KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Hari Pernikahan


__ADS_3

Pagi yang dinanti tiba, dalam tiga puluh menit ke depan. Abra akan memiliki Embun sepenuhnya. Menghapus keraguan akan rasa dalam hatinya. Tepat pukul 09.00, Abra akan mengucapkan ijab qobul yang kedua kalinya. Sebuah janji suci akan penyatuan jiwa dan hati. Pengakuan akan status Embun yang sesungguhnya. Meleburkan jarak yang memisahkan Abra dan Embun selama ini.


"Bismillahhirrohmannirrohim!" Batin Abra penuh rasa haru.


Abra melangkah masuk ke dalam rumah Embun. Rumah sederhana yang menjadi awal kisah Embun dan Abra. Rumah yang akan menjadi saksi bisu ikatan suci Abra dan Embun. Rumah tempat Embun dibesarkan dan akhirnya pergi menuju rumah suaminya.


"Kamu gugup?" Bisik Fahmi, Abra menggeleng lemah. Abra tidak hanya gugup, dia takut seandainya dia salah dalam mengucapkan ijab qobul. Meski ini bukan pertama kalinya, tapi entah kenapa Abra merasa ini pertama kali dan terakhir dalam hidupnya?


"Lalu, kenapa tubuhmu gemetar? Aku melihat keringat dingin keluar dari pelipismu. Berhadapan dengan investor kamu berani. Mengucapkan ijab qobul, kamu takut!"


"Diam kamu!" Sahut Abra kesal, Fahmi langsung membekap mulutnya. Fahmi merasa Abra berbeda, dia melihat sahabatnya yang penuh dengan rasa takut. Bukan takut menghadapi musuh. Melainkan takut kehilangan Embun, sang penyejuk hati.


Abra dan Fahmi duduk di tempat yang sudah disediakan. Abra duduk tepat di depan penghulu. Sedangkan Fahmi duduk tepat di samping Abra. Tuan Ardi duduk berdampingan dengan Abah Iman. Mereka menjadi wali dari Abra dan Embun. Sekilas Fahmi melihat Abra tertunduk lesu. Sedikit cacat dalam bahagia Abra pagi ini. Fahmi menyadari duka sahabatnya. Tanpa perlu bertanya, Fahmi sudah bisa menduga alasan sedih sahabatnya.


"Abra, kamu harus kuat!"


"Aku kuat Fahmi, aku tidak akan tumbang. Pagi ini aku akan menjadi seorang imam yang sempurna, tidak mungkin aku rapuh hanya demi mereka!" Ujar Abra, Fahmi mengangguk lalu menepuk pelan pundak Abra. Memberikan kekuatan pada sahabatnya, menjadi sandaran paling kokoh dalam rapuh Abra.


"Abra Achmad Abimata tidak akan rapuh, Kerikil tidak akan membuatmu tersungkur. Sejak dulu aku selalu melihatmu teguh. Kamu tidak akan menyerah, tapi kamu akan bertahan dan bertarung hingga akhir!"


"Aku baik-baik saja!" Sahut Abra, Fahmi jelas melihat ketegasan dalam setiap kata Abra.


Abra menunduk menatap karpet tempatnya duduk. Bukan di sebuah gedung mewah tempat akad nikah Abra dan Embun. Bukan kursi megah nan cantik, alas Abra duduk. Namun rumah sederhana dan karpet murah penuh kehangatan. Sebuah tempat paling nyaman yang belum pernah dirasakan Abra. Menghapus kegelisahan Abra akan penolakan orang yang paling disayanginya.


FLASH BACK


"Papa, bisa kita bicara!" Ujar Abra, sesaat setelah mengetuk pintu kamar Haykal.


Tap Tap Tap


Terdengar suara langkah kaki dari dalam kamar. Abra berdiam menanti pintu kamar Haykal terbuka. Tak berapa lama, ganggang pintu terbuka. Indira berdiri tepat di belakang pintu. Seutas senyum terlihat di wajah Indira. Sejak puluhan tahun, baru pertama kali Abra datang mengetuk pintu kamarnya. Tinggal di bawah satu atap yang sama. Tak lantas membuat hubungan Indira dan Abra menghangat. Selama ini, keduanya saling menghormati. Tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Bahkan Indira tak ikut dalam persiapan pernikahan Abra. Bukan dia tidak peduli, Indira berusaha tetap menjaga hubungan baiknya dengan Abra.


