
"Tuan Abra, kondisi nyonya Embun tidak baik-baik saja. Berada di bawah hujan yang cukup lama, membuatnya demam dan ada infeksi saluran pernapasan. Namun untuk sementara waktu, biarkan nyonya Embun istirahat di rumah. Saya akan memberikan tambahan cairan infus. Jika diperlukan, saya akan meminta satu suster menjaganya!" Tutur dokter Dwi, Abra terdiam melamun menatap Embun.
Indira melihat ketakutan yang teramat besar di wajah Abra. Sebuah rasa takut yang jelas membuat Abra tak berdaya. Dunia Abra seakan terhenti, ketika melihat tubuh lemah dan pucat Embun. Namun semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa merubahnya. Indira berusaha tegar, agar dia bisa menjadi sandaran Abra.
"Abra, tenangkan dirimu. Embun akan baik-baik saja!" Ujar Indira, Abra menggelengkan kepalanya lemah. Tubuh lemah Embun yang tak sadarkan diri. Menjadi alasan ketakutan Abra yang semakin besar.
"Dokter, jika memang kondisi Embun tidak baik-baik saja. Sebaiknya kita membawa Embun ke rumah sakit. Agar dia bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik!" Ujar Indira, dokter Dwi tersenyum.
"Nyonya, kondisi lemah nyonya Embun. Itu karena kehamilan di trimester pertamanya. Berada di rumah sakit, hanya akan membuat kondisinya memburuk. Sementara saya akan pantau kondisi beliau. Suster Via akan memberikan perawatan pada nyonya Embun!"
"Embun, hamil!" Ujar Indira tidak percaya, dokter Dwi mengangguk pelan. Abra termenung, dia tidak percaya saat mendengar kabar sebesar itu.
"Apa kalian tidak tahu? Kemarin, beliau datang ke rumah sakit. Saya pikir semua orang sudah mengetahuinya!" Ujar dokter Dwi tak percaya.
Abra menggelengkan kepalanya lemah. Sekali lagi Abra merasa bodoh, ketika Embun menggantungkan asanya pada orang lain. Entah apa yang menjadi alasan amarah Embun? Namun jelas, Embun tak menganggap Abra ada. Menjadikan Abra orang terakhir yang tahu kabar gembira ini. Indira yang menyadari luka sang putra. Langsung menghampiri Abra, menepuk pelan pundak Abra. Menguatkan Abra, berharap Abra kuat dan tidak salah paham dengan Embun.
"Baiklah tuan Abra, saya permisi kembali ke rumah sakit. Sekali lagi selamat, atas kehamilan nyonya Embun!"
"Dokter Dwi!"
"Iya tuan Abra!"
"Kapan Embun tahu soal kehamilannya?"
"Semalam, setelah sholat magrib saya mengirimkan hasil labaratoriumnya. Sebab kemarin, saat ke rumah sakit. Saya tidak ada, jadi saya baru mengatakan kabar baik ini semalam!" Ujar dokter Dwi santai, lalu keluar dari kamar Abra. Indira meminta Ibra mengantar dokter Dwi. Sedangkan dia tetap di dalam kamar Abra.
__ADS_1
"Suster Via, jika sudah selesai. Anda bisa istirahat di kamar sebelah. Jika terjadi sesuatu pada Embun? Kami akan memanggil suster. Sementara, biar kami yang menjaga Embun!" Suster Via mengangguk, lalu berjalan keluar menuju kamar tamu.
Indira berdiri mematung, menatap nanar punggung Abra yang melemah. Nampak Abra terus menggenggam erat tangan Embun. Indira hanya bisa diam, tanpa bisa mengatakan sesuatu. Entah apa alasan Embun bersikap seperti itu? Namun sikap diam dan dingin Embun, nyata membuat hati putranya hancur. setitik bening air mata Indira jatuh. Seketika Indira menyeka air matanya. Dia benar-benar rapuh, melihat hancur putranya.
"Abra, tante turun ke bawah. Tante akan membuat bubur untuk Embun. Mungkin saat dia bangun, Embun bersedia makan sesuatu!" Ujar Indira, Abra mengangguk tanpa menoleh. Abra tak lagi mampu berpikir. Dalam benaknya, ada banyak pertanyaan. Semua itu tentang sikap Embun yang tiba-tiba diam dan dingin.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan? Kemana semalam kamu pergi? Kenapa aku tidak bisa memahami? Kamu memilih tidur di kamar orang lain. Daripada kamu tidur di kamar kita. Kamu memilih diam, ketika kamu mengetahui kabar baik. Kamu seakan melupakan diriku. Kamu mengacuhkan cintaku, kamu membuatku bodoh sebagai suamimu. Apa yang salah dalam diriku? Sampai kamu menghukumku seberat ini. Bangunlah sayang, katakan apa salahku? Marah dan berteriaklah, agar aku bisa mendengar suaramu. Diam dalam tidurmu, membuat hatiku sakit dan tak berdaya. Kebahagian akan hadirnya buah hati kita. Terasa begitu menyakitkan, ketika aku melihat tubuhmu terbaring tidak berdaya. Sayang, aku mohon. Bangunlah, jika bukan demi diriku. Setidaknya demi putra kita. Bukti cinta yang hadir dalam pernikahan kita. Aku mohon sayang, aku mohon!" Batin Abra pilu, seraya menggenggam erat tangan Embun yang dingin.
"Kak, Nur sudah datang!" Ujar Ibra, Abra mendongak.
