KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Masa Kelam Kanaya


__ADS_3

Waktu berjalan terlalu cepat bagi Haykal. Waktu semalam yang dimintanya dari Kanaya. Seakan begitu cepat, tanpa Haykal sadari jam terus berdetak. Sampai akhirnya jam besar berdentang, Haykal mendongak menatap jam yang ada tepat di depannya. Tepat pukul 00.00 WIB, tengah malam yang menandakan kurang dari dua belas jam ke depan. Haykal dan Kanaya akan berpisah. Perpisahan yang membuat Haykal cemas, sampai kedua matanya tak mampu terpejam. Haykal tak sanggup jauh dari Kanaya. Ketakutan yang membuat Haykal berharap waktu berhenti berputar.


Haykal memilih keluar dari kamar Kanaya. Haykal takut rasa sayangnya pada Kanaya. Berubah menjadi napsu dan ego yang mungkin menghancurkan Kanaya. Akhirnya di sinilah Haykal berada, di balkon lantai dua rumah megah Kanaya. Haykal merasa sesak, dia memutuskan keluar mencari angin segar. Haykal duduk di kursi yang ada di sisi balkon. Menatap langit malam yang indah, merasakan dingin angin malam yang menusuk ke tulangnya. Haykal duduk berdiam, mencari ketenangan dalam sepi malam.


"Kopi!" sapa Rafan, sembari memberikan secangkir kopi pada Haykal. Seketika Haykal menoleh, dia melihat Rafan berdiri sembari membawa dua cangkir kopi.


Haykal menerima secangkir kopi yang diberikan Rafan. Nampak raut wajah Haykal yang heran, melihat Rafan yang datang membawa kopi. Padahal ini bukan waktu yang tepat untuk minum kopi. Haykal tak percaya, jika Rafan masih terjaga selarut ini. Namun rasa heran Haykal terhapus, saat melihat senyum simpul Rafan. Haykal merasa Rafan belum tidur, sebab itu dia keluar menemaninya.


"Aku baru pulang dari rumah sakit. Aku melihat kamar Kanaya masih terang. Aku menduga ada penghuni yang belum tidur dan itu pasti kamu!" ujar Rafan santai, Haykal menoleh tak mengerti. Rafan terkekeh, melihat Haykal yang kebingungan.


"Heran, aku bisa menduga kamu yang belum tidur!" ujar Rafan, Haykal mengangguk pelan.


"Kanaya mungkin bebas, tapi dia pribadi yang disiplin dengan waktu. Dia tidak pernah tidur larut malam. Meski besok pagi dia libur sekolah. Kanaya akan tetap disiplin dengan jam tidurnya. Kurang dari tiga jam, Kanaya akan bangun. Jika kamu tetap terjaga, Kanaya akan cemas melihatmu!"


"Kenapa Kanaya terbangun?" sahut Haykal tak percaya.


"Kamu akan mengetahuinya nanti. Sekarang, jangan anggap aku sebagai kakak dari istrimu. Aku Rafan sahabatmu, jadi katakan alasan kegelisahanmu. Sampai-sampai kamu terjaga di gelap malam!" ujar Rafan lirih, Haykal menghela napas. Sebuah ketakutan yang Haykal sendiri tidak tahu alasannya. Hanya ketakutan jauh dari Kanaya yang sejak tadi berputar indah dalam benaknya. Mengusik ketenangan hati dan jiwanya.


"Entahlah, aku sendiri bingung. Aku takut tertidur dan saat aku terbangun, Kanaya tidak ada di sisiku!"


"Ini tentang kepergian Kanaya ke pondok pesantren!" ujar Rafan, Haykal mengangguk pelan. Haykal menundukkan kepalanya. Dia merasa kalut, menyadari Kanaya akan jauh dari pandangannya. Bahkan Haykal tidak akan bisa melihat Kanaya dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa setuju dengan permintaan ketiga Kanaya? Jika nyatanya aku takkan sanggup jauh dari bayangannya!" ujar Haykal lirih, Rafan menepuk pelan pundak Haykal. Rafan mencoba memahami ketakutan Haykal. Namun ada hal yang tak pernah Haykal pahami. Jika keputusan Kanaya ada jauh sebelum Haykal mengkhitbahnya.