"Abra masuklah!"


"Terima kasih, aku hanya ingin bicara dengan papa!"


"Baiklah, aku akan memanggilnya!" Ujar Indira, Abra mengangguk pelan. Abra berjalan sedikit menjauh dari pintu kamar Haykal.


"Ada apa Abra? Kenapa tidak bicara di dalam?" Ujar Haykal, Abra menggeleng kepalanya lemah. Haykal berdiri tepat di samping Abra. Sedangkan Indira memilih masuk ke dalam kamar.


Ting Tong Ting Tong


Denting jam besar di rumah Abra menunjukkan pukul 00.00. Tepat tengah malam, Abra mengetuk pintu kamar Haykal. Sebuah kamar yang entah kapan terakhir dia lihat? Abra bahkan lupa, setiap sudut kamar Haykal. Sikap Abra yang terus menjaga jarak. Membuatnya mengacuhkan uluran tangan hangat Haykal. Ayah yang sejak kapan mulai lupa hangat pelukan putranya?


"Kenapa? Apa karena Indira?" Ujar Haykal, Abra terdiam membisu.


"Lebih baik kita bicara besok, ini sudah larut malam. Papa besok harus ke luar kota!" Ujar Haykal dingin, Abra mendongak menatap tak percaya ke arah Haykal.


"Papa akan ke luar kota!"


"Orangtua Indira masuk rumah sakit. Papa belum sempat menjenguknya. Jadi besok pagi papa akan berangkat. Naura dan Ibra akan menyusul setelah pulang kuliah!"


Deg


Detak jantung Abra terhenti, dadanya terasa sakit. Ada rasa ngilu yang teramat, ketika Abra mendengar perkataan Haykal. Sebuah isyarat akan ketidakhadiran Haykal dalam acara pentingnya. Abra langsung terdiam, bibirnya kelu dan tulangnya terasa lumpuh. Abra tak lagi mampu berdiri, bahkan Abra terhuyung ke belakang bersandar pada kursi. Haykal sedikit heran, melihat tubuh Abra yang tiba-tiba terhuyung ke belakang. Belum sempat Haykal menolong, tangan Abra menghentikan langkah Haykal.


"Aku baik-baik saja, papa bisa kembali ke kamar!" Ujar Abra lirih, Haykal diam menatap nanar putranya. Dia melihat tangan Abra menyentuh dadanya. Haykal merasa cemas, takut jika Abra sakit.


"Abra!"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, pergilah istirahat. Papa akan melakukan perjalanan jauh. Jangan sampai papa merasa lelah!" Ujar Abra, Haykal mengangguk pelan. Lalu dengan langkah pelan, Haykal masuk ke dalam kamarnya.


Indira berdiri tepat di daun pintu. Dia melihat kerenggangan hubungan ayah dan anak. Setetes bening air mata jatuh, Indira merasa sedih melihat sikap teguh Haykal. Keangkuhan Haykal akan penolakannya pada Embun. Membuat hubungan ayah dan anak semakin menjauh. Jarak yang takkan mudah disatukan. Abra hanya diam mematung, tak mampu mendengar langkah kaki Haykal yang terus menjauh.


"Papa, sekali dalam hidupku aku butuh dirimu. Sekali dalam hidupku pula. Aku hancur karenamu. Kepergianmu besok, menghancurkan harapan kecil dalam hidupku. Lantang suaramu, bak petir yang meremukkan tulangku. Bukan sekali, papa pergi dari hidupku. Bukan sekali, papa mengacuhkanku. Bukan sekali, papa melupakan inginku. Namun pertama kalinya, kini aku merasa hancur tanpamu. Papa, besok hari paling bahagia dalam hidupku. Hari aku memulai hidup baruku. Mengubur kenangan pahit, melupakan tiap tetes air mata. Mengubah dunia gelapku menjadi terang. Tapi kenapa pa? Kenapa papa meredupkan asaku? Papa meninggalkanku di saat aku paling membutuhkamu. Memang tanpamu aku bisa menikah, tapi restumu awal ridho dalam pernikahanku. Seandainya papa bisa mendengar detak jantungku. Papa akan mendengarnya terhenti, saat papa memilih menjauh dariku. Papa, jika dalam kenyataan aku tak pernah bisa meminta ridhomu. Dengan ketulusan hati, aku meminta maaf padamu. Putra yang mulai terlupa olehmu, kini telah menemukan tulang rusuknya. Terima kasih pa, terima kasih!" Batin Abra lilu, lalu menyeka setetes air mata di pelupuk matanya.


