
"Nur, boleh aku masuk!" ujar Fahmi, sesaat setelah mengetuk pintu ruangan Nur.
Nur mendongak, dia mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di depannya. Nur menatap heran ke arah Fahmi. Tidak biasanya Fahmi datang menemuinya. Pekerjaan Nur tidak ada hubungannya dengan Fahmi. Meski Fahmi tangan kanan Abra, sangat jarang Nur berhubungan langsung dengan Fahmi.
"Silahkan!" sahut Nur ramah, Fahmi mengangguk pelan. Fahmi melangkah masuk ke dalam ruangan Nur.
"Terima kasih!" ujar Fahmi, Nur mengedipkan mata. Mengiyakan ucapan terima kasih Fahmi.
"Tunggu pak Fahmi!" teriak Nur, Fahmi menoleh heran. Tangan Fahmi masih memegang ganggang pintu, Nur merasa ada yang perlu dikatakan Nur.
"Iya!" sahut Fahmi santai.
"Tolong biarkan pintunya terbuka!" ujar Nur ramah, Fahmi mengangguk seraya tersenyum. Fahmi membiarkan pintu ruangan Nur terbuka. Meski awalnya dia merasa heran. Namun akhirnya dia menyadari, Nur tidak seperti wanita yang lain.
"Ada apa pak Fahmi mencariku?" ujar Nur, saat Fahmi duduk tepat di depannya.
"Ini ada yang harus kamu perbaiki, pihak kontraktor ingin melihat detail gambarnya. Jadi aku diminta Abra menemuimu. Agar kamu bisa memperbaikinya!" ujar Fahmi sopan, Nur mengangguk mengiyakan.
Nur memeriksa berkas yang diberikan Fahmi. Lama Nur mengamatinya, lalu terdengar helaan napas Nur. Fahmi menoleh ke arah Nur, suara helaan napas Nur membuyarkan lamunan Fahmi. Sekilas ada rasa kagum, dia melihat kegigihan seorang wanita. Kemampuan yang tersimpan sempurna dalam diam. Bak batu permata yang belum dipoles, murni tanpa noda.
"Ada apa? Kamu tidak sanggup!"
"Maaf pak Fahmi, konsep ini yang mengerjakan Embun. Jadi aku harus menanyakan dulu padanya!"
"Aku pikir kamu, kalau begitu aku akan mengatakannya pada Abra!"
"Tunggu pak Fahmi, aku akan mengerjakannya. Jika aku ada kesulitan, aku akan menghubungi Embun!" ujar Nur ramah, Fahmi mengangguk pelan.
"Wanita tangguh!" ujar Fahmi lirih, Nur mendongak menatap Fahmi.
"Maaf, pak Fahmi bicara apa?" ujar Nur penasaran, Fahmi menggelengkan kepalanya kikuk. Dia merasa malu, ketika Nur mendengar perkataannya.
"Sudahlah, lupakan saja. Aku hanya asal bicara!" ujar Fahmi, Nur menatap lekat Fahmi.
"Tidak baik bicara, tapi tidak diperjelas. Takutnya menjadi fitnah!" sahut Nur dingin, tanpa menoleh ke arah Fahmi.
__ADS_1
"Sumpah Nur, aku hanya asal bicara!" ujar Fahmi meyakinkan Nur.
"Jangan mudah bersumpah, kepastian bukan milik kita. Satu hal lagi, jangan mudah mengucap janji. Sebab janji itu sebuah hutang!" ujar Nur dingin, Fahmi melotot. Dua bola matanya membulat sempurna. Dia merasa Nur sedang menyindirnya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Menurut pak Fahmi!" sahut Nur santai, tanpa menatap Fahmi. Nur fokus pada layar laptopnya, sedikitpun Nur tidak peduli akan keberadaan Fahmi.
"Aku tidak mudah mengutarakan janji, kecuali!"
"Kecuali janji yang selalu pak Fahmi katakan, pada wanita-wanita yang menjadi kekasih pak Fahmi!"
