KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Rapat


__ADS_3

"Nur, jaga Embun untuk papa. Setelah selesai rapat, papa akan mengantar kalian pulang. Papa sudah meminta izin pada Abra. Dia sudah mengizinkan, sebab Abra baru akan pulang sore nanti!" ujar Arya pada Nur.


Embun dan Nur mengedipkan kedua matanya. Mereka setuju dengan perkataan Arya. Sejujurnya Abra merasa khawatir, ketika mengetahui Embun datang bersama Nur mengendarai mobil tanpa supir. Namun kejadian yang terjadi, seolah menutup mulut Abra. Dia tidak mampu mengatakan kecemasannya pada Embun. Dia merasa malu, dengan yang terjadi. Bahkan Embun belum sepenuhnya bicara dengan Abra. Ada jarak tak kasat mata diantara keduanya.


"Baiklah, papa akan meninggalkan kalian. Papa sudah menyiapkan satu supir dan beberapa pengawal. Mereka akan mengawasi kalian dari jauh. Supir yang papa siapkan seorang wanita. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Katakan padanya, kemana kalian ingin pergi?" tutur Arya, Embun mengangguk dalam pelukan Arya.


Arya meninggalkan Embun dan Nur di lobi resort. Beberapa pengawal sudah berjaga dari jauh. Bahkan Arya menempatkan beberapa pengawal yang tak diketahui oleh Embun dan Nur. Arya tidak ingin terjadi sesuatu pada Embun. Kehamilan di trimester kedua sangat rawan. Sedikit kesalahan akan berakibat fatal bagi hidup Embun. Arya tidak akan memaafkan dirinya, jika sampai terjadi sesuatu pada Embun dan cucunya.


"Embun kita pergi!" ujar Nur, Embun merangkul tangan Nur. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam sebuah mobil. Embun memutuskan melupakan semua masalahnya. Setidaknya Embun ingin tetap tenang dalam menyingkapi yang terjadi.


Arya menoleh ke arah mobil Embun, dia merasa lega melihat Embun dan Nur pergi dengan pengawalan yang dia siapkan. Sedangkan Arya berjalan penuh emosi menuju ruang rapat yang ada di area resort. Arya benar-benar marah, tak lagi bisa menutupi amarah dan sakit hatinya. Arya sengaja meminta Embun pergi, karena Arya ingin melakukan semuanya tanpa Embun mengetahuinya.


Braaakkkk


Suara bantingan pintu, seketika mengejutkan seluruh orang yang ada di dalam ruang rapat. Daniel sang investor dalam proyek Abra, tak lebih dari boneka bagi Arya. Clara seorang keponakan yang kini nyata menjadi musuh Arya. Abra seorang menantu yang begitu sempurna. Kini terlihat gagal dimata Arya, karena membuat Embun terluka dan terhina.


Semua orang akan menerima amarah Arshan Arya Adiputra. Seorang ayah yang melihat, putrinya terhina dengan kedua matanya sendiri. Seorang ayah yang mendengar, keraguan akan kesucian Embun. Seorang ayah yang siap melakukan apapun demi menebus puluhan tahun jauh dari putrinya. Amarah yang takkan pernah bisa dibayangkan oleh siapapun?


"Tuan Arya, saya benar-benar meminta maaf. Seandainya saya tahu dia putri anda. Tentu saya tidak akan berkata sekasar itu!" ujar Daniel lirih dengan nada bergetar. Tepat setelah Arya duduk di tengah-tengah mereka. Abra menunduk menjauh dari tatapan Arya yang seolah-olah ingin membunuhnya.


"Om Arya, Clara terbawa emosi. Sumpah, aku tidak pernah berniat menyakiti Embun. Entah kenapa aku begitu marah? Clara mohon, maafkan Clara!" ujar Clara menghiba, sembari menggenggam tangan Arya. Namun dengan kasar Arya menepis tangan Clara. Arya langsung menoleh dengan tatapan penuh amarah. Bahkan dua bola mata Arya memerah.

__ADS_1


"Abra, mereka berdua menghiba kata maaf dariku. Kenapa kamu malah diam saja? Apa sedikitpun kamu tidak merasa bersalah? Seperti mereka yang kini mengemis kata maaf dariku!" ujar Arya dingin, Abra mendongak. Abra menggelengkan kepalanya pelan, Abra tidak ingin meminta maaf. Bukan karena dia tidak bersalah. Sontak Arya menatap Abra penuh dengan emosi. Saat mengetahui, Abra menolak mengucap satu kata maaf.


"Abra, angkat kepalamu!" teriak Arya lantang dan emosi.


Abra menatap Arya dengan nanar. Abra merasa bersalah telah membuat Embun terhina. Namun meminta satu kata maaf, Abra merasa malu. Bahkan Abra merasa tidak pantas dan siap menerima amarah Arya. Apapun hukuman yang akan diterimanya? Semua akan setimpal dengan perbuatannya pada Embun.


"Abra tidak akan meminta maaf. Bukan Abra tidak bersalah, sebaliknya Abra sangat merasa bersalah. Sebab itu, apapun hukuman yang akan tuan Arya berikan. Aku akan menerima dengan ikhlas!" sahut Abra lirih, Arya diam menatap lekat Abra.