"Tunggu!" Teriak Abra, saat melihat pintu kamar Haykal hendak tertutup.


"Ada apa?" Ujar Indira, Abra mendekat ke arah Indira. Dengan perlahan dan sopan, Abra menarik tangan Indira. Lalu Abra mencium punggung tangan Indira. Seakan Abra tengah meminta restu pada ibu yang melahirkannya.


"Abra!" Ujar Indira sembari meneteskan air mata.


"Tante Indira, Abra titip papa. Jangan biarkan papa kelelahan. Besok biarkan supir yang mengantar tante dan papa. Titip salam buat orangtua tante!" Ujar Abra hangat, lalu berjalan menjauh.


"Abra!" Panggil Indira, Abra menoleh ke arah Indira.


"Tante akan membujuk papamu!"


"Tidak perlu!" Ujar Abra sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Bukan kehadiran papa yang penting bagiku. Namun ridho dan ikhlasnya yang aku harapkan. Jadi tidak perlu tante membantuku bicara. Papa berhak memilih kebahagiannya!"


FLASH BACK OFF


"Abra, apa kamu siap?" Ujar Abah Iman, Abra mengangguk pelan. Dengan penuh rasa hormat, Abra mencium punggung tangan abah Iman.


Iman tersenyum, lalu menjabat tangan Abra. Mengucapkan ijab dan menanti qobul dari menantu yang kelak membimbing putrinya. Proses suci yang terjadi dengan sangat khidmat. Melupakan sejenak kekosongan hati Abra akan sosok sang ayah. Dengan suara lantang nan menggema. Abra mengucapkan qobul, menerima tangan Embun secara utuh menjadi makmum dunia akhiratnya.


SAH SAH SAH


Satu kata yang terucapa sampai tiga kali. Menggema di seluruh rumah, menjadi pertanda Embun Khafifah Fauziah telah termiliki. Senyum lega Abra, menjadi rasa bahagia yang teramat besar bagi Ardi. Cucu pertamanya kini telah menemukan tempat berlabuhnya. Abra tak lagi sendiri, dia kini menjadi seorang kepala keluarga. Ardi menyeka air matanya, ketika Abra mencium punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.


"Apa kamu sudah siap bertemu dengan Embun?" Bisik Iman, saat Abra tengah meminta restu padanya. Dengan tatapan malu, Abra mengangguk. Iman tersenyum penuh haru. Pernikahan yang sejatinya telah terjadi beberapa bulan lalu. Kini benar-benar terjadi dengan cara dan suasana yang jauh lebih hangat.


"Kak Abra!" Panggil Embun, suara lirih Embun menggetarkan tubuh Abra. Suara yang selama seminggu tak terdengar oleh telinganya. Kini dengan penuh cinta memanggilnya. Abra langsung menoleh, dia melihat Embun berdiri tepat di belakangnya.


"Cantik!"


Satu kata yang mampu terpikir oleh Abra. Embun tak lagi suci, tapi kecantikan Embun meneduhkan hati Abra. Seutas senyum Embun, bak angin segar yang menerpa gersang hati. Mengisi kosong hati Abra dengan cinta yang tak terbatas.


"Assalammualaikum imamku!" Ujar Embun, sembari mencium punggung tangan Abra. Embun duduk bersila di depan Abra. Embun mencurahkan bakti dan rasa hormatnya pada Abra. Mencairkan hubungan yang sempat membeku.