Sejenak Abra menarap pilu wajah Embun yang begitu pucat. Nampak napas Embun yang naik turun. Sedangkan kedua mata Embun, seakan enggan menatap wajah Abra. Sudah hampir tiga jam, Embun nyaman dengan tidur panjangnya. Abra setia menemani Embun, berharap dirinya yang pertama kali dilihat Embun di kala sadarnya. Namun harapannya pupus, tiga jam Abra berada di dekat Embun. Tubuh dan hati Embun seakan mendingin, tak sedikitpun merasakan hangat kehadiran Abra.
"Persilahkan dia masuk!" Ujar Abra, Ibra dan Nur melangkah masuk ke dalam kamar Abra.
Sengaja Abra meminta Ibra menghubungi Nur. Mengingat kejadian semalam, hanya Nur yang kini diharapkan oleh Embun. Sahabat sejak kecil yang akan mengerti suka dan duka Embun. Mungkin hanya pada Nur, Embun mengatakan seluruh isi hatinya. Mengungkapkan gelisah di hati terdalamnya. Abra tidak akan mampu menatap Embun. Jika lemah dan sakit yang harus dilihatnya.
"Nur, aku tinggal. Jika perlu apa-apa? Kamu bisa hubungi aku!" Ujar Ibra.
"Ibra, apa kamu menghubungi Abah Iman?" Ujar Nur, Ibra menggelengkan kepala.
"Terima kasih, Embun akan semakin rapuh. Seandainya Abah mengetahui sakitnya!" Ujar Nur, Ibra mengangguk pelan.
Nur berdiri tepat di samping tubuh lemah sahabatnya. Lama Nur terdiam, menatap Embun yang lemah. Dalam hati Nur menangis, kekayaan Abra telah merenggut kebahagian sahabatnya. Kini ketegasan dan kuat Embun, tergadai oleh cinta Abra. Embun sahabatnya menemukan alasan untuk tangis dan bahagianya.
"Tuan Abra!" Sapa Nur, Abra dan Ibra langsung menghentikan langkahnya. Abra memutar tubuhnya, menatap Nur yang seolah ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Dia sangat mencintaimu!"
"Siapa?"
"Embun, dia sangat mencintaimu tuan Abra. Sakitnya menjadi bukti, dia lemah tanpamu. Embunku rapuh tanpa Abra dalam hidupnya!"
"Apa yang ingin kamu katakan? Tidak perlu berbelit-belit!" Ujar Abra dingin.
"Tahukah anda? Embun akan sakit, ketika dia mencintai seseorang. Dia lebih baik terluka, daripada melihat luka orang yang dicintainya. Semalam Embun menghubungiku, tak ada suara yang aku dengar. Namun jelas, aku mendengar isak tangisnya. Embunku menangis tepat di depan anda, tapi keraguan anda seolah membuatnya tak nampak!"
"Nur, jangan bicara yang tidak-tidak. Kak Abra tidak pernah meragukan Embun!"
"Ibra, kita mengenal Embun dengan sangat baik. Pernahkah dia mengeluh, ketika ada yang menyakitinya. Namun dia akan sakit, saat keraguan akan kesuciannya terucap. Bening hati Embun, sebening tetesan embun pagi. Kita hanya bisa merasakannya, tanpa bisa menggenggamnya. Saat ini, wajah cantik Embun tertutup oleh luka. Sebuah luka yang dirasakan Embun, sebagai balasan atas cinta suci yang dia berikan pada tuan Abra!"
"Nur, hentikan!" Ujar Ibra, berharap Nur berhenti mengatakan sesuatu yang akan memancing amarah Abra.
"Tuan Abra, Embun tak pernah mengkhianatimu. Percayalah, keraguan dan rasa nyamanmu bersama wanita lain. Hanya akan membuatmu semakin jauh dengan Embun. Tidak akan pernah ada jawaban dari semua itu. Embun tidak akan bicara, tapi sakitnya bukti Embun terluka akan keraguan anda. Embun mungkin angkuh dan egois, tapi percayalah. Embun tak pernah mengacuhkan cintamu. Setiap langkahnya, hanya akan ada dengan izinmu. Seperti saat Embun menolak semua kesempatan akan kesuksesannya. Semua demi kehormatan anda, agar tak ada yang membandingkan dirinya dengan anda. Embun wanita desa, tapi yakinlah. Kemampuan dalam diri Embun, mampu membuatnya menjadi wanita dengan sukses yang tidak pernah anda dan keluarga Abimata bayangkan. Hari ini, aku menyadari satu hal. Anda hanya mencintai fisik Embun, bukan hatinya. Sebab, hati yang mencintai. Akan memahami tanpa ada pengertian!"
"Kenapa kamu menyalahkanku?"
"Karena cintamu yang membuat Embunku rapuh!" Sahut Nur lantang.
"Kak, lebih baik kita keluar. Kita bicara saat Embun sadarkan diri!" Pinta Ibra, Abra diam membisu.
__ADS_1
"Kamu tahu sesuatu!" Ujar Abra lirih pada Nur.
"Clara, dia alasan sakit Embun. Sama halnya anda resah akan hadirnya Ibra. Embun merasakan hal yang sama. Hanya saja Embun percaya pada anda. Tanpa sedikitpun meragukan ketulusan hati anda. Sehingga Embun memilih sakit, daripada melihat kecewamu!" Sahut Nur lantang, lalu membungkuk mencium kening Embun.