
"Kalian sudah pulang?" ujar Indira, Ibra mengangguk pelan.
Nampak Nur berjalan tepat di samping Embun. Abra sengaja berjalan di belakang Embun. Dia takut terjadi sesuatu pada Embun. Kondisi Embun benar-benar lemah. Hampir saja Embun pingsan, saat turun dari mobil. Mengingat kondisi Embun yang memburuk. Abra memutuskan langsung kembali ke rumah. Mereka tidak jadi makan malam bersama.
"Kenapa dengan Embun?" ujar Indira, sembari berjalan menghampiri Embun.
Indira mengusap lembut wajah Embun, lalu mencium kening menantunya. Embun menutup mata, dia merasakan hangat kecupan singkat Indira. Kecupan hangat seorang ibu yang tak pernah dirasakannya. Abra terksima melihat kehangatan yang diberikan Indira. Kasih sayang yang terus ditolaknya, kini menjadi penenang hati Embun.
"Kalian sudah makan malam!" ujar Indira, Embun dan Nur menggelengkan kepalanya hampir bersamaan. Mereka bak dua saudara kembar yang memiliki wajah berbeda.
"Kalian ingin makan apa?"
"Mie!" sahut Embun dan Nur bersamaan.
Indira tersenyum melihat kedekatan Embun dan Nur. Sejenak Indira terharu, melihat persahabatan yang begitu tulus diantara mereka. Entah kenapa semenjak kehadiran Embun dan Nur? Perasaan Indira dipenuhi kebahagian, tak ada rasa sepi dan kosong. Indira merasa begitu sempurna sebagai seorang ibu. Embun dan Nur membuat Indira merasakan kebahagian sejati sebagai ibu.
"Baiklah, tante akan membuatkannya untuk kalian. Sekarang kalian masuk ke dalam, bersihkan diri. Tadi saat tante berbelanja, ada sepasang gamis yang begitu cantik. Jadi tante membelinya untuk kalian!"
"Gamis!" sahut Nur bahagia, Indira mengangguk pelan.
"Iya Nur, gamis sederhana yang ada di butik teman tante. Bahannya bagus dan lembut, tante membeli dua warna dengan model yang sama!"
"Untuk kami!" sahut Embun, Indira mengangguk pelan.
"Anggap saja, sebagai cicilan maharku!" ujar Ibra menggoda Nur. Sontak Nur menyikut Ibra. Indira tersenyum mendengar perselisihan antara Nur dan Ibra.
"Maharku tidak semurah itu. Lagipula, siapa yang akan menerima lamaranmu? Aku sudah punya calon lain!" ujar Nur santai, Ibra menoleh dengan tatapan tak percaya.
"Serius, dia sudah punya tunangan!" batin Ibra.
"Terima kasih tante Indira, aku hanya mengantar Embun. Setelah menumpang makan, aku akan pulang!" ujar Nur santai, Ibra terdiam. Perkataan Nur terasa menyakitkan dalam hati Ibra.
"Kenapa tidak menginap?"
"Nur harus pulang, besok pagi ada jadwal mengajar. Sekali lagi terima kasih tante!" tolak Nur sopan, Indira mengedipkan kedua matanya.
"Baiklah, kamu boleh pulang. Namun tetap bersihkan tubuhmu. Tante sudah membersihkan kamar tamu. Gamis untukmu sudah tante letakkan di sana!" ujar Indira ramah, Nur menoleh ke arah Embun. Dengan kedipan mata Embun, akhirnya Nur mengiyakan perkataan Indira.
"Ayo sayang, kamu harus istirahat!" pinta Abra, Embun diam mematung.
"Pergilah Embun, aku masih di sini sampai makan malam. Kita bisa bertemu nanti!" ujar Nur, Embun mengangguk tanpa menatap Nur.
"Tentu kamu akan tetap di sini. Kapan lagi kamu bisa makan enak!" sahut Haykal sinis, Embun langsung menoleh dengan tatapan tajam. Abra juga melakukan hal yang sama.
"Papa, jangan menyiram bensin di atas api yang menyala. Kondisi Embun tidak baik-baik saja. Jangan sampai sikap papa, menjadi alasan aku keluar dari rumah ini!"
"Kamu mengancam papa!"
