KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Permintaan Kecil


__ADS_3

"Arah jam 3!" Bisik Fahmi, sontak Abra menoleh. Nampak sosok yang begitu dirindukannya.


Abra terperanjat, antara bahagia sekaligus terkejut. Dua bola mata indahnya mengunci sosok yang begitu dirindukannya. Fahmi tersenyum melihat raut bahagia sahabatnya. Lama Fahmi tak pernah melihat wajah penuh kabahagian itu. Kini dengan dua matanya, Fahmi melihat betapa Abra bahagia? Sebaliknya Abra yang tersadar dari rasa kagetnya. Langsung berlari ke arah Embun, meninggalkan para investor. Abra langsung melupakan pekerjaan. Meski kepergiaannya, diiringi tatapan penuh amarah Haykal.


"Embun!"


"Sudah selesai!" Ujar Embun, Abra menggeleng lalu menoleh ke arah Fahmi.


"Kalau begitu lanjutkan, aku hanya ingin pamit. Hari semakin sore, sebentar lagi petang. Takutnya aku kemalaman!" Ujar Embun, lalu menarik tangan Abra.


"Tunggu!" Ujar Abra dengan nada tinggi. Tanpa Abra sadar, dia menarik tangannya tepat saat Embun hendak menciumnya.


Embun langsung terdiam, sikap spontan Abra jelas membuat Embun sedih. Namun Embun berusaha menenangkan hatinya. Dia tidak ingin membuat suasana semakin keruh. Embun merasa sikap kasar Abra, tak selayaknya menjadi alasan amarahnya. Abra yang mulai menyadari sikap kasarnya. Langsung menarik tangan Embun, Abra mencoba menjelaskan yang terjadi. Embun tetaplah Embun, dingin dan keras. Hanya diam, sunyi tanpa sahutan yang diterima Abra.


"Abra!" Teriak Haykal, Abra menoleh dengan tatapan pias. Jelas Abra melihat tatapan marah sang ayah. Namun seolah tak peduli dengan amarah Haykal. Abra langsung mengalihkan pandangannya ke arah Embun.


"Pergilah, beliau memanggilmu. Aku harus pergi, aku tidak ingin mengganggu pekerjaan dan tanggujawabmu!"


"Tapi!" Sahut Abra lirih, rasa kecewa jelas terdengar dari suaranya.


"Ada apa lagi? Haruskah aku mendengar teriakan beliau untuk kedua kalinya. Sehingga beliau memiliki alasan memaki dan menghinaku lagi!"


"Embun, hari ini ulang tahunku. Setidaknya kita bisa makan malam bersama!" Ujar Abra menghiba, Embun diam menatap nanar Abra. Seakan permintaan tulus Abra menggetarkan hatinya. Namun rasa kasihan Embun, seketika lenyap. Saat dia melihat tatapan sinis Haykal. Embun langsung menggelengkan kepalanya. Menolak tegas permintaan Abra.


"Kenapa?"


"Lihatlah di belakangmu, berdiri beberapa orang penting dan sederajat denganmu. Mereka tengah menunggumu, pergi menuju pesta ulang tahunmu. Kewajibanku sebagai seorang istri sudah selesai. Tidak ada alasanku tetap disini!"


"Kewajiban apa?"


"Membuatkan nasi kuning, ciri khas acara hajatan hari jadimu. Kakek menghubungiku, beliau mengatakan jika kamu sangat menyukai nasi kuning. Aku juga sudah menepati janjiku, menemuimu sebelum aku pulang!" Tutur Embun, lalu menarik kembali tangan Abra.

__ADS_1


Sebuah penghormatan sederhana penuh makna yang ditinggalkan dalam hidup Abra. Embun mencium punggung tangan Abra, sebagai tanda pamit Embun padanya. Bibir Embun menempel hangat di tangan Abra. Sebuah tanda bakti seorang istri pada suami yang dipilih sang ayah. Embun melewati Abra tanpa kata. Awal sebuah perpisahan tercipta yang terasa begitu sunyi. Langkah kaki Embun, seirama dengan degub jantung Abra yang bergemuruh.


"Sayang!" Ujar Abra, sembari menarik tangan Embun. Sontak Embun menoleh, tatapan Embun mengisyaratkan rasa tak mengerti. Langkah Embun terhenti, kakinya terasa kaku. Tubuhnya beku tak berdaya dengan raut wajah menghiba Abra.


"Tinggalah untuk hari ini. Setidaknya demi hari penting dalam hidupku!" Ujar Abra, Embun menunduk. Abra menghela napas, seolah ada beban berat yang tengah dipikulnya.


"Keluargamu!"


"Mereka sudah bersamaku selama ini. Satu hari aku bersamamu, tidak akan membuat mereka kecewa. Puluhan tahun dalam hidupku terlewat begitu saja. Malam ini, hanya malam ini. Biarkan aku merasa sempurna berada di dekatmu!" Tutur Abra, Embun terdiam.


"Abra, cepatlah!" Teriak Haykal, Abra tak menoleh. Abra tak peduli akan teriakan Haykal. Abra hanya fokus pada jawaban Embun.


"Kenapa kamu posisikan aku di tempat yang sulit?" Ujar Embun lirih, Abra menatap penuh harap ke arah Embun.


"Sayang!"