"Waalaikummsalam makmumku!" Bisik Abra, Embun tersenyum simpul. Embun berdiri, dia hendak menyapa beberapa tamu. Namun tanpa bicara, Abra menarik tangan Embun. Sontak tubuh Embun terhuyung dan jatuh dalam pelukan Abra.


"Seminggu aku tak pernah melihatmu. Hari ini kamu hanya milikku, tidak akan aku biarkan kamu menjauh!"


"Ada banyak tamu!"


"Sebab itu aku memelukmu, agar mereka tahu. Kamu hanya milik Abra seorang!" Ujar Abra angkuh. Embun menghelan napas, lalu dengan lembut Embun memegang tangan Abra.


Abra langsung melepaskan pelukannya. Embun tersenyum geli melihat sikap spontan Abra. Tepat saat tangan Embun menyentuhnya. Desiran hangat turun mengalir dalam darahnya. Hasrat Abra membuncah menguasai pikirannya. Abra spontan melepaskan pelukannya. Sebab dia takut tidak bisa mengendalikan diri. Abra mungkin seorang bos besar dengan cara kerja disiplin dan keras. Namun saat berhadapan dengan Embun. Abra bak tubuh tanpa arah, hati dan jiwanya seolah bekerja tanpa perintah.


"Kenapa dilepas? Tadi ingin terus memelukku!"


"Kamu sengaja ingin menggodaku!" Ujar Abra, Embun langsung mengangguk.


"Aku sudah mulai belajar cara menghadapimu!"

__ADS_1


"Embun!" Ujar Abra mesra, sekaligus tidak percaya dengan sikap nakal Embun.


Abra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ketika tanpa sengaja, Abra menyadari Ardi terus melihat ke arahnya. Abra malu mengingat sikapnya yang benar-benar tidak ingin jauh dari Embun. Rasa malu yang terkuak dari dalam hati yang penuh cinta akan putri desa ini.


Saat Abra sibuk dengan rasa malunya. Embun yang terlepas dari pelukan Abra. Langsung menghilang dalam keramaian para tamu. Acara pernikahan Embun memang sederhana, tapi penuh dengan kehangatan dan kekeluargaan. Hampir seluruh warga desa datang memberikan doa dan restu pada Abra dan Embun. Kesederhanaan yang mengusik kekosongan hati Abra. Ketika dia menyadari, tak ada keluarga melengkapi kebahagiaannya. Sedangkan Embun yang tak memiliki keluarga. Malah memiliki kehangatan dari seluruh warga desa.


"Iman, maafkan Haykal!" Ujar Ardi, Iman hanya diam. Nampak seutas senyum yang sengaja ingin menyembunyikan keraguaannya.


"Dia tidak salah tuan Ardi, Haykal pantas menolak menantu seperti Embun. Wanita biasa dari desa, wanita tanpa pendidikan dan derajat yang sama dengan Abra. Jadi tidak perlu ada kata maaf atau terima kasih. Biarlah Haykal teguh dengan pendiriannya. Sedangkan kita teguh dengan harapan akan kebahagian Abra dan Embun!"


"Kamu tidak marah!"


"Bohong seandainya aku tidak marah. Jelas aku marah dan kecewa. Ketika melihat pernikahan putriku dinodai oleh sikap angkuh Haykal!" Ujar Iman lantang, Ardi langsung terdiam. Tak ada lagi suara, jawaban lantang Iman seolah membuat semuanya jelas.


"Maaf!"


"Sudah kukatakan, tidak ada yang salah dan tidak ada yang mengalah. Aku marah bukan karena ketidakhadiran Haykal. Aku kecewa bukan karena penolakan Haykal. Aku marah dan kecewa, ketika mata tuaku melihat kekosongan dalam mata putraku Abra!"


"Iman!"


"Iya tuan Ardi, sejak tadi Abra datang. Mata tuaku tak luput dari menatapnya. Aku melihat duka yang menganga dalam hatinya. Abra sangat merindukan Haykal. Hanya Haykal yang mampu melengkapi kebahagian Abra saat ini. Kekecewaanku semakin bertambah, kala Abra menghela napas tepat setelah mengucapkan ijab qobul. Dia seolah merasa lelah akan penantiannya. Haykal tidak datang pada hari paling penting dalam hidup putraku. Dia mengacuhkan putra yang begitu merindukannya!"