"Berapa bulan sekali dia mengizinkanmu menemuinya?" ujar Rafan lirih, Haykal terdiam. Rafan diam menatap nanar Hayjkal. Melihat diam Haykal, jelas Kanaya melarang Haykal menemuinya.


"Haykal, ada yang harus kamu ketahui tentang Kanaya. Siapa sebenarnya Kanaya? Kenapa Kanaya bisa memberikan mahar yang terdengar mudah? Namun nyatanya, itu semua sulit dipenuhi. Kecuali kamu percaya dan tulus pada Kanaya. Maka kamu akan mudah menjalaninya!"


"Katakan!" sahut Haykal lirih, Rafan berdiri menjauh dari Haykal.


Rafan berjalan menuju tepi balkon, tangannya memegang teralis pembatas balkon. Tatapan Rafan lurus ke arah bulan yang terang benderang. Rafan menghela napas panjang. Haykal mendongak, menatap heran ke arah Rafan. Sikap Rafan yang penuh misteri. Membuat Haykal merasa ada hal yang begitu penting.


"Kamu bukan laki-laki pertama yang mengkhitbah Kanaya!" ujar Rafan lirih, seketika kedua bola mata Haykal membukat sempurna. Haykal merasa terkejut dan tak percaya. Dia mendengar kebenaran yang tak pernah dibayangkan oleh Haykal. Fakta yang membuat Haykal merasa bingung.


"Sebelum kami kembali ke negara ini. Kanaya mendapatkan pinangan dari putra sahabat papa. Dia seorang pengusaha, tampan dan mapan. Kelebihan yang jelas dimiliki oleh laki-laki itu. Pinangan yang membuat semua orang merasa bimbang. Haruskah mereka bahagia atau sedih melihat Kanaya akan menikah di usianya yang masih sangat muda. Namun pinangan terlanjur terucap dan kepercayaan telah diberikan. Papa merasa dia laki-laki itu tepat untuk Kanaya. Apalagi pernikahan akan dilakukan setelah Kanaya selesai sekolah. Singkat cerita, hubungan Kanaya dan laki-laki itu begitu dekat. Mama sudah mengingatkan papa, agar tidak terlalu percaya pada laki-laki itu. Namun papa selalu menentang kecurigaan mama. Bahkan papa pernah menampar mama, hanya karena mama meminta perjodohan Kanaya dengan laki-laki itu dibatalkan. Mama merasa Kanaya belum cukup umur. Sedangkan papa merasa, pembatalan perjodohan Kanaya akan membuat persahabatannya rusak. Tamparan papa yang menjadi alasan hadirnya rasa benci dan marah di hatiku pada papa. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dicegah!" tutur Rafan, lalu menunduk. Nampak kedua tangannya menggenggam teralis begitu erat. Jelas ada amarah yang tersirat dari sikap Rafan. Haykal berjalan menghampiri Rafan, perlahan Haykal menepuk pelan punggung tangan Rafan.


"Apa yang terjadi pada Kanaya?" sahut Haykal lirih, Rafan diam membisu. Nampak Rafan menenangkan hati dan pikirannya.


"Sampai pada suatu hari, Kanaya melihat laki-laki itu pergi dengan seorang wanita. Kanaya memutuskan mengikuti laki-laki itu. Sejak awal, Kanaya merasa tidak nyaman dengan hubungan mereka. Namun demi papa dan bisnisnya, Kanaya mengiyakan perjodohan ini. Langkah laki-laki itu berhenti di sebuah rumah kost. Nampak mereka masuk ke dalam salah satu kamar kost. Kanaya terus mengikuti mereka. Kanaya merekam semua yang dilihatnya. Setidaknya semua itu akan menjadi bukti pada papa dan pembatalan lamaran. Tepat malam harinya, Kanaya memutuskan mengakhiri perjodohan itu. Kanaya menunjukkan bukti yang dimilikinya. Namun bukan kata maaf atau rasa malu yang ditunjukkan laki-laki itu. Malah dia ingin mencelakai Kanaya dengan melecehkannya. Namun DIA selalu ada untuk hamba-NYA yang taat dan beriman. Pertolongan-NYA yang menyelamatkan Kanaya dari laki-laki itu. Akhirnya Kanaya lolos dan bisa membatalkan perjodohan. Laki-laki itu menyetujuinya, sebab jika dia menolak. Kanaya akan melaporkan semua perbuatannya!"


"Rafan, kenapa kamu menutupinya dariku?"


