagi mampu menahan kerinduan yang mengusik hati. Abra mendekap erat Embun, mendekatkan Embun tepat di jantungnya. Suara detak jantung yang hanya menyebut satu nama, Embun Khafifah Fauziayah.


"Embun sayang, maaf aku telah mengecewakanmu. Sekali lagi aku melupakan tanggungjawabku. Aku kalah oleh hasrat sebagai seorang laki-laki. Aku khilaf, aku membuatmu terluka!" ujar Abra lirih, sembari mendekap erat Embun.


"Dia alasan khilafmu!" ujar Embun dalam dekapan Abra.


"Lepaskan!" ujar Embun, seraya meronta. Embun mendorong tubuh Abra menjauh, tapi usahanya sia-sia. Abra semakin erat mendekap Embun. Abra sudah menduga, jika Embun akan meronta. Dengan sekuat tenaga Abra menahan tubuh Embun. Agar tidak menjauh darinya.


"Lepaskan!"


"Sayang, dengarkan penjelasanku!" pinta Abra, Embun menggeleng dalam pelukan Abra. Embun tidak ingin mendengar apapun. Namun Abra tetap memaksa, dia tidak akan melepaskan Embun begitu saja.


"Lepaskan!" teriak Embun.


"Sayang, aku akan melepasmu. Asalkan kamu berjanji mendengar penjelasanku!" pinta Abra, Embun terdiam membisu. Tubuhnya mulai lemah, pengakuan Abra melumpuhkan tulang dalam tubuhnya. Tak ada harapan untuk tetap berdiri. Embun merasa rapuh, tak lagi ingin berdiri di sisi Abra.


"Aku mohon!" pinta Abra memelas, Embun mengangguk dalam dekapan Abra. Sontak Abra melepaskan pelukannya, Embun langsung terduduk. Air mata yang tertahan, jatuh bersama dengan gerimis malam ini.


"Sabrina Salsabilla, wanita anggun yang kamu lihat di kantorku. Aku mengenalnya sejak masa putih abu-abu. Dia salah satu murid terbaik di sekolah. Putri keluarga sederhana yang bangkit mengejar kesuksesan dengan kemampuannya. Sabrina gadis pendiam dan polos, pesona yang sempat membuatku jatuh hati. Namun kami berbeda, dia tak pernah menatapku. Dia tak pernah ingin mengenal laki-laki yang lahir dari keluarga berantakan. Dia hanya fokus pada pendidikannya, apalagi Sabrina mendapatkan beasiswa sampai ke luar negeri. Sabrina tekun menggapai impiannya. Menolak rasa yang aku tawarkan!" ujar Abra lirih, Embun diam membisu. Kedua tangannya menempel tepat di dadanya. Menahan rasa sesak yang mulai membuatnya kesulitan bernapas. Abra berjalan menuju pagar pembatas balkon. Kedua tangannya memegang erat besi pagar.

__ADS_1


"Sabrina alasan hancurku bersama Clara. Penolakannya membuatku mencari kepuasan dalam pelukan Clara. Hidupku berantakan dan berpikir takkan pernah ada bahagia dalam hidupku. Sampai akhirnya aku menikah denganmu, merasakan kebahagian sebagai seorang suami dan ayah dari Rafan putra kecilku. Lagi dan lagi aku kalah, Sabrina datang dua bulan yang lalu. Dia rekan bisnis yang membantuku menggapai sukses. Jujur Embun, aku merasa terkejut sekaligus bahagia. Aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku bekerja sama dengannya. Jika menjadi bagian hidupnya tidak mungkin untukku. Setidaknya aku bisa tetap mengenalnya sebagai sahabat. Singkat cerita, kerjasama kami berjalan semakin baik. Fahmi pernah mengingatkanku, untuk menjaga jarak dengan Sabrina. Namun aku menepis peringatan itu dengan alasan hubunganku dengan Sabrina sebatas rekan kerja, tidak lebih!"


Huuufff


"Sampai akhirnya aku menyadari, ada kebahagian setiap aku bersamanya. Aku selalu mencari alasan untuk bertemu dengannya dan tanpa sadar aku mulai menjauh dari kalian. Aku mengecewakan kepercayaanmu, aku mengkhianati ketulusanmu. Namun saat aku mendengar tangis Rafan, merasakan air mata putra kecilku. Aku marah pada diriku sendiri, aku bodoh telah hanyut dalam hasrat tak pasti. Aku menangis Embun, aku terluka melihatmu dan Rafan pergi tanpa menunggu atau menoleh padaku. Aku merasakan sakit itu, aku menyadari kebodohanku!"


Brakkk


"Aku tidak akan memaksamu memaafkanku. Namun demi Rafan, izinkan aku membuktikan cintaku. Aku akan berubah, aku akan kembali seperti dulu!" ujar Abra, sesaat setelah menghantam pagar besi pembatas.


"Aku harus turun, mungkin Rafan terbangun!"


"Maafkan aku!" bisik Abra, sembari memeluk erat tubuh Embun dari belakang.


"Kakak tidak salah, dia yang lebih dulu mengisi hatimu. Tak sepantasnya aku marah, sebab namaku tertulis setelah namanya!"


"Sayang, aku dan dia hanya rekan kerja. Hasrat yang kurasakan, hanyalah khilaf tanpa ada niat yang mendasarinya!"


"Aku memaafkanmu, sebab cinta ini telah membuatku buta dan tuli. Aku terlalu takut kehilanganmu, tapi kelak saat kakak mulai menyadari tak ada lagi cinta diantara kita. Aku mohon, jangan rahasiakan itu. Agar lukaku tidak semakin dalam!"


"Sayang, tidak ada nama Sabrina dalam hatiku. Hanya akan ada namamu, tidak ada yang lain. Aku dan Sabrina tidak akan bertemu lagi, kerjasama diantara kami sudah berakhir. Aku membatalkan kontrak kerja bersamanya. Aku hanya akan bertemu dengannya, jika ada kamu!"


"Kenapa harus mengakhiri kerjasama? Kakak akan mengami kerugian yang tidak sedikit!" ujar Embun, Abra menggelengkan kepalanya tepat di bahu Embun. Abra menyandarkan kepalanya tepat di bahu Embun. Kedua tangan Abra memeluk sempurna perut ramping Embun. Abra takut melihat Embun pergi menjauh.


"Kerugian terbesarku melihat air matamu dan Rafan. Aku tidak akan meminta kepercayaanmu, tapi aku berharap kamu tulus mencintaiku. Senantiasa genggam erat tanganku, jangan pernah melepaskannya!" ujar Abra, Embun diam seraya menundukkan kepalanya.


"Aku mencintaimu, maafkan khilafku!" bisik Abra, Embun mengangguk pelan.


"Aku juga mencintaimu!" sahut Embun lirih dengan wajah tersipu.


"Terima kasih sayang, kamu bersedia memaafkan khilafku. Aku tidak pernah berpikir berpaling darimu. Sabrina hanya alasan, agar aku bisa merasakan cemburumu. Kamu embun pagiku, penyejuk dalam gersang hatiku. Jangan pernah berpikir akan ada nama lain di hatiku. Duniaku hanya ada pada dirimu, bahagiaku hanya bersamamu dan Rafan. Aku mencintaimu sayang, wahai Embun istriku!" batin Abra lirih, seraya memeluk Embun seerat mungkin.

__ADS_1


......................


__ADS_2