"Baiklah Abra, aku akan ikut bersamamu. Permintaanmu kecilmu membuatku tak berdaya. Dengan segenap hati, akan aku terima tatapan dingin mereka. Namun dengan satu syarat!" Ujar Embun tegas dan lantang.


"Apapun yang mereka katakan tentangku? Jangan pernah kamu membelaku. Cukup diam menjadi sandaraku, dukung aku dengan keputusanku. Jangan pernah bertanya atau menyalahkanku!" Ujar Embun, Abra menatap Embun. Ada raut wajah bingung, tapi Abra percaya ada alasan dibalik syarat yang Embun utarakan.


"Aku setuju!" Sahut Abra dengan nada penuh bahagia.


"Baiklah, aku akan menunggumu di rumah keluarga Abimata!" Ujar Embun, Abra menggeleng lemah.


"Tidak lagi kamu menungguku. Tempatmu disampingku, melangkah melewati waktu yang berputar. Akan kulewati tiap detik malam ini penuh dengan bahagia!" Ujar Abra, seraya menarik tangan Embun.


Keduanya berjalan menghampiri Haykal dan Fahmi. Tepat di depan Haykal, Embun menunduk dan terdiam. Embun mencoba menenangkan hatinya. Dia tidak ingin menjadi alasan sebuah pertengkaran. Namun dia juga tidak akan diam, seandainya Haykal menghiba harga dirinya. Tundukkan kepalanya bukan bukti rasa takut. Namun sebuah perhormatan, untuk ayah yang telah membesarkan imam dunia akhiratnya.


"Kenapa kamu membawa wanita ini?"


"Papa, dia istriku!" Sahut Abra.

__ADS_1


"Secara agama!" Ujar Haykal sinis, Fahmi mendekat. Menepuk pelan pundak Abra, mengingatkan Abra akan keberadaan para investor. Fahmi tidak berharap akan ada perdebatan dalam rapat hari ini.


"Jangan ingatkan aku, minta ayah angkatmu menjaga bicaranya!" Ujar Abra, Fahmi menggeleng lemah. Dia menjadi tersudut diantara dua orang dengan watak yang sama.


"Abra, jaga bicaramu!" Ujar Haykal emosi, Embun merangkul lengan Abra. Dengan tatapan penuh kelembutan, Embun menenangkan amarah Abra.


"Demi dirimu aku akan diam!" Ujar Abra sembari menggenggam erat tangan Embun.


"Aku mungkin belum sepenuhnya mencintaimu, tapi melihatmu terus bertentangan dengan keluargamu. Sungguh aku tidak tega. Kamu berhak bahagia bersama keluargamu. Bagaimanapun mereka keluarga yang membesarkanmu? Aku hanya wanita yang singgah dalam hidupmu. Entah berapa lama aku ada dalam hatimu? Sampai detik ini aku tak pernah menemukan jawabannya!" Batin Embun.


Akhirnya perdebatan terhenti tanpa kata. Abra mengantar para investor keluar dari perusahaan. Haykal hanya bersifat mendampingi, karena sesungguhnya Abra yang kini menjadi pemimpin. Abra yang bertanggungjawab penuh akan keberhasilan perusahaan. Saat Abra sibuk dengan para koleganya. Embun memilih berjalan paling belakang. Embun mencoba menjaga posisinya. Semua demi harga diri yang tak ingin diinjak oleh orang lain.


"Bagaimana rasanya menjadi nyonya besar?" Ujar Haykal sinis, Embun menoleh diiringi tatapan tidak suka Abra.


"Aku tidak pernah bahagia dengan status itu?"


"Munafik!" Sahut Haykal, Embun tersenyum simpul. Seakan Embun menertawakan perkataan Haykal.


"Status yang aku terima, hanya status tanpa bukti. Kenyataannya, sampai saat ini aku masih berdiri di atas kedua kakiku. Aku belum merasakan tangan putramu menopangku. Setiap butir nasi yang aku makan, bukan keringat putramu. Melainkan kasih sayang ayah yang membesarkanku. Setiap helai kain yang melindungi kesucianku, bukan jerih payah atau hadiah dari putramu. Semua ini aku dapatkan, berkat ketulusan orang tuaku. Putramu hanya memiliki tubuhku, tapi dia belum memenuhi hakku!"


"Lancang!" Ujar Haykal meradang, tangannya terangkat. Namun dengan sigap Embun menahannya. Abra langsung meradang, tangannya terkepal. Dia marah melihat sikap kasar Haykal.


"Angkat tangan anda padaku, ketika anda menemukan kesalahanku. Namun jangan pernah mengangkat tangan, saat anda malu akan fakta yang aku katakan. Aku tetap disini, semua demi permintaan kecil putramu. Bukan terhina oleh keangkuhanmu!"


"Kamu!" Ujar Haykal tak percaya.


"Abra, kita berangkat sekarang. Atau kamu masih ingin menunggu wanita pilihan ayahmu datang!" Ujar Embun lantang.


"Siapa yang kamu maksud?" Ujar Abra tak mengerti.


"Tanyakan pada ayahmu, dia tentu tahu jawaban paling tepat dari pertanyaanmu!" Ujar Embun sinis, lalu berjalan mejauh dari Abra.

__ADS_1


"Dia mendengarnya!" Batin Abra kalut.


__ADS_2