"Maaf Haykal, ini masa kelam dalam hidup adikku. Tidak mungkin aku menceritakannya pada siapapun? Termasuk dirimu, sekarang setelah kamu mengetahuinya. Kamu bisa menjatuhkan talak pada Kanaya. Namun satu hal, Kanaya adikku masih suci dan tak ternoda. Dia mempertaruhkan nyawanya, demi menjaga harga dirinya. Bodohnya aku sebagai seorang kakak yang tak bisa melindunginya!"

__ADS_1


"Apa ini alasan Kanaya membenci ketampanan dan kemapananku?" ujar Haykal lirih, Rafan mengangguk pelan.


"Sejak kejadian itu, Kanaya memutuskan akan tinggal di pesantren. Seandainya ada pinangan lagi untuk dirinya. Kanaya tidak ingin mengalami hal yang sama. Dia tidak ingin ketulusan dan kesetiannya hanya dipandang sebatas napsu semata. Tiga atau emapt tahun yang diminta Kanaya. Sebagai cara dia mengenalmu, hanya di atas sajadah panjangnya. Kanaya menyebut namamu dan terus mengingat wajahmu!" tutur Rafan, Haykal diam menatap langit.


"Haykal, talak Kanaya jika kamu merasa dia tak lagi pantas untukmu!"


"Kak Rafan, aku tidak akan pernah meninggalkan Kanaya hanya karena masalah ini. Sebaliknya aku semakin menyayanginya. Aku melihat pribadi yang tangguh, Kanaya tidak terpuruk dengan masa kelamnya. Malah dia bangkit, demi menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Aku tidak akan melarang Kanaya, dia memutuskan berada jauh dariku. Semua demi hubungan kami dan ketulusan hatinya menerima rasaku. Satu hal yang aku sesali, aku tidak berada di saat Kanaya terpuruk!"


"Itu masa lalu, Kanaya mungkin sudah lupa atau belajar melupakannya. Sekarang kembalilah ke kamar Kanaya. Istirahatlah, besok pagi kita akan mengantar Kanaya. Sekarang sudah pukul 02.15 WIB, mungkin Kanaya sudah bangun dan kamu bisa tidur tanpa takut kalah oleh napsu birahimu!"


"Maksud Kakak?" sahut Haykal tak mengerti.


"Aku sudah menikah dan merasakan sakitnya menahan hasrat yang tak tersalurkan. Kegelisahanmu bukti kamu sangat mencintai Kanaya. Lebih baik aku pergi ke kamar, terserah padamu akan kembali ke kamar Kanaya atau tidak?" ujar Rafan final, Haykal menunduk. Haykal berjalan menuju kamar Kanaya.


"Subbhanallah, sekali lagi kamu membuatku terpesona!" batin Haykal haru, ketika melihat Kanaya tengah membaca ayat suci Al-quran.


"Kakak tidak bisa tidur, apa perlu aku buatkan makanan?" ujar Kanaya, menghentikan langkah Haykal yang perlahan masuk ke dalam kamarnya. Kanaya berhenti mengaji, kini ada kewajiban lain yang harus dilakukannya. Menjaga dan mengurus Haykal, menjadi tugas utamanya sebagai seorang istri.


"Aku tidak lapar, lebih baik kamu lanjutkan. Aku akan tidur sebentar, bangunkan aku saat sholat subuh!" ujar Haykal lirih, Kanaya mengangguk pelan. Kanaya melanjutkan membaca ayat suci Al-quran. Rutinitas Kanaya sebelum dia melaksanakan sholat tahajud.


"Sayang, kamu benar-benar membuatku tak berdaya. Semakin aku mengenalmu, rasa ini semakin besar untukmu. Pribadimu begitu kuat, kamu tak goyah dan putus asa akan rahmat-NYA. Walau hampir saja kamu mengalami sesuatu yang mampu membuatmu hancur. Kanaya Fauziah Abimata, imanmu mengalihkan pandangan dan duniaku. Terima kasih, sudi menerima rasaku. Aku akan selalu menjaga kepercayaanmu. Aku tidak akan berjanji apa-apa? Namun percayalah, aku bukan dia yang pernah menyakiti dan menghina keimananmu!" batin Haykal, sembari menatap punggung Kanaya yang tengah bersujud di sepertiga malam.

__ADS_1


__ADS_2