KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kasih Sayang yang Berbeda


__ADS_3

Setelah sebulan yang lalu, Ibra meminang Nissa pada Fahmi. Hari ini Ibra dan Nissa telah mengucapkan janji suci. Keduanya mengikat hati satu dengan yang lain. Ibra dan Nissa mantap membangun bahtera rumah tangga. Keduanya merasa yakin akan rasa yang ada dalam hati. Ibra tak ingin membuang waktu dan larut dalam hasrat tak pasti. Dengan lantang Ibra mengucap ijab qobul, tanpa ada halangan atau keraguan sedikitpun.


Pernikan Nissa dan Ibra sangat sederhana. Tak ada keramaian atau gemerlap pesta. Nissa meminta pesta sederhana sebagai mahar pernikahannya. Nissa tidak ingin menggelar pesta tanpa kedua orang tuanya. Ayah Nissa pergi entah kemana? Meninggalkan Nissa dan ibunya tanpa pamit. Sedangkan sang ibu mengalami trauma, setelah kejadian malam itu. Akhirnya Fahmi yang menjadi wali nikah untuk Nissa. Adik sepupu yang sudah dianggapnya seperti adik kandung sendiri. Fahmi sangat menyayangi Nissa, bagi Fahmi Nissa satu-satunya saudara yang dimilikinya. Meski pesta sangat sederhana, tapi pernikahan Nissa dipenuhi orang-orang hebat.


Dirgantara dan Mira datang sebagai orang tua Nur, sekaligus orang tua bagi Fahmi. Keduanya sengaja datang, bukan sebagai tamu melainkan tuan rumah. Arya dan Iman datang tanpa istri mereka. Kehamilan Fitri dan Afifah sudah mendekati hari persalinan. Jadi tidak baik bila keduanya terlalu lelah. Sedangkan Embun dan Abra, datang sebagai pengiring dari pihak Ibra. Keduanya mengantar sang adik menuju pelaminan.


Tepat pukul 20.00 WIB, semua tamu sudah pulang. Ibra dan Nissa sudah resmi menjadi suami istri. Keduanya terlihat bahagia, walau dalam perjalanan kisah cintanya menemui jalan terjal. Semua terjadi tak lain, karena sikap arogant Haykal Abimata. Sikap yang tak pernah berubah dan lebih mementingkan harta dan status sosial. Namun Ibra bukan Abra yang akan tunduk pada ancaman Haykal. Sejak kecil, Ibra selalu membangkang pada Haykal. Jika permintaan Haykal tidak sesuai dengan hatinya. Seperti ketika Ibra meminang Nissa dan Haykal menolaknya. Dengan lantang Ibra memutuskan untuk keluar dari rumah Abimata. Sikap tegas yang membuat Indira jatuh sakit dan harus menjalanu rawat inap selama hampir seminggu. Semenjak itu Haykal tak berkutik, keberanian Ibra membuatnya takut. Sebab itu Haykal hanya diam, menerima pernikahan Ibra dengan wanita yang bukan pilihannya.


"Nissa, kemarilah!" panggil Indira hangat, Nissa berjalan menghampiri Indira.


"Ada apa tante?" sahut Nissa ramah, Indira menggelengkan kepalanya. Dia menolak Panggilan tante dari Nissa. Dengan penuh kasih sayang, Indira merangkul tubuh Nissa. Indira menuntun Nissa menuju meja makan. Walau Nissa merasa heran, tapi demi menjaga sopan santun. Nissa memilih diam, menanti Indira mengatakan alasan memanggil dirinya. Indira meminta Nissa duduk di sampingnya.


"Jangan panggil tante, kamu kini putriku. Panggil aku mama, seperti Ibra memanggilku!" ujar Indira hangat, Nissa mengangguk mengiyakan. Dengan tatapan hangatnya, Nissa memandang wajah cantik Indira. Ada rasa kagum terselip dalam hatinya. Dia melihat Indira tetap terlihat muda, meski usianya tak lagi muda.


"Baik!"


"Sekarang makanlah, sejak tadi siang kamu belum makan apa-apa?" ujar Indira ramah, lalu mengambilkan nasi dan lauk untuk Nissa. Namun kehangatan Indira tak sesuai keinginan Nissa. Nampak jelas dari raut wajahnya yang datar. Nissa hanya diam menatap sepiring nasi dan lauk yang ada di depannya. Entah kenapa Nissa merasa kenyang? Walau cacing dalam perutnya meronta meminta makanan.

__ADS_1


"Mama, maaf sebelumnya!"


"Iya sayang, ada apa?" sahut Indira ramah, Nissa menunduk seraya meremas ujung hijabnya. Indira merasa ada yang mengusik ketenangan Nissa. Sebab itu Nissa merasa ragu untuk bicara jujur.


"Katakan sayang, jangan takut!" ujar Indira penuh dengan kelembutan. Dengan penuh kasih sayang, Indira mengelus lembut puncak kepala Nissa. Indira mencoba menyakinkan Nissa, semua baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja.


"Mama, Nissa belum lapar!" ujar Nissa lirih dan sopan, Indira tersenyum mendengar penjelasan Nissa. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang seorang ibu. Indira mengambil satu suap nasi, Indira meminta Nissa membuka mulutnya. Indira ingin memastikan Nissa memakan makanannya.


"Kamu memang tidak lapar, tapi cacing dalam perutmu sejak tadi menjerit. Jika kamu merasa malu atau ingin menunggu Ibra, maka lupakan semua itu. Mama tidak akan membiarkan, kamu tidur dengan perut kosong. Ibra tidak akan peduli pada laparnya. Dia akan lupa waktu, ketika bertemu dengan Abra kakaknya. Jadi sekarang makanlah, mama yang akan menyuapimu. Setelah itu kamu istirahat, mama yakin tubuhmu lelah dan butuh istirahat!" ujar Indira, Nissa menunduk malu. Indira bisa menebak alasan penolakannya.