"Tidak, ini bukan lagi ancaman tanpa bukti. Akan kupastikan, papa melihat kepergianku!" ujar Abra lantang, Indira menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak pernah menyangka, Haykal tetap sama. Bukan menyadari kesalahannya. Malah Haykal seolah menantang semua orang.
"Nur, jangan diambil hati perkataan papanya Ibra. Dia sudah terlalu tua, untuk terus dinasehati. Biarkan dia bersikap sesuka hatinya. Jika dia sudah kehilangan, mungkin dia sadar akan kesalahannya!" ujar Indira, lalu menggandeng tangan Nur menuju kamar tamu. Sedangkan Embun pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Ibra yang diam memikirkan perkataan Nur.
__ADS_1
"Apa benar dia sudah memiliki tunangan? Kenapa selama ini aku berpikir dia masih sendiri?" Batin Ibra, tidak percaya akan semua yang didengarnya.
"Kak!"
"Ada apa Ibra?"
"Nur sudah bertunangan!" ujar Ibra, Abra mengangkat kedua bahunya.
"Kamu menyukainya!" ujar Abra, Ibra mengangguk pelan. Lalu Abra menghampiri Ibra, berdiri tepat di samping Ibra.
Buugh Buugh Buuugh
"Semoga sukses menaklukkan hati Nur. Satu Embun sudah membuatku kalang kabut. Apalagi Nur yang jauh lebih tegas dari Embun. Satu lagi Ibra, semoga kamu berhasil menyakinkan tuan Haykal Abimata. Jika putra kesayangannya, jatuh cinta pada wanita desa!" sahut Abra, lalu meninggalkan Ibra sendiri.
"Bukan mendukungku, malah menakutiku. Dasar kakak yang tidak setia!" Batin Ibra kesal.
Satu jam berlalu, semua orang akhirnya kembali bertemu di meja makan. Embun dan Nur menggunakan gamis yang sudah dibelikan Indira. Abra dan Ibra duduk berdampingan, sedangkan Embun duduk bersebelahan dengan Nur. Dua sahabat yang akan selalu bergandeng tangan. Dalam segala hal, entah suka ataupun duka?
"Embun, kenapa tidak makan? Kamu tidak suka dengan mie buatan tante Indira!" ujar Indira lirih, Embun menggeleng lemah.
"Lalu?"
"Aku tidak ingin makan, perutku tiba-tiba merasa kenyang!"
"Sayang, aku suapin!" pinta Abra, Embun menggelengkan kepalanya.
"Embun!" ujar Nur dengan suara lantangnya. Sontak semua orang terkejut, kecuali Embun yang sudah terbiasa dengan suara Nur. Menoleh dengan tatapan datar dan tidak banyak bicara.
"Anak pintar!" ujar Nur santai, Abra hanya bisa pasrah melihat sikap Embun yang terlihat begitu manja pada Nur.
"Tidak perlu marah, sikap wanita hamil tidak mudah dimengerti. Terkadang malah mereka terkesan mengesalkan. Semua itu dipengaruhi hormon. Maklumlah, jika saat ini kamu tidak dianggap!" bisik Indira, Abra menunduk. Abra belajar mulai memahami sikap Embun. Selamanya Abra yang akan dihormati Embun. Namun ada saat, dimana Embun butuh orang lain yang bisa dipercaya?
"Inikah yang dinamakan kehangatan seorang ibu. Sejak lama aku mengacuhkannya. Kenapa saat ini malah aku yang membutuhkannya? Haruskah aku mengalah, mengakui jika aku mulai merasa nyaman dengan kasih sayangnya!" batin Abra, seraya menoleh ke arah Indira.
"Kak!" sapa Ibra, membuyarkan lamunan Abra.
"Ada apa lagi?" sahut Abra kesal.
"Mungkin tidak Nur memiliki tunangan!"
"Kenapa tidak kamu tanyakan? Apa aku yang harus menanyakan pada Nur?"
"Jangan!" teriak Ibra spontan dan lantang.
"Kenapa kamu berteriak? Ada masalah apa?" sahut Haykal, Ibra diam membisu. Jelas Ibra sakit, memikirkan perkataan Nur. Fakta Nur yang sudah memiliki seorang tunangan. Seketika meruntuhkan impian Ibra, menjalin hubungan dengan Nur.
