
"Sayang, kemana saja kamu seharian? Aku mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif!" ujar Abra cemas, Embun menoleh dengan tatapan datar. Abra merasa ada yang salah, tapi melihat diam Embun. Abra merasa diamnya yang terbaik saat ini.
"Lebih baik kita masuk ke dalam. Kamu pasti lelah, seharian berada di luar rumah!" ujar Abra, sembari merangkul tubuh ramping Embun. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
Abra memeluk erat tubuh Embun, berharap lelah Embun berkurang. Abra tak lagi seperti dulu, tak ada lari rasa rendah diri atau angkuh di dalam hubungan pernikahan Abra dan Embun. Tak lagi Abra merasa Embun akan menghina harga dirinya. Seandainya Embun lebih sukses darinya. Tak lagi ada keangkuhan Abra, menganggap dirinya lebih baik dari Embun. Semenjak Rafan mengetahui kesalahan fatal yang pernah dilakukan Abra. Sejak itu, Abra merasa hidupnya hanya untuk keluarga kecilnya. Rafan dan Kanaya segalanya, demi mereka Abra sanggup melalukan segapanya. Sebaliknya Embun penguat tali ikatan darah diantara Abra dan buah hatinya. Pengertian sederhana yang baru saja dipahami oleh Abra.
"Kak Abra, maaf aku pulang terlambat. Aku tadi bertemu dengan Nur. Dia mengajakku pergi berbelanja dengan Hanna. Aku sudah menolak, tapi Nur memaksa. Aku ingin menghubungimu, baterai ponselku habis. Maaf, aku pergi tanpa pamit padamu!" tutur Embun lirih, Abra mengangguk tanpa banyak bertanya. Raut wajah Embun, seolah ingin mengatakan ada sesuatu yang salah dan mengganggu pikirannya.
"Asalkan kamu baik-baik saja, aku tidak akan mempermasalahkannya. Lagipula, aku baru saja pulang. Kebetulan pertemuan dengan klien di mundurkan satu jam. Alhasil aku baru pulang!" ujar Abra tegas, Embun menoleh dengan tatapan sendu.
Tatapan yang penuh dengan rasa bersalah. Abra tersenyum simpul, dia menarik tubuh Embun dalam dekapannya. Satu kecupan manis mendarat sempurna di kening Embun. Abra mencurahkan seluruh kerinduannya dalam satu kecupan. Sebuah kerinduan yang kini selalu terasa menyapa. Kala mata tak selalu menatap wajah Embun. Pekerjaan Embun menciptakan jarak, sekaligus kerinduan yang penuh dengan rasa cinta. Abra mulai memahami arti hadir Embun dalam hidupnya. Tak ada lagi sosok yang mampu menggantikan Embun. Jika demi Rafan dan Kanaya, Abra mampu mengorbankan segalanya. Demi Embun, Abra sanggup mengorbankan hidupnya. Alasan yang membuat Abra memilih tetap tinggal bersama Embun. Walau Haykal pernah meminta, bahkan merengek pada Abra untuk tinggal di bawah satu atap yang sama.
"Kak, aku akan membersihkan diri. Setelah itu, aku akan membuatkan makan malam. Nur dan Fahmi akan datang makan malam. Mereka ingin mengatakan sesuatu padamu!"
"Tentang!" sahut Abra heran, nampak Abra mengeryitkan dahinya. Dia merasa tidak ada masalah dengan Fahmi. Sejak tadi pagi mereka berada di kantor yang sama. Dalam sehari, keduanya bertemu berkali-kali. Abra merasa heran, jika memang ada masalah. Kenapa Fahmi tidak mengatakannya di kantor?
__ADS_1
"Sayang!" sapa Abra lirih, Embun diam membisu. Abra merasa ada yang salah, tapi Abra percaya Embun akan menceritakannya di waktu yang tepat.
"Papa, bisa kita bicara!" ujar Rafan, sontak Embun dan Abra mendongak.
Rafan berdiri tidak jauh dari Abra dan Embun. Saat melihat Abra datang bersama Embun, Rafan langsung menghampiri Abra. Sedangkan Embun menyadari arti tatapan Rafan padanya. Embun memilih pergi, dia memberikan waktu luang pada Abra dab Rafan. Keduanya membutuhkan waktu untuk saling bicara. Bagaimanapun Abra ayah kandung Rafan? Abra orang yang paling berhak atas hidup Rafan, dibandingkan Arya atau Iman.
