
"Assalammualaikum, apa kabar pak Fandy?"
"Waalaikumsalam!" sahut Fandy, Kanaya menghampiri Fandy.
Kanaya berjalan diantara material. Nampak langkah kaki Kanaya begitu santai berjalan diantara pasir dan batuan. Gamis panjang yang dikenakannya, tak lantas membuat langkah kaki Kanaya terhambat. Kanaya begitu lihai berjalan, meski panjang gamis terkadang mempersulit langkahnya.
"Ada masalah? Kenapa om Hanif memintaku datang?" ujar Kanaya, Fandy mengangguk. Kanaya berdiri sedikit menjauh dari Kanaya. Jarak yang selalu dijaga Kanaya selama ini. Dari semua laki-laki yang berusaha mendekatinya.
"Bukan masalah besar, hanya saja cetak biru yang anda buat. Tidak sepenuhnya dipahami oleh pengembang. Sedangkan tuan Hanif hanya sesekali datang. Beliau sibuk mempersiapkan pernikahannya. Sebaliknya, saya bukan ahli dalam bidang ini. Jadi maaf, saya tidak bisa membantu!" ujar Fandy sopan, Kanaya mengangguk.
Kanaya mengambil cetak biru dari tangan Fandy. Dengan sopan Fandy memberikan cetak biru pada Kanaya. Tanpa sengaja Fandy menyentuh lengan Kanaya yang tertutup hijab. Sontak Kanaya berjalan sedikit menjauh. Fandy langsung menunduk, ada rasa bersalah. Saat menyadari dia telah melakukan sesuatu yang tidak disukai Kanaya. Apalagi Fandy menyadari, jika Kanaya bukan hanya rekan kerja. Namun dia wanita yang masih sangat disayangi oleh Haykal.
"Maaf!" ujar Fandy lirih, Kanaya menggeleng lemah.
"Seharusnya saya yang meminta maaf, sebab berdiri menjauh dari anda. Saya dalam kondisi wudhu, sekali lagi maaf!" tutur Kanaya lirih, Fandy mengangguk mengerti. Tersirat rasa kagum di hati Fandy. Pada sosok wanita pintar di depannya. Namun rasa kagum Fandy, hanya boleh sebatas rekan kerja. Mengingat ada sosok yang selalu dan akan selalu mencintai Kanaya.
Kanaya memeriksa cetak biru, lalu dengan sopan Kanaya meminta Fandy memanggil pihak kontraktor. Kanaya akan menerangkan detail yang ada di cetak biru. Setelah beberapa menit menunggu, Kanaya mengajak para pengembang termasuk Fandy berkeliling. Kanaya menerangkan detail yang belum sepenuhnya dipahami oleh Fandy. Kanaya dan rombongan berjalan di bawah terik panas matahari. Menyusuri setiap inci lokasi proyek.
"Baiklah, saya rasa semua sudah mengerti!"
"Maaf ibu, proyek ini begitu besar. Tidak mudah bagi kami menyelesaikannya tepat waktu!" ujar salah satu pengembang.
"Jika saya bisa membuat cetak biru ini dalam waktu singkat. Seharusnya kalian semua bisa menyelesaikannya tepat waktu. Sejak awal, kami sudah menawarkan pada anda sekalian. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan. Tanpa melihat cetak biru dan luas area proyek. Anda sanggup menyelesaikan sesuai waktu yang kami tentukan. Sekarang setelah menemukan kesulitan, anda menyatakan tidak sanggup dan memilih mundur. Jika anda berpikir proyek ini hanya permainan dan hanya sekadar bisnis yang menguntungkan. Lebih baik anda pertimbangkan kembali. Saya akan mencari pengembang yang lebih bertanggungjawab!" ujar Kanaya tegas, seketika semua orang terdiam. Di balik cadar dan gamis panjang yang anggun. Tersimpan cara kerja dan ketegasan yang tak terbayangkan. Kanaya terlihat mengusai detail proyek yang sedang mereka kerjakan.
__ADS_1
"Maaf, ibu tidak bisa memecat mereka begitu saja. Ada kontrak yang harus anda patuhi. Lagipula mereka pengembang terbaik pilihan perusahaan kami. Dua alasan yang membuat anda tidak berhak memecat mereka secara sepihak!" ujar Fandy, Kanaya langsung menoleh. Dua bola mata Kanaya mengunci wajah Fandy. Amarah yang jelas siap meledak, saat Fandy ingin menunjukkan jati dirinya.
"Mungkin perusahaan anda investor dalam proyek ini dan mereka pengembang yang anda pilih. Namun sebagai pemilik proyek, saya berhak memutuskan dengan siapa saya bekerja? Jika menurut kalian, proyek ini hanya bisnis menguntungkan atau lebih tepatnya sekadar bisnis yang tidak perlu terburu-buru. Lebih baik kalian pikirkan bertahan di proyek ini. Ajukan pembatalan kontrak dan pembayaran pinalti yang harus saya bayar!"
"Maksud anda? Kenapa anda begitu marah? Semua ini hanya masalah waktu yang diperpanjang. Tidak harus sampai ada pembatalan kontrak. Lagipula anda terlalu percaya diri, mampu melunasi royalti yang pada perusahaan kami. Padahal jika anda melihat nominalnya. Percayalah, perusahaan anda tidak akan mampu menutupi ganti rugi yang kami ajukan!"