"Nur!"
"Iya!" sahut Nur, ketika Abra memanggilnya.
"Kapan rencana pernikahanmu?" ujar Abra, Embun langsung menoleh ke arah Nur. Dia orang yang tidak tahu, jika Nur akan menikah. Sontak Embun terkejut, dia merasa Nur membuatnya tak berarti. Ketika dia orang terakhir yang mengetahui rencana pernikahan Nur.
__ADS_1
"Nur!" ujar Embun lirih, Nur tersenyum simpul.
"Secepatnya!"
"Dia memang sudah memiliki tunangan!" batin Ibra pilu, seraya menunduk. Ibra merasa semua harapannya sidah berakhir.
"Ibra, kamu terlambat. Nur sudah memiliki pasangan. Maaf, jika kamu akhirnya patah hati!" ujar Abra menggoda.
"Ibra, kamu menyukai wanita desa ini!" sahut Haykal sinis.
Braaakkkk
"Nur, kita makan malam di luar. Hanya sepiring mie, kita bisa membelinya. Tanpa harus meminta pada tuan besar Haykal!" ujar Embun sinis, sesaat setelah berdiri. Embun mendorong kursi, sampai suaranya menggema.
"Embun!" ujar Nur, seraya menggelengkan kepala. Nur menolak ketika Embun mengajaknya pergi dari meja makan.
"Dia bisa menghinaku, meragukan statusku dan tak mengakui kemampuanku. Namun tidak harga dirimu. Kamu berada di rumah ini demi diriku. Sudah menjadi kewajibanku, menjaga harga dirimu. Kita bukan pengemis yang akan meminta makan dari orang kaya seperti dia. Cukup sudah selama ini aku diam. Dia tidak akan pernah menghargai, sebaliknya dia akan selalu bangga dengan harta!"
"Jaga bicaramu!" teriak Haykal.
"Tidak perlu berteriak, pendengaranku masih sangat bagus. Kamu bukan ayah yang membesarkanku. Jadi tidak ada hakmu membentakku. Selama ini aku menghargaimu, tapi tidak hari ini. Aku lelah dengan hinaanmu!"
"Kak Abra, aku akan pergi mengantar Nur pulang. Dia yang menghapus air mataku, maka aku yang harus membelanya saat terhina!" ujar Embun, Abra berdiri menghampiri Embun.
"Kita pergi bersama-sama. Sementara kita tinggal di rumah abah Iman!"
"Abra, jangan pergi!"
"Maaf pa, malam ini aku harus pergi. Papa tidak menghargai istriku. Bahkan keselamatan putraku, tak pernah papa pikirkan. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku, seperti papa yang takut kehilangan tante Indira!" ujar Abra tegas dan lantang.
"Ibra, katakan pada Fahmi. Sementara aku akan bekerja dari rumah abah Iman!"
"Abra!" panggil Fahmi, Abra menoleh heran.
"Kenapa kamu datang malam-malam?"
"Tuan besar Adijaya, dia ada di ruang tamu!" ujar Fahmi lirih. Abra menoleh ke arah Embun.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia hanya cocok bicara dengan tuan Haykal yang kaya raya. Bukan wanita desa sepertiku!" sahut Embun sinis, lalu berjalan sembari menggandengan Nur.
"Nur!" panggil Ibra, sembari menahan tangan Nur. Sontak Nur terkejut, ketika Ibra menyentuh tangannya.
"Kamu benar-benar akan menikah!" ujar Ibra lirih, Nur menunduk tanpa menjawab pertanyaan Ibra.
"Jangan mendekati Nur, jika kamu tidak bisa mengayominya. Keluargamu hanya memandang kami rendah!"
"Kakak ipar, aku serius menyukai Nur!"
"Kita lihat nanti, kamu pantas tidak bersamanya!" sahut Embun, Nur hanya menunduk. Keberanian Ibra menyentuh tangannya. Seketika membuat Nur gelisah. Entah apa yang dirasakan Nur? Semua masih menjadi rahasia hati terdalam Nur.
"Sayang, kita pergi!"
__ADS_1
"Abra, jangan pergi!" teriak Haykal lantang.