"Seandainya aku mengenal putriku satu detik sebelum dirimu. Mungkin hari ini tidak akan terjadi. Daniel dan Clara menghina putriku dengan penuh kesombongan. Semua itu karena hubungan kalian bertiga. Kamu alasan kebencian Clara pada Embun. Kamu juga yang membuat Daniel berpikir Embun rendah. Seorang suami yang tak mampu merangkul istrinya mengenal dunianya. Tak lebih dari suami yang gagal dan aku pernah menjadi suami yang gagal. Namun aku tidak akan menjadi ayah yang gagal. Jika demi membalas luka hati putriku. Aku harus melawan dunia, aku siap Abra. Kamu dengar itu!" tutur Arya penuh amarah, dingin suara Arya jelas tak pernah didengar Abra. Tak ada lagi kehangatan yang nampak dari Arya. Hubungan ayah dan menantu, seketika berubah dalam sekejap.


"Maafkan Abra, maaf!"


"Randy, berikan berkas yang aku minta siapkan semalam!" teriak Arya pada asisten pribadinya. Randy menyerahkan beberapa berkas yang sudah disiapkannya. Arya meminta Randy memberikannya pada Daniel dan Clara.


"Tuan Arya, berkas ini!"


"Berkas pembelian 30% saham perusahaanmu. Sekarang aku menjadi pemilik 55% saham di perusahaanmu. Aku pemegang kekuasaan terbesar dan akan membuatmu hancur. Bukankah kamu begitu bangga dengan hartamu. Sampai kamu menganggap putriku menikah dengan Abra hanya demi harta. Sekarang, kamu akan mengenal siapa ayah dari wanita yang kamu hina?" ujar Arya dingin, Daniel tertunduk lesu.


"Tuan Arya, saya benar-benar meminta maaf!" ujar Daniel, dia cemas memikirkan perusahaannya sekarang. Dalam sekejap Arya mampu mengambil alih perusahaannya. Artinya dalam sekejap pula, Arya bisa menghancurkan perusahaannya.


"Clara, apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?" ujar Arya, Clara hanya bisa mengangguk pelan.

__ADS_1


"Bagus, kalau begitu segera lakukan!" ujar Arya dingin, Clara mendongak dengan tatapan sendu. Tangannya bergetar tak percaya. Berkas yang ada di tangannya jatuh ke atas meja. Sebuah berkas yang akan menjadi titik balik kehidupannya sekarang.


"Kenapa om Arya tega melakukan ini padaku? Aku bukan orang lain, aku keponakan om Arya satu-satunya. Bertahun-tahun aku hidup bersamamu. Bahkan aku tidur dalam pangkuanmu, seperti aku putri kandungmu!" ujar Clara dengan suara serak menahan tangis.


"Sebab kamu telah tega menyakiti Embun. Bahkan kamu hampir saja membunuh cucuku. Bersyukurlah aku masih memberikanmu tempat tinggal. Aku hanya ingin membuatmu sadar, kemewahan yang kamu banggakan di depan Embun. Dalam sekejap bisa hilang tanpa peringatan!" ujar Arya dengan tegas, tak ada lagi kasih sayang Arya pada Clara. Semua musnah tak bersisa, ketika Clara hampir saja mencelakai Embun dan putranya.


"Om Arya tidak mengetahui yang sebenarnya. Semua hanya karangan Embun dan temannya itu. Aku tidak melakukannya dengan sengaja!" ujar Clara membela diri.


"Kamu mungkin bisa mengelak, tapi mereka tidak akan berbohong padaku!" ujar Arya, lalu menunjuk beberapa pengawal yang baru saja masuk.


"Mereka!" ujar Clara tak mengerti.


"Pengawal yang aku siapkan untuk Embun. Mereka menjaga Embun, tanpa Embun menyadarinya. Kamu salah jika berpikir Embun yang mengadu padaku. Sebaliknya mereka yang langsung mengirim video kejadian malam itu. Betapa jahat dan piciknya kamu? Betapa sombong dan angkuhnya Daniel? Semua aku lihat dengan dua mataku. Mungkin Embun bisa memaafkan kalian, tapi aku tidak!" ujar Arya, lalu berdiri meninggalkan ruang rapat.


"Abra, kamu menantu keluarga Adiputra. Jangan pernah biarkan siapapun menghinamu? Jika memang kamu tidak mengharap bantuanku atau Iman. Setidaknya tegakkan kepalamu sebagai seorang pembisnis. Ini pertama dan terakhir kalinya kamu menundukkan kepala di depan orang seperti Daniel. Percayalah Abra, kamu bisa tanpa harus menghiba pada mereka!" tutur Arya tegas.


"Fahmi, pastikan proyek ini berjalan dengan baik. Laporkan semuanya pada Randy, dia yang akan mengawasi proyek ini. Apapun yang terjadi? Jangan laporkan pada Daniel, dia kini tak lebih dari bonekaku!" ujar Arya sinis.


"Baik tuan Arya!" sahut Fahmi tegas, Abra diam membisu. Ketegasan Arya menutup mulutnya, tak ada lagi yang bisa membuatnya berani menatap mata Arya.


"Abra, tuan Arya sangat menyayangimu. Jangan kecewakan dia, tegakkan kepalamu. Kita buktikan padanya, kita mampu!" ujar Fahmi, sembari menepuk pundak Abra.

__ADS_1


__ADS_2