"Saya siap menjual perusahaan, tapi saya tidak akan menjual harapan dan asa warga sekitar. Perumahan bersubsidi yang sedang dibangun. Bukan hanya perumahan, tapi perlindungan yang dibutuhkan para tunawisma yang ada di kota ini. Pesantren yang ada di area ini, bukan sekadar pesantren untuk mendidik anak-anak. Namun rumah bagi para anak yang merasa sepi dan jauh dari kata Iman. Rumah yang akan membetuk pribadi penerus. Rumah sakit ini tempat mereka meminta pertolongan. Semua harapan dan asa warga sekitar. Ada dalam mega proyek yang kalian anggap permainan. Ingat tuan Fandy, saya siap membayar royalti dan mengembalikan semua uang yang sudah masuk ke dalam proyek ini!"
"Bukan seperti itu, anda salah paham!" ujar Fandy menjelaskan.
"Fandy, pergilah bersama para pengembang. Diskusikan kembali, tapi pastikan proyek akan selesai tepat waktu. Ingat Fandy, lakukan apapun agar proyek ini selesai!" ujar Haykal tegas, Fandy langsung mengangguk pelan.
Kanaya menoleh ke arah Haykal yang berdiri tepat di belakangnya. Senyum Haykal tak lantas membuat hati Kanaya tersentuh. Amarah sudah terlanjur terucap, tak lantas semua menghilang begitu saja. Kanaya berjalan menjauh dari Haykal. Kanaya masuk ke dalam mobilnya, tapi tangan Haykal menghalangi pintu untuk tertutup. Haykal mencegah Kanaya pergi.
"Kenapa?"
"Kemana?" Sahut Kanaya tanpa menoleh ke arah Haykal.
"Kemana kamu meminta pergi?" sahut Haykal, Kanaya mendongak. Tatapannya kesal, berpikir Haykal telah mempermainkannya. Kanaya menghidupkan mesin mobilnya, isyarat Kanaya menolak ajakan makan Haykal. Namun sikap keras Haykal membuatnya tetap berdiri di samping pintu mobil Kanaya.
"Katakan sekarang, jangan membuatku kesal!" ujar Kanaya dingin dan sinis, Haykal tersenyum simpul. Harum tubuh Haykal tercium oleh Kanaya. Kedekatan yang pernah ada diantara mereka. Kini seolah ingin terulang kembali.
"Kanaya, aku mohon. Kita pergi sebentar saja!" pinta Haykal, Kanaya diam membisu. Tangannya berpegangan pada kemudi mobil. Mencoba menenangkan gejolak hatinya, berada sedekat ini dengan Haykal. Membuat tubuh dan hatinya bergetar hebat.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" ujar Kanaya, sembari menutup dadanya dengan kedua tangannya. Kanaya menjauhkan tubuhnya, ketika tangan Haykal masuk ke dalam mobilnya.
"Kita pergi dengan mobilku, Fandy yang akan membawa mobilmu!" ujar Haykal, sembari mengambil kunci mobil Kanaya. Haykal melihat sikap Kanaya yang ingin menjauh darinya. Seolah Kanaya enggan disentuh oleh Haykal.
"Dengan dua mobil atau tidak sama sekali!" ujar Kanaya tegas, Haykal menghela napas. Terlihat anggukan kepala Haykal beberapa saat kemudian.
"Baiklah!" ujar Haykal, lalu berjalan menuju mobilnya. Kanaya menutup pintu mobilnya, dia menghidupkan mobilnya. Kanaya dan Haykal berjanji bertemu di sebuah restoran.
Tok Tok Tok
"Ada apa lagi?" sahut Kanaya dingin, sembari menurunkan kaca mobilnya. Kanaya membuka kaca mobil, ketika mendengar Haykal mengetuk kaca mobilnya.
"Apa aku begitu menyakitimu? Sampai aku merasa, hanya ada ketakutan. Kala aku hendak menyentuhmu. Sebesar apa luka yang kutinggalkan? Sampai dua mataku, tak lagi pantas melihat kecantikanmu!"
"Bukan ketakutan akan sentuhanmu, tapi ini kesetiaan dan caraku menjaga kesucian tubuh yang sesungguhnya tak lagi suci. Air wudhu yang selama ini menjadi perisaiku. Agar tak ada lagi tangan yang bisa menyentuh tubuhku. Selain dua tanganmu yang pernah mengucap janji suci bersamaku. Bukan luka yang kamu tinggalkan di hatiku. Namun sebuah rasa cinta dan ketulusan yang ada dihatiku. Aku menutup seluruh tubuhku yang tak lagi murni, bukan karena luka di masa lalu. Namun aku menutup semua ini, agar hanya dua mata kakak yang pernah menatapnya. Sekarang jawablah pertanyaanku, ini ketakutan atau kesetiaan? Ketika aku menjaga tubuhku dari sentuhan laki-laki lain. Ini luka atau ketulusan? Kala aku tutupi seluruh tubuh ini dari mata lapar laki-laki lain. Namun apapun jawaban kakak, semua terlambat. Kesetian dan ketulusanku telah dipertanyakan? Biarkan rasa cinta ini tersimpan dan hanya pertemanan yang akan aku tawarkan!"
"Kenapa?"
"Zahra dan istrimu lebih membutuhkanmu!"
"Zahra bukan putriku, dia putri Silvi!" sahut Haykal menjelaskan. Kanaya tak diam, dia melajukan mobilnya menjauh.
"Aku masih sangat mencintaimu!" batin Haykal.
__ADS_1