"Kalian bicaralah, aku akan ke kamar!" pamit Embun, Abra mengangguk mengiyakan. Rafan menatap penuh rasa bahagia. Kala dua mata indahnya, melihat Abra mencium lembut kening Embun. Abra memastikan dia tidak lupa mengatakan rasa sayangnya pada Embun. Usia mereka semakin tua, tapi cinta mereka tetaplah sama dan abadi.
"Rafan, kita bicara dimana?" sahut Rafan, Abra menatap lekat wajah putra sulungnya.
"Kita bicara di kamarku, kalau di ruangan papa terlihat kaku!" ujar Rafan, Abra mengangguk.
Rafan berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Abra mengikuti Rafan dari belakang. Abra merasa tak percaya, ketika Rafan meminta waktu berbicara dengannya. Apalagi mereka akan bicara di dalam kamar Rafan. Kamar yang tak pernah Abra lihat isinya. Sekalipun Abra tak pernah masuk ke dalam kamar Rafan. Abra tak pernah ingin mencampuri urusan Rafan. Dia merasa seorang anak laki-laki sangat membutuhkan privasi. Sama halnya dirinya dulu, ketika masih muda. Abra merasa tidak nyaman, ketika ada orang yang datang ke dalam kamarnya. Sikap yang sama ditunjukkan pada Rafan. Abra menghargai kenyamanan Rafan, dengan tidak mengganggu privasi Rafan.
"Silahkan masuk pa!" ujar Rafan hangat, Abra mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Abra tertegun melihat isi di dalam kamar Rafan. Pertama kalinya dia masuk ke dalam kamar putranya. Ada rasa kagum, sekaligus tak menyangka. Jika dalam kamar putranya, tidak ada satupun barang mahal. Rafan hanya menggunakan barang dengan kualitas standart. Abra benar-benar tak percaya, Rafan tak hanya mewarisi sikap hangat dan ramah Embun. Bahkan kesederhanaan Embun, menurun pada putra sulungnya Rafan.
"Rafan, apa yang ingin kamu katakan? Sekarang papa ada di depanmu, katakan apa keinginanmu?" ujar Abra ramah, sesaat setelah duduk di depan Rafan. Abra melihat kegelisahan yang terlihat di wajah Rafan. Entah apa yang sedang dipikirkan Rafan? Abra merasakan kecemasan yang nyata di wajah dan sikap Rafan.
"Papa, apa pendapatmu tentang perjodohanku dengan Hanna? Apa papa mengizinkan aku menikah dengan Hanna? Bersediakah papa menerima Hanna menjadi menantu papa?" tutur Rafan lirih, lalu menunduk. Rafan meremas tangannya, ada ketakutan yang menjalar dalam hatinya. Rafan merasa tak berdaya, jika akhirnya Abra menolak perjodohan diantara dirinya dengan Hanna.
"Kamu menanyakan pendapat papa?" ujar Abra tak percaya, Rafan mengangguk mengiyakan.
Rafan merasa harus bertanya pada Abra, bagaimanapun Abra ayah kandungnya? Orang pertama yang harus setuju dengan pernikahannya dengan Hanna atau wanita lain. Hubungan Rafan dan Abra tak begitu dekat, tapi darah yang mengalir dalam nadi mereka sama. Sekuat apapun Rafan menjauh, nyatanya Abra orang paling dekat dengannya. Darah Abimata mengalir dalam nadi keduanya. Tak ada yang bisa meragukan semua itu. Mereka akan tetap dekat, sampai maut memisahkan.
"Kamu serius!" ujar Abra tak percaya, lagi dan lagi anggukan kepala yang terlihat. Rafan mengangguk penuh ketegasan. Dia menyakinkan Abra, jika izin Abra yang dibutuhkannya saat ini.
"Papa, sikap dinginku tak berarti aku membencimu. Selamanya kamu ayah kandungku, ridhomu yang selalu aku butuhkan. Mama surgaku, papa panutanku. Hanya pada kalian hidup dan bahagia kusandarkan!" ujar Rafan lirih, Abra tertegun menatap Rafan.
"Rafan, papa tidak salah dengar!"
__ADS_1
"Sudah saatnya, hangat diantara kita tercipta. Ada saatnya, aku membutuhkan papa. Hari ini, izin dan ridho papa yang kubutuhkan!"