KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Sakit


__ADS_3

"Minumlah!"


"Terima kasih sayang!" Ujar Haykal, sembari menerima secangkir kopi.


Indira meletakkan nampan di atas meja nakas. Indira berdiri tepat di samping jendela kamarnya. Jendela yang menghadap langsung ke arah taman. Sebuah taman yang sengaja ditanami beberapa bungan mawar. Tepat di sisi kanan taman, nampak kolam renang. Terkadang pantulan bulan nampak di kolam. Tempat favorit Abra mencari ketenangan. Seperti saat ini, Indira melihat Abra tengah berdiri tepat di sisi kolam.


"Haykal, apa hatimu puas?"


"Sayang, apa maksudmu? Kenapa aku merasa kamu dingin padaku?"


"Sikapmu yang melukai hati putraku, menyadarkan aku akan satu hal. Jika aku telah menikah dengan laki-laki berhati batu!" Ujar Indira lirih, lalu perlahan Indira membuka jendela kamarnya.


Angin malam yang dingin, berhembus masuk ke dalam kamar. Tubuh Indira terasa dingin, tapi tak sedingin hatinya saat ini. Indira hancur melihat putranya terpuruk. Putra yang tak pernah menganggapnya ada. Putra yang begitu disayanginya, meski hanya dalam diam. Indira tak berdaya, ketika melihat Abra tersakiti. Abra tak berdaya, jelas terlihat dari tubuh tegapnya yang mematung di tepi kolam. Merasakan dingin angin yang jelas membekukan tulang belulang Abra.


"Indira, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" Ujar Haykal tegas, Indira menunjuk ke arah kolam. Tempat dimana Abra sudah berdiri hampir satu jam lebih?


"Lihat putraku yang hancur dengan sikapmu!"


"Abra!"


"Iya Haykal, Abra putramu yang terluka oleh keangkuhanmu. Putra yang tak lagi percaya akan arti sebuah keluarga. Sebab keluarganya yang ingin menghancurkan kebahagiannya!"


"Abra tidak akan hancur hanya karena pertengkaran tadi. Sejak dulu sampai sekarang, aku dan dia selalu berselisih paham. Jadi pertengkaran malam ini, tidak akan membuatnya membenciku!" Ujar Haykal percaya diri.


"Dia memang tidak akan membencimu, tapi kelak dia akan pergi meninggalkan kita. Abra akan mencari kehangatan dari keluarga lain. Bukan keluarga yang selalu menyakiti hatinya!"


"Indira, apapun yang aku lakukan? Semua demi kebaikannya. Tidak ada niatku menyakitinya. Abra putra kandungku, tidak mungkin aku menghancurkan kebahagiannya!"


"Kamu memang benar, tidak mungkin aku menghancurkan kebahagian Abra. Namun, lihatlah hasil akhir dari sikapmu. Abra hancur, Abra tersakiti. Tubuhnya kembali membeku, tatapannya kosong dan hatinya hampa. Semua karena angkuhmu yang tak pernah mengharapkan Embun!" Ujar Indira lantang, Haykal diam membisu.


Haykal menatap lekat tubuh Abra yang berdiri tanpa bergerak. Tubuh Abra bak es yang membeku. Tak ada suara atau gerakan kecil. Abra diam menatap langit malam, mencari secercah sinar dari redup bintang malam. Cahaya yang diharapkan Abra mampu menerangi gelap hatinya. Gelap yang terisi oleh amarah Abra akan sikap tak pantas Haykal.

__ADS_1


"Sayang, apapun yang aku lakukan? Semua demi kebaikan Abra!"


"Kebaikan yang kamu katakan, tak lebih dari luka yang kamu torehkan di hati putraku. Belum sempat aku merasakan hangat pelukannya. Kini harus kuterima tatapan dingin penuh amarahnya. Semua terjadi, hanya karena sikap arogantmu. Entah apa yang akan aku dapatkan besok? Jika seandainya kamu mengikari janji!"


"Janji apa?"


"Janji mengucapkan kata maaf pada orang tua Embun!" Ujar Indira, Haykal tersentak kaget.


Haykal teringat akan janji yang dibuatnya pada Abra. Sebuah syarat yang harus dipenuhi Haykal. Jika tidak ingin kehilangan putra tercintanya. Namun hati kecilnya mengingkari janji itu. Sebuah janji yang akan membuatnya merasa terhina. Sebaliknya Indira hanya bisa diam. Melihat raut wajah keraguan Haykal. Jelas Indira tahu, jika sulit bagi Haykal memenuhi janji itu.


"Aku tidak akan memaksamu menepati janji itu. Namun aku juga tidak akan membantumu menginhkari janji itu. Apapun sikap yang kamu ambil? Akan menjadi keputusan bagi Abra putraku!" Ujar Indira, lalu berjalan menuju tempat tidurnya.