"Nur, kamu mengetahuinya!" ujar Fahmi heran, sekaligus malu pada Nur. Dengan santainya Nur mengangguk, Fahmi menunduk malu. Raut wajahnya memerah, harga dirinya jatuh di depan wanita sholeha seperti Nur.
"Anda dan tuan Abra, sebelas dua belas. Perbedaannya sekarang tuan Abra sudah menemukan akhir dari perburuannya. Tinggal pak Fahmi yang belum menemukan kekasih pilihan hati!"
"Pilihan hati sudah ketemu, tapi sayangnya dia sudah memiliki tambatan hati!" ujar Fahmi lirih, seraya melirik ke arah Nur.
"Jika memamg dia jodoh pak Fahmi. Cepat atau lambat, dia akan bersatu dengan pak Fahmi. Sebaliknya, jika dia bukan jodoh terbaik untuk pak Fahmi. Meski pak Fahmi mengejarnya atau mengikatnya. Kelak dia akan terlepas dan menjauh dari pak Fahmi!"
"Sejak kapan keberhasilan ada tanpa usaha? Pak Fahmi harus berusaha mendekatinya. Jika memang pak Fahmi bersungguh-sungguh, datang pada orang tuanya. Katakan pada mereka, jika pak Fahmi serius ingin menjalani sunnah rosul bersama putrinya!"
"Tunggu Nur, apa mungkin pernikahan tanpa cinta? Setidaknya mengenal terlebih dahulu. Paling tidak berpacaran selama satu atau dua bulan. Pernikahan bukan permainan yang akan berakhir, ketika kita merasa lelah!" ujar Fahmi bijak, Nur langsung mendongak. Tanpa sengaja tatapan Fahmi dan Nur bertemu di udara. Nur langsung menunduk, ketika tanpa sadar dia melihat ketampanan wajah Fahmi.
"Pak Fahmi, sebelumnya aku meminta maaf. Jika pak Fahmi mengikuti aturan dalam agama kita. Sejatinya tidak ada kata pacaran yang ada itu ta'aruf. Cara kita saling mengenal satu sama lain dengan didampingi oleh mahram. Mungkin pak Fahmi merasa ragu, jika menikah tanpa mengenal watak dan sifat calon makmum. Namun percayalah, jika dia jodoh yang diberikan oleh sang pemilik hidup. Maka tidak ada kata tidak mungkin, sebab sebesar apapun perbedaan. Kelak akan menjadi satu dalam ikatan pernikahan!"
"Mungkin tidak, kamu menikah dengan orang yang tidak pernah kamu kenal atau cintai!" ujar Fahmi tegas, Nur mengangguk pelan.
"Kenapa?"
"Sebab aku telah menyerahkan jodohku di tangan-NYA. Ketentuan-NYA akan menjadi jalan hidupku. Aku berserah pada jalan yang diridhoi-NYA. Aku percaya, kelak doa dan sujudku akan membuatku bertemu dengan imam dunia akhiratku!"
"Bukankah kamu dan Ibra sudah berpacaran!"
"Pak Fahmi, baik aku dan Embun memegang prinsip yang sama. Kami tidak mengenal kata pacaran. Layaknya Embun yang menikah dengan tuan Abra. Hanya keyakinan pada-NYA, sehingga Embun yakin menikah dengan tuan Abra. Tanpa peduli akan status dan masa lalu yang pernah dan mungkin menjadi kenangan dalam hidup tuan Abra!" ujar Nur, Fahmi terdiam membisu.
__ADS_1
"Mungkinkah Embun mengetahui semua masa lalu Abra?"
"Embun mengetahuinya, setelah pernikahannya dengan tuan Abra terlaksana!"
"Semuanya!"