"Lalu, bagaimana dengan Embun?"


"Tuan Ardi, Abra dan Embun bagai dua mata sisi yang berbeda. Mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Namun mereka ada untuk satu dengan yang lainnya. Sejak kecil bahkan satu detik yang lalu. Aku tidak pernah mengkhawatirkan dirinya. Embunku mampu menempatkan diri di tempat yang paling sulit sekalipun. Dia bak tetes Embun pagi, menyejukkan hati yang gersang dan mendinginkan jiwa yang panas. Kini Embunku telah menemukan tujuannya. Lalu, dimana aku harus mencemaskannya?"


"Kalian begitu hangat, tak ada sedikitpun pemikiran buruk tentang kami. Meski jelas penolakan Haykal mampu membuat putrimu hancur!"


"Lihatlah!" Ujar Iman, sembari mengarahkan pandangannya ke arah Abra dan Embun. Menatap kehangatan Embun dan Abra yang sedang makan di satu piring yang sama. Menghapus jarak dan rasa jijik keduanya. Meleburkan cinta dalam satu jiwa yang sempurna.


"Jika Embun takut menghadapi Haykal. Lantas, siapa yang akan membuat putraku tersenyum bahagia? Biarkan Embun mencurahkan kasih sayangnya pada Abra. Menyempurnakan hidup Abra yang kosong. Satu hal lagi tuan Ardi, pernikahan ini murni keputusan Embun. Tidak ada paksaanku dalam hal ini. Jadi berhenti berpikir, jika aku dan Embun mengalah demi Abra!" Tutur Iman, Ardi mengangguk. Dalam hati Ardi hanya bisa mengucapkan kata terima kasih. Cinta Embun telah membuat Abra begitu bahagia.


Akhirnya sepasang mata tua terus menatap dua jiwa yang bahagia. Entah kebahagian sesungguhnya atau hanya kamuflase? Namu apapun itu, kebahagian itu kini nyata terlihat. Suara tawa Abra dan Embun, terdengar merdu di telinga Ardi dan Iman. Dua orang yang terus berharap akan kebahagian Abra dan Embun.


"Sayang!"


"Hemmm!"


"Apa aku bermimpi? Aku merasa tak percaya dengan sikap hangatmu!"


"Kalau begitu bangunlah, agar semua mimpi ini hilang!" Ujar Embun santai, Abra mendengus kesal. Namun ada bahagia yang tidak dapat di katakannya. Suapan dari tangan Embun, membuat Abra melupakan dunia yang berputar di sekelilingnya.


"Akan ada kejutan yang akan membuatmu tidak ingin bangun dari mimpi ini!"


"Apa?"


"Lihatlah ke arah pintu masuk!" Ujar Embun santai. Abra langsung berdiri, saat melihat Haykal datang bersama Indira.


"Papa!"


"Pergilah, peluk ayah yang dirindukan hatimu. Hormati wanita yang berdiri di sampingnya. Dia ibu yang membesarkanmu, meski bukan dia ibu yang melahirkanmu!" Ujar Embun, lalu pergi menjauh membawa piring kotor sisa mereka makan.


"Kemana kamu pergi!" Ujar Abra sembari menahan tangan Embun.


"Akan ada waktu akan duduk bersama mereka. Saat ini, hanya demi dirimu mereka datang. Peluk mereka dengan kerinduan yang selama ini kamu simpan. Jangan mulai pernikahan kita dengan permusuhan yang tak pernah ada. Leburkan ego yang seharusnya tak harus ada dalam keluarga!"


"Tidak, jika tanpamu!"


"Embun tidak akan kemana-kemana? Dia akan selalu mengikuti sang fajar. Kak Abra fajar dalam hidupku. Selamanya aku ada di sampingmu. Sebab Embun takkan hadir, jika sinar fajar tak menyapa. Sebab Embun tercipta, ketika hangat fajar menyeruak!"

__ADS_1


Cup


"Aku selalu bersamamu!" Ujar Embun, sembari mencium pipi Abra.


__ADS_2