Indira mencoba melupakan pertengkaran antara Haykal dan Abra. Berharap besok tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk dari malam ini. Semua kini berada di tangan Haykal. Tetap teguh pada keangkuhannya atau mengalah demi kebahagian putranya. Haykal berjalan lebih dekat ke arah jendela. Nampak Abra berdiri termangu, menatap putramya Abra yang tengah berdiri di depan kolam.


"Kak, minumlah!"


"Tidak, terima kasih!" Tolak Abra ramah. Abra menolak bukan karena Ibra yang memberikannya. Namun minuman beralkohol sudah tidak lagi disentuh Abra. Ibra mengeryitkan dahinya tidak percaya. Abra yang dulunya pencinta minuman keras. Menolak tegas meminum minuman kesukaannya.


"Tidak, aku sedang belajar lepas dari minuman haram itu. Kamu mengenal Embun melebihi diriku. Jelas kamu tahu, tidak mungkin Embun melarang atau mengeluh akan sesuatu!" Ujar Abra tegas, Ibra mengangguk pelan.


"Kakak benar, Embun akan diam akan semua hal. Namun Embun akan marah, jika itu mengenai orang lain!"


"Seperti amarahnya yang aku lihat malam ini!" Ujar Abra lirih, Ibra menatap langit malam. Dua saudara yang terikat pada satu hati.


"Kak, apapun yang pernah terjadi diantara aku dan Embun? Itu hanya masa lalu dan hanya masa lalu!"


"Lalu!" Sahut Abra dingin, Ibra menghela napas.


"Jangan pernah salahkan Embun, rasa yang pernah ada diantara kami. Hanya rasa dihatiku dan tak pernah menjadi rasa di hati Embun!"


"Sudahlah Ibra, aku tidak ingin membicarakan ini. Pikiranku kacau, aku tidak bisa berpikir apapun? Jangankan berpikir, menghadapi Embun aku terlalu takut!" Ujar Abra lirih.

__ADS_1


"Pantas kakak berada di sini dan Embun terus mengawasimu dari balkon kamar kalian!" Ujar Ibra santai, Abra langsung menoleh.


Abra melihat Embun tengah menatap ke arahnya. Tatapan Embun sendu, jelas Abra melihat raut wajah sedih Embun. Alasan Abra memilih berdiri di tepi kolam. Daripada masuk ke dalam kamar, melihat duka dari wajah Embun.


"Kak, kita memang tak pernah dekat. Sekali ini saja percaya padaku. Jika Embun tidak pernah menyalahkanmu. Menghindarinya bukan sesuatu yang benar. Bahkan mungkin sikap kakak akan menyakiti hatinya!" Ujar Ibra singkat, lalu meninggalkan Abra.


Abra mendongak ke balkon kamarnya. Abra melihat jelas Embun yang terus mengawasinya. Abra melihat dua tangan Embun mendekap erat lengannya. Isyarat Embun mulai kedinginan. Abra menyadari, jika Embun tidak akan masuk ke dalam kamar. Selama Abra berada di luar rumah. Kepedulian tanpa kata yang tak perlu dijelaskan.


Tap Tap Tap


Abra berlari dengan begitu cepat menuju kamarnya. Abra membuka pintu dengan begitu keras. Ada rasa bersalah terselip di hati Abra. Ketika melihat Embun berdiri di tengah malam yang dingin. Abra langsung berlari menuju balkon kamarnya.


"Sayang!" Sapa Abra ramah, Embun menoleh. Raut wajah Embun mulai terlihat pucat. Abra yang cemas, langsung menarik tubuh Embun dalam dekapnya.


"Terima kasih, kakak percaya padaku!" Ujar Embun lirih, Abra mengangguk pelan. Abra mendekap erat Embun, mencoba menghangatkan tubuh dan hati Embun yang kedinginan.


"Maafkan aku, maaf!" Ujar Abra, sembari terus mendekap Embun.


"Kak, maafkan aku yang telah menjadi alasan pertengkaranmu dengan tuan Haykal!" Ujar lirih dengan sisa tenaganya.


Bruuuukkk


"Embun, bangun sayang. Jangan membuatku takut!" Ujar Abra cemas, sesaat setelah melihat Embun pingsan.


"Sayang bangun!" Ujar Abra, sembari menggendong Embun menuju tempat tidur. Namun mata Embun sangatlah lelah. Sampai dua matanya enggan terbuka kembali.


"Sayang, aku mohon bangunlah!" Ujar Abra lirih, seraya mengecup lembut kening Embun.


"Sayang!" Ujar Abra cemas, seraya menggenggam erat tangan Embun yang sangat dingin.


"Maafkan aku, maaf!" Ujar Abra lirih, tepat di telinga Embun.

__ADS_1


__ADS_2