"Semuanya, termasuk kedekatan tuan Abra dengan Clara. Sejauh apa hubungan diantara mereka? Namun kenyataan pahit yang diketahui Embun. Tak lantas membuatnya menjauh dan meninggalkan tuan Abra. Embun bertahan di atas kenangan yang pernah terjadi antara tuan Abra dan Clara. Sebab itulah jodoh, mempersatukan perbedaan yang awalnya tak mungkin bersatu. Walau tanpa mengenal, cinta itu akan tumbuh dengan ketulusan!"
"Nur!" ujar Fahmi lirih, Nur menoleh ke arah Fahmi.
"Ada apa pak Fahmi?"
"Seandainya aku datang menemui orang tuamu. Bersediakah kamu menjadi istriku!" ujar Fahmi tegas penuh keyakinan.
Deg
Jantung Nur berhenti berdetak, waktu terasa terhenti. Tubuh Nur tiba-tiba terasa kaku, aliran darahnya terasa panas. Nur terkejut mendengar perkataan Fahmi. Ada rasa tidak percaya, jika Fahmi akan mengutarakan cintanya. Bahkan berniat melamar Nur pada orang tuanya. Keringat dingin tiba-tiba meluncur di pelipis Nur. Ada rasa gundah dalam hatinya. Jawaban apa yang harus dikatakan Nur pada Fahmi.
"Aku!" ujar Nur terhenti, Fahmi tersenyum simpul.
"Tidak perlu dijawab, aku sadar diri. Jika aku bukan laki-laki terbaik untukmu. Seseorang yang senantiasa menjaga kesuciannya. Tak pantas mendapatkan diriku yang penuh noda. Aku hanya ingin jujur padamu, wanita yang mengetuk hatiku sejak pertama kali bertemu. Wanita itu kamu, seorang wanita yang terus menunduk menjaga pandangannya. Namun aku memilih mundur, karena Ibra jauh lebih baik dariku. Dia lebih segalanya dan satu hal lagi. Aku melihat ada cinta untuk Ibra di dua mata indahmu!"
"Pak Fahmi!"
"Akhirnya aku mengatakan semuanya, jadi tidak perlu lagi aku menghindar bertemu denganmu. Semoga hubunganmu dengan Ibra bahagia!" ujar Fahmi, lalu berdiri meninggalkan Nur.
"Pak Fahmi!" ujar Nur, Fahmi menoleh ke arah Nur.
"Terima kasih atas kejujuran pak Fahmi. Aku terdiam bukan menolak atau mengiyakan ketulusan pak Fahmi. Namun di balik semua itu, sepenuh hati aku mempersilahkan pak Fahmi datang menemui orang tuaku. Jika memang ada jodoh diantara kita. Maka akan ada ikatan suci yang terjalin kelak diantara kita. Terlebih dulu yakinkan hatimu, jika memang hubungan ini yang pak Fahmi harapkan. Selama aku menunggu, aku akan berdoa di sepertiga malamku. Aku akan meminta jodoh terbaik, entah pak Fahmi atau Ibra? Aku tidak akan menolak imam yang dipilihkan sang khalik. Namun satu hal yang aku harap dari hubungan kita. Jika memang aku wanita yang ada di dalam hatimu. Aku mohon, selesaikan masalah pak Fahmi dengan wanita-wanita yang kini ada di sekitarmu. Aku tidak ingin menjadi alasan sakit hati wanita lain!"
"Pak Fahmi, Nur sudah setuju. Yakinkan hatimu, jika dia wanita yang ada di dalam hatimu!" ujar Embun, Fahmi dan Nur menoleh.
"Sayang, kenapa kamu malah mendukung Fahmi?" sahut Abra tidak percaya.
"Aku mendukung laki-laki yang mencintai Nur sahabatku dengan tulus. Jika soal kesungguhan, mungkin Ibra yang paling bersungguh-sungguh. Namun jika tentang ketulusan, pak Fahmi yang tulus mencintai Nur. Dia laki-laki yang mengharapkan kebahagian Nur. Laki-laki yang siap mengalah, agar sahabatku bahagia. Dia laki-laki sejati yang tidak akan tega melihat air mata Nur!" tutur Embun tegas dan lantang.
__ADS_1