Indira mungkin orang lain bagi Nissa, tapi dia tetap seorang ibu. Indira bisa merasakan lapar putranya, tanpa harus mendengar jerit rasa lapar dari putranya. Indira begitu bahagia dengan kehadiran Nissa di tengah-tengah keluarganya. Nissa bak cahaya pembawa kebahagian dalam keluarga Abimata. Nampak jelas kasih sayang Indira pada Nissa. Sampai Indira rela menyuapi Nissa sampai sendok terakhir.


"Mama sudah melarangmu, sekarang kamu istirahat. Kamu sudah sangat lelah!" ujar Indira, lalu merangkul hangat tubuh Nissa. Membawa Nissa menuju kamar Ibra, Indira memperlakukan Nissa layaknya putri kandungnya sendiri. Indira menampakkan kebahagian dari wajah cantiknya. Tawa bahagia terdengar dari bibirnya. Indira begitu bahagia, sampai dia tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya.


"Kenapa kamu diam? Kamu cemburu melihat kedekatan Indira dengan Nissa!" ujar Haykal dingin, Embun langsung menoleh. Dia terkejut melihat Haykal sudah berdiri di sampingnya.


Sejak Indira menyaupi Nissa, semenjak itu Embun menatap sendu ke arah Indira dan Nissa. Embun merasa ada yang berbeda dari sikap Indira padanya dan pada Nissa. Embun merasa sakit, ketika menyadari kasih sayang Indira terlihat begitu besar pada Nissa. Jika mungkin ini rasa cemburu, Embun takkan mengelaknya. Sebab hati Embun terasa sakit melihat kedekatan Indira dengan Nissa. Embun tersisih dan tak diperhatikan, mungkin alasan itu yang membuat Embun diam menatap nanar tawa bahagia Nissa bersama Indira.

__ADS_1


"Tuan Haykal!"


"Kenapa kamu tidak menjawabku? Biasanya kamu lantang, kenapa sekarang kamu diam? Apa perkataanku benar? Kamu iri dengan perlakuan Indira pada Nissa. Jujur Embun, kamu mungkin putri keluarga terhormat, tapi sikap angkuhmu yang membuatku tak ingin mengenalmu. Sebaliknya Nissa wanita sederhana, tapi dia sopan dan menjaga kehormatanku. Meski dia menyadari penolakanku, dia tetap ramah padaku. Tak sekalipun dia bersikap keras, Nissa memperlakukan aku dengan rasa hormat. Tidak seperti kamu yang menjawab perkataanku!"


"Maaf, jika saya menyakiti anda. Lebih baik saya permisi!" sahut Embun, Haykal tertawa sangat keras. Bahkan suaranya terdengar sampai ke ruang tamu. Tempat dimana Ibra dan Abra sedang berkumpul?


"Akhirnya kamu menyadari posisimu, harta dan status yang kamu miliki. Takkan membuatku mengakuimu sebagai menantu. Aku menerimamu di rumahku, semua demi putraku. Aku tidak ingin melihat rasa sakitnya. Sebab itu aku memperbolehkanmu menginap. Jika bukan Abra, aku tidak akan membiarkanmu menginjak rumahku!" sindir Haykal, Embun langsung menjauh. Dengan langkah cepat, Embun masuk ke dalam kamar Abra. Kamar yang berada tepat di depannya. Embun masuk bukan untuk tidur, tapi dia masuk untuk mengambil Rafan dan menggendongnya keluar dari rumah Abimata.


"Tunggu, kemana kamu akan membawa cucuku!" teriak Haykal dari lantai dua. Embum tak mengindahkan teriakkan Haykal. Dengan menggendong Rafan, Embun menuruni anak tangga. Haykal berlari mengejar Embun, Abra dan Ibra berlari menghampiri Haykal. Mereka cemas mendengar teriakkan Haykal.


"Abra, hentikan dia. Jangan biarkan dia membawa Rafan!" ujar Haykal lantang, Abra langsung menahan tangan Embun. Tanpa bertanya Abra sudah menduga, terjadi perselisihan antara Haykal dan Embun.


"Demi aku, tetaplah tinggal. Jangan rusak kebahagian adikku. Setidaknya malam ini, kamu mengalah dan diam menghadapi papa!" ujar Abra lirih, Embun langsung menepis tangan Abra.


"Rafan tidak akan tinggal di rumah yang tak pernah menerima ibu kandungnya. Sedangkan aku, tidak akan pernah memaksa kakak pergi denganku. Kucing akan berlari keluar, ketika pemilik rumah mengusirnya. Sangat bodoh, jika aku tetap tinggal di rumah yang tak pernah menerimaku!" ujar Embun, lalu berjalan melewati Abra.


"Aku akan mempertaruhkan nyawaku demi dirimu, tapi tidak harga diriku. Jujur kak, aku memang keras dan egois. Namun aku tetap wanita berhati lemah. Aku akan menangis bila terluka, tapi aku tidak akan mengemis pada orang yang selalu menganggapku hina!" ujar Embun, Abra berlari menahan tangan Embun. Menghalangi langkah Embun menjauh.

__ADS_1


"Papa, aku sangat menghargaimu. Namun air mata Embun tak pantas menetes. Apalagi setelah hinaan yang papa katakan. Sekali lagi Abra minta maaf. Abra harus pulang, tempat ternyaman Abra hanya berada dekat dengan Embun dan Rafan. Sekali lagi maaf!" ujar Abra, lalu merangkul tubuh Embun keluar dari rumah Abimata.


"Kamu tak pernah berubah!" ujar Indira sinis dan dingin.


__ADS_2